Share

Bab 2

Author: macaroonie
last update publish date: 2026-05-25 16:51:19

"Bercinta? Kamu gila?!"

Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin."

Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!"

Vino, kembali bersandar dengan santai. "Pacaran, Ta. Pacaran dewasa."

"Kenapa aku harus menerima tawaran kamu?"

Vino menghela napas. "Kata lo kompensasi bikin lo jomblo, kan?"

"Mulut kamu bisa lebih baik sedikit nggak?" tukas Bita. Bibirnya mengerucut sebal.

"Kan Fakta. Seharusnya kalo ada yang tertarik, mau lo ketempelan cowok paling tampan kayak gue atau nggak, mereka tetep bakalan maju. Tapi, apa? Nggak ada, kan?"

Kalimat Vino telak menampar ego Bita. Kenyataan bahwa memang tidak ada satu pun laki-laki yang mencoba mendekatinya selama ini membuat dadanya mendadak sesak. Mata Bita mulai berkaca-kaca karena tersinggung.

"Aku emang nggak kayak kamu yang bisa gonta-ganti pacar seminggu sekali," gumam Bita, suaranya mulai bergetar.

Melihat gurat sedih yang nyata di wajah Bita, sorot mata Vino sedikit melunak, meski suaranya tetap terdengar datar.

"Lo bukan nggak menarik. Lo itu... .... Cowok seumuran Mas Aksa nggak mencari yang imut. Dia cari perempuan dewasa yang bisa nemenin waktunya. Paham?" ujarnya menggantung

Bita mengerutkan kening. "Intinya apa? Omonganmu muter-muter."

Vino melangkah maju, mencondongkan tubuh hingga wajahnya sejajar dengan cuping telinga Bita. Embun napasnya yang hangat menggelitik kulit leher gadis itu. "Intinya, lo harus belajar jadi dewasa di depan dia.”

“Dewasa dalam hal?”

Vino terkekeh pelan, suaranya terdengar berat. “Ya… semua? Mulai dari penampilan, tingkah laku sampai, hal-hal lain yang berbau dewasa.”

Bita membelalak ngeri. "Gamau. Jangan ajarin aku aneh-aneh ya, Vino.”

"Dicoba dulu, Ta. Malunya dipikir belakangan."

"Pokoknya aku nggak mau!" Bita memutar tubuh, berjalan cepat masuk ke dalam rumah demi menghindari tatapan mengintimidasi milik Vino.

Namun, Vino tidak menyerah. Langkah kakinya yang panjang dengan mudah mengikuti Bita hingga ke area dapur.

"Ini satu-satunya kesempatan lo, Ta. Gue kan lebih berpengalaman dari Mas Aksa. Jadi, bisa bantu lo biar gak ngeganggu gue terus.”

Bita mengerang frustrasi, membalikkan badan dengan cepat. "Orang mami kamu kok yang minta.”

Vino memegang kedua pundak Bita, menguncinya di tempat. "Pendekatannya aja deh.”

Bita melepaskan diri secara halus, bergerak menuju bar dapur untuk menuangkan air putih ke gelasnya. "Emang jaminannya berhasil kalau kamu yang ajarin?”

Vino bersandar di tepian pantry, memperhatikan Bita yang sedang minum dengan ekspresi menilai.

Penampilan cowok itu sebenarnya sangat sederhana—hanya kaus putih polos yang dilapisi celana pendek. Tapi harus Bita akui, Vino selalu tahu bagaimana cara terlihat menarik tanpa harus berusaha keras.

"Selera gue sama Mas Aksa nggak jauh beda." ujar Vino penuh percaya diri.

Bita menunduk, menatap ujung sandalnya. Tawaran Vino terdengar sangat menggiurkan, namun membayangkan dirinya harus membuang urat malu demi menggoda Aksa membuat nyalinya menciut.

"Nggak, tetap nggak mau. Udah, jangan dibahas lagi."

Bita langsung berlari menuju kamarnya di lantai atas, merebahkan diri di atas kasur, lalu menenggelamkan wajahnya di balik bantal.

Pintu kamar terbuka. Langkah kaki Vino kembali terdengar mendekat.

"Gue bisa bikin Mas Aksa lirik lo deh, Ta," bisik Vino.

Bita membalikkan tubuhnya menjadi terlentang, berniat memprotes, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan.

