Compartir

Bab 18

Autor: Nabila Ara
last update Fecha de publicación: 2026-08-25 23:48:41

“Clarissa akan ikut serta di acara itu.”

Untuk pertama kalinya sejak ia menikah dengan Alvin, ia akan berada di ruangan yang sama dengan Clarissa.

“Mas Alvin.. Halo..”

Luna melihat ke layar ponselnya, ternyata Alvin sudah memutuskan sambungan telepon bahkan belum sempat ia menjawab.

“Tara gimana ini..” Luna tampak sedikit panik.

“Ada apa Non?”

“Acara keluarga Mahawira dimajukan jadi lusa. Aku nggak yakin siap untuk pertemuan itu. Aku harus gimana Tara?”

Tara memegang bahu Luna. “Luna tenang dul
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 24

    Semalaman Luna tidak bisa tidur nyenyak.Setiap kali matanya mulai terpejam, pikirannya kembali pada apa yang ia lihat tadi tentang Tara dan pria remaja yang ia lihat di artikel itu.Luna kembali membuka folder itu, membaca ulang artikel yang sama seolah ada detail baru yang akan muncul kalau dibaca sekali lagi.Namun setelah ia beberapa kali membacanya tetap saja Luna tidak menemukan jawaban dari banyaknya pertanyaan yang bersarang di pikirannya.Dan sampai pukul empat pagi, akhirnya Luna menyerah dan mematikan laptopnya, lalu duduk di tepi jendela sambil menghitung ikan-ikan yang masih berenang di kolam meski lampu taman sudah meredup.Paginya, dia turun dengan mata bengkak dan kantong hitam yang sulit disembunyikan meski sudah dipoles bedak tipis."Nona kenapa matanya bengkak gitu?" tanya Tara begitu melihat Luna duduk lesu di meja makan."Nggak apa-apa kok, cuma semalem begadang nonton drama sampai kelewatan episode." Luna buru-buru mengalihkan pandangan ke gelas air di depannya,

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 23

    Tara kemudian mengangguk karena… entah kenapa, setiap kali Luna minta bantuan, Tara selalu senang mendengarnya. "Bantuin apa, Non?""Nanem bunga ini, tanahnya masih kosong dari kemarin." Luna menyodorkan satu sekop lagi ke arah Tara tanpa menoleh, sibuk mengaduk-aduk tanah di pot terdekat."Nona yakin nih pupuknya segini takarannya?" tanya Tara sambil menimbang-nimbang segenggam pupuk di tangannya."Yakin dong, aku kan udah baca di internet.""Ini kebanyakan, Non. Nanti akarnya malah kebakar.""Ih, sotoy. Kamu tahu apa soal berkebun? Kerjaan kamu kan jagain aku, bukan jagain bunga.""Kalau bunga mati gara-gara pupuk kebanyakan, yang repot juga Nona sendiri."Luna mencibir, tapi tetap mengurangi separuh pupuk di tangannya sambil menggerutu pelan kalau Tara sok tahu. Perdebatan kecil itu berakhir dengan tangan mereka berdua sama-sama kotor kena tanah."Eh, tanganku belepotan nih." Luna mengangkat kedua tangannya yang penuh tanah, lalu tanpa aba-aba mengusapkannya ke lengan Tara sambil t

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 22

    Pertanyaan itu masih menggantung di kepala Tara ketika dia akhirnya melepas kemeja yang kancingnya tinggal separuh, lalu menyampirkannya asal di sandaran kursi meja kerjanya.Ponsel di tangannya masih menyala, menampilkan pesan satu baris dari Gilang yang sudah dia baca tiga kali tanpa ada tambahan informasi apa pun selain jam dan nama penerima telepon.Sambungan telepon tersambung setelah dua kali dering."Tara, akhirnya kamu telepon balik," ucap Gilang, suaranya masih terdengar buru-buru, jauh dari nada santai yang biasa dia pakai kalau menelepon soal urusan sepele."Ada apa sampai empat belas kali telepon, Gilang?""Semalam Pak Sudirja telepon ke kantor pusat. Dia tanya langsung ke resepsionis, apa benar putra tunggal keluarga Askara lagi ada di kota."Tara menekan-nekan pagar besi dengan telapak tangannya, memastikan tidak ada bagian yang berkarat sekaligus menahan dirinya supaya suaranya tetap datar meski dadanya mulai berdebar tidak karuan."Terus, resepsionis jawab apa?""Untun

