Home / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 4 – Satu yang Hilang

Share

CHAPTER 4 – Satu yang Hilang

Author: Newa Lim
last update publish date: 2026-04-10 12:36:51

Rak! Buruan! Kita check in dulu!”

Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.

Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal. Pelan-pelan, ia menatap sekeliling. Koper masih belum dibuka. Semua tampak kembali seperti awal, seperti saat mereka pertama kali masuk.

“Ini loop,” gumamnya. Kata itu terasa berat keluar dari mulutnya. Loop yang mengulang, menghapus, mengganti dan yang paling menakutkan adalah menghilangkan. Raka langsung meraih ponselnya. Aplikasi itu masih terbuka, kali ini ada foto hotel yang lebih terang, lebih hidup dan terlihat baru seakan bukan bangunan tua yang mereka lihat tadi. Tertulis rating: 4.9, Review teramat bagus.

“Rak! Lama banget sih!” Suara Naya terdengar tak sabar.

Raka pun berdiri, Kali ini ia tidak akan bertindak seperti sebelumnya. Kalau ini loop, maka dia harus mengubah sesuatu. Kemudian Raka membuka pintu. Lorong terlihat lebih terang dan lampu menyala normal. Karpet tidak sekusam sebelumnya, bahkan bau lembap itu berkurang.

Naya berdiri di depan kamar 305, melambaikan tangan. “Finally, lo ngapain sih di dalam?”

Raka menatapnya lama dengan detail, mencoba menebak sosok dihadapannya asli atau palsu.

“Kenapa?” tanya Naya, alisnya mengernyit, “Kita turun, yuk.”

Raka tidak langsung bergerak. “Nay, sebelum kita ke bawah, gue mau tanya sesuatu.”

Naya memutar bola matanya. “Serius? Sekarang?”

“Penting.”

Naya menghela napas. “Oke, cepat.”

Raka menatapnya lurus. “Kalau nanti terjadi sesuatu… lo bakal percaya sama gue?”

Naya mengerutkan kening, kebingungan. “Maksudnya?”

“Jawab aja.”

Naya terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Gue nggak tahu lo lagi ngomong apa, tapi ya..., gue percaya sama lo.”

Raka menahan napas. Jawaban yang sama persis seperti sebelumnya.“Oke,” katanya pelan.

Mereka berjalan menuju tangga dan turun kebawah. Tampaklah lobi seperti yang sudah sudah. Seperti yang sudah diduga, pria tua itu masih ada. Sepasang matanya tajam menatap mereka. “Selamat datang,” katanya. Sama, tidak berubah.

Tapi kali ini Raka tidak menunggu. “Kami mau check-out,” katanya langsung.

Naya menoleh kaget. “Hah?”

Pria tua itu tersenyum tipis. “Belum waktunya.”

“Selalu itu jawabannya,” gumam Raka.

Pria itu berhenti, menatap Raka lebih dalam dan tajam. “Kalian baru saja datang dan malam belum dimulai.”

Raka mengatupkan rahang. Kalimat yang sama. Kalau ini loop maka harus ada celah, harus ada yang berubah. Matanya melirik ke arah buku tamu di meja, kemudian melangkah mendekat.

Naya mengikuti, masih bingung. “Rak, lo kenapa sih?”

Raka tidak menjawab. Matanya tertuju pada halaman buku tamu yang terbuka. lalu jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Ada dua nama. Raka, Naya dan di bawahnya ada satu lagi, nama yang tidak ada sebelumnya dalam tulisan tangan dan sedikit berantakan, yaitu Raka (2). Raka menunjukkan halaman itu pada Naya.

Naya membaca lalu tertawa kecil. “Ya itu nama lo, Rak. Kenapa ditulis dua kali?”

Raka menatapnya. “Itu bukan gue.”

Senyum Naya perlahan memudar. “Lo bercanda, kan?”

Raka menggeleng pelan. “Di loop sebelumnya… yang muncul itu lo.”

“Apaan sih?” Naya mulai kesal. “Lo bikin gue takut tau.”

Raka menarik napas. Tampaknya Naya tidak ingat. Berarti dirinya adalah satu satunya yang sadar dan itu masalah serius.

Tiba tiba pria tua itu berbicara lagi. “Kalian tidak boleh mengubah urutan.”