Wajah Vino sudah berada tepat di atasnya. Cowok itu bertumpu dengan kedua lengan di sisi kepala Bita, mengurung tubuh mungil gadis itu di bawah kungkungannya. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat jantung Bita berdegup tidak karuan.

"Mau sampai kapan?” tanya Vino, suaranya merendah, menatap langsung ke manik mata Bita.

"Sampai dia bawa perempuan lain ke rumah ini buat dikenalin sebagai calon istri?"

Ulu hati Bita seperti dihantam benda tumpul. Sampai kapanpun, Bita tidak akan pernah bisa membayangkan Aksa bersanding dengan wanita lain.

“Emang gak penasaran gimana rasanya kayak di novel-novel lo?” ujarnya mendongak ke arah rak buku Bita.

Bita menggigit bibir bawahnya erat-erat. Pikiran-pikiran liar yang selama ini hanya ada di dalam kepalanya saat membaca novel roman mendadak berputar. Tentang bagaimana rasanya jika tangan Aksa yang besar dan hangat itu menangkup jemarinya.

"Nggak penasaran... gimana rasanya beneran jatuh cinta?”

Embusan napas Vino kembali menyapu wajah Bita, begitu dekat hingga atmosfer di dalam kamar itu mendadak terasa pekat dan menyesakkan.

Jantung Bita bertalu liar, sampai-sampai dia harus mencengkeram sprei demi menahan ketegangan yang mendadak mengunci tubuhnya. Namun, di antara semua debaran aneh itu, logikanya mendadak berputar ke satu arah yang paling masuk akal.

Laki-laki ini Alvino. Tidak ada hal gratis di kamus hidupnya, apalagi sebuah bantuan cuma-cuma.

Bita mengerutkan kening, mencoba mendorong dada Vino agar menjauh.

"Kamu nolongin aku gini, imbalannya apa?"

"Mau minta apa?" imbuhnya.

Vino menyugar rambutnya, lalu menoleh dengan seringai tipis yang menyebalkan. "Minta nomor temen lo dong, Shasa."

Bita melotot, rasa melankolis yang sempat mengudara semenit lalu seketika lenyap tak berbekas. "Buat apa?!"

“Kenalan." Vino terkekeh pelan tanpa dosa.

“Pergi kamu!" Bita menyambar bantal di dekatnya, lalu menghantamkannya kuat-kuat ke punggung cowok itu. "Aku nggak akan biarin cowok macam kamu mendekati temanku!"

Ternyata, semua uluran bantuan tadi akal-akalan pria ini demi bisa mendekati Shasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 136

    "Liburan ke Puncak pasti seru banget. Jadi pengen, deh." "Ikut aja, yuk. Orang tuaku pasti seneng kalau kamu ikut," sahut Sasha antusias sambil memasuki pekarangan rumah Bita. "Mana bisa ikut kalau kakiku masih begini." Bita menggerutu sembari turun dari motor Sasha. Sasha buru-buru meringis bersalah. "Sorry, Ta. Lupa kalau lo masih sakit." Namun sesaat kemudian wajahnya kembali berbinar. "Tapi bentar lagi jahitan kamu kan udah kering? Liburannya juga masih seminggu lagi." Bita yang sedang memasang kruknya mendelik. "Iya, sih. Nanti mungkin aku udah boleh jalan. Tapi masalahnya..." Ia mendesah pasrah. "Mau aku udah bisa salto sekalipun, Papaku nggak bakal ngizinin." Sasha ikut mengembuskan napas. "Susah sih kalau udah berurusan sama Papa kamu." "Iya." Bita mengangguk kecil. "Kayaknya liburan semester ini aku bakal di rumah terus. Sampai bosen." "Bita!"

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 135

    "Panas banget ini telinga," gerutu Vino pelan sambil mengusap daun telinganya. Ia lalu menekan dadanya sekilas. "Jantung juga ikut-ikutan dugem." Vino mendorong pintu toilet dan begitu saja langkahnya terhenti. Menemukan di depan wastafel, Fero tengah membilas kedua tangannya. Mendengar pintu terbuka, Fero lekas mendongak. Ada sedikit keterkejutan yang melintas di wajahnya begitu melihat Vino berdiri di ambang pintu. Namun hanya sesaat. Fero kembali menunduk, melanjutkan bilasannya seolah tak terjadi apa-apa. Di ambang pintu, satu sudut bibir Vino perlahan terangkat. Menarik. Dengan langkah santai laki-laki itu berjalan mendekat dan berdiri di wastafel sebelah, membuka keran, lalu membasahi kedua tangannya. Suara air mengalir memenuhi keheningan beberapa detik.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 134

