Home / Romansa / Bos, I'm Pregnant! / BAB 2 - Pening

Share

BAB 2 - Pening

Author: Isrrinya JENO
last update publish date: 2026-04-11 19:29:19

Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini?

Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan ketenangan yang menunjukkan kepiawaiannya.

Suaranya bariton, berwibawa, dan memikat setiap orang di ruangan itu. Namun, bagi Fara, suara itu terdengar seperti dengung lebah yang jauh.

Kepalanya berdenyut hebat. Rasa pening yang datang sejak dari rumah sakit tadi kini mencapai puncaknya. Setiap kali ia mencoba fokus pada angka-angka di layar proyektor, bayangan foto USG hitam-putih itu muncul, menari-nari di atas grafik keuntungan perusahaan.

"Fara, berkas auditnya," suara Sean memecah lamunannya.

Fara tersentak, jemarinya yang dingin segera menyodorkan map yang diminta. Sean sempat menahan jemari Fara sejenak saat menerima map itu. Matanya yang tajam menatap Fara dengan kilatan yang sulit diartikan.

Begitu pintu ruang rapat tertutup dan klien terakhir pergi, Sean melonggarkan dasinya. Aura formal yang kaku itu luruh, berganti dengan tatapan lapar yang sangat dikenal Fara.

"Kamu tampak sakit. Apa perlu aku panggil dokter pribadi ke sini?" tanya Sean. Suaranya melembut, ada nada perhatian yang tulus di sana. Inilah sisi Sean yang selalu membuat Fara gagal untuk membencinya. Di balik kekejamannya, ia selalu memastikan Fara mendapatkan fasilitas terbaik.

Fara menggeleng lemah. "Hanya pusing sedikit, Pak."

Sean mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma *Sandalwood* dari tubuhnya memenuhi indra penciuman Fara.

Pria itu menunduk, menggigit kecil daun telinga Fara—sebuah gestur yang biasa ia lakukan untuk melepas ketegangan saraf setelah negosiasi yang alot. Fara tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini.

Bagi Sean, tubuh Fara adalah obat penenang, sebuah pelabuhan murni transaksi untuk meredam adrenalinnya.

Pria itu mulai mengecup bibirnya, sementara tangannya mulai menyusup ke balik *Blouse Satim* berwarnah merah marun yang dikenakan Fara. Sentuhan itu biasanya membuat Fara luluh, namun kali ini, aroma tubuh Sean dan tekanan pada perutnya memicu reaksi yang berbeda.

Gelombang mual yang hebat menghantam dadanya!

Fara mendorong dada Sean dengan sisa tenaganya, lalu berlari menuju kamar mandi di dalam ruangan kerja sang bos. Ia berlutut di depan kloset, memuntahkan seluruh isi perutnya hingga hanya tersisa cairan bening yang terasa pahit di pangkal tenggorokan.

Sean berdiri di ambang pintu, keningnya berkerut dalam. Ada gurat kecemasan yang nyata di wajah tampannya saat ia melihat asistennya terkulai lemas.

"Kamu kenapa? Jangan bilang kamu..." Sean menggantung kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah perut Fara.

Jantung Fara seakan berhenti berdetak. "Asam lambung saya naik, Pak. Beberapa hari ini saya sering telat makan karena mengejar laporan akhir tahun," jawab Fara cepat, mencoba menormalkan suaranya yang parau. Kebohongan itu meluncur begitu saja, pahit seperti muntahannya tadi.

Sean mendesah pelan, ia melangkah mendekat dan memijat tengkuk Fara dengan gerakan yang hampir terasa penuh kasih sayang. "Sudah kubilang berkali-kali, jangan pernah melewatkan makan siang meski kamu sedang sibuk."

Ia membantu Fara berdiri, lalu menuntunnya keluar dari kamar mandi. "Pergi ke dokter sekarang. Sopir akan mengantarmu pulang ke apartemen. Aku akan pesankan makanan sehat untuk dikirim ke sana. Kamu cukup tidur saja, jangan tunggu aku malam ini," ucapnya pelan, tangannya mengelus pipi Fara yang masih pucat.

"Baik, Pak," ucap Fara pelan.

"Oh ya..." Sean menjeda langkahnya sejenak, wajahnya kembali pada mode praktis yang efisien.

"Kalau sudah enakan, kamu mulai kemasi barang-barangmu. Minta bantuan asisten rumah tangga di sana untuk mengepak semuanya, jangan sampai kamu kecapekan."

Dada Fara terasa seperti diremas-remas. Perhatian Sean seperti pisau bermata dua, ia sangat peduli pada fisik Fara, namun dengan dingin sedang mengusirnya dari hidupnya.

