共有

Bimbingan Panas Sahabatku
Bimbingan Panas Sahabatku
作者: macaroonie

Bab 1

作者: macaroonie
last update 公開日: 2026-05-25 16:48:19

"Lo naksir abang gue?"

Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran.

Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah.

Meskipun Aksa terpaut usia beberapa tahun lebih tua, Bita tidak pernah bisa membohongi perasaannya sendiri. Logikanya tahu Aksa terlalu tinggi untuk digapai, namun hatinya tak bisa dipungkiri.

Perasaan yang jelas tidak akan pernah ia rasakan pada Vino, adik kandung Aksa yang ugal-ugalan dan terkenal sebagai playboy kelas kakap. Cowok menyebalkan yang sekarang sedang bersandar di tiang teras dengan tangan bersedekap.

"Beneran naksir?" tanya Vino sekali lagi.

Bita melotot. "Siapa bilang? Nggak jelas!"

"Lebih nggak jelas elo, Ta." sembur Vino. “Mendung begini lo siram tanaman.”

Bita merutuk dalam hati, meraba daun kaktus yang malang di pot plastik. "Suka-suka aku, ini namanya kasih sayang!"

"Kasih sayang mata lo peyang," sahut Vino santai.

Langkah kakinya mendekat, memungut selang yang tergeletak di rumput, dan menyingkirkannya. "Orang waras mana yang nyiram tanaman mendung-mendung.”

"Ya suka suka aku lah?!" Bita mendengus, melengos menjauh demi menyembunyikan rona merah di pipinya. "Mau mendung atau hujan badai sekalipun, apa urusannya sama kamu?"

Vino lalu membalikkan tubuh Bita agar menghadapnya. "Sejak kapan lo suka sama abang gue, Ta?"

"Siapa yang suka Mas Aksa? Aku nggak suka!" Bita meledak dan langsung membuang muka.

"Kalo nggak suka kenapa pipi lo merah?"

Bita mengepalkan tangan, mendaratkan pukulan bertubi-tubi di lengan Vino demi mengalihkan rasa malunya, namun cowok itu bergeming, membiarkan Bita meluapkan kekesalannya. "Kamu tuli apa gimana? Dibilang nggak suka ya nggak suka!"

"Masih mau ngelak?" Mata Vino menyipit jahil. "Siapa yang tadi senyum-senyum kayak orang kasmaran kalo gitu?"

Bita mendorong Vino yang terus-terusan menggodanya sampai hampir-hampir tubuh itu terjungkal ke belakang. ”Yang ada kamu yang dari tadi senyum-senyum nggak jelas!"

Bita heran kenapa anak-anak perempuan di kampusnya selalu heboh membicarakan Alvino Anggara Kusuma, dan berbondong-bondong ingin menjadi kekasihnya.

Di mata Bita, cowok di depannya ini racun! Dan sepatutnya racun, Vino memang harus dijauhi demi selamat bukannya malah berebut mendekat.

“Tahu peribahasa punuk merindukan bulan? Nah, persis kayak gitu tampang lo. Sedih, merana, kasihan," ejek Vino tanpa perasaan.

Sorot mata Vino mengerling jahil, membuat bulu kuduk Bita mendadak meremang. Ada kilat berbahaya di sana yang sudah Bita hapal luar kepala. “Kamu jangan macem-macem, ya, Vin!"

"Mas Aksa! INI ADA YANG—"

Bita melompat, tangannya bergerak cepat membekap mulut Vino rapat-rapat. "KAMU GILA, YA?!" desisnya panik sembari menoleh takut-takut ke rumah seberang.

Vino melepaskan tangan Bita dari wajahnya sambil terbahak puas. "Katanya nggak suka, kok panik?”

Tidak bisa mengelak, Bita memilih bungkam.

Vino mendecak pelan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Gue nggak nyangka selera lo se-membosankan Mas Aksa."

"Bagiku dia nggak membosankan," gumam Bita tidak mau Aksa diremehkan, meski oleh adiknya sendiri. "Mas Aksa pria yang nggak neko-neko, sopan, dan dewasa. Menurutku, semua itu jauh dari kata membosankan. Lebih menarik dari.. kamu."

"Tapi, Ta," lanjut Vino, nadanya berubah lebih serius, membuat Bita mendongak. "Dia nggak sebaik yang lo lihat di depan orang tua kita. Di kampus, dia punya dunianya sendiri."

Bita mengerutkan kening, tidak suka dengan arah pembicaraan ini. "Mas Aksa itu baik, disiplin. Nggak kayak kamu, playboy!”

“Oh, he's worst. Mainnya halus. Perempuan yang ada di sekeliling dia... lo tahu sendiri tipikal mahasiswi kedokteran atau hukum yang selalu terlihat sempurna. Anggun, berkelas, wangi."

