Mag-log inBella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini?
Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan ketenangan yang menunjukkan kepiawaiannya. Suaranya bariton, berwibawa, dan memikat setiap orang di ruangan itu. Namun, bagi Fara, suara itu terdengar seperti dengung lebah yang jauh. Kepalanya berdenyut hebat. Rasa pening yang datang sejak dari rumah sakit tadi kini mencapai puncaknya. Setiap kali ia mencoba fokus pada angka-angka di layar proyektor, bayangan foto USG hitam-putih itu muncul, menari-nari di atas grafik keuntungan perusahaan. "Fara, berkas auditnya," suara Sean memecah lamunannya. Fara tersentak, jemarinya yang dingin segera menyodorkan map yang diminta. Sean sempat menahan jemari Fara sejenak saat menerima map itu. Matanya yang tajam menatap Fara dengan kilatan yang sulit diartikan. Begitu pintu ruang rapat tertutup dan klien terakhir pergi, Sean melonggarkan dasinya. Aura formal yang kaku itu luruh, berganti dengan tatapan lapar yang sangat dikenal Fara. "Kamu tampak sakit. Apa perlu aku panggil dokter pribadi ke sini?" tanya Sean. Suaranya melembut, ada nada perhatian yang tulus di sana. Inilah sisi Sean yang selalu membuat Fara gagal untuk membencinya. Di balik kekejamannya, ia selalu memastikan Fara mendapatkan fasilitas terbaik. Fara menggeleng lemah. "Hanya pusing sedikit, Pak." Sean mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma *Sandalwood* dari tubuhnya memenuhi indra penciuman Fara. Pria itu menunduk, menggigit kecil daun telinga Fara—sebuah gestur yang biasa ia lakukan untuk melepas ketegangan saraf setelah negosiasi yang alot. Fara tahu persis apa yang akan terjadi setelah ini. Bagi Sean, tubuh Fara adalah obat penenang, sebuah pelabuhan murni transaksi untuk meredam adrenalinnya. Pria itu mulai mengecup bibirnya, sementara tangannya mulai menyusup ke balik *Blouse Satim* berwarnah merah marun yang dikenakan Fara. Sentuhan itu biasanya membuat Fara luluh, namun kali ini, aroma tubuh Sean dan tekanan pada perutnya memicu reaksi yang berbeda. Gelombang mual yang hebat menghantam dadanya! Fara mendorong dada Sean dengan sisa tenaganya, lalu berlari menuju kamar mandi di dalam ruangan kerja sang bos. Ia berlutut di depan kloset, memuntahkan seluruh isi perutnya hingga hanya tersisa cairan bening yang terasa pahit di pangkal tenggorokan. Sean berdiri di ambang pintu, keningnya berkerut dalam. Ada gurat kecemasan yang nyata di wajah tampannya saat ia melihat asistennya terkulai lemas. "Kamu kenapa? Jangan bilang kamu..." Sean menggantung kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah perut Fara. Jantung Fara seakan berhenti berdetak. "Asam lambung saya naik, Pak. Beberapa hari ini saya sering telat makan karena mengejar laporan akhir tahun," jawab Fara cepat, mencoba menormalkan suaranya yang parau. Kebohongan itu meluncur begitu saja, pahit seperti muntahannya tadi. Sean mendesah pelan, ia melangkah mendekat dan memijat tengkuk Fara dengan gerakan yang hampir terasa penuh kasih sayang. "Sudah kubilang berkali-kali, jangan pernah melewatkan makan siang meski kamu sedang sibuk." Ia membantu Fara berdiri, lalu menuntunnya keluar dari kamar mandi. "Pergi ke dokter sekarang. Sopir akan mengantarmu pulang ke apartemen. Aku akan pesankan makanan sehat untuk dikirim ke sana. Kamu cukup tidur saja, jangan tunggu aku malam ini," ucapnya pelan, tangannya mengelus pipi Fara yang masih pucat. "Baik, Pak," ucap Fara pelan. "Oh ya..." Sean menjeda langkahnya sejenak, wajahnya kembali pada mode praktis yang efisien. "Kalau sudah enakan, kamu mulai kemasi barang-barangmu. Minta bantuan asisten rumah tangga di sana untuk mengepak semuanya, jangan sampai kamu kecapekan." Dada Fara terasa seperti diremas-remas. Perhatian Sean seperti pisau bermata dua, ia sangat peduli pada fisik Fara, namun dengan dingin sedang mengusirnya dari hidupnya. Fara hanya bisa mengangguk, tangannya meremat ujung roknya hingga kukunya memutih. Saat ia berbalik untuk memegang gagang pintu, Sean tiba-tiba menarik pergelangan