Mag-log inJemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es.
Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan digit terakhir sebagai penutup akses masuk, pintu besar yang terbuat dari kayu mahoni kualitas terbaik itu terbuka dari dalam dengan sentakan pelan. Sean berdiri di sana, menjulang seperti menara yang mengintimidasi. Pria itu mengenakan piyama sutra hitam yang kontras dengan kulitnya yang pucat karena jarang terpapar sinar matahari langsung. Kancing atasnya terbuka, memperlihatkan sebagian dadanya yang bidang dan aroma maskulin—perpaduan antara kayu cendana dan kemewahan—yang selalu memicu debaran di jantung Fara. Namun, ekspresi Sean sangat dingin, seolah-olah suhu di lorong apartemen itu turun beberapa derajat hanya karena tatapannya. "Kamu dari mana? Bella sedang ada di dalam," ucap Sean serius. Dunia Fara seolah runtuh untuk kedua kalinya hari itu. Napasnya tercekat di pangkal tenggorokan, matanya membulat sempurna karena terkejut yang luar biasa. Seluruh persendiannya terasa lemas, seakan tulang-tulangnya berubah menjadi air. Bella sudah di sini? Seminggu lebih awal dari jadwal yang tertera di agenda kantor? Kepanikan luar biasa menghantamnya tanpa ampun. Bayangan tentang konfrontasi yang memalukan, skandal yang akan menghancurkan kariernya, dan kehancuran harga dirinya sebagai seorang wanita berputar di kepala seperti pusaran angin puyuh. Ia membayangkan Bella berdiri di ruang tengah, menatapnya dengan pandangan menghina sebagai wanita simpanan yang telat pulang. Tanpa sepatah kata pun, Fara segera berbalik. Insting pertamanya adalah melarikan diri. Ia berniat melangkah pergi sejauh mungkin dari tempat itu, bahkan jika harus berlari tanpa alas kaki di trotoar ibu kota. Ia tidak ingin menimbulkan masalah bagi Sean, dan yang lebih penting, ia ingin melindungi dirinya sendiri dari rasa malu yang tak tertahankan jika harus bertatap muka dengan tunangan resmi pria itu. Namun, sebuah tangan kokoh menyambar lengannya, menariknya kembali dengan sekali sentakan hingga punggung Fara menubruk dada bidang Sean. Kekuatan pria itu mutlak, tak menyisakan ruang bagi Fara untuk melawan. "Tentu saja aku bercanda," bisik Sean, suaranya berubah menjadi serak dan penuh godaan di dekat telinga Fara. "Dia baru datang minggu depan." Sean menarik Fara ke dalam pelukannya, menutup pintu apartemen dengan tendangan kaki yang praktis, dan langsung membenamkan wajahnya di ceruk leher Fara. Ia mencumbu Fara dengan gairah yang meledak-ledak, seolah-olah perpisahan singkat mereka di kantor tadi telah menciptakan kerinduan yang tak terbendung selama bertahun-tahun. Genggamannya pada pinggang Fara mengerat, menuntut perhatian dan kepasrahan total. "Kenapa tidak bilang kalau pergi? Sopir bilang kamu turun di kedai mie," tanya Sean di sela-sela ciumannya yang mulai menuntut lebih. Fara mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar bukan karena gairah, melainkan karena sisa rasa takut. "Tadi... hanya ingin makan makanan kesukaan saya, Pak." Sean melepaskan leher Fara, menatapnya dengan kening berkerut dan tatapan yang mencoba menyelidik. "Apa makanan yang aku sediakan selama ini membosankan?" "Tidak... cuma, mie di kedai itu benar-benar memberikan kenangan," jawab Fara bohong. Suaranya sedikit bergetar. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak mungkin bercerita bahwa ia baru saja berdiri di depan pintu sebuah tempat gelap yang hampir merenggut nyawa anak mereka, sebuah klinik aborsi ilegal yang ia datangi dalam keadaan kalap. "Kalau kamu sangat suka, aku akan beli kedai itu besok agar kamu bisa makan sepuasnya kapan pun kamu mau," ucap Sean asal, seolah-olah membeli properti di pusat kota adalah hal sepele seperti membeli permen di toko kelontong. Baginya, uang adalah solusi untuk segala keinginan Fara, tanpa menyadari bahwa apa yang Fara butuhkan saat ini tidak bisa dibeli dengan saham atau cek tunai. Fara tersenyum getir. "Buat apa, Pak? Bahkan minggu depan aku sudah tidak menginjakkan kakiku disini." batinnya perih. Setiap inci apartemen ini sebentar lagi akan menjadi wilayah terlarang baginya. Sean, yang sudah diselimuti gairah, terus mencumbu Fara. Ia mencoba membangkitkan respons yang biasanya ia dapatkan dengan mudah—desahan lembut atau remasan di bahunya. Namun, ia merasa ada yang salah. Fara terasa kaku di bawah sentuhannya. Tubuhnya dingin seperti mayat, dan ada kekosongan di matanya yang biasanya berkilat penuh kehidupan saat mereka bersentuhan. Sean berhenti sejenak, menangkup