Home / Romansa / Bos, I'm Pregnant! / BAB 3 - Keputusan

Share

BAB 3 - Keputusan

Author: Isrrinya JENO
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-11 20:20:27

"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. 

"Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asam lambung?"

Jantung Fara berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia menarik napas pendek, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. 

"Pak... Anda tahu sendiri kondisi Ibu. Beliau mengidap kanker, jadi saya butuh melakukan tes ini untuk tindakan preventif. Saya hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja di dalam diri saya."

Sean terdiam sejenak, menatap lekat-lekat mata Fara yang kini berkaca-kaca—sebuah reaksi alami tubuh Fara akibat ketakutan, namun Sean membacanya sebagai kesedihan atas kondisi ibunya. Ketajaman di matanya perlahan melunak, berganti dengan sorot perhatian yang hangat.

"Preventif? Oh... okay," ucap Sean lembut. Ia mengelus rahang Fara dengan ibu jarinya, sebuah gerakan protektif yang ironisnya terasa menyakitkan bagi Fara. "Kabari aku apapun hasilnya, hm?"

Fara memaksakan sebuah senyum tipis, meski bibirnya terasa kelu. "Pasti, Pak..."

"Kamu tidak pernah lupa minum kontrasepsi setelah kita berhubungan, kan?" tanya Sean tiba-tiba. Pertanyaan itu terdengar kasual, namun bagi Fara, itu adalah pengingat akan batasan keras dalam kontrak mereka.

Fara menggeleng pelan, meski perutnya terasa melilit hebat. "Tidak pernah."

Sean mengangguk puas, namun kemudian ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga napasnya yang hangat menerpa kulit wajah Fara. 

"Sebaiknya kamu jangan sembunyikan apa pun dariku, Fara. Aku benci kejutan yang merusak rencana."

Sesuatu yang nekat tiba-tiba bangkit di dalam diri Fara. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, ia menatap balik mata pria itu sambil tetap mempertahankan senyumnya. "Seandainya saya hamil, bagaimana, Pak?"

Sean tampak tertegun. Ekspresinya yang hangat menghilang dalam sekejap, digantikan oleh gurat pemikiran yang dalam dan dingin. Keheningan yang tercipta di antara mereka terasa sangat menyesakkan.

"Jangan bercanda, Fara," suara Sean terdengar datar, tanpa ada ruang untuk humor. 

"Kamu tahu persis apa hubungan kita. Kontrak itu sudah jelas. Tidak ada ruang untuk hal-hal yang di luar rencana, terutama menjelang kedatangan Bella."

Hati Fara mencelos. Jawaban itu adalah tamparan yang nyata, mengingatkannya bahwa ia hanyalah sebuah bab sementara dalam buku kehidupan Sean yang mewah.

"Tentu saja... saya hanya bercanda," sahut Fara cepat, tawanya terdengar sumbang di telinganya sendiri. "Ini hanya asam lambung kok. Lab tadi hanya prosedur biopsi kecil untuk memastikan kecurigaan dokter."

Sean mengembuskan napas lega, ketegangannya mencair. "Nakal sekali, berani mengerjai aku!" gumamnya sambil mencubit pipi Fara dengan gemas. Ia tertawa kecil, seolah ancaman kehamilan itu adalah lelucon paling absurd yang pernah ia dengar.

Langkah kaki Fara terasa sangat berat saat ia menyusuri koridor kantor menuju parkiran bawah tanah. Setiap bunyi denting lift dan sapaan rekan kerja terasa seperti beban tambahan di pundaknya. Begitu pintu mobil perusahaan tertutup, pertahanan Fara hancur total.

Ia menangis tersedu-sedu, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Beban itu terlalu besar untuk ia tanggung sendirian. Kebohongannya, kontrak itu, kehadiran Bella, dan janin yang kini sedang tumbuh di dalam dirinya seolah mencekik lehernya hingga sesak.

Sopir pribadi Sean yang bertugas mengantar Fara melihat melalui spion tengah dengan raut khawatir. "Bu Fara, Anda baik-baik saja?"

Fara segera menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. "Saya baik, Pak... Hanya sedang sangat lelah."

"Apa kita langsung ke apartemen, Bu?"

"Bisa hentikan saya di kedai mie depan itu, Pak? Saya mendadak ingin makan sesuatu. Setelah itu, Bapak kembali saja ke kantor. Ada banyak berkas yang mungkin Pak Sean butuhkan," pinta Fara dengan suara serak.

"Tapi Bu... Pak Sean pesan supaya saya memastikan Anda sampai di rumah dan istirahat."