tangannya. Tubuh Fara terhempas kembali ke dalam pelukan pria itu. Tanpa peringatan, Sean melumat bibirnya dengan intensitas yang dalam—sebuah ciuman yang terasa seperti perpisahan sekaligus klaim kepemilikan. Sean melepaskan tautan bibir mereka sejenak, menatap mata Fara yang berkaca-kaca dengan tatapan yang sangat dalam. "I miss you," bisik Sean lirih tepat di depan bibirnya, seolah pria itu sendiri pun sedang berbohong pada hatinya. Tepat saat Sean melepaskannya, ponsel Fara yang berada di kantong roknya bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar yang sempat terlihat oleh Sean. Nama pengirimnya adalah "Klinik Utama" dengan sebaris pesan: *Hasil LAB Nn. Fara Zalindra sudah tersedia, mohon segera hubungi dokter pendamping.* Sean melirik layar itu, lalu kembali menatap mata Fara yang kini membelalak panik. "Hasil lab?" ◦•●◉✿-𝗧𝗕𝗖-✿◉●•◦Cahaya lampu meja yang temaram membasuh kamar itu dengan warna keemasan yang lembut, menciptakan bayangan panjang di dinding. Di luar, suara rintik gerimis air bersahutan dengan angin malam yang berdesir pelan di sela-sela jendela. Namun, suasana tenang itu tidak sepenuhnya hinggap di atas tempat tidur berukuran *king size* yang mereka tempati. Sean bergerak gelisah. Ia membalikkan tubuh ke arah kanan, menarik selimut hingga ke pinggang, lalu sedetik kemudian berpindah ke arah kiri dengan dengusan tertahan. Suara gesekan sprei dan napasnya yang tidak beraturan memecah kesunyian. Fara, yang sedari tadi mencoba memejamkan mata, akhirnya menghela napas panjang. Ia menoleh, menatap punggung suaminya yang masih terus bergerak resah. Rasa tidak enak menyelinap di hatinya, ia tahu benar apa yang mengganggu pikiran suaminya itu. "Kenapa?" suara Fara memecah keheningan, lembut namun tegas. Sean menghentikan gerakannya, Ia terdiam sejenak sebelum perlahan berbalik menghadap istrinya.
Pukul satu siang, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, memantulkan cahaya menyilaukan pada kaca-kaca gedung pencakar langit. Sean melangkah keluar dari lobi kantor dengan napas lega. Pekerjaan hari ini terasa lebih ringan dari biasanya, atau mungkin karena pikirannya sudah lebih dulu sampai di rumah. Tidak seperti biasanya, ia tidak menunggu Alex. karena suami dari adiknya itu hari ini masih harus berkutat dengan tumpukan dokumen di ruang kerja Papa Narendra. Alex memang sedang dalam masa pembuktian untuk proyek besar perusahaan Papa Narendra. Sementara Sean, setelah menyelesaikan kewajibannya memilih untuk tidak membuang waktu dan memilih untuk pulang. Baginya, satu jam lebih awal di rumah jauh lebih berharga daripada satu jam tambahan di kantor yang hanya akan menguras energi dan emosinya semakin banyak. Sepanjang perjalanan pulang, ia hanya ditemani oleh alunan musik radio yang pelan dan lamunan tentang Fara, istriinya. Sean sesekali tersenyum sendiri saat mengingat obrola
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar, menyinari wajah Fara yang masih terlelap. Sean sudah bangun lebih awal, Pria itu tampak rapi dengan kemeja kerjanya yang sudah terpasang sempurna, namun dasinya masih dibiarkan menggantung longgar di kerah. Sean duduk di tepi ranjang, memandangi istrinya yang masih terlelap dengan senyum yang tidak pernah pudar sejak semalam. Pikiran Sean pagi ini sudah terbagi. Di satu sisi, ia memiliki tumpukan rapat penting di kantor yang tidak bisa ditinggalkan, namun di sisi lain, ia tidak ingin melewatkan jadwal rutin kesehatan istrinya. Tadi malam, ia telah menemukan sebuah modul latihan yoga pranatal yang dirancang khusus untuk ibu hamil di trimester akhir. Baginya, kebugaran Fara dan kenyamanan sang buah hati adalah prioritas utama. "Sayang, bangun..." bisik Sean lembut, menyentuh pundak Fara. Fara menggeliat pelan, matanya terbuka dengan sisa kantuk yang masih kentara. "Sudah pagi, Mas?" "Sudah. Aku harus segera ke kantor untuk urusan
