Anya berangkat ke kantor dengan kondisi lemas akibat kurang tidur semalaman karena kepikiran dengan kehamilannya.
Rasa mual yang terus menyerang perutnya membuat langkahnya semakin berat. Tapi dia tak punya pilihan—pekerjaan di kantor adalah satu-satunya sumber penghidupannya sekarang.
Setibanya di kantor, Anya langsung menuju mejanya tanpa menyapa rekan-rekannya seperti biasa. Tumpukan dokumen yang menanti untuk diperiksa membuat kepalanya berdenyut.
Dia mencoba fokus, tetapi rasa pusing dan mual semakin tak tertahankan.
"Anya, kamu baik-baik saja?" suara lembut Karin, teman satu timnya, membuat Anya tersentak.
Anya memaksakan senyum kecil. "Iya, aku cuma kurang tidur. Tidak apa-apa, terima kasih."
Namun, beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai gemetar. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, dan pandangannya mulai kabur. Anya berdiri dengan tergesa-gesa, mencoba menuju kamar kecil untuk menenangkan diri. Tapi sebelum dia berhasil melangkah jauh, rasa mual yang tak tertahan itu akhirnya membuatnya muntah di tengah ruang kerja.
Semua orang di ruangan itu terdiam. Suasana hening pecah oleh desahan kaget dan bisikan-bisikan pelan. Beberapa rekan kerja Anya segera mendekat, menawarkan bantuan.
"Anya! Kamu kenapa?" tanya Karin panik.
Anya mencoba menjawab, tetapi tubuhnya tidak sanggup lagi. Dia merasa lemas luar biasa, lalu jatuh pingsan di lantai.
Saat siuman, Anya menemukan dirinya terbaring di sofa kecil di ruang medis kantor. Dokter kantor, seorang wanita paruh baya bernama Bu Siska, sedang memeriksanya dengan cermat. Di sisi lain, Karin menunggu dengan wajah cemas.
"Anya, kamu harus jujur. Apa kamu sedang hamil?" tanya Bu Siska lembut, tetapi tegas.
Pertanyaan itu menghantam hati Anya seperti palu godam. Tubuhnya membeku. Dia hanya bisa menatap Bu Siska dengan mata yang berkaca-kaca.
Melihat reaksi Anya, Bu Siska menghela napas panjang. "Kondisi kamu menunjukkan semua tanda kehamilan, Nak. Jangan khawatir, kami hanya ingin memastikan kamu mendapatkan perawatan yang benar."
Anya tidak menjawab, tetapi air matanya mulai mengalir. Dia tahu rahasianya tak mungkin disembunyikan lebih lama lagi.
"Karin, tolong ambilkan air untuk Anya," kata Bu Siska, berusaha memberikan ruang kepada Anya.
Namun, sebelum Karin sempat melangkah keluar, pintu ruangan terbuka dengan kasar. Di sana berdiri Pak Edwin, bos besar perusahaan, dengan wajah yang gelap penuh amarah.
"Anya! Apa yang sebenarnya terjadi? Saya dengar kabar aneh dari staf lainnya," suara Pak Edwin menggema di ruangan itu.
Anya mencoba bangun, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Dengan suara pelan, dia berusaha menjelaskan, "Saya... saya tidak bermaksud menyembunyikan ini. Saya hamil, Pak…."
Kata-kata itu menggantung di udara. Mata Pak Edwin membulat, dan wajahnya berubah merah padam.
"Hamil? Tanpa suami? Apa kamu sadar ini bisa merusak citra perusahaan kita?!" bentaknya.
"Pak Edwin, tolong tenang. Anya sedang tidak sehat," kata Bu Siska mencoba menengahi.
"Tidak ada alasan untuk ini, Bu Siska! Perusahaan kita punya reputasi yang harus dijaga. Karyawan seperti ini hanya membawa masalah!" Pak Edwin melanjutkan dengan suara tinggi.
Anya hanya bisa menangis terisak. Semua rasa lelah, takut, dan malu bercampur menjadi satu. Dia ingin menjelaskan keadaannya, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan.
"Mulai hari ini, kamu tidak perlu kembali bekerja. Kamu dipecat!" ujar Pak Edwin tanpa ampun.
Anya keluar dari kantor dengan langkah gontai. Hujan deras mengguyur Jakarta, seakan mencerminkan hatinya yang hancur. Payung yang dipinjamkan Karin tak mampu melindungi tubuhnya yang gemetar karena dingin dan kelelahan.
Di bawah derasnya hujan, Anya berhenti di trotoar, memandang kosong ke jalan raya. Pikiran tentang masa depannya semakin membuat dadanya sesak. Bagaimana dia akan bertahan tanpa pekerjaan? Bagaimana dia akan membesarkan anak ini sendirian?
