Masuk"Kamu lihat siapa sih Luna?" tanya Ester. Ia mengikuti arah pandangan Luna dan ternyata arah pandangan sahabatnya ke arah gazebo di dekat kolam renang."Itu mereka sudah hampir satu jam di sana tapi belum selesai-selesai juga," ucap Luna."Ya mungkin mereka sedang bahas yang serius. Lihat saja ekspresi mereka itu.""Tapi kan Tara—""Sudahlah. Tara itu baik-baik saja. Mau di larang juga nggak bisa, Luna. Dari pada kamu di sini mending kita ke sana saja. Aku mau cerita sama kamu, Luna."Mereka pun memilih menuju samping rumah tepatnya yang ada kolam renang. "Kamu mau cerita apa, Ester?" tanya Luna setelah mereka beberapa menit duduk di kursi samping dekat kolam renang.Ester masih diam. Tangannya saling meremas di atas pangkuan. Matanya menatap permukaan air kolam yang berkilau terkena cahaya matahari sore, tapi pandangannya kosong.Luna mengernyit. Ia jarang sekali melihat Ester seperti ini. Sahabatnya itu biasanya yang paling cerewet di antara mereka bertiga. Selalu punya cerita, sel
"Tara, kamu istirahat dulu ya," ucap Luna begitu mengantar Tara di kamar pria itu yang ada di rumahnya. "Di rumah sakit baring terus. Balik ke rumah tetap baring lagi?" tanya Tara."Jangan bandel Tara. Kamu itu baru pulang dari rumah sakit loh. Biarkan Gilang di depan saja. Kayaknya Ester sebentar lagi sampai rumah deh," ucap Luna."Baiklah. Aku bisa minta bantu sesuatu?""Apa?"Nanti kalau kamu keluar. minta Gilang masuk ke sini ya. Ada sesuatu yang mau aku bahas sama dia.""Hmm.. Kamu ini memang bandel ya Tara. Jangan bahas yang berat-berat dulu.""Nggak kok. Tapi yang mau aku bahas sama Gilang ini memang harus segera aku bahas."Luna menghela napas panjang. Mau melarang Tara juga ia tidak bisa. Luna ingin Tara hanya istirahat saja tanpa melakukan apapun. Ia masih sangat khawatir dengan keadaan Tara meski dokter sudah mengatakan kalau Tara sudah sembuh sepenuhnya."Yang mau aku bahas dengan Tara nggak terlalu serius kok. Ini tentang identitas asliku," ucap Tara begitu ia melihat e
“Akhirnya aku bisa pulang juga,” ucap Tara sambil tersenyum.Ia duduk di tepi ranjang dengan kaus abu-abu dan celana kain yang dibawakan Gilang pagi tadi. Perban di bahu kanannya sudah jauh lebih tipis dari minggu lalu, tersembunyi di balik kaus. Wajahnya juga sudah tidak sepucat dulu. Pipinya kembali berwarna, dan matanya terlihat jauh lebih segar.“Suka banget ya sudah bisa pulang,” sahut Luna sambil melipat selimut tambahan yang ia bawa dari rumah.“Banget. Sembilan hari di sini rasanya kayak sembilan bulan.”Luna mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat. “Padahal setiap hari ada yang nemenin, nyuapin, ngupasin buah.”“Makanya aku betah. Tapi tetap aja bosan,” jawab Tara sambil terkekeh.Pagi tadi, dokter yang merawat Tara datang memeriksa untuk terakhir kalinya. Setelah memeriksa luka di bahu Tara dan melihat hasil pemeriksaan darahnya, dokter itu akhirnya tersenyum dan berkata kalimat yang sudah Tara tunggu-tunggu selama berhari-hari.“Tuan Tara sudah boleh pulang. Lukanya sudah
Pintu ruang perawatan terbuka pelan.Gilang masuk ke dalam ruang perawatan Tara dengan kemeja kerja yang lengan bajunya sudah digulung sampai siku. Di tangannya ada kantong plastik berisi beberapa kotak jus. Dan di belakang pria itu, ada Ester.Luna yang sedang merapikan selimut Tara langsung menoleh. Matanya membulat.“Lho, Ester?”Ester tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. “Hai, Lun.”“Kok kamu bisa ke sini? Katanya hari ini kamu nggak bisa datang karena mau ketemu pacar kamu,” ucap Luna dengan kening berkerut.Ester terdiam sejenak. Lalu ia melirik ke arah Gilang yang tiba-tiba sibuk meletakkan kotak jus di atas meja, seolah benda itu butuh perhatian penuh.“Iya, tadinya memang mau ketemu tapi nggak jadi. Terus tadi kebetulan ketemu Gilang di lobi rumah sakit. Ya udah, sekalian naik bareng., jawab Ester sambil memainkan tali tasnya.“Kebetulan banget,” gumam Luna sambil menyipitkan mata.“Namanya juga kebetulan, Lun.” Ester tertawa kecil, lalu buru-buru menghampiri ranjang Ta
Seminggu sudah Tara di rawat di rumah sakit. Dan selama itu juga Luna menemaninya tanpa pulang ke rumah.Keperluan Luna selama di rumah sakit, Ester yang mengambilkannya di rumah.Ester hanya menginap menemani Luna saat sampai hari ketiga Tara di rawat karena gadis itu harus pulang ke apartemennya.Namun saat siang hari, Ester hampir setiap hari menemani Luna menjaga Tara.Sementara Gilang, pria itu datang ke rumah sakit setelah pulang kantor. Ia yang menggantikan Tara menghandel semua pekerjaan di Askara grup memang siang hari selalu sibuk.Namun semua kebutuhan Tara dan Luna di rumah sakit sudah ia atur.Kondisi Tara sudah semakin baik. Sebenarnya sejak hari ke lima ia berada di rumah sakit, Tara sudah ingin pulang karena sudah merasa lebih baik. Namun Luna melarangnya.Selama Luna menemani Tara di rumah sakit, ada satu hari pengacara keluarga Mahawira menghubunginya terkait perceraiannya dengan Alvin. Meski mereka sudah saling sepakat untuk mengakhiri pernikahan mereka, tetapi dari
Alvin akhirnya membaringkan tubuhnya di samping Clarissa.Gerakannya pelan. Ranjang besar itu sedikit berderit di bawah berat tubuhnya. Dan begitu Clarissa merasakannya, wanita itu langsung menggeser tubuhnya menjauh. Terus menjauh, sampai ia berada di tepi ranjang. Sedikit lagi saja, ia bisa terjatuh ke lantai.Clarissa berbaring memunggungi Alvin. Selimut hanya menutupi tubuhnya sampai pinggang. Bahunya masih bergetar pelan. Isakannya sudah tidak terdengar lagi, tapi Alvin tahu wanita itu belum berhenti menangis.Ruangan itu begitu sunyi. Jarak di antara mereka di atas ranjang itu mungkin hanya satu lengan. Tapi rasanya seperti ada jurang yang begitu dalam dan begitu lebar, yang tidak akan pernah bisa diseberangi lagi.Alvin menatap punggung polos Clarissa dalam cahaya redup lampu tidur.Tangannya terangkat perlahan. Ia ingin menyentuh punggung itu. Entah untuk apa. Mungkin untuk meminta maaf. Mungkin untuk memastikan wanita itu baik-baik saja. Atau mungkin hanya karena kebiasaan la







