LOGIN"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun.
"Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asam lambung?" Jantung Fara berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Ia menarik napas pendek, mencoba menenangkan sarafnya yang tegang. "Pak... Anda tahu sendiri kondisi Ibu. Beliau mengidap kanker, jadi saya butuh melakukan tes ini untuk tindakan preventif. Saya hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja di dalam diri saya." Sean terdiam sejenak, menatap lekat-lekat mata Fara yang kini berkaca-kaca—sebuah reaksi alami tubuh Fara akibat ketakutan, namun Sean membacanya sebagai kesedihan atas kondisi ibunya. Ketajaman di matanya perlahan melunak, berganti dengan sorot perhatian yang hangat. "Preventif? Oh... okay," ucap Sean lembut. Ia mengelus rahang Fara dengan ibu jarinya, sebuah gerakan protektif yang ironisnya terasa menyakitkan bagi Fara. "Kabari aku apapun hasilnya, hm?" Fara memaksakan sebuah senyum tipis, meski bibirnya terasa kelu. "Pasti, Pak..." "Kamu tidak pernah lupa minum kontrasepsi setelah kita berhubungan, kan?" tanya Sean tiba-tiba. Pertanyaan itu terdengar kasual, namun bagi Fara, itu adalah pengingat akan batasan keras dalam kontrak mereka. Fara menggeleng pelan, meski perutnya terasa melilit hebat. "Tidak pernah." Sean mengangguk puas, namun kemudian ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga napasnya yang hangat menerpa kulit wajah Fara. "Sebaiknya kamu jangan sembunyikan apa pun dariku, Fara. Aku benci kejutan yang merusak rencana." Sesuatu yang nekat tiba-tiba bangkit di dalam diri Fara. Dengan keberanian yang entah datang dari mana, ia menatap balik mata pria itu sambil tetap mempertahankan senyumnya. "Seandainya saya hamil, bagaimana, Pak?" Sean tampak tertegun. Ekspresinya yang hangat menghilang dalam sekejap, digantikan oleh gurat pemikiran yang dalam dan dingin. Keheningan yang tercipta di antara mereka terasa sangat menyesakkan. "Jangan bercanda, Fara," suara Sean terdengar datar, tanpa ada ruang untuk humor. "Kamu tahu persis apa hubungan kita. Kontrak itu sudah jelas. Tidak ada ruang untuk hal-hal yang di luar rencana, terutama menjelang kedatangan Bella." Hati Fara mencelos. Jawaban itu adalah tamparan yang nyata, mengingatkannya bahwa ia hanyalah sebuah bab sementara dalam buku kehidupan Sean yang mewah. "Tentu saja... saya hanya bercanda," sahut Fara cepat, tawanya terdengar sumbang di telinganya sendiri. "Ini hanya asam lambung kok. Lab tadi hanya prosedur biopsi kecil untuk memastikan kecurigaan dokter." Sean mengembuskan napas lega, ketegangannya mencair. "Nakal sekali, berani mengerjai aku!" gumamnya sambil mencubit pipi Fara dengan gemas. Ia tertawa kecil, seolah ancaman kehamilan itu adalah lelucon paling absurd yang pernah ia dengar. Langkah kaki Fara terasa sangat berat saat ia menyusuri koridor kantor menuju parkiran bawah tanah. Setiap bunyi denting lift dan sapaan rekan kerja terasa seperti beban tambahan di pundaknya. Begitu pintu mobil perusahaan tertutup, pertahanan Fara hancur total. Ia menangis tersedu-sedu, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Beban itu terlalu besar untuk ia tanggung sendirian. Kebohongannya, kontrak itu, kehadiran Bella, dan janin yang kini sedang tumbuh di dalam dirinya seolah mencekik lehernya hingga sesak. Sopir pribadi Sean yang bertugas mengantar Fara melihat melalui spion tengah dengan raut khawatir. "Bu Fara, Anda baik-baik saja?" Fara segera menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. "Saya baik, Pak... Hanya sedang sangat lelah." "Apa kita langsung ke apartemen, Bu?" "Bisa hentikan saya di kedai mie depan itu, Pak? Saya mendadak ingin makan sesuatu. Setelah itu, Bapak kembali saja ke kantor. Ada banyak berkas yang mungkin Pak Sean butuhkan," pinta Fara dengan suara serak. "Tapi Bu... Pak Sean pesan supaya saya memastikan Anda sampai di rumah dan istirahat." "Bilang saja ke Pak Sean kalau saya