LOGINKeheningan yang mencekam menggantung di koridor rumah sakit. Dr. Sandra dan Dr. Kevin berdiri mematung, menatap Daren dengan tatapan tidak percaya setelah mendengar pengakuan tentang wadah spesimen di saku jas Dr. Aris."Jika yang dikatakan Tuan Daren benar, tindakan Dokter Aris sudah melanggar seluruh kode etik kedokteran dan protokol keselamatan pasien," ucap Dr. Kevin dengan suara tertahan, jemarinya meremas saku jas putihnya karena cemas."Kami harus segera memeriksa kondisi Nyonya Zea di dalam untuk memastikan apakah ada bagian tubuh atau organ vital yang terganggu akibat tindakan ilegal tersebut," timpal Dr. Sandra buru-buru, bersiap melangkah menuju pintu ruang steril.Daren mengangguk kaku, sorot matanya masih menyiratkan amarah yang membara. "Lakukan pemeriksaan secepatnya. Jangan sampai ada hal buruk yang terlewat."Kedua dokter itu segera memutar tubuh dan masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Daren dan Ethan di koridor yang sunyi. Daren berdiri bersidekap, rahangnya mengeta
Pintu ruang steril terdorong kasar dari dalam. Daren melangkah keluar dengan aura gelap yang pekat menguar dari setiap gerakannya. Kemejanya tampak lecak, lengan baju tergulung sampai siku, dan rahangnya mengeras membentuk garis tegas yang siap meremukkan siapa saja. Di hadapannya, koridor rumah sakit mendadak gaduh oleh kerumunan orang yang saling dorong dengan barikade anak buah Elvano serta Ethan.Seorang pria paruh baya berjas mewah berdiri paling depan, memegang megafon kecil sambil terus meneriakkan kecaman keras terhadap keluarga Elvano."Keluarga Elvano pembunuh! Tanggung jawab atas wabah ini!" teriak pria itu lantang di hadapan kerumunan.Daren tidak membuang waktu untuk berdebat atau membuang tenaga mendengarkan omong kosong mereka. Tanpa peringatan apa pun, ia menerobos barisan pengawalnya sendiri, melangkah cepat dan langsung menghujamkan tinju keras tepat ke rahang pria sombong tersebut.BUGH!Suara hantaman telak itu memecah kegaduhan. Pria itu terhuyung ke belakang den
Suara monitor elektrokardiograf berdetak lambat di dalam ruangan ICU yang beraroma antiseptik pekat. Daren duduk bersimpuh di sisi brankar, menatap lurus ke arah Zea yang terbaring tak berdaya. Pemandangan itu meremukkan hatinya tanpa sisa. Selang bantu pernapasan menutupi sebagian wajah pucat istrinya, sementara jarum infus dan kabel pemantau vital melilit lengan serta jemari wanita itu. Tidak ada lagi kilat amarah atau tatapan tajam yang biasa Zea lemparkan kepadanya. Yang tersisa hanya keheningan mutlak dan tubuh yang terbalut selimut rumah sakit.Daren meraih tangan Zea yang terpasang jarum infus dengan sangat hati-hati, seolah takut benda rapuh itu akan hancur di genggamannya. Ia membawa punggung tangan istrinya yang dingin itu menempel ke pipinya sendiri, lalu mengecupnya berulang kali dengan mata berkaca-kaca."Kapan kau akan membuka mata, hm?" suara Daren terdengar serak, pecah di tengah ruangan yang sunyi. "Apa kau tidak rindu mengoceh sepanjang hari di rumah? Membuka doku
Udara koridor rumah sakit mendadak terasa begitu dingin dan pekat. Daren menyipitkan mata, menatap lurus ke arah saku jas laboratorium Dr. Aris dengan tatapan menyelidik yang penuh kecurigaan. Suasana di antara mereka menegang dalam senyap sesaat."Benda kecil di tanganmu tadi," ujar Daren dengan nada bertanya yang datar namun tajam mengiris. "Apa yang kau bawa dari dalam ruang operasi?"Dr. Aris tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu menarik napas perlahan, lalu tersenyum tipis tanpa menunjukkan rasa gugup sedikit pun. Ia mengeluarkan tangannya dari dalam saku, memperlihatkan sebuah wadah spesimen medis biasa yang kini sudah tertutup rapat."Ah, anda memperhatikan ini, Tuan Daren?" tanya Dr. Aris tenang, membalikkan wadah plastik transparan di telapak tangannya. "Ini hanya sampel jaringan epidermis dan sisa serpihan sel kulit mati dari area sekitar luka benturan di dahi Nyonya Zea. Tidak ada yang perlu dicemaskan."
Langit di balik jendela koridor rumah sakit perlahan berubah warna dari hitam pekat menjadi abu-abu kebiruan. Fajar mulai membayang, menandakan malam panjang yang penuh siksaan fisik dan mental itu akhirnya merayap pergi.Di depan pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat, Daren berdiri kaku. Kedua kakinya sudah melenting pegal, namun ia menolak untuk duduk walau hanya sedetik. Jas mewahnya kini tergeletak sembarangan di atas kursi tunggu, menyisakan kemeja putih berlengan tergulung yang lecak dan penuh bercak darah kering. Matanya merah, menatap tanpa berkedip ke arah lampu indikator merah yang masih menyala."Kau harus bertahan, sayang," bisik Daren pelan. Suaranya serak dan pecah, tenggelam di tengah heningnya lorong rumah sakit. "Kau belum memarahiku. Kau bahkan belum menghukumku atas semua kebodohanku kemarin. Jangan berani-berani meninggalkanku sebelum kau membalas semuanya, Zea. Aku mohon."Ia menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah, menyembunyikan napasnya yang ber
Suara monitor parameter vital berbunyi teratur namun cepat di dalam ruang operasi steril. Lampu bedah raksasa menyorot tajam ke arah meja operasi, memperlihatkan kondisi Zea yang terbaring lemah di bawah pengaruh bius total. Kantung transfusi darah berisi label golongan darah O milik Helena sudah terpasang di tiang infus, mengalirkan cairan merah segar langsung ke pembuluh darah Zea bersamaan dengan proses pembedahan."Bagaimana dengan tekanan darahnya?" tanya Dr. Aris seraya menatap monitor. Tangannya yang terbungkus sarung tangan steril tetap bergerak terampil menahan pendarahan."Sudah mulai stabil, Dok," jawab dr. Kevin, spesialis anestesi, sambil menyesuaikan laju aliran infus. "Kantong pertama dari donor nyaris habis. Respon tubuh pasien sangat cepat menerima transfusi ini."Dr. Sandra, spesialis bedah ortopedi yang berdiri di sisi lain meja bedah, menggeleng perlahan saat membersihkan luka terbuka di area dada Zea. "Tapi pendarahan dalamnya masih menjadi masalah utama. Bent







