Share

Bab 67

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-06-17 14:57:38

"Lama amat," keluh Vino menyambut kedatangan Martin.

Dengan wajah penat, dan keringat membanjiri sekujur tubuh, Martin membanting setumpuk buku tebal di hadapan Vino lalu menghempaskan pantatnya di kursi. "Lo kira gue dapat semua buku pesenan lo ini pake mantra ajaib simsalabim langsung ketemu? Ampe mata gue juling nyarinya tau nggak!"

Vino tidak langsung menanggapi. Tangannya lebih dulu menarik tumpukan buku-buku referensi kuliah yang tebal-tebal dan membosankan itu satu p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 84

    "Kenapa berhenti di sini?" protes Bita saat Vino memberhentikan motornya di depan rumah gadis itu. "Buat nurunin lo. Kan udah nyampe." "Tapi aku pengen ke rumah kamu aja." Vino menoleh, menegaskan dengan suaranya yang berat. "Lo pulang aja. Belajar. Katanya mau dapet nilai bagus? Gue nggak akan mencelakai Fero kalo itu yang lo takutkan." Bita menggeleng pelan. "Aku ... kamu nggak papa?" Alis tebal Vino tertaut tampak bingung. "Emang gue kenapa?" Sepertinya memang benar. Vino sudah mengetahui perselingkuhan Papanya. Karena jika belum, sudah dapat Bita pastikan laki-laki itu akan menjalankan motornya dengan ugal-ugalan, dan ekspresi yang ditampakkannya sekarang tidak akan setenang ini. Mungkin ini juga yang membuat Vino, setiap kali Papanya pulang, selalu memilih pergi dari rumah. Lalu Mami yang juga tak betah berada di rumahnya sendiri, dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk b

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 83

    Ujung ban depan motor Vino berhenti di depan garis zebra cross. Diikuti Honda Civic milik Fero yang berhenti mulus di sisi kirinya. Sama-sama menunggu lampu lalu lintas berganti warna. Kaca jendela yang turun setengah membuat pantulan sosok Fero yang terlihat dari kaca spion menyapa lapang pandang Bita. Dengan artian baik Fero maupun Bita mampu melihat satu sama lain. Bita kontan memindahkan wajahnya memaling ke kanan, dan berusaha sebisa mungkin tidak terlihat dari balik helm Vino. Diliriknya penghitung mundur yang menggantung di atas. Masih empat puluh dua detik lagi menuju hijau. Sementara pantatnya sudah panas sekali duduk di atas motor Vino. Bukan karena joknya yang lumayan tinggi hingga memaksa pantatnya agak terangkat. Namun genggaman tangan Vino yang belum mau membebaskan lengannya. Bahkan Vino hanya mengendarai dengan satu tangan. Seakan jika tidak di tahan oleh tangannya, Bita akan langsung terbang tersapu angin. Lebih-lebih posisi duduk mereka yang nyaris tanpa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 82

    "Aku nggak mau kalo kamu sampai macem-macem sama Fero."Untuk kesekian kalinya, Bita memberikan peringatan pada Vino. Duduk menyamping di atas motor dengan tangan bersedekap dada, Vino mendengus dari balik helmnya. "Emang gue mau ngapain Fero? Muka gue keliatan kayak kriminal?"Helm yang sudah terpasang di kepalanya, membuat wajah Vino hanya terlihat separuh. Namun dari bagian matanya yang tampak, Bita jelas melihat kilat bahaya yang cukup membuatnya yakin kemana semua ini akan bermuara."Kalo tujuan kamu mengajak Fero ke rumah kamu supaya kamu bisa leluasa menekannya, aku nggak akan ngomong sama kamu satu tahun full.""Emang tahan? Gue kecup dikit desah juga lo."Netra Bita membulat besar. "Vino!" Ditaboknya lengan laki-laki itu."Bener, kan?""Udah aku bilang jangan ngomong aneh-aneh di kampus!""Kalo di kamar boleh berarti?" Vino mencekal pergelangan tangan Bita yang hendak melayangkan p

