Share

Bintang Yang Menyandang Namamu
Bintang Yang Menyandang Namamu
Author: Rains

Bab 1

Author: Rains
Ketika Indra pulang, aku sedang merokok di balkon.

Karena dia tidak menyukai bau rokok, saat menciumnya, alisnya pasti langsung berkerut. Jadi, sejak bersama dengannya, aku memaksakan diri untuk berhenti merokok. Bahkan aku sempat mengalami reaksi putus nikotin.

Melihatku merokok, Indra tertegun sejenak, namun tidak mengatakan apa-apa. Ia menyerahkan sebuah kotak kado kepadaku dengan santai.

“Hadiah ulang tahun pernikahan ketujuh.” Ucapnya dengan nada datar.

“Maaf, malam ini tiba-tiba harus lembur. Aku lupa memberi tahu.”

“Hmm, tidak apa-apa.”

Aku menarik hisapan terakhir rokokku, lalu mengulurkan tangan untuk menerima kotak itu dan membukanya. Isinya sebuah kalung berbentuk bintang.

Aku menutup kembali kotak itu, seraya berkata, “Aku suka hadiahnya. Terima kasih.”

Indra terdiam, kalimat penjelasan yang hendak ia ucapkan seakan tersangkut di tenggorokannya. Ia menatapku dengan raut muka terkejut. Mungkin ia mengira aku akan seperti biasanya, mengejarnya tanpa henti, terus bertanya, menuntut penjelasan darinya.

Aku pun juga mengira, setelah melihat topik panas itu, aku akan kehilangan kendali dan menginterogasinya habis-habisan, bertengkar hebat dengannya, lalu berpisah dengan tidak harmonis.

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh. Aku sudah memesan restoran tempat ia dulu melamarku, menyiapkan kembang api, bersiap memberinya sebuah kejutan. Aku bahkan pulang lebih awal, menunggunya di depan gerbang lembaga penelitian tempat ia bekerja.

Tapi orangnya tak kunjung datang. Yang datang justru sebuah berita panas yang langsung naik di sosial media.

[Penemuan terbaru di bidang astronomi negara kita, bintang bernomor 960306, pada pagi hari ini resmi diumumkan dengan nama ‘Bintang Laras Yunita’.]

[Ini adalah bintang pertama yang ditemukan oleh astronom Indra Rahmanda, sehingga memiliki nilai yang sangat istimewa.]

Di bawah berita panas itu, unggahan dengan tingkat popularitas tertinggi berasal dari akun Indra sendiri.

[Aku gelarkan satu bintang ini dengan namamu. Meski berada di jagat raya, kamu takkan pernah sendirian.]

Foto yang menyertai unggahan itu adalah potret Indra dan Laras di sebuah restoran Barat, wajah mereka saling menempel. Di tangan Laras, terangkat sertifikat kepemilikan bintang itu.

Saat aku membuka kolom komentar, komentar dengan jumlah suka terbanyak adalah milik akun Laras.

[Romantisme yang seharusnya bersifat pribadi justru kamu umumkan ke dunia. Terima kasih, Kak Indra. Aku sangat bahagia.]

Melihat itu, aku langsung melempar ponsel ke kursi penumpang di sebelahku, lalu mengemudi menuju restoran yang sudah kupesan.

Seorang diri, di bawah gemerlap kembang api, aku menghabiskan dua porsi steak, seolah menjadikannya upacara perpisahan bagi tujuh tahun pernikahan kami yang segera berakhir.

Saat aku hendak menyalakan rokok kedua, Indra tiba-tiba merampas korek api dari tanganku.

Alisnya sedikit berkerut saat berkata, “Bukankah sudah aku minta untuk berhenti merokok?”

“Lagi kambuh saja,” jawabku singkat, lalu memasukkan kembali rokok ke dalam bungkusnya dan bersiap kembali ke kamar untuk beristirahat.

Indra menahan pergelangan tanganku dan menatapku dengan tatapannya rumit. “Hari ini hari jadi pernikahan kita.”

Aku menatapnya, tak mengerti maksudnya. “Lalu?”

