LOGIN“Maaf… kamu siapa?”
Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.
Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”
Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “Jangan mendekat!,” katanya tegas. “Aku nggak kenal kamu.”
“Nay, dengerin baik baik, kita tadi bareng. Kita datang ke sini. Kita...”
“Aku datang sendiri,” potong Naya cepat.
Raka menggeleng. “Nggak. Itu nggak mungkin. Kita...” Ia berhenti saat menyadari bila Naya sungguh sungguh tidak ingat.
“Coba lihat ini,” kata Raka cepat, meraih ponselnya lalu membuka aplikasi booking, kemudian menunjukkannya pada Naya.
“Ini nama kita!” Kalimatnya terhenti.
Layar itu berubah. Daftar tamu hanya menampilkan satu nama.
Raka
Tidak ada Naya.
Raka menatap layar itu dengan napas tercekat. “Tadi ada,” bisiknya. “Tadi ada nama lo!”
Naya menggeleng pelan, “Kamu aneh,” katanya. “Aku nggak suka ini.”
Raka mengangkat tangan, mencoba menenangkan. “Oke… oke. Gue mundur.” Ia melangkah mundur, memberi jarak.
Naya tetap waspada. Matanya tidak lepas dari Raka seperti mengawasi ancaman. Dan itu terasa menyakitkan bagi Raka.
“Dengar,” kata Raka pelan. “Kalau lo nggak ingat gue, nggak apa-apa. Tapi sesuatu di tempat ini salah. Hotel ini bikin kita lupa. Menghapus. Mengganti.” Raka menarik napas. “Lo pernah ngerasa aneh sejak masuk sini?”
Naya ragu sejenak. “ Mungkin.”
Satu kata, singkat, tapi terasa cukup ditelinga Raka.
“Aku ngerasa kayak pernah ke sini,” lanjutnya pelan. “Padahal aku yakin belum pernah.”
Raka menatapnya. “Itu karena...”
“Stop,” potong Naya cepat. “Jangan mendekat.”
Raka langsung diam. Ia sadar, kalau dia memaksa, maka mungkin dia akan kehilangan Naya sepenuhnya. “Fine,” kata Raka. “Kita nggak usah bareng. Tapi kita cari tahu sendiri sendiri. Kalau lo nemu sesuatu.”
“Aku nggak bakal cari kamu,” jawab Naya dingin.
Raka hanya mengangguk pelan.
Naya mundur satu langkah lagi, lalu berbalik berjalan ke arah tangga, meninggalkan Raka sendirian di lobi.
Raka tidak mengejar. Karena sekarang ia tidak tahu siapa yang lebih berbahaya. Hotel ini atau versi Naya yang tidak mengenalnya. Kemudian Raka tersadar akan keadaan lobi yang kosong dan pria tua yang tidak ada ditempatnya. Seolah hanya mereka berdua yang pernah ada di tempat ini. “Fokus,” gumamnya pada diri sendiri. Kalimat itu ia ulang-ulang dalam kepala. Raka pun berjalan ke meja resepsionis.
Buku tamu masih terbuka dan hanya satu nama.
Raka
Raka menatap halaman itu lama. Kemudian dengan sedikit ragu, mengambil pena dimeja. Dengan tangan gemetar, Raka menulis sesuatu di bawah namanya sendiri: “Naya itu nyata.” Lalu menutup buku itu. Kalau loop terjadi lagi, mungkin ini akan tersisa dan bisa terbaca.
“Kamar 307,” Tiba tiba angka itu muncul di kepalanya, seperti mendapat bisikan. Mungkin ada sesuatu disana yang mungkin bisa jadi jawaban dari semuanya. Raka pun bergegas kembali menaiki tangga hingga tiba di lantai tiga. Lampu kembali redup dan karpet terlihat lebih gelap.
Raka menatap lorong dan melihat semua pintu kamar tertutup, tidak ada yang terbuka seperti sebelumnya.Tapi ada anomali, karena satu pintu di ujung tampak berbeda, terlihat lebih gelap dan tua. Diatasnya terdapat angka itu, 307. Raka berjalan pelan dengan setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya.Sepertinya udara di sekitar kamar itu lebih padat. Akhirnya, Ia berhenti di depan pintu.