wajah Fara dengan kedua tangannya yang hangat. Tatapannya menajam, mencoba menembus kabut yang menyelimuti mata sekretaris sekaligus kekasih gelapnya itu. "Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu? Karena kepulangan Bella?" Fara menatap mata pria yang ia cintai dalam diam itu. Mata yang selalu terlihat angkuh namun menyimpan magnet yang kuat. Ingin rasanya ia menjerit, menumpahkan segala ketakutan yang menyesakkan dadanya, menceritakan tentang dua garis biru yang mengubah hidupnya menjadi neraka. "Pak..." "Fara... kontrak kita tetap berlaku sampai dia menginjakkan kaki di sini. Nikmati saja waktumu," ujar Sean, seolah ingin mengingatkan batasan di antara mereka. "Bapak jangan khawatir, saya tidak terganggu masalah itu," potong Fara dengan suara yang dipaksakan setenang mungkin. Ia tidak ingin Sean curiga lebih jauh. "Ini benar-benar hanya masalah keadaan tubuh saya yang sedang tidak fit. Saya mandi dulu, setelah itu saya akan melayani Pak Sean." Sean menatapnya ragu sejenak, mencari celah kebohongan di wajah pucat itu, namun akhirnya ia melepaskan Fara. "Jangan lama-lama. Aku menunggumu." Fara melangkah cepat menuju kamar mandi di dalam kamar utama. Begitu pintu terkunci rapat, ia segera menyalakan kran wastafel hingga air mengalir deras dengan volume maksimal, menciptakan suara gemericik yang cukup berisik untuk meredam apa pun yang terjadi di dalam ruangan sempit itu. Fara merosot di balik pintu, lututnya tak lagi sanggup menopang beban tubuhnya. Pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan dengan sekuat tenaga kini mengalir deras membasahi pipinya yang dingin. Isak tangisnya pecah, pilu dan menyesakkan, namun suaranya habis ditelan oleh bunyi air yang mengalir terus-menerus. Tadi, di depan klinik gelap yang berada di gang sempit itu, Fara hampir saja membuat keputusan paling mengerikan dalam hidupnya. Ia hampir saja melenyapkan benih yang belum berdosa hanya karena ia takut tidak memiliki masa depan. Namun saat jemarinya menyentuh gagang pintu klinik yang kotor dan berkarat itu, sebuah tendangan imajiner seolah menghantam nuraninya dengan sangat keras. Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak akan pernah bisa melakukannya, apa pun risikonya. Fara meraba perutnya yang masih rata dengan gerakan gemetar yang sangat lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh permata yang paling rapuh di dunia. Sebuah senyum pahit muncul di tengah tangisannya yang memilukan. Ada kelegaan yang luar biasa, sebuah beban berat yang seolah terangkat dari bahunya saat ia menyadari bahwa ia telah berbalik dan pergi dari klinik itu tanpa melakukan dosa besar. "Maafkan Mama, Nak... Maafkan Mama," bisik Fara sangat lirih, nyaris tak terdengar di antara isak tangisnya yang mulai mereda. "Hampir saja Mama membunuhmu hanya karena ketakutan Mama sendiri, maafkan Mama, Nak." Ia mengusap perutnya lagi, kali ini dengan perasaan protektif yang jauh lebih kuat dari sebelumnya ◦•●◉✿𝗧𝗕𝗖✿◉●•◦Semburat warna jingga di ufuk barat mulai menerobos masuk melalui celah-celah tirai kaca besar di ruang kerja Sean. Mengiringi datangnya senja, keheningan di dalam ruangan itu terasa begitu mencekam. Sean mengembuskan napas berat, mencoba mengusir rasa penat yang menggelayuti pundaknya. Setelah setengah hari penuh hanya terduduk diam, terperangkap dalam labirin ingatan dan rentetan kejadian pahit yang terus berputar di kepalanya, ia akhirnya memutuskan untuk berkemas. Satu per satu dokumen penting di atas meja kayunya ia rapikan, memasukkannya ke dalam tas kerja kulit hitam miliknya dengan gerakan yang lambat dan mekanis. Lagi-lagi pkirannya masih tertambat pada satu nama yaitu, Alex Wiharja. Sean duduk kembali, memejamkan mata sejenak, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Ia tahu betul bagaimana pandangan kariyawan-kariyawannya di luar, terutama adiknya, Sella. Mereka pasti mengira Sean bertindak egois dan tidak menyukai Alex secara pribadi. Namun, kenyataannya sama sekali
Atmosfer di lobi utama Narendra Group mendadak beku, Sean Narendra melangkah masuk dengan rahang mengeras dan tatapan mata sehitam jelaga. Wibawa yang biasanya mengintimidasi, kini menjelma menjadi aura membara yang siap membakar siapa saja. Para staf, resepsionis, hingga petugas keamanan serentak menundukkan kepala, tak berani menantang sepasang netra yang menyalang penuh amarah itu. Di belakangnya. Ardi, sang asisten pribadi setianya hanya bisa membisu. Ia menyelaraskan langkah lebar Sean yang tergesa menuju lift khusus eksekutif. Begitu pintu lift tertutup, keheningan mencekam menyelimuti mereka. Sean menekan tombol lantai tepat di bawah ruang kerjanya. Lantai itu adalah area privat, tempat di mana sang adik, Sella Narendra, belakangan ini membantunya mengurus roda bisnis keluarga. Pintu lift berdenting terbuka, langkah Sean bergema di koridor sunyi sebelum ia mendorong kasar pintu ruangan Sella. Tanpa basa-basi, Sean langsung menengadahkan tangan kanannya di depan meja kerja
