Home / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

Share

CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

Author: Newa Lim
last update publish date: 2026-04-28 11:16:41

“Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307  sontak tertutup di belakang Raka.

BRAK!

Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya, berputar seperti jarum rusak yang tidak bisa berhenti, bagai piringan hitam macet yang terus mengulang nada tak henti.

“Giliran kamu yang hilang.” Suara itu pun terdengar lagi.

“Enggak…” bisik Raka pelan. “Enggak mungkin…” Tapi bahkan saat ia menyangkal, seolah tubuhnya tahu bahwa ada sesuatu yang berubah. Dan perubahan itu tidak akan bisa dibatalkan.

Lantas Raka berjalan cepat menjauh dari kamar 307. Lorong terasa lebih panjang dari sebelumnya. Lampu berkedip tidak beraturan. Karpet di bawah kakinya terasa lembap. Seperti… basah. Ia menunduk sekilas dan langsung berhenti. Ada jejak kaki yang basah dan sudah pasti bukan miliknya. Jejak itu muncul dari arah kamar 307, dan mengarah ke ujung lorong, seolah seseorang baru saja keluar dari sana. Atau bahkan sepertinya jejak itu masih berjalan. Raka menahan napas.

Perlahan, Raka mengikuti jejak itu. Satu langkah, dua langkah, dan ternyata jejak itu berhenti di depan kamar 305, kamar Naya. Atau mungkin lebih tepatnya, kamar yang seharusnya milik Naya. Raka sontak menelan ludah. Tangannya terangkat lalu mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Kemudian ia mencoba membuka namun gagal karena terkunci. Padahal sebelumnya tidak pernah terkunci. “Kenapa sekarang…” gumamnya pada diri sendiri.

Tiba tiba, terdengar suara klik. Suara kunci yang berputar sendiri dari dalam, dan perlahan pintu terbuka sedikit. Gelap dan tidak ada suara. Raka mendorong perlahan, membuka pintu lebih lebar. Dan yang pertama kali ia lihat adalah lantai yang basah dengan cairan gelap menggenang tipis. Refleks Raka membuatnya melangkah mundur. Bukan air karena bau logamnya langsung terasa.

Darah.

“Shit…” Raka memaksakan diri melihat lebih dalam. Kamar itu kosong tanpa Naya. Tidak ada barang apapun. Hanya noda gelap di lantai dan dinding, seolah sesuatu pernah terjadi di sana dan belumlah lama. Atau terjadi secara berulang kali. Raka menggertakkan gigi. “Ini bukan real…” Kalimat itu ia ucapkan seperti mantra secara berulang, tapi terasa tidak membantu, karena sesuatu di dalam dirinya mulai memahami jika ini nyata.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Raka langsung meraihnya dan melihat layar yang menyala. Ternyata aplikasi itu lagi. Tapi kali ini bukan daftar tamu yang ditampilkan. Bukan juga halaman hotel. Melainkan sebuah halaman baru dengan judul : “ATURAN MENGINAP” Raka membeku sejenak. Kemudian ia pun membaca.

 

1. Jangan keluar kamar setelah pukul 00.00.

2. Jika mendengar suara dari kamar mandi, abaikan.

3. Jangan membuka pintu untuk siapa pun setelah tengah malam.

4. Jika melihat dirimu sendiri, jangan bicara.

5. Jika ada yang hilang, jangan mencari.

 

Raka merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. “Aturan…” Akhirnya ada sesuatu yang bisa dipahami. Sesuatu yang bisa dijadikan bahan Pelajaran. Atau setidaknya hanya sekadar diikuti. Tapi, matanya berhenti pada poin terakhir, Jika ada yang hilang, jangan mencari.

“Bullshit…” gumamnya.

Naya hilang  dan ia disuruh tidak mencari?

“Gue nggak peduli,” katanya pelan. “Gue tetap cari.”

00:00

Angka itu muncul tiba-tiba di layar ponselnya seperti layaknya petunjuk jam ditepat tengah malam. Dan bertepatan dengan itu, lampu lorong mati seketika menjadikannya gelap total. Untuk kesekian kalinya, Raka bagai membatu dengan napas tertahan lagi.