KLIK.
Pintu itu terbuka sendiri tanpa disentuh.
Raka menahan napas, kemudian masuk kedalam. Ternyata ada pemandangan yang berbeda. Kamar 307 tidak seperti kamar lain. Kotor dan berantakan. Dindingnya penuh dengan noda gelap. Seperti bekas sesuatu yang pernah merembes lalu mengering. Bau di dalamnya lebih kuat, tercium busuk.
Akhirnya Raka melihat seseorang duduk di sudut kamar membelakangi pintu. Seseorang itu hanya diam. Raka berdiri terpaku, kemudian memberanikan diri untuk bersuara, “Naya…?”
Sosok itu tidak bergerak.
Raka melangkah pelan mendekat. “Nay… itu lo?”
Sosok itu perlahan mengangkat kepala. Rambutnya panjang menutupi wajah yang sepertinya persis paras Naya.
Raka merasakan jantungnya hampir berhenti. “ Naya?”
Sosok itu berdiri. Tubuhnya sedikit miring seperti ada yang tidak beres dengan tulangnya. Lalu ia berbalik sehingga wajahnya terlihat. Itu Naya, tapi tampak berbeda, bukan yang tadi di lobi. Matanya cekung. Kulitnya pucat. Dan senyumnya terlalu lebar untuk ukuran manusia normal.
“Lo…” suara Raka hampir hilang. “Lo yang di lorong…”
Sosok itu tidak menjawab. Dia melangkah mendekat.
Raka mundur. “Jangan dekat, Naya!”
Sosok itu berhenti, memiringkan sedikit kepalanya, seperti mempelajari Raka. Kemudian, dia berbicara dengan suara Naya, tapi terdengar lebih dalam dan lebih berat, “Kenapa kamu kembali?”
Raka tidak menjawab.
Sosok itu melangkah lagi lebih dekat. Sekarang jaraknya hanya beberapa langkah.
“Bukannya kamu sudah keluar… waktu itu?”
Kata-kata itu membuat sesuatu di kepala dan dada Raka bergetar. Waktu itu? Kapan?
“Aku… nggak pernah...” Raka tergagap.
“Kamu selalu bilang begitu,” potong sosok itu.
Senyumnya bertambah lebar hingga kulit wajahnya hampir robek. “Lupa lagi?”
Raka merasakan kepalanya berdenyut lebih keras. Gambar gambar asing pun mulai bermunculan sekilas.
Ada Lorong, tangga, darah
Ada tangan kecil yang terlihat seperti menggenggam sesuatu
Kemudian terngiang suara jeritan didalam kepala Raka.
Sosok itu sekarang berhenti tepat di depannya. Sangat dekat sehingga Raka bisa mencium bau busuk dari tubuhnya.
Lalu, sosok itu berbisik. “Kamu yang membunuh kami.”
“Hah?”
Sosok itu tersenyum, lalu untuk pertama kali matanya berubah menjadi kosong dan gelap.“Kamu yang mengunci pintu.”
Potongan memori lain muncul.
Pintu kamar, Tangan kecil, Kunci diputar dari luar, tangisan dari dalam.
Raka mundur.
“Kamu yang meninggalkan kami di dalam.”
Jeritan, memukul pintu, memohon.
“Ngaco!” teriak Raka.
Sosok itu mendekat lagi. Kini hanya beberapa centimeter dari wajahnya. “Kamu yang tidak pernah kembali.”
Kemudian keadaan mendadak sunyi. Hanya suara napas Raka yang tersisa.
Dan sosok itu berbisik sekali lagi, “Makanya kamu selalu kembali ke sini.”
Tiba tiba lampu lorong berkedip. Dalam sebuah kedipan, Raka melihat sesuatu di belakang sosok itu. Tampak banyak orang berdiri diam menghadap pada dirinya dengan wajah wajah pucat dan kosong seakan menunggu sesuatu. Mendadak lampu stabil dan berhenti berkedip. Semua penampakan itu turut lenyap seketika, hilang begitu saja.