Fara hanya bisa mengangguk, tangannya meremat ujung roknya hingga kukunya memutih. Saat ia berbalik untuk memegang gagang pintu, Sean tiba-tiba menarik pergelangan tangannya.

Tubuh Fara terhempas kembali ke dalam pelukan pria itu. Tanpa peringatan, Sean melumat bibirnya dengan intensitas yang dalam—sebuah ciuman yang terasa seperti perpisahan sekaligus klaim kepemilikan.

Sean melepaskan tautan bibir mereka sejenak, menatap mata Fara yang berkaca-kaca dengan tatapan yang sangat dalam. "I miss you," bisik Sean lirih tepat di depan bibirnya, seolah pria itu sendiri pun sedang berbohong pada hatinya.

Tepat saat Sean melepaskannya, ponsel Fara yang berada di kantong roknya bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang sempat terlihat oleh Sean. Nama pengirimnya adalah

"Klinik Utama" dengan sebaris pesan: *Hasil LAB Nn. Fara Zalindra sudah tersedia, mohon segera hubungi dokter pendamping.*

Sean melirik layar itu, lalu kembali menatap mata Fara yang kini membelalak panik. "Hasil lab?"

◦•●◉✿-𝗧𝗕𝗖-✿◉●•◦

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (20)
goodnovel comment avatar
Arz Kaf
ehh ehh. waduh deg degan banget sampe ketahuan Sean
goodnovel comment avatar
Arz Kaf
disaat Sean butuh Fara dia juga nyuruh pergi
goodnovel comment avatar
ganispgr57
waduh kalau ketahuan apa yg bakalan di lakuin sama Sean ini nanti
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 184 - Liburan ke Yogyakarta

    Terapi pemulihan kaki kanan Sean yang dijalani secara rutin selama beberapa bulan terakhir akhirnya membuahkan hasil manis. Berkat kedisiplinan dan semangat tingginya demi keluarga, pria itu kini telah sepenuhnya pulih. Langkah kakinya kembali tegap, mantap, dan normal tanpa menyisakan rasa ngilu atau pincang sedikit pun.Pagi itu, suasana kediaman utama Sean dan Fara tampak jauh lebih sibuk dari biasanya. Beberapa koper berukuran sedang sudah tertata rapi di dekat pintu utama. Hari ini, Sean berencana membawa istri dan putranya menikmati liburan spesial sebagai bentuk perayaan atas pulihnya kaki kanannya sekaligus memberikan waktu istirahat bagi Fara yang kini kehamilannya sudah memasuki usia akhir tujuh bulan.Yogyakarta menjadi destinasi pilihan Sean. Kota gudeg, kota candi, kota pendidikan, dan pusat kebudayaan Jawa itu dipilih bukan tanpa alasan. Sean ingin mengenalkan putra sulungnya, Sefan, pada kekayaan serta keanekaragaman budaya bangsa sejak dini. Agar Sefan tidak seperti

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 183 - Kepingan Cinta yang Kembali Utuh

    Waktu berlalu seperti aliran air yang tenang, mengikis sisa-sisa trauma dan meninggalkan jejak-jejak kebahagiaan baru di rumah utama Fara dan Sean.Dua bulan sejak kepulangan mereka ke rumah ini, dinamika kehidupan Sean dan Fara kini jauh berbeda. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi kecanggungan, dan yang terpenting– tidak ada lagi rahasia di antara mereka.Pagi itu, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui jendela besar kamar utama. Sean sedang duduk di tepi ranjang, perlahan-lahan menggerakkan pergelangan kaki kanannya. Sesi terapi berjalan sangat baik. Gips dan penopang kakinya sudah dilepas sejak seminggu lalu, menyisakan latihan pemulihan mandiri agar engsel kakinya kembali fleksibel."Mas, jangan dipaksa kalau masih terasa ngilu," tegur Fara lembut yang baru saja melangkah keluar dari walk-in closet.Kandungan Fara kini sudah memasuki usia tujuh bulan, membuat perutnya kian membuncit sempurna. Anggun dan matang, penampilan Fara selalu berhasil membuat Sean terpana, tak pe

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 182 - ​Atap yang Kembali Kita Singgahi Bersama

