Mag-log in"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan.
Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang merayapi kulit Fara. "Terima kasih, Pak. Sepertinya saya tidak sempat sarapan karena hari ini saya ada 𝘔𝘦𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨 dengan vendor di pagi buta," jawab Fara dengan nada tergesa. Ia menghindari kontak mata, takut jika Sean bisa membaca sisa-sisa tangisnya semalam di balik kelopak matanya yang sedikit sembab. Fara melangkah cepat menuju kamar mandi. Namun, saat ia berdiri di depan wastafel, tangannya hanya meraba udara kosong. Ia tertegun sejenak, baru menyadari bahwa sikat gigi, pembersih wajah, dan semua rutinitas paginya sudah ia masukkan ke dalam kardus semalam. Apartemen ini mulai terasa asing, sebuah ruang luas yang perlahan-lahan menghapus keberadaannya. Sebuah tangan muncul dari samping, mengulurkan sikat gigi baru yang masih terbungkus plastik. Sean berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pakai ini," ucapnya singkat. Fara menerimanya dengan gumaman terima kasih yang nyaris tak terdengar. Begitu pula saat ia hendak berganti pakaian, lemari besar yang biasanya penuh dengan koleksi 𝘉𝘭𝘰𝘶𝘴𝘦 dan rok kerjanya kini tampak melompong. Sebagian besar sudah masuk ke koper, dan sisanya teronggok di dalam kardus-kardus yang tertumpuk rapi di sudut kamar. Dengan gerakan kikuk, ia membongkar kembali salah satu kardus dan menarik satu dress formal berwarna *Earth Tone* yang sedikit kusut. "Aku drop kamu kalau begitu," ucap Sean saat melihat Fara bersiap memakai sepatunya di dekat pintu. "Tidak perlu, Pak! Saya sudah janji bertemu dengan tim produksi di Lobby kantor. Apa kata mereka kalau tahu saya turun dari mobil Bapak di jam sepagi ini?" jawab Fara tegas, suaranya sedikit meninggi akibat rasa gugup. "Memangnya kenapa kalau saya drop kamu? Mereka sering melihat kita bersama dalam satu mobil selama dua tahun ini," bela Sean, alisnya bertaut menunjukkan ketidaksenangan atas penolakan itu. Fara tidak menjawab. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa setiap detik yang ia habiskan bersama Sean sekarang terasa seperti silet yang mengiris hatinya. Ia harus mulai membiasakan diri untuk tidak bergantung, tidak terikat, dan tidak lagi menghirup aroma parfum yang sama di dalam ruang sempit mobil pria itu. Beberapa hari lagi, ia akan menjadi orang asing, dan ia harus melatih kakinya untuk berjalan sendiri tanpa dukungan bayang-bayang Sean. "Okay." Jawaban Sean terdengar dingin dan tajam. Tatapan matanya berubah, tidak lagi hangat seperti semalam. Pria itu paling tidak suka jika kendalinya ditentang, dan penolakan Fara pagi ini dianggapnya sebagai sebuah pemberontakan yang tidak beralasan. Sean melangkah menuju meja kerja di sudut ruangan, mengambil sebuah amplop coklat dan sebuah kartu logam berwarna hitam. "Di kartu ini ada uang yang cukup untuk biaya hidupmu selama satu tahun ke depan. Dan di dalam amplop ini..." Sean menjeda kalimatnya, suaranya kini sekeras es yang membeku. "Ada dokumen kepemilikan satu vila di dekat danau atas namamu. Anggap saja ini kompensasi karena aku sangat puas dengan kinerjamu selama dua tahun ini." Fara menatap kartu dan amplop itu. Baginya, itu bukan sekadar hadiah, itu adalah uang pesangon untuk sebuah hubungan yang tak pernah diakui. Itu adalah bukti bahwa bagi Sean, segala yang mereka lalui bisa dinilai dengan angka dan properti. Fara memaksakan sebuah senyum, menerima kartu itu dengan tangan yang sedikit bergetar. "Terima kasih, Pak. Anda selalu sangat murah hati." Ia kemudian berbalik, meraih tasnya dan koper kecil yang sudah ia siapkan. Fara melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi, takut jika ia berbalik, ia akan jatuh bersimpuh dan memohon agar Sean tidak memintanya pergi. Di belakangnya, Sean