Masuk
"Lo naksir abang gue?"
Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia beberapa tahun lebih tua, Bita tidak pernah bisa membohongi perasaannya sendiri. Logikanya tahu Aksa terlalu tinggi untuk digapai, namun hatinya tak bisa dipungkiri. Perasaan yang jelas tidak akan pernah ia rasakan pada Vino, adik kandung Aksa yang ugal-ugalan dan terkenal sebagai playboy kelas kakap. Cowok menyebalkan yang sekarang sedang bersandar di tiang teras dengan tangan bersedekap. "Beneran naksir?" tanya Vino sekali lagi. Bita melotot. "Siapa bilang? Nggak jelas!" "Lebih nggak jelas elo, Ta." sembur Vino. “Mendung begini lo siram tanaman.” Bita merutuk dalam hati, meraba daun kaktus yang malang di pot plastik. "Suka-suka aku, ini namanya kasih sayang!" "Kasih sayang mata lo peyang," sahut Vino santai. Langkah kakinya mendekat, memungut selang yang tergeletak di rumput, dan menyingkirkannya. "Orang waras mana yang nyiram tanaman mendung-mendung.” "Ya suka suka aku lah?!" Bita mendengus, melengos menjauh demi menyembunyikan rona merah di pipinya. "Mau mendung atau hujan badai sekalipun, apa urusannya sama kamu?" Vino lalu membalikkan tubuh Bita agar menghadapnya. "Sejak kapan lo suka sama abang gue, Ta?" "Siapa yang suka Mas Aksa? Aku nggak suka!" Bita meledak dan langsung membuang muka. "Kalo nggak suka kenapa pipi lo merah?" Bita mengepalkan tangan, mendaratkan pukulan bertubi-tubi di lengan Vino demi mengalihkan rasa malunya, namun cowok itu bergeming, membiarkan Bita meluapkan kekesalannya. "Kamu tuli apa gimana? Dibilang nggak suka ya nggak suka!" "Masih mau ngelak?" Mata Vino menyipit jahil. "Siapa yang tadi senyum-senyum kayak orang kasmaran kalo gitu?" Bita mendorong Vino yang terus-terusan menggodanya sampai hampir-hampir tubuh itu terjungkal ke belakang. ”Yang ada kamu yang dari tadi senyum-senyum nggak jelas!" Bita heran kenapa anak-anak perempuan di kampusnya selalu heboh membicarakan Alvino Anggara Kusuma, dan berbondong-bondong ingin menjadi kekasihnya. Di mata Bita, cowok di depannya ini racun! Dan sepatutnya racun, Vino memang harus dijauhi demi selamat bukannya malah berebut mendekat. “Tahu peribahasa punuk merindukan bulan? Nah, persis kayak gitu tampang lo. Sedih, merana, kasihan," ejek Vino tanpa perasaan. Sorot mata Vino mengerling jahil, membuat bulu kuduk Bita mendadak meremang. Ada kilat berbahaya di sana yang sudah Bita hapal luar kepala. “Kamu jangan macem-macem, ya, Vin!" "Mas Aksa! INI ADA YANG—" Bita melompat, tangannya bergerak cepat membekap mulut Vino rapat-rapat. "KAMU GILA, YA?!" desisnya panik sembari menoleh takut-takut ke rumah seberang. Vino melepaskan tangan Bita dari wajahnya sambil terbahak puas. "Katanya nggak suka, kok panik?” Tidak bisa mengelak, Bita memilih bungkam. Vino mendecak pelan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Gue nggak nyangka selera lo se-membosankan Mas Aksa." "Bagiku dia nggak membosankan," gumam Bita tidak mau Aksa diremehkan, meski oleh adiknya sendiri. "Mas Aksa pria yang nggak neko-neko, sopan, dan dewasa. Menurutku, semua itu jauh dari kata membosankan. Lebih menarik dari.. kamu." "Tapi, Ta," lanjut Vino, nadanya berubah lebih serius, membuat Bita mendongak. "Dia nggak sebaik yang lo lihat di depan orang tua kita. Di kampus, dia punya dunianya sendiri." Bita mengerutkan kening, tidak suka dengan arah pembicaraan ini. "Mas Aksa itu baik, disiplin. Nggak kayak kamu, playboy!” “Oh, he's worst. Mainnya halus. Perempuan yang ada di sekeliling dia... lo tahu sendiri tipikal mahasiswi kedokteran atau hukum yang selalu terlihat sempurna. Anggun, berkelas, wangi." Vino menjeda kalimatnya, matanya bergerak turun-naik, menilai penampilan Bita dari atas sampai bawah