Share

Bab 57

Author: macaroonie
last update publish date: 2026-06-12 15:22:37

Perasaan bahagia menghantarkan Fero keluar dari bangunan perpustakaan. Meski sempat patah hati karena perasaannya tertolak, namun tak membuat Fero menjadi putus asa.

Ditolak sekali bukan berarti akan terusan di tolak. Ini baru permulaan. Fero masih bisa mencoba mendekati Bita lagi.

Lagipula mereka belum terlalu dekat, bisa jadi ketika mereka menjadi lebih sering berinteraksi, hati Bita akan dapat ia luluhkan. Fero akan mengerahkan segala ca
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 86

    "Biarin."Mama berbalik mengaduk teh, sementara Vino masih terpaku di tempatnya dengan raut tak habis pikir. Sikap Mami ini mengingatkannya akan pertama kali ia mengadu pada Maminya, dan yang wanita itu katakan hanyalah menyuruhnya membiarkan dan kalau perlu melupakan."Terus Mami mau diem aja? Papa keluar dari hotel sama wanita lain. Dan aku yakin bukan cuma buat pergi makan, tapi—""Mami harus apa?" potong Mami lirih. Tidak ada amarah ataupun nada meninggi. Hanya kelelahan yang tak lagi mampu ia sembunyikan.Vino mengembuskan napas kasar. Jemarinya mengepal sebelum kembali mengendur."Marah, Mi." Sorot matanya mengunci wajah Mami. "Setidaknya marah."Mami terdiam."Temuin Papa. Bilang kalau Mami udah tahu semuanya." Suara Vino mulai bergetar, menahan emosi yang sejak tadi ia tekan. "Sebagai istri sah, Mami bukan cuma punya hak untuk marah, tapi juga bertindak tegas."Keheningan kembali memenuhi dapu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 85

    "Mami udah! Vino nggak bisa napas, Mam!" Vino mencoba melepaskan pelukan Maminya yang kelewat erat seperti tidak bertemu dengannya selama sekian dasawarsa. Namun wanita itu terus mendekapnya dan menimangnya seakan ia masih anak kecil."Kamu kok gitu sama Mami? Mami kangen tau! Utututu anak Mami yang paling ganteng, manis, dan agak lumayan nakal tapi tetep ganteng sedunia!""Mama udah!" seru Vino nelangsa. Harga dirinya yang ia junjung tinggi dengan begitu mudahnya dibanting Mami."Lama nggak ketemu, kamu jadi makin dewasa aja! Nggak mau, ah. Mami pengen kamu masih kecil, imut, dan bau bedak!""Baru juga ketemu beberapa minggu lalu.""Tapi kan ketemunya cuma seuprit. Nggak mengobati kangennya Mami!""Yaudah nggak usah pergi-pergi. Di rumah aja."Senyum Mami sedikit melemah. Ia mengusap pelan lengan Vino sebelum melepaskan pelukan mereka, lalu menatap putra tunggalnya yang masih tidak disangkanya telah tumbuh dewasa itu. "Mami kan butuh refresing, sayang. Mumpung tulang dan persendian

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 84

    "Kenapa berhenti di sini?" protes Bita saat Vino memberhentikan motornya di depan rumah gadis itu. "Buat nurunin lo. Kan udah nyampe." "Tapi aku pengen ke rumah kamu aja." Vino menoleh, menegaskan dengan suaranya yang berat. "Lo pulang aja. Belajar. Katanya mau dapet nilai bagus? Gue nggak akan mencelakai Fero kalo itu yang lo takutkan." Bita menggeleng pelan. "Aku ... kamu nggak papa?" Alis tebal Vino tertaut tampak bingung. "Emang gue kenapa?" Sepertinya memang benar. Vino sudah mengetahui perselingkuhan Papanya. Karena jika belum, sudah dapat Bita pastikan laki-laki itu akan menjalankan motornya dengan ugal-ugalan, dan ekspresi yang ditampakkannya sekarang tidak akan setenang ini. Mungkin ini juga yang membuat Vino, setiap kali Papanya pulang, selalu memilih pergi dari rumah. Lalu Mami yang juga tak betah berada di rumahnya sendiri, dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk b