sudah di apartemen. Saya hanya ingin waktu sebentar untuk sendiri," tegas Fara. Sopir itu akhirnya menurut. Mobil berhenti tepat di depan kedai mie tua yang berada di persimpangan jalan sempit. Fara turun dengan langkah yang tampak tenang di mata sang sopir, menunggu hingga mobil hitam mewah itu menghilang di tikungan jalan. Begitu mobil itu tak lagi terlihat, Fara berbalik. Ia tidak melangkah menuju kedai mie. Matanya tertuju pada sebuah bangunan kusam dengan papan nama yang nyaris tak terbaca di balik gang sempit di samping kedai tersebut. Sebuah klinik yang beroperasi di wilayah abu-abu, tempat yang konon menjadi tujuan terakhir bagi perempuan-perempuan yang tak memiliki pilihan lain. Dengan langkah yang penuh keputusasaan dan hati yang telah membeku, Fara melangkah masuk ke dalam gang gelap itu. Ia meraba perutnya untuk terakhir kali sebelum tangannya terulur untuk mendorong pintu klinik yang berderit tersebut. ◦•●◉✿𝗧𝗕𝗖✿◉●•◦Sean berjalan keluar dari rumah sakit dengan langkah kaki lebar dan penuh ketegasan. Sorot matanya tajam, memancarkan amarah yang tertahan namun sangat pekat. Pria itu berjalan cepat menuju ke tempat sang Aspri, yaitu Ardi, yang sudah menunggunya di halaman lobby rumah sakit dengan mesin mobil yang sudah menyala. Setibanya sang atasan di depan, Ardi dengan sigap langsung membukakan pintu mobil untuk Sean. Sean langsung naik ke kursi belakang tanpa mengucap sepatah kata pun, aura dinginnya menguar hebat. Ardi segera menyusul dengan naik di kursi kemudi, menginjak pedal gas, dan membawa sang tuan muda membelah jalanan kota Jakarta yang mulai padat, menuju ke tempat di mana beberapa anak buahnya sudah bersiap mengawasi. Suasana di dalam kabin mobil terasa begitu mencekam. Ardi melirik dari spion tengah, berdeham pelan sebelum memberanikan diri untuk membuka suara. "Pak, kita menyusul Noona Sella terlebih dahulu. Atau kita menyerkap ke tempat persembunyian Noona Bel—" "Jangan sebut na
Sean tengah menatap sang istri lamat-lamat dari kursi yang berada tepat di samping ranjang rumah sakit. Tatapan pria itu begitu lekat, seolah takut jika dalam hitungan detik saja wanita yang sedang duduk bersandar itu akan kembali menghilang dari pandangannya lagi. Fara yang duduk di atas ranjang pasien tampak salah tingkah sendiri. Ibu hamil itu sedang menikmati buah potong yang beberapa menit lalu telah disiapkan oleh Mama Mertuanya. Yaitu, Mama Sarah. Sesekali wanita itu meniup pelan potongan buah sebelum memasukkannya ke mulut, walaupun sebenarnya dirinya masih bingung kenapa Sean terus memperhatikannya tanpa berkedip. Di sofa yang letaknya sedikit jauh dari ranjang, Mama Sarah tengah sibuk memotret kedua anaknya diam-diam, sudut bibir wanita paruh baya itu terangkat geli. Sang putra sulung yang selama ini dikenal dingin, tegas, bahkan sering dijuluki *Bos Segarang Singa* di kantor, kini berubah menjadi lelaki paling bucin sedunia di hadapan istrinya. “Presdir muda yang
Malam terasa semakin dingin saat mobil hitam itu melaju membelah jalanan lengang. Lampu kota yang mulai redup hanya menjadi bayangan samar di kaca jendela, seolah malam ikut menyembunyikan dosa besar yang selama ini tertimbun rapi. Walaupun sudah hampir mendapatkan Bella, semuanya tetap berakhir gagal. Perempuan itu menghilang, begitu saja. Padahal Alex sudah berhasil mengepung lokasi persembunyian itu, tinggal beberapa langkah lagi sebelum tangannya benar-benar meraih perempuan yang selama ini menjadi bayangan dari semua kekacauan. Namun sialnya, bodyguard milik Jay bergerak lebih cepat. Bella lenyap, seolah ditelan bumi. Dan sekarang, satu-satunya keberhasilan mereka malam ini hanyalah membawa pergi sang aktor utama dari segala penderitaan. Yaitu, Jayden Hartono. Lelaki itu duduk diam di kursi belakang, tepat di samping Alex. Tidak ada perlawanan, tidak ada makian dan tidak ada teriakan. Tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua tangan dan kaki terlilit lakban hitam tebal.
