Share

Bab 41

last update publish date: 2026-09-24 23:00:53

Keesokan harinya, suasana pagi di kediaman Lukito terasa sedikit berbeda. Usai sarapan bersama, Ayumi mengantar Adrian yang hendak berangkat kerja hingga ke halaman depan.

Langkah Adrian terhenti tepat di samping mobilnya yang sudah terparkir rapi. Pria itu berbalik, menatap Ayumi dengan raut tenang namun penuh ketegangan yang tersirat.

"Berhati-hatilah. Kita tidak tahu apa yang akan Mama lakukan padamu nanti," ucap Adrian memperingatkan.

Ayumi tersenyum tipis. Tangannya terulur menyerahkan tas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos, Jangan Buat Aku Jatuh Cinta    Bab 70

    Pertanyaan itu membuat Ayumi kehilangan kata-kata. Ia tidak mungkin mengiyakan begitu saja tanpa persetujuan Ardian. Jika ia mengaku bahwa mereka telah menikah, sementara Ardian sendiri tidak mau mengakuinya atau masih ingin merahasiakan pernikahan mereka, bukankah hal itu akan sangat memalukan?Pengakuan itu bisa membuatnya terlihat seperti seorang perempuan yang mati-matian berharap diakui oleh suaminya sendiri. Ayumi jelas tidak sudi menanggung malu seperti itu.Di saat Ayumi dilema dan bingung harus menjelaskan seperti apa, Leo yang duduk di sebelah Melani hanya diam menyimak. Meski luar terlihat tenang, jelas sekali pria itu dipenuhi rasa penasaran yang besar. Pasalnya, walau berstatus sebagai asisten pribadi Adrian, Leo sama sekali tidak paham seluk-beluk kehidupan pribadi atasannya itu.Melani, yang tampaknya tidak menyadari kegelisahan Ayumi, terus berbicara.“Selama lima tahun bekerja bersama Pak Ardian, aku tidak pernah melihatnya memperlakukan perempuan seperti itu,” katany

  • Bos, Jangan Buat Aku Jatuh Cinta    Bab 69

    Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa jam makan siang akhirnya tiba. Ayumi memilih melangkah ke pantry yang sepi, duduk menyendiri di salah satu sudut sambil menikmati secangkir kopi hitam panas. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan aroma pahit kopi itu sedikit merilekskan pikirannya yang tegang.Hari pertamanya bekerja sebagai resepsionis ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Bukan karena pekerjaannya, melainkan sikap dan tatapan para karyawan lain yang seolah tidak pernah berhenti menghakiminya.Ketiga perempuan yang tadi bergosip tentang dirinya memang sudah tidak berkutik setelah mendapat teguran keras dari Leo. Mereka bahkan tidak lagi berani membuka mulut. Namun, bukan berarti sikap mereka berubah. Tatapan sinis yang sesekali mereka arahkan kepada Ayumi justru membuatnya merasa semakin tidak nyaman.Ayumi mengembuskan napas pelan sebelum kembali menyeruput kopinya. Di tengah lamunannya yang cukup dalam, sebuah tepukan tiba-tiba mendarat di pundaknya."Kamu

  • Bos, Jangan Buat Aku Jatuh Cinta    Bab 68

    " Bukannya dia yang dulu kerja sebagai cleaning service? Baru dua minggu, kan, terus menghilang. Sekarang kok tiba-tiba jadi resepsionis?" sahut perempuan di sebelahnya."Entahlah. Tapi tadi aku melihatnya di parkiran."Dua perempuan lainnya langsung menoleh. "Memangnya kenapa?""Aku melihat dia turun dari mobil yang sama dengan Pak Adrian.""Apa?" Salah seorang dari mereka spontan membulatkan mata. "Kamu serius? Nggak salah lihat?""Serius! Nggak mungkin aku salah lihat," jawab perempuan itu mantap.Ia kemudian melirik ke arah Ayumi sekilas, lalu ia mendekatkan wajahnya dan kembali berbisik."Jangan-jangan ... mereka ada something.""Jangan ngaco! Nggak mungkin, lah, Pak Adrian mau sama perempuan yang dulunya cuma cleaning service," sahut salah seorang dengan nada tidak percaya."Kalau bukan begitu, lalu apa?" balasnya cepat. "Mereka datang dengan mobil yang sama. Terus, dia yang dulunya cuma cleaning service tiba-tiba jadi resepsionis. Nggak mungkin, kan, kalau nggak ada sesuatu di