Raka langsung menoleh,“Urutan apa?”

Pria itu menutup buku tamu. Ekspresinya tampak mengancam.“Kalau diubah, akan ada yang hilang.”

Naya menatap Raka. “Ini makin nggak jelas.”

Tapi Raka tidak melepas pandangan dari pria itu. “Apa yang hilang?”

Pria itu tersenyum lebih lebar. “Kalian akan tahu.”

“Udah, gue nggak nyaman di sini,” kata Naya. “Kita ke kamar aja.”

Raka ingin menolak, tapi urung. Kalau ada urutan, maka dia harus mempelajarinya, bukan melawannya.

Mereka pun kembali naik melalui tangga, kembali ke lantai tiga. Lorong kembali terlihat lebih redup, tidak secerah saat mereka turun, seakan hotel ini berubah tergantung waktu.

Raka mencatat itu dalam pikirannya. Pagi sama dengan normal, sedangkan malam sama dengan rusak.

Akhirnya mereka sampai di depan kamar masing-masing.

Naya memegang gagang pintu kamarnya, lalu berhenti. “Rak…”

Raka menoleh.

“Kalau lo beneran lagi nggak bercanda dan ini semua loop atau apapun itu…” Naya menelan ludah. “...jangan tinggalin gue sendirian.”

Raka menangkap ketakutan di wajah Naya.

“Gue nggak akan,” jawabnya. Untuk sesaat, dirinya hampir percaya bila semuanya akan baik baik saja hingga mereka masuk ke kamar masing masing. Kali ini, Raka tidak duduk. Ia langsung bergerak memeriksa setiap sudut kamar. Semuanya tetap sama, tidak ada perubahan. Namun saat ia membuka laci meja, Ia menemukan selembar kertas dilipat berwarna kuning, seperti sudah lama di sana. Raka membukanya perlahan. Tulisan tangan yang berantakan seperti ditulis terburu buru.

JANGAN PERCAYA NAYA

Raka mematung dengan jantung berdebar kencang. Ini temuan baru, tidak ada sebelumnya. Ia membaca lagi, melihat lebih teliti. Raka langsung meraih ponselnya dan bergegas ke kamar sebelah.

“Nay! Buka!”

Tidak ada jawaban.

“Naya!” Ia mencoba lagi. Masih tidak dijawab.

“Naya! Ini gue!” Raka menambah volume teriakannya, namun masih tanpa sahutan.

Perlahan, Raka memutar gagang pintu, ternyata tidak terkunci. Pintu terbuka dan kegelapan langsung menyambut. “Kok lampunya mati?” gumam Raka, melangkah masuk lalu menyalakan lampu. Ternyata kamar itu kosong melompong. Tidak ada koper, tidak ada tas, tidak ada tanda-tanda Naya pernah masuk, seolah kamar itu tidak pernah ditempati. Raka mundur pelan. “Ini, nggak mungkin.” gumamnya.

Ia berlari keluar, menoleh ke lorong. Kosong, sunyi. Tidak ada siapa siapa.

“Naya!” teriaknya.Tidak ada jawaban, hanya gema suaranya sendiri. Raka berlari ke tangga, turun ke lobi.

Pria tua itu tidak ada. Meja resepsionis kosong dan buku tamu terbuka.

Raka mendekat. Tangannya gemetar saat melihat halaman itu. Sekarang, hanya ada satu nama.

Raka

Nama Naya sudah hilang, seolah tidak pernah ada.

Napas Raka tercekat, lantas membalik halaman. Kosong, semua kosong. Tidak ada Naya.

“Ini gara-gara gue…” bisiknya. Kalimat pria tua itu terngiang, “Kalau diubah, akan ada yang hilang.”

Raka menggertakkan gigi. “Balikin dia…” katanya pelan penuh memohon. Keadaan tetap sunyi.

“BALIKIN DIA!” teriaknya.

Masih sepi. Lalu dari arah belakang ada suara, pelan dan dingin, “Siapa?”

Raka membeku.

Itu suara Naya.

Ia berbalik cepat.

Naya berdiri di sana di ujung lobi. Basah oleh hujan seraya menatap tajam. Tatapannya kosong seperti tidak mengenalinya.

