LOGINRohama Avencia, a teen-age girl, who lived a life for her, was too plain. Nothing sparked interest, like a textbook dull and arid. The cycle continued; the events were constant. Thus, she was labeled as someone boring. Lacking social life, reading alone was the only hobby whom she felt could reinvigorate her soul. The love of science made her function based on facts and numbers. Unfortunately, with an incident she couldn't fathom, she was stucked in a world she never knew existed. It was too real to be a dream. Hoping to find answers, she was pulled deeper to the secrets of the unknown world.
View MoreTampak sesosok wanita berwajah cantik tanpa pulasan makeup, berjalan masuk ke dalam sebuah restoran yang selalu ramai pengunjung. Restoran itu telah beroperasi belasan tahun. Berkat semangat dan keuletan dari pemiliknya, usaha kulinernya itu terus berkembang hingga seperti saat ini.
Tentunya tak akan ada kesuksesan yang didapat seseorang tanpa adanya pengorbanan. Seseorang perlu mengorbankan tenaga, waktu, pikiran atau pun yang lainnya bila ingin meraih atas apa yang diniatkan atau diimpikan.
Ada sebab maka akan ada akibat. Sebab kita mengorbankan sesuatu, maka akibatnya pun akan kita dapatkan. Namun, di antara semua pengorbanan itu, hanya waktu yang tidak dapat diputar kembali bila kita telah kehilangan itu waktu. Entah kehilangan waktu untuk keluarga maupun untuk diri sendiri.
“Hai, Maylin. Apa kabar?” Salah satu pekerja restoran menyapa hangat kepada wanita itu.
“Mama ada di ruangannya?” Maylin menolehkan kepalanya, memandang ke pegawai yang telah bekerja lama di restoran milik ibunya, Restin Banara.
Setiap kali dirinya datang ke restoran ini, hatinya merasa tercubit, sebab demi mengembangkan usaha kuliner tersebut, Restin telah menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mengurus bisnisnya daripada memantau pertumbuhan dan perkembangan anaknya.
“Ibu ada di dalam bersama Rayla. Deon juga ikut datang, tapi sekarang dia sedang ke toilet.”
“Terima kasih, Alice.” Kemudian Maylin berjalan menuju ruang kerja ibunya dan berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu berwarna cokelat.
Tangannya terangkat memutar kenop pintu perlahan tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dari celah pintu yang telah terbuka sedikit, indra pendengarnya menangkap suara Rayla yang penuh emosi dari dalam ruangan.
“Bukannya Mama mengatakan kalau restoran ini bergabung dengan teman Mama?”
“Mama terpaksa berbohong. Bekerja sebagai asisten dapur, gajinya tidak cukup untuk membiayai kalian. Maka itu, saat Frans datang memberikan bantuan dalam bentuk uang yang tidak sedikit, Mama membuang ego mama dan menerima uang itu,” tukas Restin berapi-api.
Kedua netra cokelat milik Maylin membulat lebar. Jantungnya kini berdebar cepat. Kenyataan tentang biaya pendidikan dan hidup mereka selama ini ternyata adalah pemberian dari pria itu membuat emosinya bergejolak seketika.
“Berapa jumlah uang pemberian dari bajingan itu, Ma? Kembalikan semua uang itu padanya! Aku tidak sudi menggunakan uangnya walau hanya sepeser pun!” hardik Maylin masuk ke dalam ruangan hingga membuat Restin dan Rayla terkesiap melihatnya.
Maylin mengira rahasia yang disimpan Restin hanya satu hal itu saja. Namun, tidak disangka masih ada rahasia-rahasia lain yang tidak ia ketahui.
Dalam perdebatan kali ini, mau tak mau Rayla yang telah mengetahui rahasia itu terlebih dahulu pun menceritakan kepada adiknya. Tentang aib orang tuanya dan sebuah kebenaran dibalik keluarga mereka tercerai berai.
Rayla Pramanta dan Maylin Pramanta adalah kakak beradik yang usianya terpaut dua tahun. Sejak Frans Pramanta, sang ayah, pergi meninggalkan mereka ketika usia mereka masih dini, Rayla dan Maylin saling menghibur dan menyemangati satu sama lain sementara Restin terpuruk dalam kesedihannya, membenamkan diri dengan kesibukan-kesibukan sehingga tidak memiliki waktu untuk mereka berdua.
