/ Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 14 : Kota Yang Mulai Lapar

공유

CHAPTER 14 : Kota Yang Mulai Lapar

작가: Newa Lim
last update 게시일: 2026-05-12 10:12:11

“HOTEL TERHUBUNG KE DUNIA LUAR.”

“PENYEBARAN DIMULAI.”

Tulisan merah di layar ponsel Raka berkedip seperti luka terbuka. Di depan Raka, ada sekitar puluhan orang berdiri diam di tengah jalan. Hanya menatap, tidak bergerak bahkan tidak berkedip sekalipun.

Kemudian Hujan turun dengan deras. Lampu kota memantul di aspal basah. Suara kendaraan perlahan menghilang. Entah kenapa, satu per satu mobil berhenti dengan sendirinya di jalan, seperti mengalami mati mesin bergiliran. Dan semua pengemudi kel
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Booking Terakhir   Chapter 68 : Nama yang Tidak Boleh Ada

    Tak….!R..., A..., K...Raka terus menatap mesin ketik itu tanpa berkedip seakan tak mau ketinggalan satu momen pun, padahal ruangan generator masih gelap, hanya ada cahaya tipis dari layar panel darurat yang menerangi wajah mereka.Sementara itu, Arman masih berdiri di samping mesin tik dengan tubuh tampak kaku.Naya yang terlihat sangat khawatir, langsung memegang lengan Raka."Jangan mendekat."Mendengar peringatan dari Naya, Raka tetap tidak menjawab, karena sepasang matanya masih tetap tertuju pada kertas.Kemudian huruf berikutnya belum muncul, membuat semua menunggu dalam keheningan mencekam.Kemudian terdengar suara yang memang paling dinantikan…Tak…!Akhirnya huruf keempat pun muncul.A.Raka kontan menarik napas panjang.R-A-K-A.Itu memang adalah namanya. Namun ternyata mesin belum berhenti sampai disitu.Tak…!Lalu muncul spasi., kemudian muncul satu huruf baru.P.Melihat itu, Bima langsung berkata, "Matikan!"Arman menggeleng. "Aku tidak bisa.""Cabut sumber listrik!" B

  • Booking Terakhir   Chapter 67 : Ingatan yang Salah Alamat

    Tampak tangan Arman masih menggenggam erat tuas mesin ketik.Hanya satu tarikan saja yang dibutuhkan untuk membuat kalimat di atas kertas langsung menjadi perintah bagi seluruh system:SELURUH INGATAN HARUS DIKEMBALIKAN KEPADA PEMILIKNYA.Dengan lebih cermat, Raka membaca kalimat itu sekali lagi, kemudian menatap Arman dengan penasaran, "Siapa yang menyuruhmu?"Namun Arman hanya diam tidak menjawab, seakan tidak mendengar pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Raka."Pemutus?" Raka terus mengejar dan mendesak agar Arman bisa lekas menjawabnya.Akan tetapi, Arman sepertinya memutuskan untuk tetap diam saja."Direktorat?" Raka terus mendesak dengan semangat pantang menyerah.Ternyata kali ini tampak Arman tersenyum tipis. "Bukan.""Kalau begitu siapa?" Nada bicara Raka semakin terdengar mengejar untuk mengorek petunjuk lebih dalam.Kemudian Arman mengangkat kepala dan menatap Raka langsung tepat dimatanya, "Kamu."Naya langsung ikut ikutan menatap Raka. "Apa maksudnya?"Mendengar jawa

  • Booking Terakhir   Chapter 66 : Kalimat Pertama

    Tak!Bunyi tuts mesin ketik itu menggema ke seluruh kompleks walaupun tidaklah keras, tetapi setiap orang di aula merasakan getarannya hingga ke telapak kaki.Sedangkan di layar pengawas, pintu-pintu besi di berbagai koridor mulai terbuka dan tertutup sendiri bagaikan ada kekuatan tak terlihat yang sedang bermain main seperti anak kecil di arena bermain. Lampu indikator pun seketika berubah warna dari hijau menjadi kuning, seakan seluruh sistem seolah sedang menunggu perintah berikutnya.Dengan kondisi mulai dilanda kepanikan, Raka menoleh kepada Kustodian,"Apa yang sedang dia lakukan?"Kustodian tidak langsung menjawab karena tatapannya masih terpaku pada mesin ketik tua di layar. "Itu bukan mesin ketik biasa." Ujarnya singkat."Tentu saja bukan," sahut Mira kesal karena Kustodian hanya mematung saja. "Yang ditanyakan oleh Raka barusan, kenapa seluruh bangunan bereaksi?"Lantas Kustodian menarik napas panjang. "Karena sejak awal bangunan ini tidak dikendalikan komputer karena bisa de

