Beranda / Horor / Booking Terakhir / CHAPTER 13 : Versi Yang Harus Dibunuh

Share

CHAPTER 13 : Versi Yang Harus Dibunuh

Penulis: Newa Lim
last update Tanggal publikasi: 2026-05-11 14:47:34

“Kalau mau keluar, kamu harus jadi satu-satunya Raka yang tersisa.” Kalimat itu seperti menggantung di udara dingin dapur basement, membuat Raka berdiri kaku. Bahkan sepasang lututnya mulai terasa gemetar karena di depannya sekarang tampak belasan versi dirinya sendiri sedang turun perlahan dari meja meja stainless.

Kondisi tubuh mereka masing masing berbeda beda. Ada yang hangus, setengah busuk, memiliki leher terputus sebagian, dan kondisi menyeramkan lainnya. Namun ada satu kesamaan dari me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Booking Terakhir   Chapter 67 : Ingatan yang Salah Alamat

    Tampak tangan Arman masih menggenggam erat tuas mesin ketik.Hanya satu tarikan saja yang dibutuhkan untuk membuat kalimat di atas kertas langsung menjadi perintah bagi seluruh system:SELURUH INGATAN HARUS DIKEMBALIKAN KEPADA PEMILIKNYA.Dengan lebih cermat, Raka membaca kalimat itu sekali lagi, kemudian menatap Arman dengan penasaran, "Siapa yang menyuruhmu?"Namun Arman hanya diam tidak menjawab, seakan tidak mendengar pertanyaan yang barusan dilontarkan oleh Raka."Pemutus?" Raka terus mengejar dan mendesak agar Arman bisa lekas menjawabnya.Akan tetapi, Arman sepertinya memutuskan untuk tetap diam saja."Direktorat?" Raka terus mendesak dengan semangat pantang menyerah.Ternyata kali ini tampak Arman tersenyum tipis. "Bukan.""Kalau begitu siapa?" Nada bicara Raka semakin terdengar mengejar untuk mengorek petunjuk lebih dalam.Kemudian Arman mengangkat kepala dan menatap Raka langsung tepat dimatanya, "Kamu."Naya langsung ikut ikutan menatap Raka. "Apa maksudnya?"Mendengar jawa

  • Booking Terakhir   Chapter 66 : Kalimat Pertama

    Tak!Bunyi tuts mesin ketik itu menggema ke seluruh kompleks walaupun tidaklah keras, tetapi setiap orang di aula merasakan getarannya hingga ke telapak kaki.Sedangkan di layar pengawas, pintu-pintu besi di berbagai koridor mulai terbuka dan tertutup sendiri bagaikan ada kekuatan tak terlihat yang sedang bermain main seperti anak kecil di arena bermain. Lampu indikator pun seketika berubah warna dari hijau menjadi kuning, seakan seluruh sistem seolah sedang menunggu perintah berikutnya.Dengan kondisi mulai dilanda kepanikan, Raka menoleh kepada Kustodian,"Apa yang sedang dia lakukan?"Kustodian tidak langsung menjawab karena tatapannya masih terpaku pada mesin ketik tua di layar. "Itu bukan mesin ketik biasa." Ujarnya singkat."Tentu saja bukan," sahut Mira kesal karena Kustodian hanya mematung saja. "Yang ditanyakan oleh Raka barusan, kenapa seluruh bangunan bereaksi?"Lantas Kustodian menarik napas panjang. "Karena sejak awal bangunan ini tidak dikendalikan komputer karena bisa de

  • Booking Terakhir   Chapter 65 : Garis Pertama

    Suara sirene tidak berbunyi sama sekali sehingga suasana masih tenang, namun justru itulah yang membuat seluruh aula terasa ganjil, karena sudah jelas tampak di layar pengawas, iring-iringan kendaraan hitam berhenti sekitar lima puluh meter dari gerbang utama Depo 9.Sementara itu, tak satu pun anggota diluar sana yang langsung mendobrak atau memaksa masuk. Mereka tampak dengan sikap disiplin menunggu dalam diam, seolah memiliki keyakinan bahwa pintu akan dibukakan dari dalam.Raka memperhatikan monitor dengan sekasama, "Kenapa mereka tidak menyerang?"Pria berkacamata berseragam hitam menjawab tanpa mengalihkan pandangan. "Karena mereka tidak pernah memulai perang.""Lalu? Apa sebenarnya yang mereka tunggu?”"Mereka akan membuat lawannya saling menghancurkan lebih dulu." Jawab Pria berkacamata kalem.Sementara itu di ruang sidang, suasana mulai retak terbelah karena beberapa anggota Direktorat bergegas menuju pintu keluar, sedangkan yang lainnya tetap duduk.Ketua Sidang tampak berus

