LOGINBruuukkk!Luna terjatuh di depan Tara, tepatnya di antara dua paha Tara.Mata Luna mengerjap beberapa kali. Jantung gadis itu berdetak sangat cepat. Bagaimana tidak, tepat di depan wajahnya adalah milik Tara yang mengobrak abrik tubuhnya semalam yang membuatnya melambung mendapatkan surga dunia.Dengan susah payah Luna menelan ludahnya. Tetapi tatapannya sama sekali tidak beralih seolah terkunci di sana.Sementara Tara hanya diam saja. Bukan tidak ingin membantu Luna tetapi situasinya tadi terjadi begitu cepat sebelum sempat ia menyambut tubuh Luna."Kamu nggak papa?" tanya Tara menyentuh bahu Luna hingga membuat gadis itu tersadar dan langsung berdiri."Nggak papa kok," jawab Luna dengan ekspresi gugupnya.Tara membantu Luna untuk duduk di sampingnya."Karpet nyeselin," gumam Luna pelan tetapi masih terdengar di telinga Tara."Bukan karpetnya yang salah tetapi kamu jalannya tidak hati-hati," ucap Tara. Pria itu memegang tangan Luna dan memeriksa apakah ada yang terluka atau terkilir
"Morning cantik," ucap Tara begitu Luna membuka matanya.Luna menoleh ke arah jendela kamar hotel yang tirainya sudah Tara buka. Di luar sana sudah terang menderang."Tara, jam berapa sekarang?" tanya Luna dengan suara seraknya.Rambut gadis itu masih sangat berantakan sama seperti tadi. Gadis itu bahkan tidak sadar jika selimut melorot ke bawah hingga sepasang bukit kembarnya terlihat jelas di mata Tara."Sekarang sudah jam delapan pagi. Ayo bangun, kamu harus sarapan." Tara berusaha menahan dirinya.Pemandangan di depannya sungguh sangat menggoda imannya, terlebih lagi saat ini pagi hari adalah waktu krusial untuk kelangsungan bagian bawah tubuhnya."Aku lapar Tara. Kamu sih semalam kayak singa kelaparan. Nggak kasih jeda sama sekali. Kalau aku nggak ngerengek minta berhenti aku yakin kamu nggak akan berhenti. Kamu minum obat kuat ya Tara."Tara terkekeh. Lalu ia mendekati Luna dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.Bukan ciuman terburu-buru tetapi hanya ciuman lembut saja.Lalu
Tara membuka matanya dan ia menoleh ke samping pada gadis dipelukannya. Satu senyuman merekah di bibirnya saat melihat Luna masih terlelap dengan mulutnya sedikit terbuka. Rambut gadis itu tampak berantakan. Tara menarik selimut menutupi tubuh mereka yang masih sama-sama polos.Satu jam setelah Luna tertidur mereka kembali melanjutkan sesi kedua pendakian mencapai puncak karena Luna. Tara yang tidak bisa menahan hasratnya saat melihat Luna dengan tubuh polosnya hingga pria itu kembali menyentuh Luna. Pria itu hanya berhenti setelah Luna merengek kelelahan."Kamu itu cantik dan istimewa, Luna. Aku tidak akan meninggalkan kamu begitu saja. Aku sudah lama melihatmu dari jauh," bisik Tara.Pria itu mengecup kening Luna, lalu ia menarik pelan lengannya yang dijadikan gadis itu sebagai bantalan. Tara menghela napas lega ketika ia sudah berhasil menarik lengannya dan Luna tidak bangun sama sekali. Gadis itu sempat mengeliat sedikit.Tara menggerakkan tangannya karena rasa kebas akibat tid
Tara mencabut miliknya yang sudah kembali tidur dari lembah kenikmatan Luna. Kemudian, pria itu membawa Luna dalam pelukannya. Tara menarik selimut agar menutupi tubuh mereka yang masih sama polosnya.Keringat di tubuhnya masing-masing sudah mulai mengering. Suhu dalam kamar mewah itu sudah mulai terasa dingin kembali. Tara menepikan rambut Luna yang menutupi wajah cantik Luna.Ia mencium kening gadis di pelukannya itu dengan lembut, sementara Luna memejamkan matanya ketika keningnya Tara mengecup keningnya."Tara..""Hmm...""Bisakah kita selalu seperti ini?""Kenapa?"Luna mengeratkan pelukannya pada Tara, lalu ia mendongak hingga tatapan mereka bertemu. "Aku takut nanti kita berpisah saat misi kamu sudah berhasil," lirih Luna.Tara terkekeh sambil mengusap pipi Luna dengan lembut."Kenapa kamu bisa kepikiran begitu, hmm?""Aku takut kamu juga meninggalkan aku Tara, seperti Mas Alvin. Dulu dia begitu memperjuangkanku agar aku mau menikah dengannya, tapi setelah menikah dia mengab
Tara menggerakkan pinggulnya menghujam goa sempit milik Luna. Pria itu memejamkan matanya saat merasakan jepitan dari milik Luna pada Jhon yang sedang mengobrak abrik di bawah sana. Irama khas penyatuan dua raga mulai memenuhi seisi kamar, beradu dengan suara napas yang memburu saat tubuh Tara mengayun pelan diselingi gerakan keras kemudian menghentak ketika tidak lagi kuat bertahan dalam suasana damai dan tenang.Kepala Luna bergerak resah dengan bibir terus saja menggaungkan nama Tara sementara kedua tangannya yang tadi mencengkeram seprei sudah berpindah pada punggung pria itu."Aahhh... Ta-Tara...""Yaa Lunaa.." balas Tara dengan gerakan lincahnya memompa tubuh Nyonya mudanya yang berada dalam kekuasaannya.Beberapa kali bibir itu kembali menyasar puncak bukit Luna bergantian hingga respon Luna pun semakin liar.Gadis itu mungkin tidak sadari jika bibirnya begitu berisik hingga Tara tahu kalau kaki gadis itu mengejang dengan tubuh melengkung bagai busur dan memeluk pinggangnya b
"Keluarkan saja Luna, jangan di tahan."Bersamaan gerakan jarinya semakin kuat disertai suara desah nikmat dari bibir Luna.Tubuh Luna bergetar.Tara tahu, Luna mendapatkan klimaks untuk pertama kalinya.Tara mengeluarkan jarinya dari lembah kenikmatan Luna. Pria itu menatap wajah Luna yang berkeringat dan napas gadis itu yang masih ngos-ngosan seolah baru saja lari jauh."Sudah siap untuk ke menu utama, Luna?" tanya Tara.Di saat Luna masih menikmati pelepasannya, Tara menarik kain segitga berenda yang masih menutupi lembah kenikmatan gadis di bawah kendalinya ini. Luna mengangkat bokongnya agar memudahkan Tara melepaskan kain segitiga berenda itu dan lagi lagi pria itu melemparkannya ke sembarangan arah.Tara menatap lembah kenikmatan Luna yang sangat terawat. Warna merah muda dan bersih tanpa di tumbuhi oleh rerumputan. Sejak pertama kali Tara melihat pusat gairah Luna, pria itu langsung menyukainya.Milik Luna sangat berbeda dengan milik wanita yang pernah ia lihat di dalam video