“Aturan nomor satu…” bisiknya. “Jangan keluar kamar setelah 00.00…” Dan ia sekarang sedang berada di luar kamar. “Bagus, Rak… bagus…” ia tertawa kecil menghibur diri dalam ketegangan.

Kemudian dari dalam kegelapan, ada suara yang mulai muncul dengan perlahan dari berbagai arah seperti bisikan, diikuti dengan bunyi langkah kaki, lalu suara pintu  berderit.Sepertinya, seluruh hotel terbangun dari tidurnya.

Raka meraba dinding  mencari arah ke kamar 306, miliknya. Ia sadar harus segera kembali sekarang juga. Langkahnya dipercepat, tapi firasatnya mengatakan bahwa lorong terasa berubah dalam kegelapan menjadi lebih panjang dan sempit. Dan suara-suara itu terdengar semakin dekat ditelinga.

“Raka…”

Raka seketika itu juga berhenti. Suara itu Adalah Naya, dari arah belakang.

“Raka… tolong…”

Raka menutup mata. Benaknya mengingat aturan nomor tiga, Jangan membuka pintu untuk siapa pun setelah tengah malam. Tapi inikan bukan pintu, hanya suara.Namun  apakah aturan itu berlaku juga untuk dirinya agar jangan menemui siapapun setelah tengah malam?

“Raka…” Suara Naya terasa lebih dekat sekarang dan lebih jelas, “Gue di sini…,” Sambung suara Naya lagi membuat Raka semakin menggertakkan gigi ketakutan.

“Ini bukan lo…” gumam Raka meyakinkan diri sendiri jika suara itu bukanlah Naya sembari mempercepat langkah mencari kamarnya.

“RAKA!” Kali ini suara Naya berubah menjadi sebuah teriakan keras yang menyeramkan dan terdengar putus asa, seperti seseorang yang benar benar sedang membutuhkan bantuan.

Raka pun berhenti dan hampir berbalik. Tapi Ia mengingat satu hal, di Kamar 307 sebelumnya, sosok dan senyum itu. “Kamu yang membunuh kami.”

Dan Raka pun terus berjalan hingga akhirnya sampai di pintu kamar 306. Tangannya langsung meraba gagang, memutarnya lalu terhenti karena ternyata terkunci.

“Enggak… enggak mungkin!” Batin Raka panik sambil terus mencoba membuka pintu kamarnya. Tetap saja tidak bisa. Kemudian dari arah belakang, terdengar langkah kaki yang semakin cepat mendekat dengan suara hentakan yang berantakan.

“RAKA, TOLONG!” Sekarang suara itu tepat ditelinganya.

Raka menahan napas dengan tangan gemetar di gagang pintu.

“Ayo… ayo…” Raka menambah tenaga agar pintu kamar bisa segera terbuka.

KLIK!

 Akhirnya pintu terbuka juga. Raka langsung bergegas masuk tanpa menoleh lalu menutup pintu keras keras, lantas menguncinya. Sejenak ia bersandar di pintu dengan napas kacau tak beraturan. Raka mencoba menempelkan telinga dipintu dengan rasa penasaran. Ternyata suara Naya diluar sudah berhenti, sunyi. Beberapa saat terasa berlalu dengan penuh ketegangan hingga terdengar suara ketukan pelan namun pasti dipintu.

TOK.

“Raka…” Itu suara Naya, terdengar lembut dan sepertinya hampir menangis. “Buka pintunya, Raka, aku sendirian…”

Raka menutup mata. Air keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Aturan nomor tiga, Jangan buka.

“Raka… aku takut…” Ketukan lagi, kini lebih kuat dari sebelumnya.

“RAKA!”

“PERGI!” Raka nekat berteriak. “Siapa pun lo… pergi! Lo bukan Naya!”

Kemudian suasana hening selama beberapa detik. Lalu terdengar suara sesuatu seperti menyeret dan menjauh dari pintu secara perlahan, untuk kemudian hilang begitu saja.

Raka masih tidak bergerak selama beberapa menit untuk mendengar dan memastikan situasi sudah aman terkendali sampai akhirnya sunyi benar benar kembali. Ia membuka mata perlahan. Masih hidup. Masih di dalam kamar.

“Gue berhasil…” bisiknya sedikit lega.

Tapi, saat ia berbalik, Raka langsung terhenyak. Karena kini di dalam kamar, Ia tidak sendirian. Seseorang berdiri di dekat jendela, Membelakanginya. Rambut Panjang dengan tubuh kecil.

Raka mundur satu langkah. “…Naya?”

Sosok itu tidak bergerak.

“Kapan lo masuk kesini?”

Tidak ada jawaban.

Raka mengingat aturan nomor empat. Jika melihat dirimu sendiri, jangan bicara.

Tapi inikan bukan dirinya sendiri, ini Naya, sehingga Raka merasa tidak akan melanggar aturan jika mengajak sosok Naya untuk berbicara.

“Nay…”

Sosok itu perlahan berbalik dan wajahnya terlihat. Ternyata Itu Naya. Sepertinya yang asli. Karena sepasang matanya tampak hidup walaupun penuh ketakutan.

“Raka…” katanya pelan. “Akhirnya ketemu juga.”

Raka menatapnya dengan perasaan masih agak ragu.

“Lo…, ingat gue?” Tanya Raka perlahan dengan lembut.

Naya mengangguk cepat. “Iya…,gue ingat semuanya, gue tadi…” Dia berhenti. Tampak air matanya jatuh menetes. “Mereka…, mereka ngejar gue…”

Raka mendekat sedikit, masih hati-hati. “Siapa?”

Naya menggeleng. “Gue nggak tahu, tapi mereka bilang…, mereka bilang kalau lo…” Naya berhenti lagi. Wajahnya berubah menjadi penuh ketakutan berhiaskan keraguan.

“Lo apa?” tanya Raka penasaran.

Naya menatapnya dalam dalam, seolah mencoba melihat sesuatu di dalam diri Raka yang tak tampak dari luar.

“Mereka bilang…” Naya mengecilkan suaranya. “…lo yang mulai semuanya.”

Raka merasakan tubuhnya menegang.

“Kamar 307,” lanjut Naya. “Mereka semua…, dari sana…”

Raka terdiam. Ia merasakan potongan potongan itu mulai terhubung, tapi belum lengkap dan belum jelas.

“Kita harus keluar dari sini!” kata Raka cepat.

Naya mengangguk. “Iya…,sebelum…”

TOK.

Mereka berdua langsung diam.

Lalu ada ketukan lagi dipintu kamar, dengan bunyi yang agak berbeda dari sebelumnya. Lebih berat dan lebih dalam. Seperti bukan dari seseorang. Tapi dari sesuatu.

“Raka…” bisik Naya. “Lo denger?”

Raka mengangguk.

 Dan ketukan itu terdengar lagi.

TOK.

Lalu terdengar suara baru, bukan suara Naya, dan sepertinya juga bukan suara manusia. Suara yang sangat teramat berat dan terlampau dalam.

“Waktu check-out… sudah tiba.”

Raka mematung sejenak dengan pandangan langsung ke arah pintu.

Naya menggenggam lengannya. “Jangan buka…” bisiknya.

Tapi sedetik kemudian, ponsel Raka bergetar lagi. Tanpa membuang waktu, ia melihat layar. Ada notifikasi baru dari aplikasi itu.

“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”

Napas Raka terhenti. Ia mengangkat kepala dan kembali menatap pintu. Ketukan itu berhenti. Sunyi seperti sedang menunggu sesuatu. Dan untuk pertama kalinya, Raka tidak tahu mana yang lebih berbahaya: Tetap di dalam kamar atau membuka pintu.