"Bilang saja ke Pak Sean kalau saya sudah di apartemen. Saya hanya ingin waktu sebentar untuk sendiri," tegas Fara.

Sopir itu akhirnya menurut. Mobil berhenti tepat di depan kedai mie tua yang berada di persimpangan jalan sempit. Fara turun dengan langkah yang tampak tenang di mata sang sopir, menunggu hingga mobil hitam mewah itu menghilang di tikungan jalan.

Begitu mobil itu tak lagi terlihat, Fara berbalik. Ia tidak melangkah menuju kedai mie. Matanya tertuju pada sebuah bangunan kusam dengan papan nama yang nyaris tak terbaca di balik gang sempit di samping kedai tersebut. 

Sebuah klinik yang beroperasi di wilayah abu-abu, tempat yang konon menjadi tujuan terakhir bagi perempuan-perempuan yang tak memiliki pilihan lain.

Dengan langkah yang penuh keputusasaan dan hati yang telah membeku, Fara melangkah masuk ke dalam gang gelap itu. Ia meraba perutnya untuk terakhir kali sebelum tangannya terulur untuk mendorong pintu klinik yang berderit tersebut.

◦•●◉✿𝗧𝗕𝗖✿◉●•◦

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (20)
goodnovel comment avatar
Arz Kaf
kamu gk kasian sma calon bayi kamu
goodnovel comment avatar
Arz Kaf
waduh Fara jangannn
goodnovel comment avatar
ganispgr57
wah karena takut sama Sean jgn bertindak hal yg nekat fara
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 139 - Hallo Babby!

    Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat membawa serta berbagai perubahan kecil yang manis di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Tiga bulan lamanya, Sean benar-benar membuktikan keseriusannya untuk berbenah. Ia tidak lagi menjadi seorang pecandu kerja yang kerap menghabiskan malam di kantor. Pria itu menyusun ulang seluruh jadwal pekerjaannya dengan sangat disiplin, memastikan bahwa setiap detik waktu luangnya didedikasikan sepenuhnya untuk keluarga kecilnya. Bagi Sean, tawa kecil Fara dan celoteh aktif Sefan adalah rumah tempat ia selalu ingin kembali. Hari ini, suasana pagi di kediaman mereka terasa jauh lebih hidup dan berwarna dari biasanya. Sefan, buah hati mereka yang kini berusia satu tahun tiga bulan, berlari kecil mondar-mandir di ruang tamu sambil mengoceh riang tanpa henti. Bocah laki-laki berkaus biru cerah itu sudah tidak sabar ingin segera berangkat ke rumah sakit. Hari ini adalah hari yang spesial, mereka akan pergi menjenguk sepupu baru Sefan yang lahir kemari

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 138 - Merajut Asa di Balik Kebahagiaan Sederhana

    Mentari pagi hari Minggu merangsek masuk melalui celah-celah tirai kamar utama, menghantarkan kehangatan yang perlahan membangunkan dua insan dan seorang bocah kecil di atas ranjang yang sama. Setelah malam penuh ketenangan menggantikan sisa-sisa isak tangis dan rasa takut sore sebelumnya, hari baru ini menyambut mereka dengan janji kebahagiaan yang utuh. Sean, Fara, dan putra kecil mereka, Sefan, masih meringkuk dalam dekapan kenyamanan rumah tangga yang kembali menemukan porosnya. Sesuai dengan janji yang terukir dalam hati Sean untuk menyeimbangkan waktu antara tanggung jawab pekerjaan dan kewajibannya sebagai suami serta ayah, hari ini sepenuhnya didedikasikan untuk keluarga kecilnya. Tidak ada laptop yang terbuka, tidak ada dering ponsel kantor yang mencemaskan, dan tidak ada lagi bayang-bayang kesibukan duniawi yang merenggut kebersamaan mereka. Suasana ruang makan terasa begitu hidup. Pagi ini, mereka menikmati sarapan bersama-sama jauh lebih lama dari biasanya. Fa

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 137 - Merajut Asa di Balik Lelahnya Kegelisahan

