เข้าสู่ระบบSetelah sempat terdiam beberapa saat, Kustodian akhirnya menjawab dengan sedikit agak terpaksa, "Orang yang memerintahkan Proyek Kamar Nol.""Siapa yang memerintahkan Proyek Kamar Nol yang sebenarnya?"Kustodian tampak hendak membuka mulutnya untuk menjawab, namun sebelum satu kata pun keluar, Anak itu berteriak dengan suara histeris, "JANGAN!"Seketika itu juga, seluruh ruangan berguncang hebat dan Mesin ketik langsung menyala kembali, disertai oleh tuts yang lagi lagi bergerak sendiri.Tak…! Tak…! Tak…!Selembar kertas baru saja keluar dari sana dan memunculkan satu kalimat baru bertuliskan:KUSTODIAN TIDAK BOLEH MENYEBUT NAMANYA.Akhirnya Kustodian pasrah dan memejamkan mata karena mulai menyerah.Raka bertanya dengan kesal bercampur dengan rasa penasaran, " Sebenarnya siapa yang menulis itu?"Anak itu menjawab. "Dia.""Siapa dia sebenarnya yang dimaksud?"Lalu Anak itu menunjuk ke langit-langit. "Bukan Kustodian, bukan Direktorat, dan juga bukan Pemutus.""Lalu siapa dia?" Suara R
Anak itu tersenyum dengan senyum yang sama persis. Itu wajah Raka yang selama ini hanya pernah ia lihat dalam foto-foto masa kanak-kanak, namun sekarang wajah itu hanya berdiri beberapa meter di depannya."Kamu terlambat," ulang anak itu.Tetapi Raka masih tidak menjawab karena seluruh tubuhnya seperti sudah lupa akan bagaimana caranya bergerak."Siapa kamu?" Akhirnya Raka bersuara.Anak tersebut memiringkan kepala. "Pertanyaan yang salah.""Lalu apa pertanyaan yang benar?""Kenapa kamu keluar?" Ujarnya ketus.Raka mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti."Kemudian anak itu menunjuk dadanya sendiri. "Karena aku tidak pernah keluar." Lalu ia menunjuk Raka. "Kamu yang keluar."Bima tampak terkejut bukan kepalang. "Ini tidak mungkin."Sementara itu, Surya memandang anak itu dengan wajah pucat. "Kamar Nol..."Kustodian langsung mengangkat tangan. "Jangan mendekat."Raka menoleh dengan ekspresi penuh tanda tanya, "Kenapa?""Karena kita belum tahu mana yang asli." Sahut Kustodian cepat.Ana
Tba tiba foto itu jatuh dari tangan Raka.Hanya terdengar bunyi kecil kertas yang menyentuh lantai beton, namun rasanya seperti seluruh ruangan baru saja kehilangan udara.12 Mei 1987 adalah tanggal lahirnya dan wajah anak laki-laki dalam foto itu, tidak lain adalah wajahnya juga. Sama persis identik, bahkan hingga bekas luka kecil di dekat alis kanan.Lantas Raka menyentuh alisnya sendiri yang menyimpan bekas luka yang sudah ada sejak kecil. Selama bertahun-tahun ia mengira luka tersebut akibat jatuh dari sepeda, tapi kini ia tidak yakin lagi.Lalu Naya mengambil foto itu dengan tangan gemetar. "Raka...""Aku tahu.""Tapi ini tidak mungkin.""Aku juga tahu."Sementara itu, Alia berdiri beberapa meter dari mereka dengan wajah terlihat pucat. Dia sendiri tampak seperti seseorang yang baru saja menemukan bahwa ingatan yang selama ini dipercayainya ternyata menyimpan kebohongan. "Aku tidak pernah tahu siapa anak itu," katanya. "Tapi aku pernah melihat foto ini.""Di mana?""Di rumah sak
Tak….!R..., A..., K...Raka terus menatap mesin ketik itu tanpa berkedip seakan tak mau ketinggalan satu momen pun, padahal ruangan generator masih gelap, hanya ada cahaya tipis dari layar panel darurat yang menerangi wajah mereka.Sementara itu, Arman masih berdiri di samping mesin tik dengan tubuh tampak kaku.Naya yang terlihat sangat khawatir, langsung memegang lengan Raka."Jangan mendekat."Mendengar peringatan dari Naya, Raka tetap tidak menjawab, karena sepasang matanya masih tetap tertuju pada kertas.Kemudian huruf berikutnya belum muncul, membuat semua menunggu dalam keheningan mencekam.Kemudian terdengar suara yang memang paling dinantikan…Tak…!Akhirnya huruf keempat pun muncul.A.Raka kontan menarik napas panjang.R-A-K-A.Itu memang adalah namanya. Namun ternyata mesin belum berhenti sampai disitu.Tak…!Lalu muncul spasi., kemudian muncul satu huruf baru.P.Melihat itu, Bima langsung berkata, "Matikan!"Arman menggeleng. "Aku tidak bisa.""Cabut sumber listrik!" B
Tampak tangan Arman masih menggenggam erat tuas mesin ketik.Hanya satu tarikan saja yang dibutuhkan untuk membuat kalimat di atas kertas langsung menjadi perintah bagi seluruh system:SELURUH INGATAN HARUS DIKEMBALIKAN KEPADA PEMILIKNYA.Dengan lebih cermat, Raka membaca kalimat itu sekali lagi, kemudian menatap Arman dengan penasaran, "Siapa yang menyuruhmu?"Namun Arman hanya diam tidak menjawab, seakan tidak mendengar pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Raka."Pemutus?" Raka terus mengejar dan mendesak agar Arman bisa lekas menjawabnya.Akan tetapi, Arman sepertinya memutuskan untuk tetap diam saja."Direktorat?" Raka terus mendesak dengan semangat pantang menyerah.Ternyata kali ini tampak Arman tersenyum tipis. "Bukan.""Kalau begitu siapa?" Nada bicara Raka semakin terdengar mengejar untuk mengorek petunjuk lebih dalam.Kemudian Arman mengangkat kepala dan menatap Raka langsung tepat dimatanya, "Kamu."Naya langsung ikut ikutan menatap Raka. "Apa maksudnya?"Mendengar jawa
Tak!Bunyi tuts mesin ketik itu menggema ke seluruh kompleks walaupun tidaklah keras, tetapi setiap orang di aula merasakan getarannya hingga ke telapak kaki.Sedangkan di layar pengawas, pintu-pintu besi di berbagai koridor mulai terbuka dan tertutup sendiri bagaikan ada kekuatan tak terlihat yang sedang bermain main seperti anak kecil di arena bermain. Lampu indikator pun seketika berubah warna dari hijau menjadi kuning, seakan seluruh sistem seolah sedang menunggu perintah berikutnya.Dengan kondisi mulai dilanda kepanikan, Raka menoleh kepada Kustodian,"Apa yang sedang dia lakukan?"Kustodian tidak langsung menjawab karena tatapannya masih terpaku pada mesin ketik tua di layar. "Itu bukan mesin ketik biasa." Ujarnya singkat."Tentu saja bukan," sahut Mira kesal karena Kustodian hanya mematung saja. "Yang ditanyakan oleh Raka barusan, kenapa seluruh bangunan bereaksi?"Lantas Kustodian menarik napas panjang. "Karena sejak awal bangunan ini tidak dikendalikan komputer karena bisa de
TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A
“Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,
“Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J
Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal.