  • Bos, Jangan Buat Aku Jatuh Cinta    Bab 67

    Mobil hitam milik Adrian memasuki area parkir Hotel Platinum yang terletak di lantai bawah gedung. Berbeda dari area parkir karyawan yang berada di sisi lain bangunan, tempat itu memang dikhususkan bagi jajaran petinggi hotel dan tamu-tamu penting tertentu.Adrian mengarahkan mobilnya ke salah satu tempat parkir yang biasa ia gunakan. Setelah memastikan posisi mobil sudah tepat, ia mematikan mesin, lalu melepaskan sabuk pengamannya.Namun, ketika Adrian hendak membuka pintu, ia menyadari sesuatu. Ayumi di sampingnya sama sekali tidak ada tanda-tanda akan beranjak. Wanita itu masih bergeming di kursinya, duduk kaku dengan pandangan tertuju lurus pada dasbor."Pak Adrian... maafkan aku," cicit Ayumi tiba-tiba. Suaranya sangat pelan, sarat akan rasa bersalah yang mengendap di dadanya.Adrian menghentikan tangannya yang baru saja menyentuh gagang pintu. Ia menoleh, keningnya berkerut dalam mengamati raut ragu di wajah istrinya. "Kenapa tiba-tiba minta maaf?"Ayumi tak berani menatap Adria

  • Bos, Jangan Buat Aku Jatuh Cinta    Bab 66

    Pagi itu, Ayumi berdiri cukup lama di depan cermin besar yang berada di dalam kamarnya.Perempuan itu mengenakan seragam kerja barunya sebagai resepsionis Hotel Platinum. Kemeja putih yang dipadukan dengan blazer berwarna gelap membuat penampilannya terlihat jauh lebih rapi dan profesional. Rambut panjangnya yang biasa dibiarkan tergerai kini disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjangnya.Ia menarik napas panjang, lalu memamerkan senyum terbaiknya ke arah pantulan dirinya sendiri.“Selamat pagi. Selamat datang di platinum hotel. Ada yang bisa saya bantu?” ucapnya sambil memasang senyum ramah. “Tidak, tidak... Terlalu berlebihan.” Ayumi mengeleng kecil, saat merasa senyumnya tidak terlihat natural.Ia mencoba sekali lagi. Kali ini senyumnya dibuat lebih tipis, sementara dagunya sedikit terangkat.“Selamat pagi. Selamat datang di platinum hotel. Apakah Anda sudah melakukan reservasi sebelumnya?”Ayumi mengangguk puas melihat pantulan dirinya sendiri. Bahkan, ia sempat membungkukkan b

  • Bos, Jangan Buat Aku Jatuh Cinta    Bab 65

    “Bu—bukan begitu maksudku!” Ayumi buru-buru menyela. “Hanya saja... aku bingung harus melakukan apa di rumah sebesar ini. Jadi, aku ingin kembali bekerja. Setidaknya, ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk mengisi waktu luang.” Adrian tidak langsung menanggapi. Pria itu hanya menatap Ayumi dengan sorot mata tajam, seolah sedang mencoba memahami jalan pikiran perempuan di hadapannya. Sementara itu, Ayumi mulai gelisah di bawah tatapan tersebut. “Memangnya, kamu ingin bekerja sebagai apa?” tanyanya datar. Ayumi tidak langsung menjawab. Kedua telapak tangannya terasa dingin, sementara jemarinya saling meremas di atas pangkuan. Ia sempat ragu, tetapi pada akhirnya memberanikan diri untuk bicara. “Aku... bisa kembali bekerja sebagai cleaning service,” jawabnya pelan. Brak! Adrian menggebrak meja di hadapannya. Tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat Ayumi terjingkat kaget. “Kamu bercanda?” ucap Adrian tajam. Ayumi mengeleng cepat. “A—aku tidak bercanda... Aku benar-

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status