Vino menjeda kalimatnya, matanya bergerak turun-naik, menilai penampilan Bita dari atas sampai bawah tanpa ekspresi.

"Maksud kamu?" Bita mulai merasa tersinggung.

Vino menghela napas pendek, "Lo bahkan nggak masuk ke dalam radar tipenya."

Kalimat itu telak menghantam ulu hati Bita.

"Bukan cuma nggak masuk kriteria, Ta. Dilirik sebagai seorang wanita dewasa aja nggak akan pernah," tambah Vino, suaranya terdengar dingin namun jujur. "Rambut dikuncir asal, setelan baju apa adanya. Lo lebih mirip adik kandungnya dibanding yang bisa diajak kencan."

Bita menatap penampilannya sendiri dengan muram. Apa yang dikatakan Vino tidak sepenuhnya salah, dia memang terlihat terlalu kekanak-kanakan jika disandingkan dengan Aksa.

“Emang iya?”

Vino terdiam. Tatapan mengejeknya seketika lenyap begitu melihat bahu Bita yang merosot lesu. Laki-laki itu menatap Bita lekat-lekat selama beberapa detik, sebelum sorot matanya berubah, menggelap dengan intensitas yang berbeda.

Bita melangkah mundur saat Vino tiba-tiba memangkas jarak di antara mereka. "K-kamu mau ngapain?"

“Lo pernah pacaran gak sih, Ta?”

Bita mendengus pedas, menepis kecanggungan yang mendadak merayap. "Kan kamu yang gagalin semua! Mana ada cowok yang mau sama aku kalau kamu selalu bertingkah kayak aku ini adik kamu?"

"Gue?" Vino menaikkan sebelah alisnya.

"Iya." Bita menyalak. "Harusnya kamu kasih aku kompensasi karena udah bikin aku jomblo."

Aroma maskulin yang berat dari tubuh Vino mendominasi indra penciuman Bita, saat laki-laki itu Lagi-lagi mengikis jarak, membuatnya mendadak sulit bernapas.

"Kalau gitu, mau gue ajarin, nggak?" bisik Vino.

Bita mengerjap, mencoba menahan dadanya yang bergemuruh. "Ajarin apa?"

“Ajarin bercinta.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
daffa
aduhhhh sesat nihhh hahaha
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 248

    “Ngopi lagi, Vin?”Vino menoleh ke belakang. Aksa berjalan menuju kulkas sambil melirik sekilas ke arah cangkir di tangannya.“Emang kenapa, Mas? Kayak heran gitu. Kan udah biasa. Malah kalau Vino nggak ngopi, Mas patut curiga,” jawab Vino santai.Setelah kondisi Bita membaik, Vino segera membawanya pulang. Mereka sepakat merahasiakan gadis itu yang sempat pingsan dari kedua orangtuanya agar tidak menimbulkan kecemasan. Setelah setengah jam berada di rumah Bita, Vino memutuskan pulang karena hari memang sudah terlalu malam. Namun sebelum naik ke kamar, ia memilih menyeduh kopi terlebih dahulu.Rasanya ia kembali membutuhkan minuman hitam itu untuk menjernihkan pikirannya.“Kamu biasanya cuma minum sekali, pagi atau nggak sore. Belakangan ini Mas lihat kamu bahkan sehari bisa tiga kali. Malam juga kamu jadi sering ngopi,” ujar Aksa sebelum membuka kulkas.Vino mendengus geli sambil mengaduk kopinya. “Kenapa, Mas? Mas kha

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 247

    “Waduh, Pak. Makasih banget penawarannya. Tapi saya rasa masih ada mahasiswa lain yang lebih baik daripada saya buat ikut lomba ini,” ucap Vino sambil memamerkan cengiran. Niatnya ingin segera menghampiri Bita di kelas, tetapi Vino justru dicegat oleh salah satu dosennya dan dibawa paksa ke ruang dosen. Entah ide dari mana, dosen di hadapannya ini malah memaksanya untuk ikut suatu lomba. “Loh, kenapa kamu malah ngomong begitu?” Pak Marham mengangkat alis. “Bapak sudah lihat kamu dari semester satu. Kamu itu sebenarnya punya potensi. Cuma kurangnya satu,” lanjut sang dosen. “Malas.” “Itu Bapak tahu!” cetus Vino. “Justru semester ini Bapak lihat kamu mulai serius! Makanya Bapak berani rekomendasiin kamu!” Vino menggaruk tengkuknya. Pak Marham kembali menambahkan dengan menggebu-gebu, “Nilai tugas kamu bagus. Analisis kasusmu juga bagus. Beberapa tugas bahkan ka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 246