    Irama mesin mobil terdengar tenang membelah jalanan sore Jakarta. Di dalam kabin, suasana begitu hangat dan menentramkan. Fara duduk di kursi samping pengemudi, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Sefan— putra kecil mereka duduk nyaman di car seet-nya. Di samping Fara, Sean duduk dengan posisi kaki kanan yang sedikit diluruskan. Kecelakaan kemarin memang tidak merenggut nyawanya dan sebagian besar lukanya hanyalah lecet biasa, namun benturan keras pada pedal mobil sempat membuat pergelangan kaki kanannya terkilir cukup parah. Dokter menyarankannya untuk menjalani terapi pemulihan selama beberapa minggu ke depan. Meski begitu, raut wajah Sean tampak begitu lega. Hari ini, ia akhirnya bisa membawa istri dan anaknya kembali ke rumah utama mereka.Setelah menempuh perjalanan yang tak lagi terasa jauh, mobil akhirnya berbelok memasuki pekarangan rumah megah berarsitektur modern tersebut. Rumah yang sempat sunyi dan kosong selama hampir dua bulan akibat badai besar dalam rumah t

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 181 - Batas Dinding Gengsi

    Taksi yang ditumpangi Fara melaju membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi. Di dalam kabin, Fara meremas jemarinya sendiri hingga memutih. Air mata terus menetes membasahi pipinya, sementara dadanya terasa sempit, dihimpit kepanikan yang teramat sangat. Pikiran buruk menari-nari liar di kepalanya, "Bagaimana kalau Suaminya terluka parah? Bagaimana kalau kecelakaan itu mengambil suaminya sebelum kata maaf sempat terucap? " "Pak, tolong agak cepat ya, Pak..." bisik Fara dengan suara bergetar parah, mengelus perutnya yang membuncit lima bulan. Bayi di dalam kandungannya seolah merasakan kepanikan sang ibu, memberikan gerak-gerak kecil yang makin membuat Fara diliputi rasa bersalah. "Tuhan, tolong lindungi Mas Sean... Aku janji tidak akan memarahinya lagi, aku janji kami akan pulang ke rumah lama kita, asal Mas Sean selamat..." doa Fara bertubi-tubi di dalam hatinya. Begitu taksi berhenti di depan IGD rumah sakit rujukan tempat korban kecelakaan dievakuasi, Fara langsu

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 180 - ​Antara Gengsi dan Takut Kehilangan

    Satu minggu sudah Sean menetap di rumah Fara di kawasan Jakarta Selatan. Tinggal di rumah yang tergolong lebih mungil dibanding hunian asli mereka yang megah dan berhalaman luas ternyata perlahan membuat Sean uring-uringan sendiri. Pria itu berulang kali membujuk dan mengajak istrinya untuk memboyong Stefan serta memboyong barang-barang mereka pulang ke rumah lama. Namun, Fara masih bersikeras menolak. Fara merasa sudah sangat nyaman dengan ketenangan rumah ini, dekat dengan toko bunganya, dan jujur saja, hatinya masih menikmati posisi di mana Sean harus 'berjuang ekstra' untuk keluarganya.Pagi itu, perdebatan kecil kembali pecah di ruang tengah."Sayang, sampai kapan kita mau begini? Rumah kita yang sana kosong, kasihan kalau ditinggal terus," bujuk Sean sambil merapikan kemejanya. "Di sini kamarnya juga sempit buat kita bertiga, apalagi sebentar lagi ada adik bayi."Fara yang sedang mengancingkan baju Sefan hanya melirik dingin. "Kalau Mas Sean merasa kesempitan dan nggak betah d

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 179 - Runtuhnya Benteng Ragu

    Pagi baru saja merekah di langit Jakarta, udara dingin sisa embun semalam masih menyelimuti jalanan ketika mobil Sean sudah terparkir rapi di depan pagar rumah Fara. Namun kali ini, Sean tidak sekadar menunggu di dalam mobil. Pria itu sudah berdiri di teras dengan kemeja kasual yang digulung hingga siku, membawa tiga cangkir kopi hangat dan kotak bekal berisi sarapan favorit Stefan. Pintu rumah terbuka, Fara keluar mengenakan gaun hamil terusan berbahan longgar dengan rambut diikat asal. Perut Fara yang kini sudah mulai membuncit di usia kehamilan ke enaam, terlihat begitu menggemaskan di mata Sean. Fara tampak tertegun melihat Sean yang datang jauh lebih awal dari biasanya, Sefan kecil berlari dari balik kaki Mamanya dan langsung menubruk kaki Sean. "Papa!" seru Seefan riang. Sean terkekeh, mengangkat tubuh mungil putranya dan mengecup pipinya gemas, "Pagi, Jagoan. Sudah siap bantu Papa sama Mama susun bunga nanti?" Fara menggeleng pelan dengan senyum tipis yang tak mampu

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 5 - Selamat Tinggal Fara

    "Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan. Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang m

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 4 - Rahasia

    Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 3 - Keputusan

    "Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 1 - Garis Dua di Ujung Kontrak

    "Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status