Suasana kamar Sean di rumah mama papanya sangat tenang. Cahaya lampu kamar yang temaram menciptakan bayangan lembut di dinding, memberikan kesan hangat yang kontras dengan hiruk-pikuk pesta pengumuman jenis kelamin pewaris baru keluarga Narendra yang baru saja selesai beberapa jam lalu. Bunga-bunga segar sisa dekorasi masih menyisakan aroma harum yang samar di sudut ruangan. Fara dan Sean sedang berbaring santai di atas ranjang king size dengan seprai sutra yang halus. Namun, alih-alih beristirahat setelah hari yang panjang, Sean justru masih duduk bersandar di kepala ranjang. Sebuah MacBook Pro berada di pangkuannya, layarnya yang terang memantulkan cahaya ke wajahnya yang tampak serius sekaligus antusias. Fara, yang tadinya memejamkan mata, perlahan membuka kelopaknya. Rasa penasaran mengalahkan rasa kantuknya. Ia miring ke samping, mencoba mengintip apa yang sedang dikerjakan sang suami. Ternyata, layar itu tidak menampilkan laporan bisnis atau grafik saham yang biasanya me
Sepekan berlalu begitu cepat, Hari yang dinanti-nantikan oleh keluarga besar Narendra akhirnya tiba. Sinar matahari pagi yang cerah masuk melalui jendela kamar Fara dan Sean, seolah memberi restu pada hari istimewa ini. Fara berdiri di depan cermin, memperhatikan bayangannya sendiri dengan pakaian yang anggun namun nyaman untuk ibu hamil. Ia masih merasa gugup, namun kehadiran Sean di belakangnya, yang memeluk pinggangnya dengan lembut, mampu meredakan degup jantung yang tidak beraturan. "Kamu terlihat sangat cantik, Sayang," bisik Sean di dekat telinga Fara. Fara tersenyum ke arah cermin, lalu menoleh menatap suaminya. "Apa aku terlalu berlebihan? Bagaimana kalau mereka menganggapku terlalu banyak bergaya?" Sean tertawa kecil, mencium kening istrinya dengan kasih sayang. "Berhenti berpikir berlebihan. Kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Ingat, ada Mama dan Sella yang akan menjagamu." Sesampainya di kediaman utama keluarga Narendra, suasana sudah sangat ramai. Halaman luas y
Malam harinya, ruang keluarga di kediaman Sean dan Fara terasa lebih hangat. Aroma teh melati dan sisa tawa masih menggantung di udara, memberikan kenyamanan yang menyelimuti hati Fara. Setelah puas makan asinan bogor siang tadi, malam ini semuanya tengah duduk-duduk di sofa sembari berbincang ringan. Tangannya sesekali mengusap perutnya yang mulai membuncit, sementara Sean duduk tepat di sampingnya, jemarinya bertaut erat dengan jemari sang istri.Sebelum mereka benar-benar berpamitan untuk pulang ke rumah mereka sendiri, Mama Sarah meletakkan cangkir tehnya ke atas meja porselen dengan pelan. Matanya yang teduh menatap Fara dan Sean bergantian, memancarkan binar antusiasme yang sulit disembunyikan."Fara, Sean," panggil Mama Sarah lembut. "Mama ingin memberitahu sesuatu. Pekan depan, Papamu ingin mengadakan pertemuan keluarga besar. Acara ini akan dihadiri oleh kakek, nenek, paman, bibi, dan sepupu-sepupu Sean dari luar kota. Kami akan mengumumkan jenis kelamin cucu pertama keluar
“Apa sebenarnya maksud Kak Alex? Dia sebentar lagi sampai? Mau menyusul ke indonesia, begitu?” gumam Sella pelan sembari menatap layar ponselnya yang kini gelap. Ada sesuatu dalam nada bicara pria itu kepadanya tadi, terdengar tegas, bahkan seperti ancaman halus agar dirinya tidak bergerak sendiri.
Deburan ombak Nusa Penida perlahan menjauh, menyisakan memori manis yang sempat mereka ukir di pulau karang tersebut. Namun, perjalanan harus terus berlanjut, Sean membawa Fara kembali ke villa mereka di Bali. Agenda hari itu cukup padat namun santai, mengemas pakaian dan membereskan seluruh baran
Langit pagi di hari terakhir liburan mereka di Bali tampak lebih biru dari biasanya. Angin laut yang berembus pelan seolah ikut menenangkan suasana hati siapa saja yang memandangnya. Namun, berbeda dengan keindahan yang tampak tenang itu, suasana di sekitar villa tempat Sean Narendra menginap justr
Matahari bahkan belum benar-benar terbit tinggi ketika suara ribut sudah memenuhi rumah megah keluarga kecil Sean Narendra. Sejak pagi, suasana di lantai dua kediaman mereka sudah seperti medan perang kecil. “Mas Sean! Ini koper siapa yang masih kosong?” suara Fara terdengar dari walk in closet me







