LOGINMatahari pagi Baltimore bersinar terang, menyelinap melalui jendela kaca tinggi balai kota yang megah. Pukul 10.00 pagi, ruang rapat dewan kota sudah penuh dengan orang-orang penting pemerintahan kota. Kursi kepala yang biasanya ditempati oleh Starla Kaplin, wali kota yang dicintai dan dihormati, masih kosong. Suara bisik-bisik gelisah mulai terdengar di antara para anggota dewan.Jason Rosswell, wakil wali kota, duduk di kursi sebelah kursi kosong itu dengan wajah cemas. Dia terus memeriksa jam tangannya, jarum jam bergerak perlahan, menambah beban di dadanya. Starla tidak pernah terlambat. Selama beberapa bulan dia menjabat sebagai wali kota, Starla selalu datang lebih awal, siap dengan rencana dan semangat yang menular. Hari ini, mereka seharusnya membahas dan mengesahkan undang-undang lingkungan hidup yang baru, sebuah proyek yang telah Starla kerjakan dengan keras selama berbulan-bulan, sebuah undang-undang yang dia yakini akan mengubah wajah kota Baltimore dalam hal konservasi
Matahari belum muncul dari balik lapisan awan kelabu yang tebal, menyelimuti kota Baltimore dalam kegelapan yang masih pekat saat roda pesawat jet pribadi menyentuh landasan bandara. Suara mesin yang menderu perlahan mereda, meninggalkan keheningan yang terasa berat di udara. Brocklyn Hanson duduk diam di kursi penumpang utama, jemarinya menggenggam sandaran lengan kursi dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pikirannya penuh dengan kebimbangan yang tak kunjung hilang, seperti benang kusut.Di sebelahnya, Corby Killians duduk dengan siaga. Matanya waspada mengamati sekeliling meskipun pesawat belum sepenuhnya berhenti. Para pengawal yang duduk di bagian belakang pesawat tetap diam hingga roda pesawat berhenti bergulir. Brocklyn menatap jendela kaca yang berembun, melihat lampu-lampu bandara yang berkedip samar di kejauhan. Hatinya berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena kekuatiran menghantui setiap detiknya tentang penolakan yang akan dia dapat dari Starla.Wanita y
Aroma kopi arabika yang baru diseduh bercampur dengan wangi daun ivy yang menggantung di pot-pot keramik di sudut ruangan. Ivy Leaves Cafe, sebuah tempat yang tersembunyi di antara gedung-gedung tua di pusat kota Baltimore, menjadi saksi pertemuan yang penuh ketegangan pada sore itu. Starla Kaplin, yang kini dikenal sebagai wali kota Baltimore, duduk di sudut cafe. Wajahnya tertutup topi lebar dan kacamata hitam meskipun ruangan itu tidak terlalu ramai. Tangannya yang gemetar memegang cangkir teh chamomile, matanya terus melirik ke arah pintu setiap kali ada orang masuk.Pintu cafe berderit terbuka, dan seorang pria berusia 38 tahun melangkah masuk. Dia mengenakan setelan jas biru tua yang rapi, kemeja putih bersih, dan sepatu kulit yang mengkilap. Rambutnya hitam dengan sedikit uban di pelipis, memberikan kesan pengalaman dan kematangan. Itu adalah Morgan Alter, pengacara ahli perceraian yang terkenal di Los Angeles. Dia telah menangani berbagai kasus perceraian pelik, mulai dari p
Hujan deras telah mengguyur Baltimore selama tiga hari berturut-turut, menjadikan jalan-jalan kota tergenang dan langit selalu tertutup awan kelabu pekat. Di rumah keluarga Kaplin yang terletak di pinggiran kota, Starla sedang terbaring lemah di atas ranjangnya, tubuhnya gemetaran antara panas dan menggigil kedinginan. Demam flu yang menyerangnya tak kunjung reda, meskipun dia telah minum obat dan berusaha beristirahat sejak kemarin malam.Tangannya mencoba meraih buku catatan kerja yang terletak di sisi meja malam, namun hanya mampu menjentikkan ujung jari sebelum rasa lelah menguasainya sepenuhnya. Sebagai wali kota Baltimore, dia seharusnya berada di gedung kota saat ini karena ada rapat dewan kota untuk membahas rancangan undang-undang tata kota baru yang sudah dijadwalkan sejak sebulan yang lalu. Namun, tubuhnya yang lemah membuatnya tidak mungkin berdiri, apalagi memimpin rapat yang penting itu."Sudahlah, Starla … kamu tidak bisa melakukan apa-apa dalam kondisi seperti ini. Ohh
Sudah dua bulan Starla menjabat sebagai wali kota Baltimore. Dia menunjukkan dedikasi yang besar dengan pekerjaan barunya. Bersama Jason Rosswell, pasangan itu menerima keluhan serta masukan dari para warga kota yang mereka layani. Perbaikan jalan yang rusak, menebang pohon tua yang terlalu tinggi hingga rawan tumbang bila terkena badai, menggelar acara penggalangan dana sosial, dan juga berbagai acara hiburan untuk menyemarakkan kehidupan kota Baltimore. Kondisi hamil serta pekerjaan yang melelahkan membuat Starla tak enak badan. Di luar balai kota sedang turun hujan deras, dia memilih untuk lembur sembari menunggu cuaca membaik petang itu."TOK TOK TOK." "Masuk!" jawab Starla.Jason melongokkan kepala dari balik pintu, dia memeriksa apa Starla masih sibuk atau sudah siap untuk pulang. "Hai, Ibu Wali Kota. Apa belum ingin pulang ke rumah?" sapanya seraya masuk ke ruangan yang bernuansa kontemporer minimalis dengan dominasi warna putih dan biru muda."Hatsyiii ... uhuk uhuk!" Starl
"Hasil quick count di TV menunjukkan kamulah pemenangnya, Starla!" ujar Reynard Kaplin di ruang keluarga bersama istrinya dan saudara-saudarinya.Oriel, kakak Starla yang biasanya bekerja sebagai dokter neurolog di luar kota Baltimore pun ikut pulang khusus memberikan dukungan bagi Starla. Dia berkata, "Ini pencapaian luar biasa untuk adikku! Kuharap kelak performamu menggantikan daddy akan lebih baik atau mempertahankan prestasi dad!""Terima kasih atas dukungan kalian semua, sejujurnya aku tidak menyangka akan memenangkan pemilihan wali kota Baltimore. Baru saja aku pindah dari LA dan tidak mengenal banyak warga kota ini," jawab Starla dengan mata berkaca-kaca, rasa bahagia itu membuncah di dadanya."Kamu pasti bisa menjadi pemimpin yang baik, Starla. Mom akan mendoakan pekerjaanmu akan dilancarkan dan diberi kemudahan bekerja sama dengan para kolegamu di pemerintahan!" dukung Nyonya Luna Kaplin seraya memeluk putrinya.Malam itu diadakan makan malam bersama tim pendukung kampanye S