    Sasha dan Dira membeku. Mereka tentu tahu apa yang dimaksud Bita, meski gadis itu tidak menjelaskannya secara detail. Untuk beberapa saat, keduanya hanya mampu memandangi Bita yang terisak dengan pikiran yang mendadak kosong.“Maafin aku, Sa, Dir. Aku sama Vino khilaf. Kami melakukannya di London,” ungkap Bita di sela tangisnya. “Aku takut mengakui ini sama orangtua aku, tapi aku juga nggak bisa terus-terusan nyembunyiinnya dari mereka. Aku takut banget. Aku takut kalau sampai mengaku, mereka bakal misahin aku sama Vino. Aku harus gimana?”Suaranya semakin bergetar. “Aku udah capek banget. Rasanya aku udah nggak kuat lagi.”“Bita...” gumam Sasha.Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung merengkuh Bita ke dalam pelukannya. Air matanya sendiri ikut jatuh saat mendengar isak sahabatnya. Dira pun segera mendekat dan ikut memeluk Bita, membiarkan gadis itu menangis tanpa perlu menjelaskan apa pun lagi.Mereka menunggu sampai tangis Bita perlaha

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 245

    “Kamu sakit ini, Ta. Ayo aku antar ke rumah sakit.” Sasha menatap Bita dengan khawatir. Sejak gadis itu datang dan memasuki kelas, wajahnya sudah terlihat pucat pasi. Namun, setiap kali Sasha membujuknya untuk pergi ke rumah sakit, Bita selalu menolak seperti sekarang. Bita tersenyum lemah. “Aku nggak papa, Sa.” “Nggak papa gimana, sih? Muka kamu tuh udah kayak mayat hidup!” gerutu Sasha kesal. Ruang kelas sudah mulai sepi. Tinggal mereka bertiga di sana, termasuk Dira yang bahkan sampai meninggalkan buku yang sejak tadi dibacanya. Sasha menunjuk Dira yang kini berjongkok di depan Bita. “Tuh, lihat. Dira aja sampai ninggalin pacarnya alias bukunya saking khawatirnya sama kamu.” Tatapan Bita beralih kepada Dira. Ia kembali mengulas senyum tipis dengan bibir yang tampak pucat. “Aku nggak papa, Dir. Udah, kamu duduk lagi di bangku kamu. Aku baik-baik aja, nih.” Dira menggeleng. “Aku

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 244

    Sampai kapan Vino akan sanggup membawa rasa bersalah yang tak kunjung berani ia akui ini? Vino tidak tahu. Yang ia tahu hanya, ia mulai merasa lelah. Andai saja Bita bisa menenangkannya balik. Mengatakan semuanya akan baik-baik saja seperti yang selalu laki-laki itu ucapkan kepadanya. Mungkin semuanya akan terasa lebih mudah bagi Vino. Atau setidaknya, andai Bita bisa bersikap biasa saja seperti yang selama ini berusaha Vino lakukan, mungkin ia tidak akan merasa kehilangan arah. Namun, hari demi hari, gadis itu justru semakin mengkhawatirkan. Bita semakin sering melamun. Beberapa kali Vino memergokinya menatap kosong ke satu titik, seolah pikirannya berada jauh di tempat lain. Kantung matanya pun mulai menghitam, membuatnya tampak seperti seseorang yang tidak tidur dengan cukup selama berhari-hari. Bahkan, selain menggigit bibir, Bita kini punya kebiasaan baru: menggigiti kuku-kukunya ketika dilanda cemas. Vi

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 243

    Vino baru saja memarkirkan motornya ketika Bita dan Sasha keluar dari cafe.Tatapan Bita langsung tertuju kepadanya. Namun sebelum gadis itu sempat menghampiri, Sasha justru lebih dulu melangkah cepat ke arah Vino dan mengayunkan tasnya, memukul punggung laki-laki itu.“Kamu apain Bita?” seru Sasha tampak kesal.“Sasha!” Bita bergegas menghampiri Vino dan langsung berdiri di depannya seolah melindungi laki-laki itu. “Kamu apa-apaan sih tiba-tiba mukul Vino?!”Sasha menunjuk Vino yang mengerjap kebingungan. “Orang ini yang bikin kamu sekarang jadi kayak orang ketergantungan, Ta! Sini, biar aku kasih pelajaran!”“Hah?” Vino membeo, sama sekali tak mengerti.“Hah, heh, hah, heh!” sentak Sasha sambil menyedekapkan tangan di dada. Tatapan sinisnya masih tertuju pada Vino. “Kamu apain Bita sampai-sampai sama aku aja yang dibahas cuma kamu?”Vino mengernyit. “Emang Bita ngomong apa?”“Udah bukan ngomong apa lagi. Dari

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status