Kepergian Frans meninggalkan luka teramat dalam bagi sepasang kakak beradik itu sehingga masing-masing memiliki trauma tersendiri. Rayla yang tak mudah jatuh cinta pada pria dan takut untuk membangun rumah tangga sedangkan Maylin berambisi untuk membentuk keluarga sendiri yang harmonis dan bahagia.
Namun, sayangnya ambisi itu harus dikubur. Akibat peristiwa kecelakaan yang menimpa diri Maylin setengah tahun yang lalu, menjadikan dirinya sebagai wanita yang tidak sempurna lagi.
“Maafkan atas kesalahan yang kami buat tanpa sadar telah menyakiti kalian. Mama lupa kewajiban Mama sebagai orang tua yang seharusnya melindungi kalian. Sungguh, Mama ingin memperbaiki semuanya.” Sepasang netra cokelat gelap milik Restin menatap kedua putrinya dengan air mata yang mengalir deras.
Restin menyesali telah kehilangan waktu bersama kedua putrinya. Ia terlalu larut dalam lukanya sehingga melupakan bahwa anak-anaknya ketika itu membutuhkan kehadirannya. Ia telah gagal menjadi orang tua yang teladan bagi anaknya.
Kedua netra Maylin menangkap lembaran kertas yang tergeletak di atas meja. Ia lantas meraih kertas itu dan membacanya dengan suara bergetar. “Frans Osborn.”
Kemudian ia tertawa mengejek. “Bajingan itu sekarang menjadi pengusaha sukses setelah membuang nama pemberian keluarganya sendiri?”
“Berhentilah menyebut papamu dengan sebutan bajingan, Maylin! Seburuk apa pun pria itu, dia tetap papamu,” tegur Restin.
“Dia bukan papaku! Papaku sudah meninggal!” Maylin menjerit kencang hingga kedua netranya membelalak, menatap Restin dengan nyalang.
Air matanya tak terbendung lagi. Setetes air mata lolos dari salah satu sudut matanya, disusul tetesan berikutnya hingga kemudian menjadi aliran deras membasahi wajahnya.
Setelah ayahnya pergi, seiring berjalannya waktu, Maylin terus memupuk kebencian pada pria itu. Easa benci itu kini semakin dalam begitu dirinya tahu ternyata kehadirannya tak berarti apa-apa bagi pria itu.
*****
Entah sudah berapa lama Maylin berdiri di depan gedung pencakar langit milik Osborn Corporation. Gedung pencakar langit yang jauh dari kata sederhana karena memiliki tampilan yang luar biasa mewah dan kokoh.
Ia hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung itu, namun urung ketika sepasang netra cokelatnya menangkap sesosok pria yang bertubuh tinggi dan masih terlihat tegap untuk umurnya yang memasuki kepala lima. Meskipun waktu telah berselang selama belasan tahun, tetapi kenangan wajah pria itu masih melekat kuat dalam ingatannya.
Seluruh tubuhnya terasa kaku melihat pria itu tengah tertawa bahagia bersama seorang wanita muda dengan memiliki kemiripan wajah pria itu. Dadanya bergemuruh kuat menahan amarah dan tangis. Kilasan masa lalu yang menyakitkan, berputar kembali dalam benaknya.
Ada pepatah mengatakan darah itu lebih kental dari air, tapi sering kali hanya air yang ada ketika kita butuh sementara darah entah ada di mana. Mungkin bagi pria itu, keluarga dari istri pertamanya lah yang lebih dianggap sedarah dengannya.
Kedua netra Maylin tak bisa lepas dari pemandangan itu hingga akhirnya sosok mereka menghilang masuk ke dalam mobil, lalu melintas pergi tanpa menyadari kehadirannya.
Mendadak amarahnya menjadi membara. Semua kekecewaan, kekesalan dan ketidaksenangan membuatnya tak mampu lagi menahan emosinya. Dalam hidupnya, hanya satu hal yang membuatnya menyesal dilahirkan ke dunia ini. Alangkah baiknya jika dirinya bukan lah anak dari Frans Osborn.
