Home / Romansa / Bos, I'm Pregnant! / BAB 4 - Rahasia

Share

BAB 4 - Rahasia

Author: Isrrinya JENO
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-12 09:21:36

Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es.

Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan digit terakhir sebagai penutup akses masuk, pintu besar yang terbuat dari kayu mahoni kualitas terbaik itu terbuka dari dalam dengan sentakan pelan.

Sean berdiri di sana, menjulang seperti menara yang mengintimidasi. Pria itu mengenakan piyama sutra hitam yang kontras dengan kulitnya yang pucat karena jarang terpapar sinar matahari langsung.

Kancing atasnya terbuka, memperlihatkan sebagian dadanya yang bidang dan aroma maskulin—perpaduan antara kayu cendana dan kemewahan—yang selalu memicu debaran di jantung Fara. Namun, ekspresi Sean sangat dingin, seolah-olah suhu di lorong apartemen itu turun beberapa derajat hanya karena tatapannya.

"Kamu dari mana? Bella sedang ada di dalam," ucap Sean serius.

Dunia Fara seolah runtuh untuk kedua kalinya hari itu. Napasnya tercekat di pangkal tenggorokan, matanya membulat sempurna karena terkejut yang luar biasa. Seluruh persendiannya terasa lemas, seakan tulang-tulangnya berubah menjadi air.

Bella sudah di sini? Seminggu lebih awal dari jadwal yang tertera di agenda kantor? Kepanikan luar biasa menghantamnya tanpa ampun.

Bayangan tentang konfrontasi yang memalukan, skandal yang akan menghancurkan kariernya, dan kehancuran harga dirinya sebagai seorang wanita berputar di kepala seperti pusaran angin puyuh. Ia membayangkan Bella berdiri di ruang tengah, menatapnya dengan pandangan menghina sebagai wanita simpanan yang telat pulang.

Tanpa sepatah kata pun, Fara segera berbalik. Insting pertamanya adalah melarikan diri. Ia berniat melangkah pergi sejauh mungkin dari tempat itu, bahkan jika harus berlari tanpa alas kaki di trotoar ibu kota.

Ia tidak ingin menimbulkan masalah bagi Sean, dan yang lebih penting, ia ingin melindungi dirinya sendiri dari rasa malu yang tak tertahankan jika harus bertatap muka dengan tunangan resmi pria itu.

Namun, sebuah tangan kokoh menyambar lengannya, menariknya kembali dengan sekali sentakan hingga punggung Fara menubruk dada bidang Sean. Kekuatan pria itu mutlak, tak menyisakan ruang bagi Fara untuk melawan.

"Tentu saja aku bercanda," bisik Sean, suaranya berubah menjadi serak dan penuh godaan di dekat telinga Fara. "Dia baru datang minggu depan."

Sean menarik Fara ke dalam pelukannya, menutup pintu apartemen dengan tendangan kaki yang praktis, dan langsung membenamkan wajahnya di ceruk leher Fara.

Ia mencumbu Fara dengan gairah yang meledak-ledak, seolah-olah perpisahan singkat mereka di kantor tadi telah menciptakan kerinduan yang tak terbendung selama bertahun-tahun. Genggamannya pada pinggang Fara mengerat, menuntut perhatian dan kepasrahan total.

"Kenapa tidak bilang kalau pergi? Sopir bilang kamu turun di kedai mie," tanya Sean di sela-sela ciumannya yang mulai menuntut lebih.

Fara mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar bukan karena gairah, melainkan karena sisa rasa takut.

"Tadi... hanya ingin makan makanan kesukaan saya, Pak."

Sean melepaskan leher Fara, menatapnya dengan kening berkerut dan tatapan yang mencoba menyelidik. "Apa makanan yang aku sediakan selama ini membosankan?"

"Tidak... cuma, mie di kedai itu benar-benar memberikan kenangan," jawab Fara bohong. Suaranya sedikit bergetar. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak mungkin bercerita bahwa ia baru saja berdiri di depan pintu sebuah tempat gelap yang hampir merenggut nyawa anak mereka, sebuah klinik aborsi ilegal yang ia datangi dalam keadaan kalap.

