بيت / Romansa / Bos, I'm Pregnant! / BAB 5 - Selamat Tinggal Fara

مشاركة

BAB 5 - Selamat Tinggal Fara

مؤلف: Isrrinya JENO
last update تاريخ النشر: 2026-04-12 12:13:38

"Aku sudah siapkan sarapan buat kamu," suara bariton itu terdengar dari arah meja makan minimalis yang terletak di tengah ruangan.

Sean berdiri di sana, masih dengan aura penguasa meski hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak tenang, kontras dengan kegelisahan yang merayapi kulit Fara.

"Terima kasih, Pak. Sepertinya saya tidak sempat sarapan karena hari ini saya ada 𝘔𝘦𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨 dengan vendor di pagi buta," jawab Fara dengan nada tergesa. Ia menghindari kontak mata, takut jika Sean bisa membaca sisa-sisa tangisnya semalam di balik kelopak matanya yang sedikit sembab.

Fara melangkah cepat menuju kamar mandi. Namun, saat ia berdiri di depan wastafel, tangannya hanya meraba udara kosong. Ia tertegun sejenak, baru menyadari bahwa sikat gigi, pembersih wajah, dan semua rutinitas paginya sudah ia masukkan ke dalam kardus semalam. Apartemen ini mulai terasa asing, sebuah ruang luas yang perlahan-lahan menghapus keberadaannya.

Sebuah tangan muncul dari samping, mengulurkan sikat gigi baru yang masih terbungkus plastik. Sean berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Pakai ini," ucapnya singkat.

Fara menerimanya dengan gumaman terima kasih yang nyaris tak terdengar.

Begitu pula saat ia hendak berganti pakaian, lemari besar yang biasanya penuh dengan koleksi 𝘉𝘭𝘰𝘶𝘴𝘦 dan rok kerjanya kini tampak melompong.

Sebagian besar sudah masuk ke koper, dan sisanya teronggok di dalam kardus-kardus yang tertumpuk rapi di sudut kamar. Dengan gerakan kikuk, ia membongkar kembali salah satu kardus dan menarik satu dress formal berwarna *Earth Tone* yang sedikit kusut.

"Aku drop kamu kalau begitu," ucap Sean saat melihat Fara bersiap memakai sepatunya di dekat pintu.

"Tidak perlu, Pak! Saya sudah janji bertemu dengan tim produksi di Lobby kantor. Apa kata mereka kalau tahu saya turun dari mobil Bapak di jam sepagi ini?" jawab Fara tegas, suaranya sedikit meninggi akibat rasa gugup.

"Memangnya kenapa kalau saya drop kamu? Mereka sering melihat kita bersama dalam satu mobil selama dua tahun ini," bela Sean, alisnya bertaut menunjukkan ketidaksenangan atas penolakan itu.

Fara tidak menjawab. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa setiap detik yang ia habiskan bersama Sean sekarang terasa seperti silet yang mengiris hatinya. Ia harus mulai membiasakan diri untuk tidak bergantung, tidak terikat, dan tidak lagi menghirup aroma parfum yang sama di dalam ruang sempit mobil pria itu.

Beberapa hari lagi, ia akan menjadi orang asing, dan ia harus melatih kakinya untuk berjalan sendiri tanpa dukungan bayang-bayang Sean.

"Okay." Jawaban Sean terdengar dingin dan tajam. Tatapan matanya berubah, tidak lagi hangat seperti semalam.

Pria itu paling tidak suka jika kendalinya ditentang, dan penolakan Fara pagi ini dianggapnya sebagai sebuah pemberontakan yang tidak beralasan.

Sean melangkah menuju meja kerja di sudut ruangan, mengambil sebuah amplop coklat dan sebuah kartu logam berwarna hitam.

"Di kartu ini ada uang yang cukup untuk biaya hidupmu selama satu tahun ke depan. Dan di dalam amplop ini..." Sean menjeda kalimatnya, suaranya kini sekeras es yang membeku. "Ada dokumen kepemilikan satu vila di dekat danau atas namamu. Anggap saja ini kompensasi karena aku sangat puas dengan kinerjamu selama dua tahun ini."

Fara menatap kartu dan amplop itu. Baginya, itu bukan sekadar hadiah, itu adalah uang pesangon untuk sebuah hubungan yang tak pernah diakui. Itu adalah bukti bahwa bagi Sean, segala yang mereka lalui bisa dinilai dengan angka dan properti.