berdiri mematung. Tatapannya dingin, namun tangannya yang berada di dalam saku celana meremas selembar kertas catatan kecil—mungkin sebuah memo yang ingin ia berikan pada Fara—hingga hancur tak berbentuk di dalam genggamannya. Ada amarah yang bercampur dengan rasa sesak yang tak ia pahami di dadanya. Ia ingin berteriak agar Fara tetap tinggal, namun ego dan komitmennya pada Bella menahan suaranya di tenggorokan. Fara baru saja meletakkan tangannya di gagang pintu saat suara Sean terdengar, lebih mirip sebuah vonis daripada ucapan perpisahan. "Selamat tinggal, Fara Zalindra." ◦•●◉✿𝗧𝗕𝗖✿◉●•◦Setelah mendapatkan kabar buruk melalui telepon beberapa menit yang lalu. Fara, Mama Sarah dan juga Sella langsung menuju ke rumah sakit yang disebutkan oleh Polisi sebelumnya. Sampainya di sana ternyata Papa Narendra dan juga Alex sudah berada di sana, kedua pria itu terduduk lemas di salah satu kursi tepat di depan ruang jenazah. Rasanya kaki Fara sudah tidak bisa berdiri lagi, namun sebisa mungkin wanita itu menguatkan diri. Putra mereka, Sefan. tak berhenti menangis sejak di rumah sampai sekarang. Melihat Kedatangan para wanita Alex langsung berdiri dari duduknya, tangannya langsung mengambil balita mungil itu dari gendongan Fara dan memeluk sang istri, Sella, untuk menenangkannya. "Kak Sean," cicit Sella pelan, wanita hamil itu tidak pernah sekalipun membayangkan kakak kandungnya akan pergi di usia mudanya, dengan meninggalkan istri dan anak yang masih balita. "Ikhlaskan, Kak Sean." bisik Alex mencoba menenangkan istrinya. Papa Narendra menuntun istrinya dan juga sa
Suasana di rumah kecil itu mendadak terasa begitu menyesakkan. Hari-hari yang terus berjalan begitu sepi, setelah rahasia audit keuangan itu terbongkar tidak lantas membawa ketenangan, melainkan berubah menjadi masa paling kelam dalam usia pernikahan Fara dan Sean yang kini telah menginjak tahun pertama. Malam-malam di meja makan yang biasanya diwarnai gelak tawa kecil atau sekadar percintaan sederhana, kini menyisakan keheningan yang membekukan darah. Kursi di sebelah Fara kosong melompong. Sean Narendra, lelaki yang menjadi imam sekaligus tumpuan hidupnya, benar-benar tidak pulang ke rumah selama hampir lima hari penuh. Lima hari tanpa kabar, Lima hari tanpa jejak. Di tengah kesendiriannya, Fara sering kali merasa tidak lagi dibutuhkan di sana. Perasaan hampa itu merayap pelan, menggerogoti kewarasannya setiap kali ia menatap sudut-sudut ruangan yang menyimpan bayangan suaminya. Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, sisa-sisa cinta dan pengertian itu masih berakar kua
Alex menatap layar ponselnya yang terus bergetar menampilkan nama Sella, istrinya. Dengan perasaan berkecamuk. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralisir detak jantungnya yang bergemuruh sebelum akhirnya menggeser ikon hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya."Halo, Sayang..." ucap Alex dengan nada yang berusaha ia buat senormal mungkin."Kak Alex! Kemana aja sih? Kenapa aku telepon bolak-balik baru diangkat? Aku chat pun cuma dibaca aja nggak dijawab?" amuk Sella setelah panggilan teleponnya tersambung kepada suaminya. "Jujur, jangan ada yang disembunyiin apapun soal Kak Sean? Kak, Aku nggak suka kalau ada kebohongan sedikitpun." cecar Sella tanpa jeda dari seberang sana. Nada suaranya menyiratkan kepanikan yang kentara, khas seorang ibu hamil yang emosinya sedang sensitif-sensitifnya.Alex memejamkan matanya sejenak, mencari sudut yang agak sepi di koridor kantor lantai atas. "Sella, Sayang. Dengar suara Kakak baik-baik, ya. Tarik napas dulu. Jangan langsung sy