  • Booking Terakhir   Chapter 65 : Garis Pertama

    Suara sirene tidak berbunyi sama sekali sehingga suasana masih tenang, namun justru itulah yang membuat seluruh aula terasa ganjil, karena sudah jelas tampak di layar pengawas, iring-iringan kendaraan hitam berhenti sekitar lima puluh meter dari gerbang utama Depo 9.Sementara itu, tak satu pun anggota diluar sana yang langsung mendobrak atau memaksa masuk. Mereka tampak dengan sikap disiplin menunggu dalam diam, seolah memiliki keyakinan bahwa pintu akan dibukakan dari dalam.Raka memperhatikan monitor dengan sekasama, "Kenapa mereka tidak menyerang?"Pria berkacamata berseragam hitam menjawab tanpa mengalihkan pandangan. "Karena mereka tidak pernah memulai perang.""Lalu? Apa sebenarnya yang mereka tunggu?”"Mereka akan membuat lawannya saling menghancurkan lebih dulu." Jawab Pria berkacamata kalem.Sementara itu di ruang sidang, suasana mulai retak terbelah karena beberapa anggota Direktorat bergegas menuju pintu keluar, sedangkan yang lainnya tetap duduk.Ketua Sidang tampak berus

  • Booking Terakhir   Chapter 64 : Hak Untuk Memilih

    Pistol tua itu tergeletak di atas meja tanpa ada seorang pun yang berinisiatif untuk menyentuh, apalagi mengambilnya. Seluruh aula masih tenggelam dalam keheningan yang terasa lebih berat dan mengganggu daripada ancaman apa pun yang pernah mereka hadapi. Raka terus saja memandangi senjata itu dengan rasa galau tingkat tinggi yang membuatnya merasa serba salah dan serba takut akan konsekuensi dari pilihan yang akan diambilnya.Pergumulan pikiran dan batin Raka membuatnya memandang Kustodian dengan ekspresi teramat serius. "Kalau aku menolak? Apa yang akan terjadi kemudian?"Kustodian menjawab tanpa ragu. "Itu juga sebuah jawaban.""Kalau aku tidak membunuhmu..." Raka menelan ludahnya sejenak, lalu melanjutkan pertanyaannya, "...apa yang akan terjadi?""Yang terjadi adalah kalian yang akan terus mengejar serpihan informasi dan petunjuk, sedikit demi sedikit tanpa kejelasan, mungkin bertahun-tahun atau mungkin juga seumur hidup."Jawaban itu tidak terdengar seperti ancaman, melainkan ce

  • Booking Terakhir   Chapter 63 : Kustodian

    Lampu padam seketika hingga seluruh aula tenggelam dalam kegelapan yang nyaris sempurna dan nyaris tanpa suara yang terdengar.Lebih dari seratus orang yang memenuhi Ruang Sidang Utama tetap berdiri di tempat masing-masing, seolah mereka telah dilatih menghadapi keadaan seperti ini. Hanya napas mereka yang terdengar sedikit memburu walau masih dalam kondisi tenang.Lalu suara itu kembali muncul. "Akhirnya kita bisa bertemu secara langsung."Kini suara itu tidak lagi berasal dari pengeras suara ataupun hasil dari gema pantulan dinding, karena terasa begitu dekat dan begitu nyata.Raka memutar tubuhnya cepat untuk melihat sumber suara, namun hanya kekosongan yang dilihat karena tak seorang pun berada di belakangnya."Di mana kau?" Serunya dengan nada sedikit menantang.Tetapi tidak ada jawaban.Sementara itu, terdengar langkah kaki dari lorong bata merah yang baru terbuka beberapa menit sebelumnya.Tok..., Tok..., Tok...Seberkas cahaya kecil berwarna kuning muncul di ujung lorong seper

  • Booking Terakhir   CHAPTER 2 – Tamu yang Tidak Terdaftar

    Raka membeku mematung tak mampu bergerak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.“Ini nggak

  • Booking Terakhir   CHAPTER 1 – Hotel yang Tidak Ada di Peta

    Hujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Ha

  • Booking Terakhir   CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

    TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A

  • Booking Terakhir   CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

    “Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status