Keningnya semakin berkerut. “Kalau kamu tidak menyiapkan hadiah, tidak apa-apa.

Tapi malam ini … apa kamu benar-benar akan tidur secepat ini?”

Sambil bicara begitu, Indra mendekat, hendak memeluk dan menciumku.

Sejak dulu, Indra selalu memiliki pesona yang bertolak belakang, dingin namun lembut dalam satu waktu.

Biasanya, jika ia bersikap seaktif ini, aku pasti sudah tenggelam dalam kelembutannya. Hanya saja kali ini, seluruh perhatianku justru tertahan pada aroma parfum yang melekat di tubuhnya, wangi asing yang tak kunjung menghilang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 10

    Kami terlalu lama bersama, dan sisi buruknya kami memiliki terlalu banyak teman yang sama. Saat aku melangkah masuk ke aula pernikahan, terlihat Indra mengenakan setelan jas hitam dan menggenggam sebuket mawar merah. Orang-orang yang lalu lalang menatap ke arah Indra, namun ia seolah tak menyadarinya sama sekali.Begitu melihatku, sepasang mata Indra langsung berbinar. Ia melangkah ke arahku, setapak demi setapak. Tubuhnya tampak lebih kurus dari sebelumnya, wajahnya juga terlihat pucat dan lelah.Karena sebelumnya aku mengirimkan video tentang diri Indra dan Laras ke obrolan grup. Ada orang-orang yang suka mencari sensasi, menyebarkan video itu ke internet, hingga sempat memicu perbincangan hangat.Banyak warganet menyerbu kolom komentar di akun sosial media Laras, memaki, bilang kalau Laras tak tahu malu, sadar jadi orang ketiga tapi tetap melakukannya. Pihak lembaga penelitian pun memecat Laras, sementara Indra jabatannya diturunkan satu tingkat.Teman-teman juga mulai menjauh dari

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 9

    Saat itu, Indra sempat bercanda di samping Elia, berkata, “Kan kita cuma pergi liburan, bukan tidak akan pulang lagi. Kenapa kamu bereskan barang sebanyak ini?”Waktu itu, apa yang Elia katakan? Dia tidak mengatakan apa pun. Hanya menatap Indra dengan tenang. Jantung Indra kembali terasa perih, seperti ditusuk jarum berulang kali. Ternyata sejak saat itu, Elia sudah memutuskan untuk meninggalkannya.Tidak. Pasti bukan begitu. Elia hanya sedang marah. Elia cuma bersembunyi, menunggu dirinya datang membujuk. Elia pasti akan memaafkannya.Saat Indra pergi ke kantor Elia untuk mencarinya, Indra justru dihentikan oleh satpam di lantai bawah.“Ini perintah dari atasan, orang yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk.”Indra lalu mencoba menemui teman-teman mereka yang sama-sama dikenal. Dan tak satu pun dari mereka memberinya sambutan yang baik. Dari Ranti, Indra baru tahu bahwa beberapa waktu lalu, depresi Elia sempat menunjukkan tanda-tanda kambuh.Indra tidak mau percaya. Setelah berhar

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 8

    Kata-kata yang belum sempat Indra ucapkan terhenti mendadak.“Tidak ada lain kali.”Aku menatap lurus ke dalam matanya, mengucapkannya dengan tegas. Kami saling memandang dalam diam selama beberapa menit. Tiba-tiba aku menunduk, lalu melambaikan tangan ke arahnya.“Laras mau lompat dari gedung. Kamu ketua tim, tidak pantas kalau tidak ke sana.”“Pergilah.”Indra menunduk, ragu selama beberapa detik, lalu menatapku seolah memohon. “Kalau begitu perjalanan Jalur Barat Laut itu .…”Sudut bibirku terangkat tipis. “Nanti saja kalau ada kesempatan.”Seolah mendapatkan surat pengampunan, Indra menerobos hujan deras, naik taksi kembali ke lembaga penelitian. Aku mengikutinya keluar, lalu naik taksi ke arah yang berlawanan.Satu jam kemudian, aku sudah duduk di dalam pesawat. Dengan tujuan ke Negara Seruni. Sebelum lepas landas, aku mengirim sebuah file terkompresi ke kedua orang tua kami dan para sahabat.…Saat Indra terbangun, ia mendapati dirinya terbaring di samping seseorang. Refleks, ia