tanpa ekspresi. "Maksud kamu?" Bita mulai merasa tersinggung. Vino menghela napas pendek, "Lo bahkan nggak masuk ke dalam radar tipenya." Kalimat itu telak menghantam ulu hati Bita. "Bukan cuma nggak masuk kriteria, Ta. Dilirik sebagai seorang wanita dewasa aja nggak akan pernah," tambah Vino, suaranya terdengar dingin namun jujur. "Rambut dikuncir asal, setelan baju apa adanya. Lo lebih mirip adik kandungnya dibanding yang bisa diajak kencan." Bita menatap penampilannya sendiri dengan muram. Apa yang dikatakan Vino tidak sepenuhnya salah, dia memang terlihat terlalu kekanak-kanakan jika disandingkan dengan Aksa. “Emang iya?” Vino terdiam. Tatapan mengejeknya seketika lenyap begitu melihat bahu Bita yang merosot lesu. Laki-laki itu menatap Bita lekat-lekat selama beberapa detik, sebelum sorot matanya berubah, menggelap dengan intensitas yang berbeda. Bita melangkah mundur saat Vino tiba-tiba memangkas jarak di antara mereka. "K-kamu mau ngapain?" “Lo pernah pacaran gak sih, Ta?” Bita mendengus pedas, menepis kecanggungan yang mendadak merayap. "Kan kamu yang gagalin semua! Mana ada cowok yang mau sama aku kalau kamu selalu bertingkah kayak aku ini adik kamu?" "Gue?" Vino menaikkan sebelah alisnya. "Iya." Bita menyalak. "Harusnya kamu kasih aku kompensasi karena udah bikin aku jomblo." Aroma maskulin yang berat dari tubuh Vino mendominasi indra penciuman Bita, saat laki-laki itu Lagi-lagi mengikis jarak, membuatnya mendadak sulit bernapas. "Kalau gitu, mau gue ajarin, nggak?" bisik Vino. Bita mengerjap, mencoba menahan dadanya yang bergemuruh. "Ajarin apa?" “Ajarin bercinta.”Sasha dan Dira masih terpaku di tempatnya. Keduanya menatap Bita yang kini memeluk Vino begitu erat sambil menangis sesenggukan, seolah-olah perempuan itu tidak pernah mendengar satu pun nasihat yang baru saja mereka berikan.Padahal, belum sampai semenit lalu mereka menyuruh Bita agar tidak gampang luluh. Sekarang, jangankan jual mahal, melepaskan pelukan saja Bita tampaknya tidak berniat melakukannya.Sasha menoleh kepada Dira. Dira balas menatapnya. Keduanya sama-sama tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Sementara itu, Anggun sudah tidak sanggup menahan tangisnya. Ia menyandarkan kepala di bahu Bram, membiarkan suaminya merengkuh tubuhnya yang bergetar.Sebagai seorang ibu, Anggun tahu betul bagaimana putrinya selama ini.Bita memang tidak pernah banyak bercerita. Ia juga tidak pernah secara terang-terangan mengeluh tentang penantian panjangnya. Namun, Anggun bisa melihat bagaimana harapan itu perlahan memudar dari mata putrinya setiap
"Aku nggak cuma ingin punya cukup uang untuk melamar dan menikahi kamu. Aku juga ingin memastikan kehidupan kamu setelah menikah nanti akan baik-baik aja," lanjut Vino.Bita menatapnya tanpa berkedip.“Aku mulai memikirkan tempat tinggal kita, aset yang harus aku punya, tabungan untuk kebutuhan rumah tangga, sampai biaya-biaya lain yang mungkin akan kita butuhkan nanti. Aku ingin punya cukup pegangan supaya kamu nggak perlu khawatir soal keuangan. Supaya kalau suatu hari ada sesuatu yang terjadi, aku tetap bisa memastikan kamu hidup dengan layak.”Vino tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak bertahan lama. “Awalnya aku pikir, semakin banyak yang bisa aku siapkan, semakin baik. Aku pikir, kalau aku bisa menyelesaikan semuanya lebih dulu, aku bisa datang ke kamu tanpa perlu membuat kamu khawatir tentang apa pun.”Entah sudah keberapa kalinya, Vino kembali menarik napas panjang. “Tapi tanpa sadar, aku terus menunda. Selalu ada sesuatu yang menurutku