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 81

    "Kamu jangan aneh-aneh ya, Vin." Bita menatapnya sangsi, memahami ke mana arah pembicaraan ini akan berujung."Apa? Gue cuma menawarkan bantuan?""Aku kenal kamu dan aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Dan sesuatu itu udah pasti bukan hal yang baik."Vino memasang raut tertohok. "Gue sejelek itu di mata lo, Ta? Sampai lo nggak percaya gue?"Bita mendesah. "Kalo gitu buat apa kamu menawarkan bantuan ke Fero?""Lo belum tau kalo Fero menganggap gue sama dia setara dalam hubungan persahabatan dengan lo?" tanya Fero. Mata Bita menyipit saat memandangi Fero dan Vino secara bergantian. "Emang kalian pernah ngobrol berdua?"Sesaat Vino terdiam sebelum menyuara santai. "Pernah. Ya ... cuma ngobrol-ngobrol biasa. Saling sapa selayaknya temen? Ya kan Fer?"Tidak langsung menjawab, Fero beradu pandang dengan Vino cukup lama kemudian menganggukkan kepalanya.Bita belum mau melunturkan sorot mata curiganya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 80

    "Lagi kumpul keluarga besar antar generasi ceritanya? Ikut, dong."Hening merayap di antara mereka. Tidak seorang pun terlihat berniat menjawab pertanyaan Vino."Kalo kamu mau merusuh, jangan sekarang. Kami lagi belajar buat ujian nanti." Bita menjatuhkan peringatan.Vino menyipitkan matanya pada Bita yang menatapnya datar. "Siapa yang mau merusuh? Orang gue cuma duduk dan pengen liat proses belajar kalian."Diambilnya catatan Fero tanpa permisi. "Sebagai anak manajemen, gue menyimpan banyak rasa penasaran terhadap hal-hal yang dikerjakan anak-anak akuntansi yang manis-manis ini."Sasha menampilkan raut jijik sebelum beringsut meninggalkan kursinya dengan alasan ingin meminjam buku di perpustakaan.Vino memindahkan perhatiannya dari Sasha yang menyambar bukunya lalu melipir dengan langkah kaki tergesa ke laki-laki asing di depannya. "Lo nggak ikutan pergi? Tiba-tiba pengen ngapain gitu? Kebelet boker?"Bagas menggelengka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 79

    Bita menghela napas panjang sambil memandangi catatannya. "Aku masih suka ketuker antara biaya sama beban.""Nah!" Sasha menjentikkan jarinya. "Aku juga. Perasaan sama-sama keluar uang. Kenapa dosen ngotot bilang beda?""Karena memang beda."Bita dan Sasha serentak menoleh pada Fero. Bersama Bagas, Fero kembali bergabung di gazebo dengan kedua gadis itu guna mempersiapkan ujian berikutnya.Bagas menunjuk Fero. "Bener, kan? Udah gue bilang dia google berjalan, Kak. Gerak dikit udah bisa buka kuliah umum. Coba apa bedanya, Fer. Gue juga mau tau."Pipi Fero sedikit memerah. Namun setelah didesak tatapan penasaran dua mahasiswi itu, ia akhirnya melanjutkan."Biaya itu lebih ke pengorbanan sumber daya untuk memperoleh manfaat ekonomi. Sementara beban adalah bagian dari biaya yang manfaat ekonominya sudah dipakai dalam periode berjalan."Bita berkedip. "Bisa pake bahasa bayi?"Fero tertawa kecil."Misalnya pe

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 38

    "Nggak bisa."Bita memandangi profil samping wajah Vino dengan kernyitan dalam. "Nggak bisa gimana?""Setelah gue pikir matang-matang, gue nggak bisa mengajari lo lebih dari ciuman.""Kenapa?" Bita semakin dibuat Vino tak mengerti. "Katanya kamu bisa, kamu sanggup. Kenapa berubah pikiran?""Bukan

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 37

    "Mama sama Papa jenguk Tante Rina dulu ya. Kamu hati-hati di rumah."Mama melepas pelukannya, dan mengusap kepala Bita yang mencebik.Tadi sore, teman dekat Mamanya itu mengalami kecelakaan dan segera di bawa ke rumah sakit. Mama masih menunggu kepulangan Papa untuk bersama-sama menjenguknya. Maka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 36

    "Bahaha!" Tawa Bita membahana mengisi kamar Vino. Di dalam dua puluh satu tahun hidupnya, tidak pernah ia bayangkan melihat pemandangan Vino mendengarkan dongeng pengantar tidur.Vino mendelik ke arah kedatangan Bita. "Bukan gue yang minta. Tapi tante sendiri yang inisiatif." "Mama dongengin biar

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 35

    "Shit," umpat Vino.Bita melotot dan lekas menyingkirkan Vino dari atas tubuhnya lalu meloncat turun dari kasur. Sama paniknya dengan Bita, Vino memutuskan ikut turun dan berdiri di sisi Bita. Keduanya menatap daun pintu, menunggu Anggun muncul dengan jantung terpecut cepat. Barangkali Anggun aka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status