    Uap air hangat masih menempel di kulit Sean setelah ia keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang melilit di pinggang dan rambut yang masih basah, ia melangkah masuk ke kamar utama. Namun, pemandangan di atas tempat tidur membuatnya tertegun. Fara, istrinya, sudah berada di sana, lengkap dengan Sefan, jagoan kecil mereka yang tampaknya sudah terjaga. "Loh, Sefan di sini?" tanya Sean sedikit dramatis, matanya berbinar melihat anak dan istrinya berkumpul di tempat tidur. Fara menatapnya dengan senyum tipis, meski ada jejak kelelahan di sana. "Iya, kenapa? Masa iya kamu masih enggak mau ngalah sama anak sendiri, lagian sudah sebulan ini kalian berdua jarang banget ada waktu, kan? Gapapa lah Sefan disini, jangan pada rewel kalian berdua, pusing aku." "Sebulan sibuk banget, sampe kebawa mimpi kamu aneh-aneh terus meninggal," cletuk Fara lagi, suaranya terdengar sedikit parau. Mendengar itu, Sean teringat akan janji mereka. Jika sang istri sudah tenang, ia berharap Fara bisa mencerit

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 136 - Nightmare

    "MASSS!!!" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Fara, disusul oleh hantaman kegelapan yang pekat. Tubuhnya terkulai lemas, seolah seluruh tulang di tubuhnya mendadak lenyap tak bersisa. Jeritan tertahan sempat lolos dari tenggorokan Mama Sarah dan Sella, sementara Alex langsung bergerak sigap menahan tubuh iparnya sebelum membentur lantai. Suasana di ruang persemayaman mendadak riuh oleh kepanikan yang teramat sangat. Isak tangis, suara panggilan panik, dan debaran jantung yang berlomba-lomba mencetak rekor ketakutan memenuhi udara. BRUG... "Fara... Hei, Fara... Bangun, Sayang. Kamu kenapa?" Sebuah suara bariton yang amat familier, hangat, dan sangat ia rindukan menerobos masuk ke dalam kesadaran Fara. Ada tepukan pelan namun konstan di pipinya, dibarengi dekapan kuat yang mengguncang tubuhnya secara perlahan. Fara mengerjap-ngerjap cepat, silau lampu kamar utama langsung menyergap retinanya. Tidak ada Mama Sarah, tdak ada Sella yang panik. tidak ada Alex, tidak

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 135 - MAS!

    Udara dingin di ruang persemayaman terasa menusuk tulang, seolah ikut meresapi kedukaan yang teramat dalam bagi siapa saja yang menginjakkan kaki di sana. Setibanya Sean di rumah duka, seluruh kerabat bak dari keluarga Narendra sendiri maupun keluarga besar, sanak, saudara dan sahabat dari Sean sudah berkumpul membentuk lingkaran sunyi yang penuh dengan keheningan mencekam. Tangis pedih dari seluruh keluarga tumpah ruah di depan mendiang Sean, meratapi kepergian pria yang dikenal tegas dan penuh kasih itu terlalu cepat dari waktu yang seharusnya. Fara tetap setia di samping peti sang suami, menatap lekat kearah pria itu dengan seksama. Tidak ada air mata yang menetes di pipinya saat itu, bukan karena ia tidak sedih, melainkan karena ia ingin merekam setiap detail terakhir dari sosok yang paling ia cintai di dunia ini. Melihat setiap inchi pahatan indah wajah prianya, garis rahang yang tegas, bulu mata lentik yang kini tertutup selamanya, menyimpannya rapat-rapat di memori palin

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 134 - Titik Nadir

    Setelah mendapatkan kabar buruk melalui telepon beberapa menit yang lalu. Fara, Mama Sarah dan juga Sella langsung menuju ke rumah sakit yang disebutkan oleh Polisi sebelumnya. Sampainya di sana ternyata Papa Narendra dan juga Alex sudah berada di sana, kedua pria itu terduduk lemas di salah satu kursi tepat di depan ruang jenazah. Rasanya kaki Fara sudah tidak bisa berdiri lagi, namun sebisa mungkin wanita itu menguatkan diri. Putra mereka, Sefan. tak berhenti menangis sejak di rumah sampai sekarang. Melihat Kedatangan para wanita Alex langsung berdiri dari duduknya, tangannya langsung mengambil balita mungil itu dari gendongan Fara dan memeluk sang istri, Sella, untuk menenangkannya. "Kak Sean," cicit Sella pelan, wanita hamil itu tidak pernah sekalipun membayangkan kakak kandungnya akan pergi di usia mudanya, dengan meninggalkan istri dan anak yang masih balita. "Ikhlaskan, Kak Sean." bisik Alex mencoba menenangkan istrinya. Papa Narendra menuntun istrinya dan juga sa

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 5 - Selamat Tinggal Fara

    "Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 4 - Rahasia

    Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 2 - Pening

    Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 1 - Garis Dua di Ujung Kontrak

    "Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status