LOGINLuna masih menangkup wajah Tara, dan Tara membiarkannya saja. Ia hanya tersenyum dengan pipi sedikit tertekan oleh kedua telapak tangan gadis itu, mirip bapao yang baru keluar dari kukusan.“Iya, Luna. Aku Mas jenggotan itu.”“Ya ampun.” Luna akhirnya melepaskan wajah Tara, lalu menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa sambil menutup muka dengan bantal. “Pantas aja waktu pertama kali lihat kamu di rumah ini rasanya kayak pernah lihat. Tapi aku pikir itu cuma perasaan.”“Kamu sempat mikir begitu?”“Iya. Cuma sebentar, habis itu lupa.” Luna mengintip dari balik bantal. “Terus, kok bisa kamu ada di panti waktu itu? Dan kenapa kamu pakai kacamata hitam di dalam ruangan? Kamu waktu itu lagi jadi buronan, ya?”Tara tertawa. “Bukan buronan. Waktu itu aku lagi di masa-masa...” Ia berhenti sebentar, mencari kata yang pas. “Aku nggak mau dikenali siapa-siapa. Orang tuaku baru meninggal, dan aku pengin menghilang dulu dari dunia. Rambut dipanjangin, jenggot dibiarin tumbuh, kacamata hitam kupak
“Kapan?”Tara tidak langsung menjawab. Ia menarik tubuhnya perlahan dari atas Luna, lalu duduk tegak di sofa sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur, dan rambutnya sedikit berantakan karena jemari Luna tadi. Ia menyugar rambutnya ke belakang, mencoba menenangkan diri.Luna ikut bangkit dan duduk di sebelahnya. Ia menunduk, lalu buru-buru membetulkan tali gaun putih tulangnya yang sudah melorot sampai ke lengan atas, ulah Tara beberapa menit lalu. Wajahnya langsung merah padam. Ia merapikan rambutnya yang kusut, menarik ujung gaunnya ke bawah, lalu berdeham pelan seolah tidak ada apa-apa.Tara melirik gerak-geriknya dari sudut mata, dan bibirnya berkedut menahan senyum.“Jangan senyum,” desis Luna tanpa menoleh.“Aku nggak senyum.”“Jangan mengelak, aku melihatnya.”Di depan mereka, televisi masih menyala dalam keadaan mute, menayangkan adegan film yang tadi mereka tinggalkan begitu sajaTara menarik napas dalam, lalu menoleh. “Ka
"Bagaimana caranya Tara?"Tara mengenggam tangan Luna. "Setelah semua urusanku selesai, aku akan membantu kamu untuk lepas dari suamimu. Aku nggak mau melihat kamu harus terbelenggu dalam sangkar yang suamimu buat untukmu Luna.""Kamu yakin bisa berhasil Tara? Kamu tahu sendiri bagaimana kekuasaan Mas Alvin," ucap Luna terlihat ragu."Aku yakin bisa. Apalagi pernikahan kalian belum suamimu umumkan pada publik. Sangat mudah membuat kamu terlepas dengannya. Aku bisa melakukan apapun asal memang keinginan dari kamu untuk berpisah dengan dia," ucap Tara.Luna langsung mengangguk tanpa berpikir dua kali. Gadis itu langsung memeluk Tara. "Makasih Tara. Aku sudah lelah terus-terusan mengharapkan perhatian Mas Alvin."Tara membalas pelukan Luna. Tangan pria itu mengusap punggung Luna. "Kamu pantas mendapatkan kebahagian Luna," bisik Tara."Dan aku yang akan memberikan kebahagian itu, Luna," batin Tara.Luna sedikit melonggarkan pelukannya, lalu ia mendongak hingga tatapannya bertemu dengan n
Tara kembali ke kamar setelah menaruh nampan, piring, dan mangkuk kosong di dapur.Begitu pintu terbuka, Luna yang sedang duduk bersila di atas ranjang langsung menoleh. Gadis itu memeluk bantal di pangkuannya, rambut ekor kudanya sudah dilepas dan tergerai berantakan di bahu.“Tara, kamu sudah mengantuk belum?” tanyanya.Tara menggeleng. “Belum. Kamu sendiri sudah mengantuk?”“Belum juga.” Luna ikut menggeleng. “Padahal tadi aku pikir habis masak langsung mau tidur. Ternyata mataku malah segar banget.”“Itu karena kamu terlalu bangga sama sup buatanmu sendiri.”“Ih, memang pantas dibanggakan, kan? Kamu saja tadi puji sup ayam kampung buatanku.” Luna mengangkat dagunya dengan gaya sombong yang dibuat-buat, lalu terkekeh. Tiba-tiba matanya berbinar. “Eh, bagaimana kalau kita nonton saja?”“Nonton?”“Iya. Daripada bengong, kamu juga belum ngantuk. Kalau kamu balik ke kamarmu sendiri, nanti ujung-ujungnya buka laptop lagi.”Tara membuka mulut hendak membantah, lalu menutupnya lagi karena
Tokk... Tokk... Tokk....Tara menoleh ke arah pintu begitu terdengar suara ketukan pintu. "Tara..." Terdengar suara Luna memanggil namanya. Buru-buru Tara memasukkan semua dokumen ke dalam map cokelat dan langsung menyimpannya ke dalam laci di samping ranjangnya. Tara tetap membiarkan laptopnya tetap menyala.Suara ketukan kembali terdengar membuat Tara langsung berjalan menuju pintu kamarnya dan pria itu pun membukanya.Begitu pintu kamar terbuka di depan kamarnya Luna sedang membawa nampan yang di atasnya ada satu piring nasi dan semangkuk sup yang masih mengepul."Tara, kamu baik-baik saja kan?" tanya Luna tampak khawatir."Aku baik-baik saja. Itu?""Oh ini aku buatkan sup ayam kampung untuk kamu. Sup ini cocok untuk menghangatkan tubuh," jawab Luna."Kamu yang masak sendiri?" tanya Tara.Luna langsung mengangguk. "Kamu nggak percaya aku bisa masak ini? Sup ini menu andalanku dan sudah banyak yang bilang enak. Kamu nggak ajak aku masuk ke dalam kamar? Ini berat loh Tara," ucap Lu
Sore harinya, Luna berdiri di depan kompor dengan lengan baju tergulung sampai siku, sibuk mengaduk panci besar berisi kuah bening yang mulai mendidih pelan. Potongan ayam kampung sudah empuk, wortel dan kentang sudah masuk, dan ia baru saja menaburkan bawang goreng ketika terdengar langkah tergesa dari arah pintu.“Loh, Non, mau masak apa? Sini Mbak bantu ya,” ucap Mbak Sarti yang baru masuk sambil menyingsingkan lengan bajunya.“Nggak apa-apa kok, Mbak. Aku cuma masak sup ayam kampung saja, gampang.” Luna menoleh sambil tersenyum. “Mbak kembali saja ke paviliun belakang. Ini kan sudah sore, sudah waktunya Mbak istirahat. Mentari sama Pak Deden juga pasti sudah balik, kan?”“Iya, Non, mereka sudah di paviliun. Tapi beneran nggak usah Mbak bantu? Mbak jadi nggak enak. Hari ini Mbak juga nggak nyiapin menu makan malam buat Nona sama Mas Tara.”Luna terkekeh. Tadi siang ia memang sudah bilang pada Mbak Sarti kalau malam ini tidak perlu repot menyiapkan makan malam. “Beneran, Mbak. Angga