Fara memaksakan sebuah senyum, menerima kartu itu dengan tangan yang sedikit bergetar. "Terima kasih, Pak. Anda selalu sangat murah hati."

Ia kemudian berbalik, meraih tasnya dan koper kecil yang sudah ia siapkan. Fara melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi, takut jika ia berbalik, ia akan jatuh bersimpuh dan memohon agar Sean tidak memintanya pergi.

Di belakangnya, Sean berdiri mematung. Tatapannya dingin, namun tangannya yang berada di dalam saku celana meremas selembar kertas catatan kecil—mungkin sebuah memo yang ingin ia berikan pada Fara—hingga hancur tak berbentuk di dalam genggamannya.

Ada amarah yang bercampur dengan rasa sesak yang tak ia pahami di dadanya. Ia ingin berteriak agar Fara tetap tinggal, namun ego dan komitmennya pada Bella menahan suaranya di tenggorokan.

Fara baru saja meletakkan tangannya di gagang pintu saat suara Sean terdengar, lebih mirip sebuah vonis daripada ucapan perpisahan.

"Selamat tinggal, Fara Zalindra."

◦•●◉✿𝗧𝗕𝗖✿◉●•◦

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (8)
goodnovel comment avatar
𝑰𝒄𝒉𝒂 𝑸𝒂𝒛𝒂
Udah Fara kamu pergi aja tinggal di vila pemberian Sean dengan bahagia.
goodnovel comment avatar
bian cilla
Sean menganggap hubungan kalian hanya karena uang
goodnovel comment avatar
bian cilla
jangan pernah muncul lagi dihadapan Sean Fara biar dia menyesal sudah melepasmu
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 43 - Di Racun!!!

    Fara berada di ruang intensive hampir dua jam lamanya. Pintu besar berwarna putih itu tertutup rapat tanpa celah sedikit pun, meninggalkan rasa cemas yang terus menggerogoti dada setiap orang yang menunggu di luar. Lorong rumah sakit malam itu terasa begitu dingin, Sean duduk di kursi besi dengan kedua siku bertumpu di lutut, wajahnya tertunduk dalam. Jemarinya saling menggenggam begitu kuat sampai urat di tangannya terlihat menonjol. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu tampak benar-benar kehilangan kendali. Di sekelilingnya, keluarga besar Narendra juga menunggu dengan perasaan gundah. Mama Renata terus melafalkan doa di dalam hati sambil sesekali menyeka air mata. Papanya Sean berjalan mondar-mandir tanpa arah. Sella duduk di samping sang kakak, meski dirinya juga panik, gadis itu tetap berusaha terlihat tenang. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar baik-baik saja, terutama Sean. Kepalanya terus memutar kejadian beberapa menit lalu, baya

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 42 - Pendarahan

    Deburan ombak Nusa Penida perlahan menjauh, menyisakan memori manis yang sempat mereka ukir di pulau karang tersebut. Namun, perjalanan harus terus berlanjut, Sean membawa Fara kembali ke villa mereka di Bali. Agenda hari itu cukup padat namun santai, mengemas pakaian dan membereskan seluruh barang bawaan sebelum penerbangan kembali ke Jakarta. Di dalam kamar villa yang sejuk, Sean membuka beberapa kantong belanjaan besar. Beberapa hari lalu, ia sengaja meluangkan waktu untuk membelikan Fara belasan potong baju hamil berbahan katun tipis yang longgar dan nyaman. Ia tahu betul cuaca Jakarta sedang terik-teriknya, dan ia tidak ingin istrinya merasa gerah atau tidak nyaman dengan perut yang kian membuncit. "Mas, ini banyak banget bajunya. Kamu beli seolah-olah aku mau melahirkan besok," goda Fara, tersenyum kecil sambil melipat satu per satu terusan katun berwarna pastel itu. Sean terkekeh, mengecup dahi Fara sekilas sebelum merebut pakaian dari tangan istrinya. "Sudah, kamu duduk