"Kalau kamu sangat suka, aku akan beli kedai itu besok agar kamu bisa makan sepuasnya kapan pun kamu mau," ucap Sean asal, seolah-olah membeli properti di pusat kota adalah hal sepele seperti membeli permen di toko kelontong.

Baginya, uang adalah solusi untuk segala keinginan Fara, tanpa menyadari bahwa apa yang Fara butuhkan saat ini tidak bisa dibeli dengan saham atau cek tunai.

Fara tersenyum getir. "Buat apa, Pak? Bahkan minggu depan aku sudah tidak menginjakkan kakiku disini." batinnya perih. Setiap inci apartemen ini sebentar lagi akan menjadi wilayah terlarang baginya.

Sean, yang sudah diselimuti gairah, terus mencumbu Fara. Ia mencoba membangkitkan respons yang biasanya ia dapatkan dengan mudah—desahan lembut atau remasan di bahunya.

Namun, ia merasa ada yang salah. Fara terasa kaku di bawah sentuhannya. Tubuhnya dingin seperti mayat, dan ada kekosongan di matanya yang biasanya berkilat penuh kehidupan saat mereka bersentuhan.

Sean berhenti sejenak, menangkup wajah Fara dengan kedua tangannya yang hangat. Tatapannya menajam, mencoba menembus kabut yang menyelimuti mata sekretaris sekaligus kekasih gelapnya itu.

"Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu? Karena kepulangan Bella?"

Fara menatap mata pria yang ia cintai dalam diam itu. Mata yang selalu terlihat angkuh namun menyimpan magnet yang kuat. Ingin rasanya ia menjerit, menumpahkan segala ketakutan yang menyesakkan dadanya, menceritakan tentang dua garis biru yang mengubah hidupnya menjadi neraka.

"Pak..."

"Fara... kontrak kita tetap berlaku sampai dia menginjakkan kaki di sini. Nikmati saja waktumu," ujar Sean, seolah ingin mengingatkan batasan di antara mereka.

"Bapak jangan khawatir, saya tidak terganggu masalah itu," potong Fara dengan suara yang dipaksakan setenang mungkin. Ia tidak ingin Sean curiga lebih jauh.

"Ini benar-benar hanya masalah keadaan tubuh saya yang sedang tidak fit. Saya mandi dulu, setelah itu saya akan melayani Pak Sean."

Sean menatapnya ragu sejenak, mencari celah kebohongan di wajah pucat itu, namun akhirnya ia melepaskan Fara. "Jangan lama-lama. Aku menunggumu."

Fara melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam kamar utama. Begitu pintu terkunci rapat, ia segera menyalakan kran wastafel hingga air mengalir deras dengan volume maksimal, menciptakan suara gemericik yang cukup berisik untuk meredam apa pun yang terjadi di dalam ruangan sempit itu.

Fara merosot di balik pintu, lututnya tak lagi sanggup menopang beban tubuhnya. Pertahanannya runtuh sepenuhnya.

Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan dengan sekuat tenaga kini mengalir deras membasahi pipinya yang dingin.

Isak tangisnya pecah, pilu dan menyesakkan, namun suaranya habis ditelan oleh bunyi air yang mengalir terus-menerus.

Tadi, di depan klinik gelap yang berada di gang sempit itu, Fara hampir saja membuat keputusan paling mengerikan dalam hidupnya. Ia hampir saja melenyapkan benih yang belum berdosa hanya karena ia takut tidak memiliki masa depan.

Namun saat jemarinya menyentuh gagang pintu klinik yang kotor dan berkarat itu, sebuah tendangan imajiner seolah menghantam nuraninya dengan sangat keras.

Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak akan pernah bisa melakukannya, apa pun risikonya.

Fara meraba perutnya yang masih rata dengan gerakan gemetar yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh permata yang paling rapuh di dunia. Sebuah senyum pahit muncul di tengah tangisannya yang memilukan.

Ada kelegaan yang luar biasa, sebuah beban berat yang seolah terangkat dari bahunya saat ia menyadari bahwa ia telah berbalik dan pergi dari klinik itu tanpa melakukan dosa besar.