“Maaf…” Suara Naya hampir tak terdengar, “Kamu… siapa?”

Dunia Raka seakan runtuh dalam satu detik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Booking Terakhir   Chapter 57 : Sidang Tanpa Terdakwa

    Tiba tiba sirene berhenti dan meninggalkan keheningan yang justru terasa lebih mengancam daripada sebelumnya.Lalu dengan perlahan dan waspada, Surya menutup buku lusuh itu, kemudian memandang Raka tanpa berkedip. "Kalau mereka sampai mengadakan siding, berarti mereka sudah kehilangan sesuatu.""Kehilangan sesuatu? Apakah itu?" Tanya Raka dengan pandangan mata yang tak kalah tegangnya.Tanpa diduga, ternyata Surya menggelengkan kepalanya. "Itu yang harus kita cari tahu."Sementara itu, Paras wajah Bima tampak penuh dengan keraguan."Kalau kita datang ke Ruang Sidang Utama, berarti kita masuk ke sarang mereka.""Kalau kita tidak datang," jawab Surya tenang, "kita membiarkan mereka menentukan cerita tanpa satu pun sanggahan atau perlawanan."Kalimat yang terucap dari mulut Surya itu langsung membuat semua terdiam. Selama ini mereka selalu bergerak diam-diam, mengambil serpihan informasi, lalu melarikan diri. Namun untuk yang kali ini, Surya mengusulkan hal yang berlawanan dan berbeda, ya

  • Booking Terakhir   Chapter 56: Orang yang Menolak Diwarisi

    Kemudian suara perempuan itu dengan cepat menghilang begitu saja menyisakan kesunyian kembali dalam ruangan.Laci-laci baja pun menutup sendiri satu per satu.Klik, Klik, Klik.Seolah seluruh bangunan baru saja mengambil keputusan yang tidak mereka ketahui sama sekali dan justru memunculkan kecemasan baru nan kian mencekam serta mengancam.Sambil berpikir keras, Raka masih memandangi map hitam di tangannya. "Sepertinya ini salah."Ternyata tak seorang pun yang menjawab atau sekadar menanggapi ucapan Raka barusan.Hanya Bima yang merespon dengan mendekati Raka secara perlahan."Justru itu yang membuatku takut.""Maksudnya?""Dalam setiap proyek besar, orang yang paling berbahaya bukan yang mengejar kekuasaan." Ujar Bima seraya menatap mata Raka dengan pandangan tajam. "Tetapi orang yang dikejar oleh kekuasaan itu sendiri.”Lalu Mira mengambil map hitam tersebut dan membolak-balik setiap halaman dengan lebih cermat. Tidak ada tanda tangan, tidak ada stempel, serta tidak ada nama penyusun

  • Booking Terakhir   Chapter 55 : Warisan Terakhir

    Tidak seperti biasanya, bunyi alarm yang terdengar tidaklah meraung kencang, melainkan hanya berbunyi pelan saja.Tik...,Tik..., Tik...Suara yang hampir tidak terdengar itu justru membuat Bima kehilangan ketenangan dan kesabarannya. "Segera matikan bunyi itu!""Aku juga mau matikan, hanya tidak tahu caranya," jawab Mira dengan nada penuh kekesalan."Kalau begitu, Jangan sentuh apa pun!" Bima menarik napas panjang. “Sepertinya itu bukanlah alarm keamanan.”"Lalu? Bunyi alarm apa?" Mira bertanya sambil celingukan karena masih penasaran dengan apakah ada cara untuk mematikan alarm itu."Itu kemungkinan besar adalah alarm kedatangan." Sambung Bima lagi."Kedatangan siapa?"Bima memejamkan sepasang matanya selama beberapa saat seperti sedang berusaha mengingat sesuatu. "Dulu setiap kali suara itu muncul, berarti seseorang yang memiliki hak penuh atas proyek sedang memasuki kompleks."Mendengar hal itu, ruangan mendadak terasa jauh lebih sempit bagi mereka karena ada perasaan ancaman bahay