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 83

    Ujung ban depan motor Vino berhenti di depan garis zebra cross. Diikuti Honda Civic milik Fero yang berhenti mulus di sisi kirinya. Sama-sama menunggu lampu lalu lintas berganti warna. Kaca jendela yang turun setengah membuat pantulan sosok Fero yang terlihat dari kaca spion menyapa lapang pandang Bita. Dengan artian baik Fero maupun Bita mampu melihat satu sama lain. Bita kontan memindahkan wajahnya memaling ke kanan, dan berusaha sebisa mungkin tidak terlihat dari balik helm Vino. Diliriknya penghitung mundur yang menggantung di atas. Masih empat puluh dua detik lagi menuju hijau. Sementara pantatnya sudah panas sekali duduk di atas motor Vino. Bukan karena joknya yang lumayan tinggi hingga memaksa pantatnya agak terangkat. Namun genggaman tangan Vino yang belum mau membebaskan lengannya. Bahkan Vino hanya mengendarai dengan satu tangan. Seakan jika tidak di tahan oleh tangannya, Bita akan langsung terbang tersapu angin. Lebih-lebih posisi duduk mereka yang nyaris tanpa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 82

    "Aku nggak mau kalo kamu sampai macem-macem sama Fero."Untuk kesekian kalinya, Bita memberikan peringatan pada Vino. Duduk menyamping di atas motor dengan tangan bersedekap dada, Vino mendengus dari balik helmnya. "Emang gue mau ngapain Fero? Muka gue keliatan kayak kriminal?"Helm yang sudah terpasang di kepalanya, membuat wajah Vino hanya terlihat separuh. Namun dari bagian matanya yang tampak, Bita jelas melihat kilat bahaya yang cukup membuatnya yakin kemana semua ini akan bermuara."Kalo tujuan kamu mengajak Fero ke rumah kamu supaya kamu bisa leluasa menekannya, aku nggak akan ngomong sama kamu satu tahun full.""Emang tahan? Gue kecup dikit desah juga lo."Netra Bita membulat besar. "Vino!" Ditaboknya lengan laki-laki itu."Bener, kan?""Udah aku bilang jangan ngomong aneh-aneh di kampus!""Kalo di kamar boleh berarti?" Vino mencekal pergelangan tangan Bita yang hendak melayangkan p

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 81

    "Kamu jangan aneh-aneh ya, Vin." Bita menatapnya sangsi, memahami ke mana arah pembicaraan ini akan berujung."Apa? Gue cuma menawarkan bantuan?""Aku kenal kamu dan aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Dan sesuatu itu udah pasti bukan hal yang baik."Vino memasang raut tertohok. "Gue sejelek itu di mata lo, Ta? Sampai lo nggak percaya gue?"Bita mendesah. "Kalo gitu buat apa kamu menawarkan bantuan ke Fero?""Lo belum tau kalo Fero menganggap gue sama dia setara dalam hubungan persahabatan dengan lo?" tanya Fero. Mata Bita menyipit saat memandangi Fero dan Vino secara bergantian. "Emang kalian pernah ngobrol berdua?"Sesaat Vino terdiam sebelum menyuara santai. "Pernah. Ya ... cuma ngobrol-ngobrol biasa. Saling sapa selayaknya temen? Ya kan Fer?"Tidak langsung menjawab, Fero beradu pandang dengan Vino cukup lama kemudian menganggukkan kepalanya.Bita belum mau melunturkan sorot mata curiganya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 71

    Tidak susah menemukan keberadaan Vino yang langsung terlihat dari pintu masuk. Bersandar di samping mobil dengan kedua tangannya terlipat di dada. Dalam kondisi penerangan yang minim, Bita masih mampu merasakan sorot mata Vino mengikuti kakinya yang melangkah menipiskan jara

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 42

    "Akhir-akhir ini lo selalu nolak kalo gue ajak ke bar. Masa sekarang lo juga nggak mau?"Dengan satu lengan dijadikan bantal, dan satunya lagi menyangga ponsel yang terhubung dengan Martin, Vino memandangi langit-langit.Gerutuan Martin yang dilatarbelakangi musik bar yang kencang menjadi satu-satu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status