Gelas kristal berisi cairan amber di atas meja kerja kayu jati milik Alex Wiharja bergetar halus. Bukan karena gempa, melainkan karena aura ketegangan fiantr kedua lelaki yang ada di dalam ruangan ini mendadak pekat, mencekik udara di dalam ruangan luas bernuansa maskulin tersebut. Sean berdiri tegak, kancing jasnya terpasang rapi, kontras dengan Alex yang duduk di balik meja dengan napas yang masih memburu. Beberapa menit yang lalu, Sean menyaksikan sesuatu yang menjungkir balikkan seluruh penilaiannya tentang pria di hadapannya ini. Alex, yang selama ini ia kenal sebagai *Guard atau Penjaga* dari sanga adik, terkenal dengan sifat dingin namun cepat dan kalkulatif, baru saja menunjunkan sisi monster yang tersembunyi.Fakta dari sebuah ledakan emosional yang begitu gila, destruktif, dan menyeramkan. Saat Alex menghabisi salah satu dari orang yang ingin menecelakai anak istri Sean sebelumnya, membhat Sean berfikir berkali-kali tentang Alex. Namun, bukan hanya kegilaan Alex yang mem
Pagi itu, suasana kediaman Sean dan Fara terasa sedikit lebih tenang. Setelah hampir satu minggu penuh Sean berdiam diri di rumah, mengabaikan tumpukan berkas demi mengurus Fara, sang istri yang baru saja keluar dari rumah sakit.Hari ini pria itu memutuskan untuk kembali aktif bekerja. Fara sudah jauh lebih membaik, senyumnya telah kembali, dan hal itu cukup menjadi bahan bakar bagi Sean untuk kembali ke dunia luar.Namun, begitu roda mobilnya membelah jalanan ibu kota, Sean memutar kemudi ke arah yang berbeda. Niatnya pagi ini menyimpang. Bukannya pergi berangkat ke kantornya sendiri, Sean justru melaju mantap menuju gedung pencakar langit milik Perusahaan Wiharja, perusahaan raksasa yang dipimpin oleh Alex, Aspri sang afik selama beberapa tahun brlakanagan ini. Ada sebuah teka-teki besar yang mengganjal di kepala Sean selama berhari-hari, Sean ingin meluruskan satu hal: Mengenai kenapa anak lelaki tunggal dari keluarga Wiharja yang terpandang itu mau merendahkan diri, bekerja di b
Kamar tidur utama milik Sean dan Fara terasa begitu tenang kali ini dari pada pagi tadi, meski diselimuti aroma menyengat minyak kayu putih yang khas. Di tepian kasur berukuran king size, Fara duduk dengan bahu yang tampak sedikit merosot, sisa rasa lemas masih menggelayuti tubuhnya setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam sekali setiap jamnya di kamar mandi sejak pagi tadi. Sementara itu, Sean berdiri setia di samping sang istri. Kedua telapak tangan pria itu bergerak dengan ritme yang sangat teratur, memijat tengkuk dan punggung Fara dengan kelembutan yang luar biasa. Sean seolah-olah sedang menyentuh porselen mahal yang mudah retak. Ibu jarinya menekan titik-titik tegang di leher Fara, berusaha menyalurkan rasa hangat dari telapak tangannya untuk mengusir rasa tidak nyaman yang menyiksa sang istri. "Masih mual nggak?" tanya Sean, suaranya sarat akan kekhawatiran. Matanya tidak lepas dari wajah pucat Fara. Fara tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Perempuan itu ha
Fara terbangun lebih dahulu pagi ini, kedua matanya bahkan belum terbuka sempurna ketika rasa mual yang begitu kuat tiba-tiba menghantam dirinya tanpa ampun. Wanita hamil itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan ketika dirasa rasa mual itu sudah naik, "Ngh..." Jantungnya berdegup kencang. Dengan gerakan tergesa, Fara menyingkap selimut lalu turun dari ranjang. Kakinya bahkan nyaris tersandung karena kepanikan yang menyerang. Ia harus segera sampai ke kamar mandi, sekarang juga. Begitu berhasil masuk, Fara langsung membungkuk di depan wastafel. "HOEK!!" Tubuhnya bergetar hebat. "HOEK!!" Seluruh sisa makanan yang masih tersimpan di dalam perutnya keluar dengan susah payah, air mata mulai mengalir di sudut matanya akibat rasa mual yang begitu menyiksa. Namun setelah beberapa kali muntah, tidak banyak lagi yang bisa keluar. Perutnya sudah hampir kosong, justru itulah yang membuat keadaan terasa semakin menyiksa. "HOEK!!" Yang keluar sekarang hanya cairan dan air liur, d