Pierre waited. Seemed like he was trying to read my first move. I eyed him and when he motioned I started to attack. I striked a couple of times and all he did was defend himself. It was undeniable that he was a great fighter and my chance of winning fall almost to zero. Think, Rohama. Hit the vital parts, the nape, the knees or the stomach. Yes I remembered that. Atleast, Yura's effort to teach me won't fell in vain. I could even hear him lecturing me inside my brain.And so I begun to deliver blows directed to the weakest body part. Despite of such effort, I only managed to get his knees—which didn't hurt him that much."Splendid!" Pierre commented. I could have celebrated for such remark but I am not even an inch closer to my goal—to escape.I was taken aback because of the sudden aggresiveness he displayed. This time, he was the one attacking continously, with the same force which almost knocked me down.Such a great strength! I panicked when I realize what he was trying to do.
Walking in the same pavement had been like a round-the-clock exercise for me. The usual charming tableau gives a peppy vibe to kickstart the day. Well, I'll have to exclude Yamiko. The guy had his brows contracted again, just affecting the atmosphere a bit. The balmy zypher made my disheveled hair flew. I had to fix it while running since Yamiko paced briskly as if we were late for some ceremonial event."Would you like to slow down a bit?" I asked. His physical part might be here with me but his thought was clearly traveling somewhere else.And just what I expected, I didn't get an answer."I was like talking to a being without soul," I murmured. To my surprise he replicated, "What did you say?""Nothing, I was just curious how I was able to produce magic." Half lie. I was really wondering why but it wasn't what I've said earlier."Histories had proven that some Keriekos was engaged into romance with humans. You must have one from your ancestors who had contact with ours. That is t
Covered in sweat, my body dropped abruptly to the grassy site where Yura and I had been practicing my combat skills.It's still a question why I couldn't distinguish the type of weapon I might be affiliated with after days of training. Yura said that atleast a kerieko must master even one but I couldn't.Yura had been gone for a while since he had an important business to attend to. I could tell it by the way he carried his long legs leaving me behind. Catching my breath, I decided to close my eyes, letting the mellowing sensation embrace my whole being. The serenity was disrupted by fleeting steps approaching. When I opened my eyes, Yamiko was benting over. Those red eyes was sending me another familiar thrill coming from my guts. "Seemed like you are taking things seriously," he stated. I forced a smile even though each muscle in my body was aching. "I have to," I replied. Slowly, I lifted my body and sat down instead."What brings you here? I thought you have something t
"I have just been gone for five minutes, Rohama. In that short period of time, this is what I get coming back?"I could see Yamiko's brow arching in exasperation. His eyes wandered around each corner of the room. It made him frown.The area was a mess. Books were spread at the floor like an earquake had happened. I thought of an excuse but couldn't articulate a logical one. "It's just b—ouch!"The cerulean creature pulled my hair with its small fingers. I tried to swat it using my hands but the transparent wings like dragonfly were fast enough to avoid my attacks."Sweet cheesecakes! It has three fingers! Just three! Yet it hurts like my scalp is peeled off my head!"Yamiko stood still at the doorway, probably enjoying my present situation. The little voice from the man-like creature nettled me even more. Yet , I couldn't do anything. It was so tiny, might just be five inches and it's flying. It got eyes, just a black dot, a nose and a mouth."If I'd take hold of you, you abhorren
The mystery of the world was fathomless. Everyone would agree. The amplitude was so great that it engendered immense curiousity to people's mind.Studying the universe was one of the many exploits humans do to satiate their wonders. As long as there were questions, answers should be found as well,
My body seemed to float, like a feather being cradled by a mellow breeze and. . . wait. . . float? Feather?I instantly opened my eyes, but instead of seeing a familiar ceiling, I'm looking at a triangular shaped roof that was new to my sight. Was this lost in wonderland part two? I haven't rememb
"Dèbè fìhwè àgkìlò.""Minmenàì aßloþ ba ďeķìa?"Distinct voices and strange sounds."Hiò ģrìòĺè fìeŕbe abìmò. Mhìeeď hìòhjer aĺem?""Amèkìko?"My eyes were heavy, as if I had gone into some strenuous work and was now on the process of recovering. I was sure the sun was up. I could feel its gentle
Silence. A few strand of his business cut hair fell in the middle of his deep set eyes, he arranged them emulating a shampoo model I've seen in TV commercials.I winced upon the sight and regretted that I did. His shoulders moved, followed by a long hearty laughter which reverberated inside our sm
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.