Tidak bisa angis Fara kembali pecah, saat mengigat kembali diamnya Sean akhir-akhir ini. Wanita itu terduduk lemas di pinggiran tempat tidur, membiarkan air matanya tumpah tanpa tertahan lagi. Bahunya bergetar hebat seiring isakannya yang lolos begitu saja. Di hadapannya, Sefan yang tengah tiduran diatas ranjang kedua orang tuanya, terpaku menatap ke arah Mama. Bocah polos itu menjadi saksi bisu bagaimana mamanya lagi-lagi menumpahkan segala lara, menatap bingung dengan mata bulatnya yang berbinar air mata, seolah ikut merasakan pedih yang menyayat hati sang ibu. Setelah cukup puas menangis dan napasnya mulai sedikit teratur, Fara menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja nakas. Jemarinya yang masih bergetar membuka aplikasi pesan, lalu mengetikkan sebuah pertanyaan untuk adik iparnya. * “Sela, bolehkah Kakak tanya soal Mas Ean? Di kantor sedang ada kesibukan apa ya?” * Pesan teks itu, terkirim. Bukannya membalas lewat teks seperti dirinya, ponsel Fara mendadak berde
Matahari pagi merayap naik, menyinari sudut-sudut kamar tidur utama yang terasa begitu dingin dan asing. Sisa-sisa pertengkaran sengit semalam masih menggantung di udara, meninggalkan rasa sesak yang belum sepenuhnya luntur dari dada Fara. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap sejak fajar menyingsing. Keduanya terjebak dalam keheningan yang kaku, seolah dinding beton tak kasat mata telah berdiri di antara mereka berdua. Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Ketika melihat Sean berjalan menuju ruang makan, Fara memilih untuk membuang muka. Alih-alih menyambut atau sekadar melirik suaminya, ia memilih melangkah cepat menuju sudut ruangan, menghampiri Sefan, anak mereka yang tengah duduk riang di dalam roller tabel, alat bantu yang menopang tubuh kecilnya untuk belajar berjalan. Fara berlutut di hadapan sang buah hati, berpura-pura sibuk merapikan mainan dan menuntun langkah kecil Sefan, berusaha mati-matian menghindari kontak mata dengan pria yang baru saja melewatinya.
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan angka dua lebih sepuluh menit dini hari. Suara detiknya berdetak monoton, seolah mengejek kesabaran Fara yang sudah berada di ujung tanduk. Di atas pangkuannya, Sefan, putra mereka yang berusia satu tahun itu sudah terlelap setelah hampir dua jam menangis histeris. Bocah kecil itu baru bisa tenang setelah Fara menepuk-nepuk punggungnya dengan mata sayu, sementara air mata sang ibu diam-diam menetes membasahi piyama balitanya. Rumah ini terasa begitu dingin dan asing. Padahal, dulunya tempat ini selalu dihangatkan oleh tawa kecil dan canda tawa renyah antara seorang ayah dan anaknya. Fara menatap wajah damai Sefan dalam tidurnya. Napas balita itu terdengar teratur, menyisakan isakan kecil yang masih tertinggal di sela-sela mimpi. Sefan rewel bukan tanpa alasan, namun sejak anak itu mulai bisa memanggil "mama" dan "papa", ia terbiasa dengan kehadiran Sean setiap pukul delapan malam. Sean selalu menjadi sosok ayah siaga yang memandikan Sefan, m
Bella, tunangan Sean. Dia akan kembali. Tentu saja, dua tahun sudah berjalan dan kontrak mereka akan segera berakhir. Tapi bagaimana dengan anak ini? Lampu ruang rapat yang terang benderang terasa sangat dingin. Di depannya, Sean sedang mempresentasikan proyek bernilai miliaran rupiah dengan keten
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah
Jemari Fara gemetar hebat saat menekan tombol *Pasecode* pintu apartemen mewah Sean. Sekali gagal, dua kali gagal, hingga pada percobaan ketiga, tangannya terasa kaku seperti es. Dingin yang menjalar dari ujung kuku hingga ke hatinya membuat koordinasi motoriknya kacau. Belum sempat ia menekan di
"Hasil lab?" Sean mengulang pertanyaan itu dengan nada yang lebih rendah, namun terasa jauh lebih mengintimidasi. Matanya yang tajam seolah mampu menguliti setiap lapisan kebohongan yang coba Fara bangun. "Fara, kamu tadi dari rumah sakit. Kenapa harus ada pemeriksaan lab kalau alasannya hanya asa