Vino sempat membuka mulut, tetapi kembali terdiam sebelum satu kata pun keluar. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan, sesekali mengusap telapak tangannya yang berkeringat pada celana. Ia menarik napas, lalu mengangkat wajah seolah hendak bicara, tetapi sedetik kemudian kembali menunduk. Bahkan ketika akhirnya mendongak lagi, bibirnya tampak bergetar tipis sebelum kembali terkatup rapat. Lelaki itu terlihat begitu kesulitan merangkai kata-kata di hadapan Bita.Sementara itu, Sasha memutar bola matanya, lalu mendekatkan wajah ke telinga Bita. “Tuh, kan. Baru disuruh ngomong aja udah ragu-ragu begitu.”Dira menahan tawa kecil. “Jangan-jangan sebenarnya dia nggak punya penjelasan yang masuk akal.”“Makanya. Jangan sampai kamu luluh cuma karena dia datang bawa uang lima ratus juta. Menepati satu janji bukan berarti dia bisa seenaknya melupakan janji yang lain.”Bita mendengar suara mereka, tetapi tak benar-benar menyimak. Pandangannya ma
Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, mobil Sasha yang dikemudikan Dira akhirnya memasuki pekarangan rumah Bita.Begitu turun dari mobil, pandangan Bita langsung tertuju pada sebuah motor sport yang terparkir tak jauh dari teras, membuat gadis itu seketika terdiam.Bita mengenali motor itu. Milik Vino. Selama berminggu-minggu tinggal di apartemen yang sama, Bita hampir tidak pernah melihat Vino mengendarai motor tersebut. Laki-laki itu lebih sering menggunakan mobil untuk bepergian, terutama ke lokasi syuting atau menghadiri urusan pekerjaannya. Motor sport itu bahkan seolah sudah lama tak terlihat.Namun, sekarang motor itu terparkir di rumahnya.Yang berarti Vino juga ada di dalam.Bita semakin terpaku menatap motor itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada gugup, tidak percaya, juga harapan yang sejak tadi berusaha ia tahan agar tidak tumbuh terlalu tinggi.“Ta, ayo masuk!” Sasha menepuk bahunya.
Vino masih bersimpuh di lantai, membenamkan wajahnya di pangkuan Anggun. Kedua tangannya menggenggam lembut tangan perempuan itu, seolah takut kehilangan kesempatan untuk merasakan kehangatannya lagi.Sejak tadi, air matanya tidak berhenti mengalir.Ia masih ingat betapa terkejutnya dirinya ketika pertama kali melihat Anggun duduk di kursi roda. Ia bahkan sempat berharap bahwa penglihatannya keliru, bahwa ada penjelasan lain yang lebih baik daripada kenyataan yang harus ia terima.Namun, setelah mendengar cerita Anggun tentang kecelakaan yang menimpanya setahun lalu, hati Vino seolah diremas kuat-kuat.Selama ini, ia sibuk mengejar karier, berusaha mengumpulkan uang, dan mempersiapkan masa depannya bersama Bita. Sementara itu, sesuatu yang begitu besar telah terjadi pada perempuan yang selama ini sudah ia anggap seperti ibu sendiri.Dan ia bahkan tidak mengetahuinya.“Vin, ayo, Nak. Bangun dulu.” Anggun mengusap kepala Vino perla
Bita baru bisa menyelesaikan pekerjaannya setelah jam pulang kantor lewat cukup lama. Beberapa kali ia harus memeriksa ulang laporan auditnya, memastikan tidak ada lagi angka yang keliru sebelum akhirnya diizinkan pulang.Meski begitu, ia sama sekali tidak merasa kesal karena harus lembur.Sepanjang perjalanan pulang dengan ojek, Bita justru sibuk membayangkan kemungkinan bertemu Vino lagi.Siapa tahu mereka berpapasan di lobi. Atau bertemu lagi di lift seperti tadi pagi. Bita bahkan membayangkan Vino keluar dari apartemennya tepat saat ia tiba, lalu mereka saling bertatapan sebelum laki-laki itu kembali tersenyum dan tertawa kecil dengan ekspresi manisnya yang sukses membuat jantung Bita berdebar tak karuan.Membayangkannya saja sudah cukup membuat Bita tersenyum lebar. Bahkan, ia sampai terkikik sendiri di atas motor, membuat pengemudi ojek sempat meliriknya lewat kaca spion.Namun, tawanya perlahan berhenti ketika motor itu akhirnya ti
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino