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 21

    “Aaahhh...”Tara benar-benar menggunakan lidahnya untuk memulai pendakian pada kedua bukit Luna malam ini.Ia mengangsurkan bibirnya pada permukaan bukit itu, menggunakan lidahnya untuk mendaki puncaknya, bergerak memutar, bibirnya menyesap kembali puncak bukit yang semakin keras itu hingga sebuah desakan liar membuatnya melakukan gerakan primitif kesukaan para pria di jagat raya.Sebelumnya Tara memang belum pernah melakukan ini karena ia benar-benar menjaga dirinya untuk tidak terlibat pada pergaulan bebas.Tetapi insting yang menuntunnya untuk menciptakan gerakan primitif yang mungkin akan disukai oleh Luna.Tadi ketika melihat tubuh polos Luna untuk pertama kalinya, jujur saja ia sangat terpesona. Tubuh gadis di bawah kungkungannya ini sungguh indah dari pemandangan yang selama ini pernah ia lihat.Bibirnya berpindah dari puncak bukit Luna yang satu lalu ke puncak bukit yang satunya bersinergi dengan tangannya yang juga memainkan puncak bukit Luna yang sudah tegang.Tubuh Luna men

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 20

    Tara menunduk sopan pada Pak Sudirja. “Maaf Tuan. Anda salah mengenali orang. Saya bukan orang yang Anda maksud. Nama saya Tara Gunawan,” ucap Tara sambil menunjuk tanda pengenal pengamanan di saku jasnya.Pak Sudirja menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu pria itu tertawa. “Aduh, maaf ya. Maklum sudah tua jadi salah mengenali orang,” ucap Pak Sudirja tetapi masih memegang bahu Tara.Tanpa pamitan dengan Tara, Pak Sudirja pun meninggalkannya. Tetapi Tara melihat kalau pria itu sempat berhenti dan kembali menoleh ke arahnya untuk beberapa detik kemudian pria itu pun berjalan menuju meja utama.Tara membetulkan letak kacamatanya. Ia berusaha untuk tetap santai seolah tidak terjadi apa-apa.Sesaat kemudian, Luna mendekati Tara. “Tara, siapa pria tadi itu? Kenapa dia mengira kamu Tuan muda Askara yang sudah lama tidak muncul di depan publik?”“Saya tidak mengenalnya, Nona. Tuan tadi salah mengenali saya. Tidak heran sih kalau sudah seusia mereka sering keliru mengenali wajah di ruanga

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 19

    Sejak pagi rumah sudah ribut karena Luna mencoba tiga pasang sepatu dan tetap tidak puas, sedangkan Mbak Sarti bolak-balik dari kamar ke ruang setrika sambil membawa jepit rambut yang tidak satu pun dipakai Luna.“Nona, menurut saya semua sepatunya cocok dengan gaunnya,” ucap Mentari.“Cocok ya? Tapi kok aku merasa nggak nyaman ya,” ucap Luna.“Pakai yang nyaman di kaki Nona saja. Mau pakai sepatu yang mana pun, Nona tetap cantik banget hari ini,” ucap Mbak Sarti.“Hmm… Baik deh. Aku pakai yang hitam ini aja. Makasih ya Mbak Sarti dan Mentari udah bantu aku siap-siap.”Luna pun berdiri lalu ia melihat penampilannya lagi di cermin besar. Ia hanya memoleskan make up tipis tetapi membuat wajahnya semakin cantik.“Oh iya Mbak Sarti, Mentari malam ini kalian aku kasih libur sampai besok ya. Kasih tahu Pak Deden juga ya. Beberapa hari yang lalu aku dengar kalian ingin mengunjungi saudara yang ada di sini juga. Nah, mumpung libur kalian bisa menginap di rumah saudara kalian.”“Makasih banyak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status