Namun, di tengah keputusasaannya, sebuah ingatan melintas di benaknya—wajah ibunya yang selalu mendukungnya, bahkan dalam situasi tersulit.
"Kamu anak kuat, Anya," kata ibunya suatu waktu. "Tuhan tidak akan memberi cobaan yang melebihi kemampuan kita."
Kata-kata itu menjadi sedikit penghiburan bagi Anya. Meski hatinya masih perih, dia bertekad untuk bertahan. Dia memegang perutnya dengan lembut, seolah memberi janji kepada anak yang sedang dikandungnya.
"Kita akan baik-baik saja," bisiknya lirih, meski air matanya terus mengalir.
“Seandainya Evan ada, mungkin semua ini tidak akan begini. Kamu di mana, Evan? Aku sedang mengandung anakmu….”
Tapi apa gunanya itu sekarang? Pria itu bahkan tak tahu ada di mana. Orang tuanya pun sudah lebih dulu menentang kehadirannya.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam yang berjalan kencang menggilas genangan air yang tidak jauh dari tempat Anya berdiri, membuat badan Anya terkena percikan air yang tergenang.
“Begini amat nasibmu, Nya,” ujar Anya pada diri sendiri, sambil mengibas-ngibas bajunya yang kini kotor dan basah.
Tapi ia tak ingin ambil pusing dan kembali berjalan menembus hujan.
Di sisi lain, pria yang duduk di bangku penumpang, yang baru saja melintasi Anya, meminta supir untuk berhenti.
“Stop!”
“Ada apa, Tuan?” tanya sang supir, terkejut karena tuannya tiba-tiba berteriak.
“Aku seperti melihatnya barusan,” gumam Evan sambil menoleh ke arah belakang. Namun, sosok yang dicarinya itu tidak ada.
Di trotoar yang tidak terlalu jauh di belakangnya, hanya ada seorang wanita tua yang tengah berdiri menggunakan payung.
Tidak tampak keberadaan gadis yang dicarinya. “Apa aku salah lihat?”
Bab 118Udara pagi yang redup membangunkan Anya dari mimpi buruk panjang. Sejak pemakaman ibunya beberapa minggu yang lalu, hari-harinya terasa berat dan hampa. Ia duduk di teras rumah kayu peninggalan keluarga, menggenggam secangkir kopi hangat tanpa rasa. Pandangannya menerawang ke halaman depan yang terlantar, seolah mencari jejak kehadiran ibunya dalam setiap helai daun yang gugur.Nathan menutup pintu pelan saat memasuki teras. Wajahnya menampakkan keprihatinan lembut, menawarkan senyuman tipis meski hatinya ikut terluka melihat sahabatnya bersedih. Dengan sabar, ia menyuguhkan secangkir teh melati wangi kepada Anya. “Masih hangat, No,” katanya lembut menggunakan nama panggilan sejak kecil. Tangannya menyentuh bahu Anya secara perlahan, memberikan kehangatan yang sulit diungkap kata-kata.Anya meneguk teh itu perlahan, menahan perasaan yang mulai teraduk dalam dadanya. Napasnya berat menandakan kesedihan yang masih membara. “Terima kasih, Than,” bisiknya pelan. Matanya sembab men
Bab 117Langit mendung menggantung berat di atas pemakaman sederhana itu. Aroma tanah basah bercampur dengan asap sisa kebakaran rumah Anya masih tertinggal di udara, menambah sesak di dada wanita itu.Anya berdiri diam di depan nisan yang baru saja dipasang. Tangannya gemetar saat meletakkan bunga di atas pusara sang ibu. Di sampingnya, Kenzo memeluk kakinya, diam dan bingung, seolah ikut merasakan kesedihan yang tak sepenuhnya ia mengerti.Air mata Anya jatuh satu per satu tanpa suara. Ia menggigit bibir, berusaha menahan isak, namun luka di hatinya terlalu dalam untuk disembunyikan."Mama... maaf kalau aku belum bisa bahagiakan Mama. Aku janji... aku akan jaga Kenzo. Aku akan kuat," bisiknya lirih di depan nisan.Di kejauhan, dari dalam sebuah mobil hitam yang terparkir agak tersembunyi di balik deretan pohon cemara, seorang pria menatap adegan itu dengan mata berkaca-kaca.Evan.Ia duduk di kursi belakang mobil, mengenakan pakaian serba hitam. Di tangannya, sebuah map kerja masih