Hanya Naya itu yang tersisa, masih tersenyum lebar.
Raka mundur beberapa langkah, kemudian tangannya meraih gagang pintu. Ketika Raka membuka pintu, sosok itu berkata satu hal terakhir ditelinganya, “Besok giliran kamu yang hilang.”
Dan pintu pun terbuka lebar berbarengan dengan lenyapnya sosok Naya.
Untuk pertama kalinya, Raka tidak yakin dia ingin keluar dari sana.
Raka tidak bergerak. Matanya terpaku pada foto yang tergeletak di lantai.Foto itu tua. Sudut-sudutnya menguning. Ada bekas lipatan panjang di tengahnya, seolah seseorang pernah menyimpannya bertahun-tahun di dalam dompet atau buku. Namun bukan kondisi foto yang membuat Raka kehilangan kata-kata, melainkan tulisan di bawahnya.17 AGUSTUS 1996 : 03.17Dan satu nama:RAKA PRADANATangannya perlahan mengambil foto itu. “Ini tidak mungkin,” bisiknya. Lalu Raka membalik foto. Di bagian belakang terdapat tulisan tangan yang sangat ia kenal, yaitu tulisan sang ayah:Jika suatu hari dia melihat foto ini, jangan katakan bahwa ini adalah masa lalu.Ini adalah pilihan pertamanya.“Pilihan?” Naya mendekat. “Apa maksudnya?”Raka membaca tulisan berikutnya: Raka bukan korban pertama Kamar Nol.Raka adalah orang pertama yang memilihnya.Raka menatap Kustodian. “Katakan padaku ini bukan seperti yang kupikirkan.”“Bukan.”Raka mengembuskan napas lega. Namun Kustodian melanjutkan, “Tapi juga bukan se
“Raka…,” Suara Naya terdengar sangat dekat, namun yang dilihatnya hanyalah seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun berdiri di ujung lorong hotel, berdiri membelakanginya. Tangan kanannya menggenggam sesuatu, yaitu sebuah kunci bernomor 0.“Naya,” Tanya Raka pelan. “Aku di sini dan aku melihat diriku sendiri.” Tidak ada jawaban dari suara Naya.Lalu anak itu perlahan menoleh. Wajahnya adalah wajah Raka ketika masih kecil dan tidak menyeramkan. Sepertinya hanya sebuah ingatan yang selama puluhan tahun dikunci terlalu dalam hingga akhirnya memiliki bentuk.Anak itu menatap Raka dan berkata, “Aku tidak membawamu ke Kamar Nol, kamu sendiri yang menemukannya.”Lalu anak itu menunjuk ke sebuah pintu di belakangnya bertuliskan:CHECK-IN TERAKHIRLantas pintu itu terbuka sendiri, memperlihatkan sebuah ruang besar yang menyerupai lobi hotel, namun seluruh dindingnya dipenuhi foto keluarga, rapat, orang orang yang Raka kenal, dan bahkan foto yang belum pernah dilihatnya.Dan di tengah rua
Wajahnya jauh lebih muda daripada pria tua yang baru saja ditemui Raka di Kamar Nol, namun wajah itu tidak mungkin salah. Itu ayahnya. Ayah yang selama ini diyakini telah meninggal.Raka mundur selangkah. "Ini bukan nyata."Sementara itu, Surya berdiri di samping pintu kamar. "Tidak, ini ingatan."Raka menoleh pada Surya, "Kenapa dia ada di sini?""Karena ini adalah malam yang sebenarnya.""1996?"Surya mengangguk. "17 Agustus." Jam di dinding menunjukkan 03.17, waktu yang sama dengan rekaman tadi.Kemudian ayah Raka berjalan menyusuri lorong, seakan tidak melihat dan mendengar mereka.Raka mengikutinya dengan waspada hingga mereka sampai di lobi.Ternyata kini lobi hotel terlihat jauh lebih sederhana daripada Hotel Booking Terakhir yang Raka kenal, namun bentuk dasarnya sama.Di belakang meja resepsionis berdiri seorang perempuan yang langsung dikenali oleh Raka, yaitu ibunya sendiri.Dengan napas tertahan, Raka memanggilnya, "Ibu..."Perempuan itu mengangkat kepala, tampak seolah me