“Apa sebenarnya maksud Kak Alex? Dia sebentar lagi sampai? Mau menyusul ke indonesia, begitu?” gumam Sella pelan sembari menatap layar ponselnya yang kini gelap. Ada sesuatu dalam nada bicara pria itu kepadanya tadi, terdengar tegas, bahkan seperti ancaman halus agar dirinya tidak bergerak sendiri. Namun Sella bukan seseorang yang bisa diam, apalagi setelah lokasi persembunyian Bella akhirnya berhasil dikantongi. Berkat informasi dari Alex, satu titik lokasi muncul jelas di layar tablet milik Sella. Sebuah rumah tua di kawasan pinggiran Tanggerang bagian Selatan, sedikit jauh dari pusat kota. Tempat yang tampak sepi, nyaris tidak terjamah. “Ketemu juga akhirnya…” bisik Sella dengan mata menyipit, namun tatapannya akhirnya berubah tajam. Kalau Bella berpikir dirinya bisa terus bersembunyi setelah semua kekacauan yang dibuat, maka perempuan itu salah besar. “Panggil bodyguard yang lain, kita eksekusi hari ini.” perintah Sella pada sopir pribadinya. “Tapi Nona, Tuan Alex bilan
Ponsel milik Sella yang sejak tadi berada di atas meja mendadak bergetar panjang, Baru saja dirinya tiba di rumah dan ingin beristirahat karena semalam menginap lagi di rumah sakit. Nama **Kak Alex** muncul di layar. Perempuan itu langsung membulatkan mata, rasa kantuknya seketika lengap. Dengan cepat ia meraih ponselnya, lalu mengangkat panggilan tersebut. “Halo?” jawab Sella cepat. Di seberang sana terdengar helaan napas pelan dari seorang lelaki, “Akhirnya diangkat juga, dari mana saja kamu?” Sella langsung menyeringai kecil. “Baru pulang dari rumah sakit, mungkin tadi sedang di jalan mangkanya tidak ke angkat. Eh, tapi tumben Kakak nelpon pagi-pagi? Kangen ya?” “Kalau mau bercanda, aku tutup.” ucapnya sok tegas, padahal hatinya ingin sekali medak! Gila memang, Alex mencintai anak dari tuannya sendiri. Dan tujuannya bekerja di rumah Keluarga Narendra memang supaya lebih dekat dengan Sella, Keluarga Wiharja tak kalah kayanya dengan Keluarga Narendra. Namun karena Al
Semetara itu, di dalam kamar rawat inap Sean masih duduk di samping Fara tanpa bergerak. Ibunya beberapa kali membujuk agar ia beristirahat, tetapi Sean menolak mentah-mentah. "Nak, Sean. Istirahat dulu gih, Fara biar Mama yang jagain." ucap Renata sMbil menepuk pelan bahu putra sulungnya. “Aku nggak akan ninggalin istri aku, Ma." katanya tegas. “Sean, kamu belum makan dari semalam bahkan pagi ini juga” ujar Mama Renata dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Sean hanya menggeleng, “Aku nggak lapar.” jawabnya pelan, tatapan matanya tak pernah lepas dari wajah Fara. Bagaimana mungkin ia bisa makan saat istrinya terbaring lemah seperti ini? Dokter bilang kondisi Fara mulai stabil, namun trauma akan racun dari zat aktif dan jua stres berat membuat tubuh perempuan itu kelelahan. Bahkan kandungannya kini harus dijaga ekstra ketat, Sean merasa dirinya gagal! Ia terlalu menggampangkan sakit istrinya, dan terlalu percaya bahwa semuanya baik-baik saja, padahal istrinya sangat menderit







