LOGIN
Kami terlalu lama bersama, dan sisi buruknya kami memiliki terlalu banyak teman yang sama. Saat aku melangkah masuk ke aula pernikahan, terlihat Indra mengenakan setelan jas hitam dan menggenggam sebuket mawar merah. Orang-orang yang lalu lalang menatap ke arah Indra, namun ia seolah tak menyadarinya sama sekali.Begitu melihatku, sepasang mata Indra langsung berbinar. Ia melangkah ke arahku, setapak demi setapak. Tubuhnya tampak lebih kurus dari sebelumnya, wajahnya juga terlihat pucat dan lelah.Karena sebelumnya aku mengirimkan video tentang diri Indra dan Laras ke obrolan grup. Ada orang-orang yang suka mencari sensasi, menyebarkan video itu ke internet, hingga sempat memicu perbincangan hangat.Banyak warganet menyerbu kolom komentar di akun sosial media Laras, memaki, bilang kalau Laras tak tahu malu, sadar jadi orang ketiga tapi tetap melakukannya. Pihak lembaga penelitian pun memecat Laras, sementara Indra jabatannya diturunkan satu tingkat.Teman-teman juga mulai menjauh dari
Saat itu, Indra sempat bercanda di samping Elia, berkata, “Kan kita cuma pergi liburan, bukan tidak akan pulang lagi. Kenapa kamu bereskan barang sebanyak ini?”Waktu itu, apa yang Elia katakan? Dia tidak mengatakan apa pun. Hanya menatap Indra dengan tenang. Jantung Indra kembali terasa perih, seperti ditusuk jarum berulang kali. Ternyata sejak saat itu, Elia sudah memutuskan untuk meninggalkannya.Tidak. Pasti bukan begitu. Elia hanya sedang marah. Elia cuma bersembunyi, menunggu dirinya datang membujuk. Elia pasti akan memaafkannya.Saat Indra pergi ke kantor Elia untuk mencarinya, Indra justru dihentikan oleh satpam di lantai bawah.“Ini perintah dari atasan, orang yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk.”Indra lalu mencoba menemui teman-teman mereka yang sama-sama dikenal. Dan tak satu pun dari mereka memberinya sambutan yang baik. Dari Ranti, Indra baru tahu bahwa beberapa waktu lalu, depresi Elia sempat menunjukkan tanda-tanda kambuh.Indra tidak mau percaya. Setelah berhar
Kata-kata yang belum sempat Indra ucapkan terhenti mendadak.“Tidak ada lain kali.”Aku menatap lurus ke dalam matanya, mengucapkannya dengan tegas. Kami saling memandang dalam diam selama beberapa menit. Tiba-tiba aku menunduk, lalu melambaikan tangan ke arahnya.“Laras mau lompat dari gedung. Kamu ketua tim, tidak pantas kalau tidak ke sana.”“Pergilah.”Indra menunduk, ragu selama beberapa detik, lalu menatapku seolah memohon. “Kalau begitu perjalanan Jalur Barat Laut itu .…”Sudut bibirku terangkat tipis. “Nanti saja kalau ada kesempatan.”Seolah mendapatkan surat pengampunan, Indra menerobos hujan deras, naik taksi kembali ke lembaga penelitian. Aku mengikutinya keluar, lalu naik taksi ke arah yang berlawanan.Satu jam kemudian, aku sudah duduk di dalam pesawat. Dengan tujuan ke Negara Seruni. Sebelum lepas landas, aku mengirim sebuah file terkompresi ke kedua orang tua kami dan para sahabat.…Saat Indra terbangun, ia mendapati dirinya terbaring di samping seseorang. Refleks, ia
Sudut bibirku sedikit terangkat, lalu aku pun mengunggah sebuah postingan di sosial media.[Suamiku sudah berjanji akan melepaskan segalanya di sini dan berkeliling dunia bersamaku. Hidup ini paling banyak hanya 30.000 hari, meski hanya bahagia sehari, mari kita nikmati. Masa lalu biarlah berlalu, mulai sekarang kami akan menjalani hidup dengan baik.]Laras akhirnya tetap tak sanggup menahan diri. Sore harinya, dia mengajakku bertemu.Di sebuah kafe, aku melihatnya, wajahnya pucat dan penuh akan kelelahan. Mata Laras memerah, suaranya bergetar saat bertanya padaku, “Sebegitu cintanya kamu padanya? Aku dan dia sudah sejauh ini, tapi kamu tetap tidak mau melepaskannya.”Aku hanya mengibaskan tangan, tanpa menyangkal sedikit pun. “Dia bilang dia mencintaiku. Tanpa aku, dia akan mati.”Laras tampak semakin hancur. “Kalian mau pergi?”“Kenapa … kenapa dia tidak bilang apa-apa padaku?”Aku membuka tangkapan layar tiket pesawat yang dipesan Indra dan memperlihatkannya padanya. Dengan setengah
“Elia, jangan tinggalkan aku .…”“Jangan pergi. Dengarkan penjelasanku, ya?”Suara Indra bergetar, kata-katanya tersendat, nadanya gemetar tak stabil. Aku hanya menatapnya dengan tenang. Namun tiba-tiba Indra runtuh, menangis tersedu-sedu.“Elia, jangan menatapku seperti itu. Kalau kamu mau memukulku, memarahiku, silakan. Tapi jangan menatapku dengan pandangan seperti ini!”Ia mencengkeram pakaianku erat-erat, tatapannya dipenuhi putus asa.“Elia, kamu bilang hidupmu adalah milikku. Kamu bilang akan menemaniku sampai tua.”“Kita juga sudah berjanji akan pergi melihat Gunung Tujuh Warna bersama. Kamu tidak boleh mengingkari janji.”“Kita … kita sudah sepakat .…”Aku menutup mata lelah. “Lalu, apa yang sebenarnya kamu inginkan?”Indra menangis hingga hampir kehilangan suara. Beberapa menit kemudian, dengan suara serak, ia berkata, “Jangan tinggalkan aku, ya? Beri aku satu kesempatan lagi. Aku berjanji tidak akan membuatmu terluka lagi.”Aku terdiam. Namun pandanganku jatuh pada sebuah fo
Kilatan petir dan gemuruh guntur yang datang tiba-tiba menerangi seluruh area parkir.“Siapa itu?”Akhirnya, mereka melihatku yang sedang berdiri tidak jauh dari sana. Di saat itu, suara napas mereka terdengar begitu jelas, begitu memalukan.Begitu Indra melihatku, ia seperti kehilangan jiwanya. “El … Elia, kenapa kamu ada di sini?”Aku melangkah mendekat, satu langkah demi satu langkah.“Kakak … bukan begitu. Ini bukan salah Kak Indra. Aku yang menyukainya, semua ini aku yang—ah!”Belum sempat Laras menyelesaikan kalimatnya, dengan seluruh tenaga yang kupunya, aku menampar wajahnya. Kemudian aku melepaskan cincin pernikahan dari jariku dan melemparkannya keras ke arah Indra. Hantaman itu membuat Indra tersentak sadar. Ia buru-buru mendorong Laras menjauh.Nada suaranya tanpa sadar meninggi. “Elia, dengarkan penjelasanku! Ini bukan seperti yang kamu ....”Aku memotong kata-katanya dengan menyerahkan dokumen perjanjian perceraian kepada Indra.“Indra, kita selesai.”Indra mengejarku tan







