LOGINWedding Ceremony Meta akan dilangsungkan pukul sebelas siang di grand ballroom hotel tempatnya menginap. Karena itu, sekitar pukul sembilan pagi Bita sudah berada di depan meja rias, mempersiapkan diri.Kini, setelah hampir satu jam berkutat di depan cermin, Bita memasang sepasang anting kecil sebagai sentuhan terakhir penampilannya.Bita mengenakan dress panjang berwarna sage green dengan potongan sederhana yang tetap terlihat elegan. Rambutnya ditata setengah tergerai, sementara beberapa helai dibiarkan jatuh lembut di sekitar wajah. Makeup-nya dibuat tipis dan natural. Base ringan, blush lembut, sedikit maskara, serta lip tint bernuansa peach yang membuat wajahnya terlihat segar.Tinggal satu anting lagi yang belum terpasang ketika terdengar bunyi bel dari balik pintu. Gerakan Bita seketika terhenti.Bita yakin, di balik pintu itu pasti Vino, entah datang sendirian atau bersama Aksa. Memikirkan laki-laki itu membuat Bita kembali terin
“Nggak, Ta. Aku nggak mau,” tolak Vino tegas.Bita mendecak. Wajahnya sudah memelas. “Ayo, dong. Sekali aja di sini. Mas Aksa juga nggak bakal tiba-tiba datang. Dia pasti masih di kamar hotel buat ngurus kerjaannya. Itu juga yang bikin Mas Aksa nggak bisa nemenin aku dan akhirnya nyuruh kamu.”Aksa sempat menjelaskan bahwa ada kendala teknis di salah satu proyek yang sedang ditanganinya di Indonesia. Beberapa pekerjaan di lapangan ditemukan tidak sepenuhnya sesuai dengan gambar kerja sehingga tim membutuhkan arahan dan koordinasi darinya sebelum pekerjaan dilanjutkan.Meski sedang mengambil cuti, Aksa tetap harus turun tangan. Karena itu, ia memutuskan untuk tinggal di hotel dan menangani semuanya dari sana. Aksa bahkan sudah berpesan kepada Vino untuk menemani Bita berkeliling London.Jadi, untuk hari ini, praktis hanya ada mereka berdua. Dan Bita merasa seharusnya itu menjadi kesempatan yang sempurna.Bita memandangi Vino yang masih ter
Beberapa detik kemudian, keheningan di antara mereka terpecah oleh bunyi ting yang menandakan lift telah tiba. Mereka turun menuju lantai dasar tempat restoran hotel berada. Begitu pintu lift kembali terbuka, Bita melangkah keluar bersama Vino. Namun, baru beberapa langkah memasuki area restoran, langkah Bita mendadak terhenti. Matanya membelalak. Restoran itu ternyata sudah cukup ramai. Beberapa tamu hotel terlihat duduk menikmati sarapan, sementara sebagian lainnya berjalan mengitari area buffet sambil membawa piring. Seketika itu pula Bita merasakan malu yang luar biasa. Ia ingin sekali berbalik dan melesat kembali ke kamar untuk bersolek sebaik mungkin. Bagaimana tidak? Penampilannya benar-benar khas orang yang baru bangun tidur, lengkap dengan rambut awut-awutan dan piyama kusut. Sementara hampir semua tamu di restoran tampak begitu segar dan rapi. Menyadari Bita yang masih mematung di tempat, Vino segera bertanya, “K
Bita sudah bangun sejak tadi, tetapi masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Selimut masih menutupi sebagian tubuhnya, sementara pandangannya kosong menatap langit-langit kamar. Mood-nya benar-benar anjlok sejak Vino kembali mengingatkannya untuk menjaga jarak, tepat setelah ia mencuri kecupan singkat darinya. Yang membuat Bita kesal bukan cuma karena Vino melarangnya, tetapi juga caranya. Ia masih ingat bagaimana tatapan laki-laki itu kemarin mendadak menajam ketika menegurnya. Bita tidak suka ditatap seperti itu. Padahal mereka sedang berada di lantai delapan dengan pemandangan kota London yang terbentang penuh cahaya di balik kaca. Suasananya sudah romantis, pemandangannya juga indah, lalu entah bagaimana Bita terbawa suasana dan spontan memberikan kecupan singkat. Tapi respons Vino? Bukannya ikut menikmati momen, laki-laki itu malah mengingatkannya soal batasan. Iya, Bita tahu. Ia tahu
Tak lama kemudian, lift berhenti di lantai delapan. Pintu terbuka, dan mereka bertiga keluar sambil membawa barang masing-masing. Khusus Bita, kopernya bergantian dibawa Vino dan Aksa.Aksa berjalan beberapa langkah di depan, lalu berhenti di sebuah pintu kamar. “Ini kamar kamu, Ta.” Ia menunjuk pintu di hadapannya, kemudian menggeser pandangan ke pintu di sebelahnya. “Kalau kamar Mas sama Vino yang itu.”Aksa kemudian menyerahkan kartu akses kamar kepada Bita. “Nih, simpan baik-baik. Kalau ada apa-apa, langsung bilang Mas atau Vino, ya.”Bita menerima kartu itu, tetapi wajahnya masih tampak lesu. “Ini aku beneran tidur sendirian?”Vino memperhatikannya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum lembut. “Yaudah, ayo. Aku sama Mas Aksa antar kamu masuk dulu.” Ia menoleh kepada Aksa. “Ayo, Mas. Kita antar putri kecil yang takut bobok sendiri padahal udah gede ini ke kamarnya.”“Jangan ngejek aku!” seru Bita pura-pura kesal. Dengan wajah sumri
Perjalanan menuju London dimulai sejak pagi buta. Bita tiba di bandara bersama Aksa dan Vino dengan koper masing-masing. Karena penerbangan mereka cukup panjang, ketiganya sudah sepakat untuk datang lebih awal agar tidak terburu-buru saat proses check-in.Setelah melewati pemeriksaan keamanan, mereka menuju area keberangkatan. Bita berjalan di samping Vino sambil memperhatikan Aksa yang sejak tadi sibuk memastikan segala sesuatunya aman. Boarding pass dan paspor mereka kembali diperiksa satu per satu, begitu pula tas dan barang bawaan, seolah laki-laki itu takut ada sesuatu yang tertinggal.Vino yang melihatnya akhirnya merangkul bahu Aksa. "Udah, Mas. Tenangin diri. Semuanya aman terkendali. Nggak ada yang ketinggalan."Aksa menoleh dengan tatapan datar. "Kamu nggak lupa bawa charger?"Vino seketika membulatkan mata dan langsung menepuk dahinya. "Oh iya! Mas lupa!" Lalu terkekeh kikuk. "Nanti pinjem charger Mas, ya?"Aksa mengembuskan na
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa
"Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung
"Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino