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 7

    Sudut bibirku sedikit terangkat, lalu aku pun mengunggah sebuah postingan di sosial media.[Suamiku sudah berjanji akan melepaskan segalanya di sini dan berkeliling dunia bersamaku. Hidup ini paling banyak hanya 30.000 hari, meski hanya bahagia sehari, mari kita nikmati. Masa lalu biarlah berlalu, mulai sekarang kami akan menjalani hidup dengan baik.]Laras akhirnya tetap tak sanggup menahan diri. Sore harinya, dia mengajakku bertemu.Di sebuah kafe, aku melihatnya, wajahnya pucat dan penuh akan kelelahan. Mata Laras memerah, suaranya bergetar saat bertanya padaku, “Sebegitu cintanya kamu padanya? Aku dan dia sudah sejauh ini, tapi kamu tetap tidak mau melepaskannya.”Aku hanya mengibaskan tangan, tanpa menyangkal sedikit pun. “Dia bilang dia mencintaiku. Tanpa aku, dia akan mati.”Laras tampak semakin hancur. “Kalian mau pergi?”“Kenapa … kenapa dia tidak bilang apa-apa padaku?”Aku membuka tangkapan layar tiket pesawat yang dipesan Indra dan memperlihatkannya padanya. Dengan setengah

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 6

    “Elia, jangan tinggalkan aku .…”“Jangan pergi. Dengarkan penjelasanku, ya?”Suara Indra bergetar, kata-katanya tersendat, nadanya gemetar tak stabil. Aku hanya menatapnya dengan tenang. Namun tiba-tiba Indra runtuh, menangis tersedu-sedu.“Elia, jangan menatapku seperti itu. Kalau kamu mau memukulku, memarahiku, silakan. Tapi jangan menatapku dengan pandangan seperti ini!”Ia mencengkeram pakaianku erat-erat, tatapannya dipenuhi putus asa.“Elia, kamu bilang hidupmu adalah milikku. Kamu bilang akan menemaniku sampai tua.”“Kita juga sudah berjanji akan pergi melihat Gunung Tujuh Warna bersama. Kamu tidak boleh mengingkari janji.”“Kita … kita sudah sepakat .…”Aku menutup mata lelah. “Lalu, apa yang sebenarnya kamu inginkan?”Indra menangis hingga hampir kehilangan suara. Beberapa menit kemudian, dengan suara serak, ia berkata, “Jangan tinggalkan aku, ya? Beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji tidak akan membuatmu terluka lagi.”Aku terdiam. Namun pandanganku jatuh pada sebuah fo

  • Bintang Yang Menyandang Namamu   Bab 5

    Kilatan petir dan gemuruh guntur yang datang tiba-tiba menerangi seluruh area parkir.“Siapa itu?”Akhirnya, mereka melihatku yang sedang berdiri tidak jauh dari sana. Di saat itu, suara napas mereka terdengar begitu jelas, begitu memalukan.Begitu Indra melihatku, ia seperti kehilangan jiwanya. “El … Elia, kenapa kamu ada di sini?”Aku melangkah mendekat, satu langkah demi satu langkah.“Kakak … bukan begitu. Ini bukan salah Kak Indra. Aku yang menyukainya, semua ini aku yang—ah!”Belum sempat Laras menyelesaikan kalimatnya, dengan seluruh tenaga yang kupunya, aku menampar wajahnya. Kemudian aku melepaskan cincin pernikahan dari jariku dan melemparkannya keras ke arah Indra. Hantaman itu membuat Indra tersentak sadar. Ia buru-buru mendorong Laras menjauh.Nada suaranya tanpa sadar meninggi. “Elia, dengarkan penjelasanku! Ini bukan seperti yang kamu ....”Aku memotong kata-katanya dengan menyerahkan dokumen perjanjian perceraian kepada Indra.“Indra, kita selesai.”Indra mengejarku tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status