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Booking Terakhir   Chapter 69 : Anak Yang Seharusnya Mati

    Tba tiba foto itu jatuh dari tangan Raka.Hanya terdengar bunyi kecil kertas yang menyentuh lantai beton, namun rasanya seperti seluruh ruangan baru saja kehilangan udara.12 Mei 1987 adalah tanggal lahirnya dan wajah anak laki-laki dalam foto itu, tidak lain adalah wajahnya juga. Sama persis identik, bahkan hingga bekas luka kecil di dekat alis kanan.Lantas Raka menyentuh alisnya sendiri yang menyimpan bekas luka yang sudah ada sejak kecil. Selama bertahun-tahun ia mengira luka tersebut akibat jatuh dari sepeda, tapi kini ia tidak yakin lagi.Lalu Naya mengambil foto itu dengan tangan gemetar. "Raka...""Aku tahu.""Tapi ini tidak mungkin.""Aku juga tahu."Sementara itu, Alia berdiri beberapa meter dari mereka dengan wajah terlihat pucat. Dia sendiri tampak seperti seseorang yang baru saja menemukan bahwa ingatan yang selama ini dipercayainya ternyata menyimpan kebohongan. "Aku tidak pernah tahu siapa anak itu," katanya. "Tapi aku pernah melihat foto ini.""Di mana?""Di rumah sak

  • Booking Terakhir   Chapter 68 : Nama yang Tidak Boleh Ada

    Tak….!R..., A..., K...Raka terus menatap mesin ketik itu tanpa berkedip seakan tak mau ketinggalan satu momen pun, padahal ruangan generator masih gelap, hanya ada cahaya tipis dari layar panel darurat yang menerangi wajah mereka.Sementara itu, Arman masih berdiri di samping mesin tik dengan tubuh tampak kaku.Naya yang terlihat sangat khawatir, langsung memegang lengan Raka."Jangan mendekat."Mendengar peringatan dari Naya, Raka tetap tidak menjawab, karena sepasang matanya masih tetap tertuju pada kertas.Kemudian huruf berikutnya belum muncul, membuat semua menunggu dalam keheningan mencekam.Kemudian terdengar suara yang memang paling dinantikan…Tak…!Akhirnya huruf keempat pun muncul.A.Raka kontan menarik napas panjang.R-A-K-A.Itu memang adalah namanya. Namun ternyata mesin belum berhenti sampai disitu.Tak…!Lalu muncul spasi., kemudian muncul satu huruf baru.P.Melihat itu, Bima langsung berkata, "Matikan!"Arman menggeleng. "Aku tidak bisa.""Cabut sumber listrik!" B

  • Booking Terakhir   Chapter 67 : Ingatan yang Salah Alamat

    Tampak tangan Arman masih menggenggam erat tuas mesin ketik.Hanya satu tarikan saja yang dibutuhkan untuk membuat kalimat di atas kertas langsung menjadi perintah bagi seluruh system:SELURUH INGATAN HARUS DIKEMBALIKAN KEPADA PEMILIKNYA.Dengan lebih cermat, Raka membaca kalimat itu sekali lagi, kemudian menatap Arman dengan penasaran, "Siapa yang menyuruhmu?"Namun Arman hanya diam tidak menjawab, seakan tidak mendengar pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Raka."Pemutus?" Raka terus mengejar dan mendesak agar Arman bisa lekas menjawabnya.Akan tetapi, Arman sepertinya memutuskan untuk tetap diam saja."Direktorat?" Raka terus mendesak dengan semangat pantang menyerah.Ternyata kali ini tampak Arman tersenyum tipis. "Bukan.""Kalau begitu siapa?" Nada bicara Raka semakin terdengar mengejar untuk mengorek petunjuk lebih dalam.Kemudian Arman mengangkat kepala dan menatap Raka langsung tepat dimatanya, "Kamu."Naya langsung ikut ikutan menatap Raka. "Apa maksudnya?"Mendengar jawa