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 41 - Last Day in Bali

    Langit pagi di hari terakhir liburan mereka di Bali tampak lebih biru dari biasanya. Angin laut yang berembus pelan seolah ikut menenangkan suasana hati siapa saja yang memandangnya. Namun, berbeda dengan keindahan yang tampak tenang itu, suasana di sekitar villa tempat Sean Narendra menginap justru sibuk sejak subuh. Hari ini, Sean sudah memiliki satu rencana khusus. Rencana yang bahkan sudah ia siapkan diam-diam sejak dua hari lalu. Pria itu ingin mengajak istrinya, Fara, mengunjungi salah satu pantai tercantik di pulau kecil dekat Bali. Tempat yang sejak lama diimpikan Fara setelah melihat foto-fotonya di media sosial. Nusa Kelingking, Sebuah surga kecil di Pulau Nusa Penida. Dan Sean akan memastikan hari itu menjadi sangat spesial bagi istrinya, karena dulu Sean sering kali mendengar wanitanya menggumamkan pulau itu saat mereka masih terjerat kontrak. “Mas… serius kita ke sana?” tanya Fara dengan mata berbinar ketika Sean membantunya masuk ke dalam mobil menuju pelabuhan priva

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 40 - Baby Moon

    Matahari bahkan belum benar-benar terbit tinggi ketika suara ribut sudah memenuhi rumah megah keluarga kecil Sean Narendra. Sejak pagi, suasana di lantai dua kediaman mereka sudah seperti medan perang kecil. “Mas Sean! Ini koper siapa yang masih kosong?” suara Fara terdengar dari walk in closet mereka. Sean yang baru saja masuk ke kamar dengan segelas jus alpukat di tangan hanya menaikkan sebelah alis. “Koper kita.” Fara menatap suaminya seolah mendengar sesuatu yang sangat mustahil. “Kita berangkat BabyMoon seminggu ke Bali, Mas. Seminggu! Aku lagi hamil, bajuku harus banyak. Obat-obatan, skincare, sandal, baju santai, baju tidur—” “Sudah ada di Bali.” jawab Sean dengan normalnya seperti tidak ada kebingungan sedikitpun di kepalanya. Fara mengerjapkan mata. “Maksudnya?” Sean berjalan santau, meletakkan jus di meja lalu berdiri di belakang istrinya yang tengah mengacak lemari. Kedua tangannya melingkar lembut di pinggang sang istri. “Maksudnya, beli saja di Bali.” jawab Sean,

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 39 - Ruang kosong yang di siapkan

    Keduanya sekarang tengah mandi bersama di dalam kamar mandi yang luas, Air hangat yang mengguyur tubuh perlahan melunturkan sisa ketegangan yang sempat menyelimuti mereka sejak perdebatan sore tadi. Sean dengan telaten mengeringkan rambut Fara menggunakan handuk lembut setelah mereka selesaimembersihkan diri, sebuah gestur manis yang selalu berhasil membuat jantung Fara berdesir, meski rasa bersalah masih sedikit menggelayuti hatinya. "Mas..." panggil Fara lirih, memecah keheningan di antara mereka. Sean menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap sang istri melalui pantulan cermin. "Kenapa, sayang? Ada yang sakit?" tanyanya dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari biasanya. Fara menggeleng pelan. "Maaf soal yang tadi. Aku... aku tidak bermaksud tidak sopan dengan memanggil namamu langsung, aku hanya terlalu panik dan emosional." Sean membalikkan tubuh Fara agar menghadapnya sepenuhnya. Ia mengulas senyum tipis, lalu mendaratkan kecupan hangat di kening istrinya. "Sud

  • Bos, I'm Pregnant!   BAB 38 - 2 orang mencurigakan

    Langkah Sean mendadak terhenti. Wajahnya yang tadi penuh kelembutan langsung mengeras, matanya membelalak menatap layar ponselnya. Perubahan ekspresi Sean yang drastis itu tentu saja tidak luput dari perhatian Fara. "Ada apa, Mas? Siapa yang mengirim pesan tadi?" tanya Fara, kecemasan kembali merayap di hatinya. "Bukan siapa-siapa, sayang. Cuma orang kantor masalah proyek," bohong Sean, suaranya sedikit gugup. "Kamu masuk duluan sama Mbak Sinta, ya? Mas mau bicara sebentar sama Ardi di luar." Fara menatap Sean penuh selidik, insting seorang wanita jarang sekali salah. Ia tahu suaminya sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, melihat guratan kelelahan di wajah Sean, Fara memilih untuk mengalah. "Ya sudah, Mas jangan lama-lama ya," ujar Fara lemah sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. Begitu pintu rumah tertutup rapat, senyuman di wajah Sean langsung lenyap. Pria itu berbalik dengan langkah lebar dan tergesa menghampiri Ardi yang masih berdiri di dekat mobil. Aura di sekitar Se

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status