Share

Bab 37

Aвтор: macaroonie
last update publish date: 2026-06-04 22:31:19

"Mama sama Papa jenguk Tante Rina dulu ya. Kamu hati-hati di rumah."

Mama melepas pelukannya, dan mengusap kepala Bita yang mencebik.

Tadi sore, teman dekat Mamanya itu mengalami kecelakaan dan segera di bawa ke rumah sakit. Mama masih menunggu kepulangan Papa untuk bersama-sama menjenguknya. Maka dari itu kedua orangtuanya baru berangkat sehabis Maghrib. Saat hari sudah gelap, dan Bita merasa takut sendirian di rumah.

"Papa sama Mama cepet kan pulangnya?" tanya Bita masih tak ikhlas mengantar
Продолжить чтение
Scan code to download App
Заблокированная глава

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 84

    "Kenapa berhenti di sini?" protes Bita saat Vino memberhentikan motornya di depan rumah gadis itu. "Buat nurunin lo. Kan udah nyampe." "Tapi aku pengen ke rumah kamu aja." Vino menoleh, menegaskan dengan suaranya yang berat. "Lo pulang aja. Belajar. Katanya mau dapet nilai bagus? Gue nggak akan mencelakai Fero kalo itu yang lo takutkan." Bita menggeleng pelan. "Aku ... kamu nggak papa?" Alis tebal Vino tertaut tampak bingung. "Emang gue kenapa?" Sepertinya memang benar. Vino sudah mengetahui perselingkuhan Papanya. Karena jika belum, sudah dapat Bita pastikan laki-laki itu akan menjalankan motornya dengan ugal-ugalan, dan ekspresi yang ditampakkannya sekarang tidak akan setenang ini. Mungkin ini juga yang membuat Vino, setiap kali Papanya pulang, selalu memilih pergi dari rumah. Lalu Mami yang juga tak betah berada di rumahnya sendiri, dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk b

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 83

    Ujung ban depan motor Vino berhenti di depan garis zebra cross. Diikuti Honda Civic milik Fero yang berhenti mulus di sisi kirinya. Sama-sama menunggu lampu lalu lintas berganti warna. Kaca jendela yang turun setengah membuat pantulan sosok Fero yang terlihat dari kaca spion menyapa lapang pandang Bita. Dengan artian baik Fero maupun Bita mampu melihat satu sama lain. Bita kontan memindahkan wajahnya memaling ke kanan, dan berusaha sebisa mungkin tidak terlihat dari balik helm Vino. Diliriknya penghitung mundur yang menggantung di atas. Masih empat puluh dua detik lagi menuju hijau. Sementara pantatnya sudah panas sekali duduk di atas motor Vino. Bukan karena joknya yang lumayan tinggi hingga memaksa pantatnya agak terangkat. Namun genggaman tangan Vino yang belum mau membebaskan lengannya. Bahkan Vino hanya mengendarai dengan satu tangan. Seakan jika tidak di tahan oleh tangannya, Bita akan langsung terbang tersapu angin. Lebih-lebih posisi duduk mereka yang nyaris tanpa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 82

    "Aku nggak mau kalo kamu sampai macem-macem sama Fero."Untuk kesekian kalinya, Bita memberikan peringatan pada Vino. Duduk menyamping di atas motor dengan tangan bersedekap dada, Vino mendengus dari balik helmnya. "Emang gue mau ngapain Fero? Muka gue keliatan kayak kriminal?"Helm yang sudah terpasang di kepalanya, membuat wajah Vino hanya terlihat separuh. Namun dari bagian matanya yang tampak, Bita jelas melihat kilat bahaya yang cukup membuatnya yakin kemana semua ini akan bermuara."Kalo tujuan kamu mengajak Fero ke rumah kamu supaya kamu bisa leluasa menekannya, aku nggak akan ngomong sama kamu satu tahun full.""Emang tahan? Gue kecup dikit desah juga lo."Netra Bita membulat besar. "Vino!" Ditaboknya lengan laki-laki itu."Bener, kan?""Udah aku bilang jangan ngomong aneh-aneh di kampus!""Kalo di kamar boleh berarti?" Vino mencekal pergelangan tangan Bita yang hendak melayangkan p