  • Booking Terakhir   Chapter 64 : Hak Untuk Memilih

    Pistol tua itu tergeletak di atas meja tanpa ada seorang pun yang berinisiatif untuk menyentuh, apalagi mengambilnya. Seluruh aula masih tenggelam dalam keheningan yang terasa lebih berat dan mengganggu daripada ancaman apa pun yang pernah mereka hadapi. Raka terus saja memandangi senjata itu dengan rasa galau tingkat tinggi yang membuatnya merasa serba salah dan serba takut akan konsekuensi dari pilihan yang akan diambilnya.Pergumulan pikiran dan batin Raka membuatnya memandang Kustodian dengan ekspresi teramat serius. "Kalau aku menolak? Apa yang akan terjadi kemudian?"Kustodian menjawab tanpa ragu. "Itu juga sebuah jawaban.""Kalau aku tidak membunuhmu..." Raka menelan ludahnya sejenak, lalu melanjutkan pertanyaannya, "...apa yang akan terjadi?""Yang terjadi adalah kalian yang akan terus mengejar serpihan informasi dan petunjuk, sedikit demi sedikit tanpa kejelasan, mungkin bertahun-tahun atau mungkin juga seumur hidup."Jawaban itu tidak terdengar seperti ancaman, melainkan ce

  • Booking Terakhir   Chapter 63 : Kustodian

    Lampu padam seketika hingga seluruh aula tenggelam dalam kegelapan yang nyaris sempurna dan nyaris tanpa suara yang terdengar.Lebih dari seratus orang yang memenuhi Ruang Sidang Utama tetap berdiri di tempat masing-masing, seolah mereka telah dilatih menghadapi keadaan seperti ini. Hanya napas mereka yang terdengar sedikit memburu walau masih dalam kondisi tenang.Lalu suara itu kembali muncul. "Akhirnya kita bisa bertemu secara langsung."Kini suara itu tidak lagi berasal dari pengeras suara ataupun hasil dari gema pantulan dinding, karena terasa begitu dekat dan begitu nyata.Raka memutar tubuhnya cepat untuk melihat sumber suara, namun hanya kekosongan yang dilihat karena tak seorang pun berada di belakangnya."Di mana kau?" Serunya dengan nada sedikit menantang.Tetapi tidak ada jawaban.Sementara itu, terdengar langkah kaki dari lorong bata merah yang baru terbuka beberapa menit sebelumnya.Tok..., Tok..., Tok...Seberkas cahaya kecil berwarna kuning muncul di ujung lorong seper

  • Booking Terakhir   Chapter 62 : Koleksi Pertama

    Selama untuk beberapa waktu, tak seorang pun diantara mereka yang mau menyentuh gulungan film mikro itu terlebih dahulu, bahkan Hadi dan Surya pun enggan melakukannya, seolah benda sekecil itu memiliki bobot yang jauh lebih besar daripada seluruh arsip Proyek Kamar Nol.Namun setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Raka memberanikan diri untuk mengangkatnya ke arah cahaya. Ternyata di dalam gulungan transparan itu tampak ratusan bingkai gambar yang sangat kecil dan itu bukanlah dokumen maupun foto, melainkan potongan-potongan denah."Apakah itu blueprint?" tanya Mira.Hadi merespon dengan menggeleng pelan. "Sepertinya yang ini lebih tua usianya.""Lebih tua dari apa?" Tanya Mira lagi dengan nada makin penasaran."Lebih tua dari hotel, dari Depo 9, bahkan lebih tua daripada Proyek Kamar Nol." Sahut Hadi menerangkan dengan suara yang terdengar lebih pasti daripada sebelumnya.Jawaban Hadi barusan membuat ruangan kembali sunyi, sampai Pria berkacamata berseragam hitam melangkah mendeka

  • Booking Terakhir   CHAPTER 6 – Aturan yang Tidak Tertulis

    “Besok… giliran kamu yang hilang.” terdengar suara yang tak jelas asal usulnya, disertai dengan pintu kamar 307 sontak tertutup di belakang Raka.BRAK!Suara itu menggema keras di lorong membuat Raka berdiri kaku beberapa detik, napasnya terputus putus. Kata kata itu masih terngiang di kepalanya,

  • Booking Terakhir   CHAPTER 5 – Kamu yang Membunuh Kami

    “Maaf… kamu siapa?”Kalimat itu tidak keras, tapi menghancurkan, bagai mengunyah melumat perasaan, terucap polos begitu saja.Raka berdiri kaku di tengah lobi, menatap Naya yang berdiri beberapa meter di depannya. “Nay?” suara Raka serak. “Ini gue. Raka.”Naya mengerutkan kening, mundur sedikit. “J

  • Booking Terakhir   CHAPTER 4 – Satu yang Hilang

    Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal.

  • Booking Terakhir   CHAPTER 3 – Reset Pertama

    Naya mundur satu langkah seolah tubuhnya menolak apa yang terlihat. “Itu…,bukan gue!” suaranya bergetar penuh penyangkalan cenderung sedikit histeris. Mendengar itu, Raka tidak menjawab karena dia juga melihatnya. Sosok di ujung lorong itu, tinggi, bentuk tubuh, rambut, bahkan cara berdirinya sama

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status