登入“Akhirnya Kakak ingat aku,” Suara Dito terdengar dari seluruh speaker toko elektronik, pelan dan lembut selayaknya suara anak kecil biasa. Dan justru itu yang membuat bulu kuduk Raka berdiri. Suara itu masih terdengar polos dan penuh keluguan yang semakin memilukan.Sedangkan di luar toko, pemandangan kota berangsur berubah. Gedung gedung memanjang seperti lorong hotel tanpa ujung, jendela jendela berubah menjadi pintu kamar, lampu neon merah berkedip di tengah hujan dan ribuan pintu hotel yang tadi muncul kini terbuka lebar.Tak lama kemudian, ada sesuatu keluar dari dalamnya. Tidak semuanya berbentuk manusia. Ada yang merangkak, bergerak dengan bunyi patah tulang diseluruh tubuhnya, serta memandang Raka lekat lekat.“Rak…” Naya menggenggam lengan Raka erat. Tangannya dingin dan gemetar.Mira mengisi ulang shotgun dengan cepat dan wajah semakin tegang. “Kita harus pindah.”“Ke mana?” tanya Naya panik.Mira menatap keluar dari jendela pecah. Dan untuk pertama kalinya, perempuan itu te
“Kamu adalah alasan hotel itu lahir.”Kalimat Mira membuat seluruh ruangan terasa membeku.Hujan masih menghantam kaca toko elektronik di luar, tapi suara itu terdengar jauh dan samar, seolah dunia mulai menjauh dari Raka. “Bullshit…” gumamnya pelan.Mira tidak bereaksi apapun. Dia tahu bahwa penjelasannya sangat diluar nalar manusia normal.Naya justru menatap Raka dengan wajah pucat. “Rak?”Raka bangkit berdiri dengan paras menyangkal, “Enggak mungkin!”Tangannya gemetar. “Gue nggak pernah bikin hotel ini.”Mira menghela napas, lalu dengan sabar melanjutkan, “Semua orang yang masuk hotel itu punya trauma.” Kemudian dia membuka map tua lain di meja. “Kehilangan, rasa bersalah, penyesalan.”Lembar-lembar koran lama tersebar. Ada kasus bunuh diri, orang hilang, kebakaran, bahkan pembunuhan. Dan semuanya punya satu kesamaan, yaitu mereka pernah “mengunci” sesuatu dalam hidup mereka.“Tapi lo itu beda, Raka,” lanjut Mira. “Hotel ini bereaksi paling kuat ke lo.”Raka menatap foto panti as
“HOTEL TERHUBUNG KE DUNIA LUAR.”“PENYEBARAN DIMULAI.”Tulisan merah di layar ponsel Raka berkedip seperti luka terbuka. Di depan Raka, ada sekitar puluhan orang berdiri diam di tengah jalan. Hanya menatap, tidak bergerak bahkan tidak berkedip sekalipun. Kemudian Hujan turun dengan deras. Lampu kota memantul di aspal basah. Suara kendaraan perlahan menghilang. Entah kenapa, satu per satu mobil berhenti dengan sendirinya di jalan, seperti mengalami mati mesin bergiliran. Dan semua pengemudi keluar dari kendaraan masing masing.Melihat itu semua, Naya sontak mundur perlahan. “Rak…” Suara gadis itu bergetar.“Kenapa mereka lihat kita kayak gitu…?”Raka tidak menjawab, karena dia sedang melihat sesuatu yang lebih buruk. Ada lingkaran hitam tipis di sekitar pupil mata mereka, sama dengan mata orang orang yang pernah “diproses” oleh hotel.“Jangan kontak mata,” bisik Raka ditelinga Naya.“Apa?”“JANGAN LIHAT MATA MEREKA!” Ulang Raka tegas.Terlambat.Seorang pria tua di depan mereka tersen
“Kalau mau keluar, kamu harus jadi satu-satunya Raka yang tersisa.” Kalimat itu seperti menggantung di udara dingin dapur basement, membuat Raka berdiri kaku. Bahkan sepasang lututnya mulai terasa gemetar karena di depannya sekarang tampak belasan versi dirinya sendiri sedang turun perlahan dari meja meja stainless.Kondisi tubuh mereka masing masing berbeda beda. Ada yang hangus, setengah busuk, memiliki leher terputus sebagian, dan kondisi menyeramkan lainnya. Namun ada satu kesamaan dari mereka semua, yaitu mata yang sama persis dengan dirinya, masih berkondisi bagus untuk dilihat.Naya mundur perlahan sampai punggungnya menabrak meja. “Rak…” suaranya pecah. “Ini enggak normal…”Salah satu Raka lain tertawa serak. “Normal?” katanya. “Kita udah lewat jauh dari normal.”Lampu dapur berkedip. Dan dalam setiap kedipan, posisi mereka maju bertambah dekat.Raka menggertakkan gigi sambil terus berusaha untuk berpikir tenang. “Oke…” katanya pelan. “Kalau kalian itu gue…, berarti kalian ju
Gelap total tanpa bentuk, tanpa cahaya sama sekali dan hanya menyisakan dua suara saja yang terdengar, sungguh membuat bulu kuduk Raka berdiri.“Pilih aku.”“Rak…, jangan percaya dia!”Raka berdiri membeku di tengah ruangan. Napasnya terdengar terlalu keras di telinganya sendiri. Tangannya mengepal, tapi tubuhnya tidak bergerak.Karena sekarang ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya diantara salah memilih atau tidak memilih sama sekali.Suara pertama kini terdengar lagi lebih dekat dari sebelumnya, namun lebih lembut.“Rak… gue Naya…”Lalu terdengar suara kedua bersuara patah dan bergetar, “ Dia bohong!”Tak pelak, Raka memejamkan mata untuk berkonsentrasi penuh dan memusatkan pikiran.Aturan. Selalu ada pola.Hotel ini sepertinya tidak pernah benar benar acak. Dan bila demikian, pasti ada sesuatu yang membedakan mereka berdua.Sekejap kemudian lampu menyala.Dan Raka akhirnya melihat dua sosok Naya berdiri berhadapan, satu di kiri dan lainnya disebelah kanan. Yang kiri tampak norma
“KAMU TIDAK BOLEH MENGUBAHNYA.”Suara itu tidak datang dari satu arah, tapi terdengar dari mana mana. Dari dinding, lantai, bahkan dari dalam kepala Raka sendiri. Ratusan wajah di dinding basement menatapnya dengan mata kosong, mulut terbuka dan mengucapkan kalimat yang sama dengan nada tinggi menghentak. Tidak ada variasi emosi dan tidak ada jeda sama sekali. Hanya penolakan teramat tegas dan lugas dari mereka.Raka berdiri di tengah ruangan itu, masih dengan napas berat dan paku masih di tangannya. Namanya masih tergores dalam papan besar didepannya. Namun tampak sedikit berubah seperti lebih berantakan, tapi terlihat cukup untuk mengganggu “urutan”.“ Gue udah ubah,” bisiknya pelan.Satu langkah kecil, tapi terasa seperti melanggar sesuatu yang sangat besar.Lampu berkedip beberapa kali, lalu kembali stabil.Seketika itu juga, semua wajah di dinding menutup mulut mereka dengan serempak, kemudian situasi menjadi sunyi, bahkan terlalu sunyi.Raka tidak bergerak. Ia tahu jika ini buka