Bab 116Hati Anya masih bergemuruh tak karuan saat ia dan Kenzo akhirnya tiba di lokasi bekas rumah mereka. Yang tersisa kini hanya puing-puing hangus, dinding-dinding roboh, dan aroma pahit bekas kebakaran yang masih tercium jelas. Kenzo menggenggam tangan Anya erat-erat, matanya besar menatap sisa kehancuran itu.“Mama... rumah kita kok hancur begini?” bisik Kenzo lirih.Anya berlutut, memeluk anaknya erat-erat. "Ini hanya rumah, sayang... Kita masih punya satu sama lain."Namun dalam hatinya, Anya ingin menangis. Rumah itu menyimpan terlalu banyak kenangan — tentang dirinya, tentang perjuangannya, tentang hidup yang ia bangun sendiri. Dan kini semuanya lenyap.Anya berdiri perlahan. Ia menggendong Kenzo, membawanya ke sisi lain halaman rumah yang agak lebih aman. Di sana, di bawah pohon yang hangus sebagian, Anya meletakkan bunga dan air mineral untuk mendiang mamanya. Ia menunduk, berdoa dalam hati, sementara Kenzo berdiri di sampingnya, ikut memejamkan mata kecilnya.Tak la
Bab 115Pagi itu, suasana di rumah Nathan masih terasa panas setelah keributan dengan mama Nathan. Anya memilih diam, menahan semua rasa sakit dan kehinaan yang terus dilemparkan padanya. Ia tahu, tidak ada gunanya berdebat dengan wanita yang dari awal tak pernah menerimanya dan Kenzo.Nathan sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Ia mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, wajahnya masih terlihat lelah dan kusut setelah pertengkaran tadi. Namun begitu menatap Anya yang duduk memeluk Kenzo di sofa ruang tamu, Nathan menghampirinya.“Sayang…” Nathan memanggil lembut.Anya menoleh, memaksakan senyum tipis. "Iya?"Nathan jongkok di hadapan Anya, meraih tangannya. “Aku harus pergi kerja sekarang. Aku tinggal kamu dengan Kenzo di sini, apa tidak apa, sayang? Dan tolong... jangan tanggapi apapun yang Mama katakan. Aku nggak mau kamu makin terluka.”Anya mengangguk pelan. "Aku ngerti, Nathan..."Namun sebelum Nathan benar-benar berdiri, Anya mengeratkan genggaman tangannya. "Na
Bab 114 Malam mulai larut. Di kamar yang cukup luas namun terasa asing, Anya duduk di sisi ranjang dengan tubuh kaku. Kenzo sudah tertidur di kamar sebelah setelah Nathan menidurkannya dengan penuh kasih sayang. Nathan kembali ke kamar dan menutup pintu perlahan. Lampu kamar redup. Anya tahu, malam ini mereka resmi menjadi suami istri — setidaknya di mata hukum dan masyarakat. Tapi hatinya belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan itu. Nathan duduk di sebelah Anya, lalu memegang tangan istrinya yang dingin. “Kamu kelihatan tegang, Anya.” Anya menoleh pelan dan tersenyum tipis. “Maaf, aku cuma... belum terbiasa.” Nathan mengangguk mengerti. “Aku ngerti kok. Kamu nggak perlu memaksakan diri.” Anya menghela napas. “Aku tahu kamu suamiku sekarang, dan aku juga tahu aku harus jadi istri yang baik. Tapi... untuk yang satu itu, aku belum siap, Nathan. Bukan karena aku nggak percaya kamu, tapi... hatiku belum sepenuhnya pulih.” Nathan memandang wajah Anya dengan tenang. Ia mengusap
Bab 113Evan pulang sebagai sosok yang kalah perang, sampai ia lesu dan tidak begitu bersemangat. sampai Chintya yang sedang bermain dengan ponselnya berdiri dan menghampiri Evan yang sedang membuka jas kerjanya. "Kamu kenapa, Evan? Apa terjadi sesuatu lagi pada mama?"Mata Evan langsung tidak suka dengan ucapan Chintya, yang seperti ingin terjadi sesuatu pada Saraswati, mamanya Evan. "Lah, kamu kok natap aku kayak gitu, Evan? Aku kan hanya sedang bertanya. Apa terjadi sesuatu lagi dengan mamamu, Evan?" Chintya mengulangi ucapannya, membuat Evan menepis badan Chintya dari hadapannya. Evan seperti malas melakukan perdebatan dengan Chintya, karena itu hanya akan menambah masalahnya saja. Alhasil Evan memutuskan untuk mengacuhkan Chintya. Sekalipun Evan tidak suka dengan ucapan Chintya. "Evan, Evan. Kamu kenapa sih?"Chintya mengejar Evan sampai ke dalam kamar. "Van, kamu kenapa?"Dengan bola mata melotot Evan berkata, "Bukan urusanmu!"Chintya jadi kesal, sebab Evan tidak menghargai