"Surya?" Nama itu seakan menggantung di udara saat Raka menatap radio di tangan Mira. Tidak mungkin salah, itu adalah suara Surya, orang yang selama ini membantu mereka membaca blueprint, mengurai simbol, memahami sejarah bangunan, bahkan beberapa kali menyelamatkan mereka dari situasi yang seharusnya mematikan, kini justru menyuruh mereka membawa Raka kembali ke hotel. "Surya," kata Raka pelan ke radio. "Jawab aku." Statis. Tidak ada respons. Raka merampas radio dari tangan Mira. "Kalau kau memang di sana, bicara langsung denganku." Kemudian terdengar suara itu. "Baik." Raka membeku."Surya?" "Ya." "Kau di mana?" "Di tempat yang seharusnya tidak pernah kalian tinggalkan." Raka mengerutkan kening. "Hotel?" Terdengar tawa pendek. "Bagus. Ternyata kau ingat.” "Surya, apa yang sebenarnya terjadi?" "Kalian masih terlalu banyak bertanya." "Kami berhak tahu." "Berhak?" Suara Surya terdengar getir. "Jangan bermain teka-teki." "Aku tidak bermain." Sangkal Surya tegas. "Kalau
Cahaya putih sangat terang memenuhi Kamar Nol, memaksa Raka menutup wajah dengan kedua tangannya. Di sekelilingnya terdengar suara kaca pecah, orang-orang berteriak, dan sesuatu yang berat menghantam lantai.Kemudian…, sunyi, seolah seluruh dunia baru saja dimatikan.Raka perlahan membuka mata dan menyaksikan Kamar Nol yang telah berubah.Cermin di tengah ruangan hancur berkeping-keping dan anak laki-laki yang tadi berada di dalam cermin menghilang begitu saja."Di mana dia?" Suara Naya terdengar dari belakang.Raka menoleh melihat Naya masih berdiri bersama yang lainnya. Namun para anggota Pemutus yang tadi memenuhi tangga sudah menghilang tanpa satu pun tersisa.Raka mengerutkan kening. "Kemana mereka?"Kustodian tidak menjawab, malah ia menatap lantai yang ternyata terdapat sesuatu diantara pecahan kaca. Sepasang sepatu kecil anak anak.Lantas Kustodian berjongkok dan menyentuhnya dengan tangan gemetar. "Dia keluar."Raka menatapnya."Keluar ke mana?"Kustodian mengangkat wajah. "K
Raka menuruni tangga selangkah demi selangkah, sedangkan di belakangnya terdengar suara benturan pada pintu Kamar Nol yang semakin keras.DUANG! DUANG!Tampaknya seseorang berusaha keras untuk masuk ke dalam.Sementara itu, Ayah Raka berdiri beberapa anak tangga di belakangnya. "Jangan berhenti."Raka tidak menoleh karena masih merasa bingung. "Ke mana tangga ini?""Ke tempat yang tidak pernah masuk blueprint.""Ke tempat apa?""Ke pusat Kamar Nol."Raka berhenti. "Bukankah kita sudah berada di Kamar Nol?"Ayahnya menggeleng. "Ruangan tadi hanya pintunya."Kemudian Raka menatap ke bawah, memperhatikan tangga yang terus turun dan tidak terlihat ujungnya sama sekali. Dinding di kiri dan kanan terbuat dari beton tua yang dipenuhi goresan. Namun semakin jauh mereka turun, semakin banyak gambar dan foto yang muncul di dinding.Gambar dan foto anak-anak, rumah, pohon, wajah, pintu dan ada sebuah gambar yang sama tapi dalam jumlah sangat banyak. Gambar seorang anak sedang berdiri di depan se
TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A
“Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,
Raka membeku mematung tak mampu bergerak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.“Ini nggak
Hujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Ha