  • Booking Terakhir   Chapter 66 : Kalimat Pertama

    Tak!Bunyi tuts mesin ketik itu menggema ke seluruh kompleks walaupun tidaklah keras, tetapi setiap orang di aula merasakan getarannya hingga ke telapak kaki.Sedangkan di layar pengawas, pintu-pintu besi di berbagai koridor mulai terbuka dan tertutup sendiri bagaikan ada kekuatan tak terlihat yang sedang bermain main seperti anak kecil di arena bermain. Lampu indikator pun seketika berubah warna dari hijau menjadi kuning, seakan seluruh sistem seolah sedang menunggu perintah berikutnya.Dengan kondisi mulai dilanda kepanikan, Raka menoleh kepada Kustodian,"Apa yang sedang dia lakukan?"Kustodian tidak langsung menjawab karena tatapannya masih terpaku pada mesin ketik tua di layar. "Itu bukan mesin ketik biasa." Ujarnya singkat."Tentu saja bukan," sahut Mira kesal karena Kustodian hanya mematung saja. "Yang ditanyakan oleh Raka barusan, kenapa seluruh bangunan bereaksi?"Lantas Kustodian menarik napas panjang. "Karena sejak awal bangunan ini tidak dikendalikan komputer karena bisa de

  • Booking Terakhir   Chapter 65 : Garis Pertama

    Suara sirene tidak berbunyi sama sekali sehingga suasana masih tenang, namun justru itulah yang membuat seluruh aula terasa ganjil, karena sudah jelas tampak di layar pengawas, iring-iringan kendaraan hitam berhenti sekitar lima puluh meter dari gerbang utama Depo 9.Sementara itu, tak satu pun anggota diluar sana yang langsung mendobrak atau memaksa masuk. Mereka tampak dengan sikap disiplin menunggu dalam diam, seolah memiliki keyakinan bahwa pintu akan dibukakan dari dalam.Raka memperhatikan monitor dengan sekasama, "Kenapa mereka tidak menyerang?"Pria berkacamata berseragam hitam menjawab tanpa mengalihkan pandangan. "Karena mereka tidak pernah memulai perang.""Lalu? Apa sebenarnya yang mereka tunggu?”"Mereka akan membuat lawannya saling menghancurkan lebih dulu." Jawab Pria berkacamata kalem.Sementara itu di ruang sidang, suasana mulai retak terbelah karena beberapa anggota Direktorat bergegas menuju pintu keluar, sedangkan yang lainnya tetap duduk.Ketua Sidang tampak berus

  • Booking Terakhir   Chapter 64 : Hak Untuk Memilih

    Pistol tua itu tergeletak di atas meja tanpa ada seorang pun yang berinisiatif untuk menyentuh, apalagi mengambilnya. Seluruh aula masih tenggelam dalam keheningan yang terasa lebih berat dan mengganggu daripada ancaman apa pun yang pernah mereka hadapi. Raka terus saja memandangi senjata itu dengan rasa galau tingkat tinggi yang membuatnya merasa serba salah dan serba takut akan konsekuensi dari pilihan yang akan diambilnya.Pergumulan pikiran dan batin Raka membuatnya memandang Kustodian dengan ekspresi teramat serius. "Kalau aku menolak? Apa yang akan terjadi kemudian?"Kustodian menjawab tanpa ragu. "Itu juga sebuah jawaban.""Kalau aku tidak membunuhmu..." Raka menelan ludahnya sejenak, lalu melanjutkan pertanyaannya, "...apa yang akan terjadi?""Yang terjadi adalah kalian yang akan terus mengejar serpihan informasi dan petunjuk, sedikit demi sedikit tanpa kejelasan, mungkin bertahun-tahun atau mungkin juga seumur hidup."Jawaban itu tidak terdengar seperti ancaman, melainkan ce

  • Booking Terakhir   CHAPTER 7  : Check-Out Pertama

    TOK.Ketukan itu berhenti dan seketika sunyi. Tapi justru itu yang membuatnya lebih menakutkan.Raka berdiri di tengah kamar, matanya terpaku ke pintu. Notifikasi di ponselnya masih menyala:“ANDA TERPILIH UNTUK CHECK-OUT.”Di sampingnya, Naya menggenggam lengannya erat. “Jangan buka…” bisiknya. “A

  • Booking Terakhir   CHAPTER 5 – Kamu yang Membunuh Kami

    “Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J

  • Booking Terakhir   CHAPTER 2 – Tamu yang Tidak Terdaftar

    Raka membeku mematung tak mampu bergerak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.“Ini nggak

  • Booking Terakhir   CHAPTER 1 – Hotel yang Tidak Ada di Peta

    Hujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status