"Maafkan Mama, Nak... Maafkan Mama," bisik Fara sangat lirih, nyaris tak terdengar di antara isak tangisnya yang mulai mereda.

"Hampir saja Mama membunuhmu hanya karena ketakutan Mama sendiri, maafkan Mama, Nak."

Ia mengusap perutnya lagi, kali ini dengan perasaan protektif yang jauh lebih kuat dari sebelumnya

◦•●◉✿𝗧𝗕𝗖✿◉●•◦

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (18)
goodnovel comment avatar
Arz Kaf
qpapaun yg terjadi kamu harus bsa pertahanin calon bayimu
goodnovel comment avatar
Arz Kaf
syukurlah gk jadi nekat kamu Fara?
goodnovel comment avatar
ganispgr57
kamu pasti bisa Fara bisaa
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 139 - Hallo Babby!

    Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat membawa serta berbagai perubahan kecil yang manis di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Tiga bulan lamanya, Sean benar-benar membuktikan keseriusannya untuk berbenah. Ia tidak lagi menjadi seorang pecandu kerja yang kerap menghabiskan malam di kantor. Pria itu menyusun ulang seluruh jadwal pekerjaannya dengan sangat disiplin, memastikan bahwa setiap detik waktu luangnya didedikasikan sepenuhnya untuk keluarga kecilnya. Bagi Sean, tawa kecil Fara dan celoteh aktif Sefan adalah rumah tempat ia selalu ingin kembali. Hari ini, suasana pagi di kediaman mereka terasa jauh lebih hidup dan berwarna dari biasanya. Sefan, buah hati mereka yang kini berusia satu tahun tiga bulan, berlari kecil mondar-mandir di ruang tamu sambil mengoceh riang tanpa henti. Bocah laki-laki berkaus biru cerah itu sudah tidak sabar ingin segera berangkat ke rumah sakit. Hari ini adalah hari yang spesial, mereka akan pergi menjenguk sepupu baru Sefan yang lahir kemari

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 138 - Merajut Asa di Balik Kebahagiaan Sederhana

    Mentari pagi hari Minggu merangsek masuk melalui celah-celah tirai kamar utama, menghantarkan kehangatan yang perlahan membangunkan dua insan dan seorang bocah kecil di atas ranjang yang sama. Setelah malam penuh ketenangan menggantikan sisa-sisa isak tangis dan rasa takut sore sebelumnya, hari baru ini menyambut mereka dengan janji kebahagiaan yang utuh. Sean, Fara, dan putra kecil mereka, Sefan, masih meringkuk dalam dekapan kenyamanan rumah tangga yang kembali menemukan porosnya. Sesuai dengan janji yang terukir dalam hati Sean untuk menyeimbangkan waktu antara tanggung jawab pekerjaan dan kewajibannya sebagai suami serta ayah, hari ini sepenuhnya didedikasikan untuk keluarga kecilnya. Tidak ada laptop yang terbuka, tidak ada dering ponsel kantor yang mencemaskan, dan tidak ada lagi bayang-bayang kesibukan duniawi yang merenggut kebersamaan mereka. Suasana ruang makan terasa begitu hidup. Pagi ini, mereka menikmati sarapan bersama-sama jauh lebih lama dari biasanya. Fa

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 137 - Merajut Asa di Balik Lelahnya Kegelisahan

    Uap air hangat masih menempel di kulit Sean setelah ia keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang melilit di pinggang dan rambut yang masih basah, ia melangkah masuk ke kamar utama. Namun, pemandangan di atas tempat tidur membuatnya tertegun. Fara, istrinya, sudah berada di sana, lengkap dengan Sefan, jagoan kecil mereka yang tampaknya sudah terjaga. "Loh, Sefan di sini?" tanya Sean sedikit dramatis, matanya berbinar melihat anak dan istrinya berkumpul di tempat tidur. Fara menatapnya dengan senyum tipis, meski ada jejak kelelahan di sana. "Iya, kenapa? Masa iya kamu masih enggak mau ngalah sama anak sendiri, lagian sudah sebulan ini kalian berdua jarang banget ada waktu, kan? Gapapa lah Sefan disini, jangan pada rewel kalian berdua, pusing aku." "Sebulan sibuk banget, sampe kebawa mimpi kamu aneh-aneh terus meninggal," cletuk Fara lagi, suaranya terdengar sedikit parau. Mendengar itu, Sean teringat akan janji mereka. Jika sang istri sudah tenang, ia berharap Fara bisa mencerit