    "Pegel juga dibonceng naik motor lo," keluh Vino begitu turun dari vespa tua milik Martin. Martin yang baru saja mematikan mesin motornya menoleh. Dilihatnya Vino sedang meregangkan badan seolah baru menempuh perjalanan berjam-jam. Sontak ia mendecak. "Salah siapa gue suruh naik motor lo sendiri kagak mau?" Vino mengangkat bahu santai. "Nggak ah. Hemat. BBM lagi naik." "Tau BBM lagi naik, malah seenaknya ngabisin bensin orang!" sembur Martin yang masih kesal mengingat bensin motornya yang baru dua hari lalu diisi penuh ludes tak bersisa. Vino hanya membalas dengan tawa. "Tin!" Seseorang memanggil Martin dari kejauhan, membuat kepala Martin tertoleh. "Dicari Pak Ega!"

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 133

    Suara dering ponsel dari dalam tasnya terdengar. Bita segera merogoh tasnya. Nama Tante Sandra muncul di layar."Halo, Tan.""Kamu masih sama Vino?"Bita melirik sekilas ke arah Vino yang baru selesai menyampirkan handuk di belakang pintu. Laki-laki itu berjalan mendekat sambil memperhatikannya."Iya, Tan.""Ini Tante udah di depan kos. Orang tua kamu ternyata jadi pulang lebih cepat."Bita langsung membelalak. "Hah? Bukannya katanya pulangnya sore?""Iya. Katanya khawatir sama kamu. Makanya Tante buru-buru jemput sebelum mereka sampai."Di saat yang sama, sisi ranjang di sebelah Bita sedikit berdecit. Vino ikut duduk di sampingnya.Meski tak ikut bicara, laki-laki itu tampak mendengarkan percakapan mereka."Makanya cepetan keluar," lanjut Tante Sandra. "Keburu orang tua kamu datang. Nanti kamu malah nggak bisa ketemu lagi sama kesayangan kamu itu.""Dih..." Bita langsung mengernyit. "Kesay

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 132

    Bita menautkan alis sebelum akhirnya terkekeh kecil. Ujung jarinya iseng menyentuh daun telinga Vino."Telinga kamu merah. Kayak orang salting.""Khuk... khuk!" Vino mendadak terbatuk-batuk."Eh!" Bita langsung bangkit panik. Matanya berkeliling mencari sesuatu. "Minum! Minum!"Masih terbatuk, Vino mengangkat telunjuknya lemah ke arah sudut kamar. "Di—uhuk—situ."Bita segera menghampiri dispenser, mengisi gelas plastik disana dengan air putih, lalu kembali dengan langkah tergesa. "Nih. Pelan-pelan." Ia membantu Vino meminum air itu sampai batuknya mereda.Setelah gelas diletakkan di lantai, Bita kembali mengusap pelan punggung Vino. "Hati-hati kalau makan."Vino mengangguk kecil sebelum kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. "Gue cuma ... gerah aja" katanya di sela kunyahan. Ia mengusap tengkuknya asal. "Makanya telinga gue merah.""Oh..." Bita mengangguk pelan. Tatapannya sempat kembali jatuh pada telinga Vino ya

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 131

    Berbekal informasi dari Martin bahwa Vino tidak masuk kampus dan masih berada di kos, keesokan paginya Bita kembali datang. Bita mengangkat tangan, lalu mengetuk pintu pelan. Dari dalam terdengar gerutuan kesal. "Nggak gue kunci, Tin!" Bita menggigit bibir, menahan senyum lalu kembali mengetuk. Kali ini suara Vino terdengar lebih keras. "Gue pukul juga lo, Tin!" Disusul derap langkah yang menghentak mendekat. Brak. Pintu terbuka lebar. Wajah kusut dengan rambut berantakan langsung menyembul dari balik pintu. "Awas aja lo—" Ucapan Vino terhenti di tenggorokan. Matanya berkedip pelan. "...Ta?" Bita terkikik kecil sambil menunjuk wajah Vino. "Baru bangun, ya? Itu ilernya masih ada." Spontan Vino langsung mengusap sudut bibirnya. Bita tak mampu lagi menahan tawa. "Bercanda!" Vino langsung menatapnya tak percaya. "Pinter boh

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status