  • Booking Terakhir   Chapter 54 : Suara Yang Dihapus

    Ternyata lorong itu jauh lebih sempit daripada yang mereka bayangkan seakan tidak dibangun untuk dilalui oleh banyak orang. Lorong itu lebih menyerupai jalur perawatan yang hanya digunakan teknisi ketika bangunan ini masih beroperasi.Kemudian tanpa komando apapun, Bima mengambil inisiatif untuk berjalan paling depan memimpin mereka semua. Sesekali ia menyentuh dinding beton dengan ujung jarinya, seperti seseorang yang sedang membaca peta yang tidak terlihat dengan meraba tekstur permukaannya."Aku masih ingat tekstur dindingnya," katanya lirih seolah sedang memutar kenangan masa lalu dalam benak pikirannya. "Setiap sambungan beton memiliki kode berbeda. Dulu kami sengaja membuatnya begitu agar teknisi bisa mengenali lokasi meski listrik padam." Lanjutnya lagi memberi penjelasan untuk menambah wawasan dari kelompok Raka.Sementara itu, Raka baru menyadari bahwa di beberapa titik memang terdapat guratan-guratan kecil yang tampak acak dan itu bukanlah retakan, melainkan kode yang memang

  • Booking Terakhir   Chapter 52 : Dua Orang yang Sama

    "Itu adalah aku." Suara pria berkacamata nyaris tidak terdengar dari balik konsol monitor dengan jemarinya yang tampak mulai gemetar karena takut dan gelisah.Sementara itu di luar, sosok lain yang memiliki wajah, postur, bahkan cara berjalan yang sama melangkah memasuki ruang kontrol dengan tenang dan pasti. Sama sekali tidak ada ekspresi marah ataupun rona murka di wajahnya. Dengan perlahan, ia memeriksa ruangan seperti seorang kepala divisi yang sedang melakukan inspeksi rutin. "Ruang kontrol bersih." Suara itu seungguh terdengar identik dengan milik pria berkacamata, bahkan hingga ke intonasinya sekalipun.Kemudian Raka menatap pria berkacamata di sampingnya dengan pandangan cemas, lalu menatap sosok di luar yang mirip dengan pria berkacamata itu. Raka menduga jika salah satunya pasti sudah berbohong atau keduanya mengatakan sebagian kebenaran yang sebenarnya dapat saling melengkapi satu sama lainnya.Lalu Tim Sanitasi menyebar ke seluruh ruangan, namun mereka tidak mengobrak-abr

  • Booking Terakhir   Chapter 51 : Rapat yang Tidak Pernah Berakhir

    Layar monitor kembali dipenuhi dengan garis-garis hitam, menggantikan sosok perempuan bermantel cokelat yang telah sirna menghilang begitu saja tanpa penjelasan lanjutan. Namun secarik kertas bertuliskan JANGAN PERCAYA AUDITOR masih tergeletak di meja tepat di bawah monitor, menawarkan sebuah bantuan bila itu benar, atau malah menjadi sebuah jebakan jika itu salah dan menyesatkan.Kemudian dengan segera Raka memungutnya sebelum tulisan itu juga menghilang. Ternyata memang kertas itu bukan merupakan hasil cetakan, melainkan secarik sobekan dari sebuah notulen rapat yang di bagian bawahnya terdapat cap yang sama dengan dokumen Proyek Kamar Nol.RAHASIA – HANYA UNTUK DIREKSI"Dia sengaja meninggalkan ini," gumam Naya dengan nada penuh kecurigaan.Mira yang tak mau ketinggalan, kini ikut membolak balik dan memeriksa lembaran tersebut. Di sisi belakang terdapat denah sederhana sebuah ruangan berbentuk lingkaran yang ditengahnya terdapat meja besar dengan delapan buah kursi.Tujuh kursi ter

  • Booking Terakhir   CHAPTER 15 : Anak yang Mengunci Pintu

    “Kamu adalah alasan hotel itu lahir.”Kalimat Mira membuat seluruh ruangan terasa membeku.Hujan masih menghantam kaca toko elektronik di luar, tapi suara itu terdengar jauh dan samar, seolah dunia mulai menjauh dari Raka. “Bullshit…” gumamnya pelan.Mira tidak bereaksi apapun. Dia tahu bahwa penje

  • Booking Terakhir   CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

    TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A

  • Booking Terakhir   CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

    “Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,

  • Booking Terakhir   CHAPTER 5 – Kamu yang Membunuh Kami

    “Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status