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 136 - Nightmare

    "MASSS!!!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Fara, disusul oleh hantaman kegelapan yang pekat. Tubuhnya terkulai lemas, seolah seluruh tulang di tubuhnya mendadak lenyap tak bersisa. Jeritan tertahan sempat lolos dari tenggorokan Mama Sarah dan Sella, sementara Alex langsung bergerak sigap menahan tubuh iparnya sebelum membentur lantai. Suasana di ruang persemayaman mendadak riuh oleh kepanikan yang teramat sangat. Isak tangis, suara panggilan panik, dan debaran jantung yang berlomba-lomba mencetak rekor ketakutan memenuhi udara. BRUG... "Fara... Hei, Fara... Bangun, Sayang. Kamu kenapa?" Sebuah suara bariton yang amat familier, hangat, dan sangat ia rindukan menerobos masuk ke dalam kesadaran Fara. Ada tepukan pelan namun konstan di pipinya, dibarengi dekapan kuat yang mengguncang tubuhnya secara perlahan. Fara mengerjap-ngerjap cepat, silau lampu kamar utama langsung menyergap retinanya. Tidak ada Mama Sarah, tdak ada Sella yang panik. tidak ada Alex, tidak

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 135 - MAS!

    Udara dingin di ruang persemayaman terasa menusuk tulang, seolah ikut meresapi kedukaan yang teramat dalam bagi siapa saja yang menginjakkan kaki di sana. Setibanya Sean di rumah duka, seluruh kerabat bak dari keluarga Narendra sendiri maupun keluarga besar, sanak, saudara dan sahabat dari Sean sudah berkumpul membentuk lingkaran sunyi yang penuh dengan keheningan mencekam. Tangis pedih dari seluruh keluarga tumpah ruah di depan mendiang Sean, meratapi kepergian pria yang dikenal tegas dan penuh kasih itu terlalu cepat dari waktu yang seharusnya. Fara tetap setia di samping peti sang suami, menatap lekat kearah pria itu dengan seksama. Tidak ada air mata yang menetes di pipinya saat itu, bukan karena ia tidak sedih, melainkan karena ia ingin merekam setiap detail terakhir dari sosok yang paling ia cintai di dunia ini. Melihat setiap inchi pahatan indah wajah prianya, garis rahang yang tegas, bulu mata lentik yang kini tertutup selamanya, menyimpannya rapat-rapat di memori palin

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 134 - Titik Nadir

    Setelah mendapatkan kabar buruk melalui telepon beberapa menit yang lalu. Fara, Mama Sarah dan juga Sella langsung menuju ke rumah sakit yang disebutkan oleh Polisi sebelumnya. Sampainya di sana ternyata Papa Narendra dan juga Alex sudah berada di sana, kedua pria itu terduduk lemas di salah satu kursi tepat di depan ruang jenazah. Rasanya kaki Fara sudah tidak bisa berdiri lagi, namun sebisa mungkin wanita itu menguatkan diri. Putra mereka, Sefan. tak berhenti menangis sejak di rumah sampai sekarang. Melihat Kedatangan para wanita Alex langsung berdiri dari duduknya, tangannya langsung mengambil balita mungil itu dari gendongan Fara dan memeluk sang istri, Sella, untuk menenangkannya. "Kak Sean," cicit Sella pelan, wanita hamil itu tidak pernah sekalipun membayangkan kakak kandungnya akan pergi di usia mudanya, dengan meninggalkan istri dan anak yang masih balita. "Ikhlaskan, Kak Sean." bisik Alex mencoba menenangkan istrinya. Papa Narendra menuntun istrinya dan juga sa

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 3 - Keputusan

    "Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 2 - Pening

    Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 1 - Garis Dua di Ujung Kontrak

    "Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 5 - Selamat Tinggal Fara

    "Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status