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 81

    "Kamu jangan aneh-aneh ya, Vin." Bita menatapnya sangsi, memahami ke mana arah pembicaraan ini akan berujung."Apa? Gue cuma menawarkan bantuan?""Aku kenal kamu dan aku tahu kamu sedang merencanakan sesuatu. Dan sesuatu itu udah pasti bukan hal yang baik."Vino memasang raut tertohok. "Gue sejelek itu di mata lo, Ta? Sampai lo nggak percaya gue?"Bita mendesah. "Kalo gitu buat apa kamu menawarkan bantuan ke Fero?""Lo belum tau kalo Fero menganggap gue sama dia setara dalam hubungan persahabatan dengan lo?" tanya Fero. Mata Bita menyipit saat memandangi Fero dan Vino secara bergantian. "Emang kalian pernah ngobrol berdua?"Sesaat Vino terdiam sebelum menyuara santai. "Pernah. Ya ... cuma ngobrol-ngobrol biasa. Saling sapa selayaknya temen? Ya kan Fer?"Tidak langsung menjawab, Fero beradu pandang dengan Vino cukup lama kemudian menganggukkan kepalanya.Bita belum mau melunturkan sorot mata curiganya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 80

    "Lagi kumpul keluarga besar antar generasi ceritanya? Ikut, dong."Hening merayap di antara mereka. Tidak seorang pun terlihat berniat menjawab pertanyaan Vino."Kalo kamu mau merusuh, jangan sekarang. Kami lagi belajar buat ujian nanti." Bita menjatuhkan peringatan.Vino menyipitkan matanya pada Bita yang menatapnya datar. "Siapa yang mau merusuh? Orang gue cuma duduk dan pengen liat proses belajar kalian."Diambilnya catatan Fero tanpa permisi. "Sebagai anak manajemen, gue menyimpan banyak rasa penasaran terhadap hal-hal yang dikerjakan anak-anak akuntansi yang manis-manis ini."Sasha menampilkan raut jijik sebelum beringsut meninggalkan kursinya dengan alasan ingin meminjam buku di perpustakaan.Vino memindahkan perhatiannya dari Sasha yang menyambar bukunya lalu melipir dengan langkah kaki tergesa ke laki-laki asing di depannya. "Lo nggak ikutan pergi? Tiba-tiba pengen ngapain gitu? Kebelet boker?"Bagas menggelengka

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 79

    Bita menghela napas panjang sambil memandangi catatannya. "Aku masih suka ketuker antara biaya sama beban.""Nah!" Sasha menjentikkan jarinya. "Aku juga. Perasaan sama-sama keluar uang. Kenapa dosen ngotot bilang beda?""Karena memang beda."Bita dan Sasha serentak menoleh pada Fero. Bersama Bagas, Fero kembali bergabung di gazebo dengan kedua gadis itu guna mempersiapkan ujian berikutnya.Bagas menunjuk Fero. "Bener, kan? Udah gue bilang dia google berjalan, Kak. Gerak dikit udah bisa buka kuliah umum. Coba apa bedanya, Fer. Gue juga mau tau."Pipi Fero sedikit memerah. Namun setelah didesak tatapan penasaran dua mahasiswi itu, ia akhirnya melanjutkan."Biaya itu lebih ke pengorbanan sumber daya untuk memperoleh manfaat ekonomi. Sementara beban adalah bagian dari biaya yang manfaat ekonominya sudah dipakai dalam periode berjalan."Bita berkedip. "Bisa pake bahasa bayi?"Fero tertawa kecil."Misalnya pe

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 50

    "Beginikan enak."Bita memandang bangga handuk kecil yang sudah ia basahi air hangat yang kini menempel di dahi Vino."Kayak bocah," sungut Vino. "Mending solusi gue tadi aja lebih praktis.""Aku lebih baik nguras sumur daripada menyanggupi permintaan kamu buat telanjan

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 49

    "Mam—hmpft.""Iya, ini gue lepas."Bita menyingkirkan tangan Vino yang membekapnya. "Masuk ke kamar sekarang. Jangan bertingkah," suruhnya sudah seperti seorang ibu.Berniat melangkah duluan, Bita malah memekik ketika baru saja memutar tumit, badannya sudah melayang."Vino!" jerit Bita meningkahi V

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 48

    "Vino?"Bita melintasi ruang tamu rumah Vino sambil memanggil namanya. Dilihat dari pintu yang terbuka, sudah pasti laki-laki itu berada dirumah, tapi dipanggil sejak tadi Vino tidak muncul-muncul.Laki-laki itu sepertinya ada di kamar. Bita mengayunkan langkahnya menuju tangga yang membawanya ke l

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 47

    Koridor fakultas mulai ramai oleh mahasiswa yang baru selesai kuliah. Bita dan Sasha bersisihan keluar ruangan."Habis ini mau kemana?""Aku mau ke perpustakaan dulu buat pinjam buku."Sasha mencebik. "Kamu masih nggat mau kasih tau aku cowok yang kamu taksir?"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status