Share

Bab 120

Penulis: Hare Ra
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-02 09:26:02

“Dan mereka pegangan tangan.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut karyawan tadi yang bernama Lisa, ringan namun menusuk. Selena yang baru saja hendak meneguk air mineralnya refleks berhenti. Tenggorokannya terasa kering, padahal ruangan itu sejuk oleh pendingin udara.

Tapi, nafasnya terasa sesak. Hari pertama setelah beberapa hari cuti sakit mendapatkan berita seperti ini. Awalnya yang dia takutkan itu berita tentang dia dan Dion semakin panjang dan terus diungkit, ternyata yang muncul malah berita dia bersama Haris.

Belum sempat Selena menarik napas dengan tenang, Lisa kembali melanjutkan ceritanya, seolah menikmati setiap detik perhatian yang ia dapatkan.

“Tidak ada yang aneh, kan?” tanya Bian santai, berusaha terdengar biasa saja meski alisnya sedikit terangkat.

Sekalipun terkejut, Bian memilih bersikap tenang. Dia tahu betul, Selena tidak nyaman dengan pembahasan ini. Tatapan Selena tertunduk, jarinya saling mengait di atas meja, menahan sesuatu yang ingin ia ucapkan tapi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 121

    “Siapa yang kirim?” tanya Selena dengan suara gugup.Jarinya mencengkram ujung meja, seolah itu satu-satunya penopang agar ia tidak runtuh. Dia tidak menyangka semuanya akan sejauh ini. Dia pikir hanya sebatas gosip jalan bersama, itu mudah diatasi. Tapi, ini? Sudah terlalu besar jika orang tahu kebenarannya.“Ini yang kirim Indra,” jawab Bian. “Dia tahu kita sahabatan.”“Indra mana?” tanya Mala penasaran.“Supervisor produksi di belakang. Dia temanku, dan jangan berharap bisa dekat dia, sudah punya cewek tahun depan akan menikah,” jelas Bian sambil menggoda Mala.“Astaga, pikiran burukmu itu,” kesal Mala.Dunia Selena seakan berhenti berputar. Suara berisik di tempat itu mendadak menjauh, seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkannya dari sekitar.Hanya tersisa detak jantungnya sendiri, berdenyut tak beraturan. Matanya terpaku pada layar ponsel itu lama, terlalu lama, sampai huruf-hurufnya terasa kabur dan sulit dibaca.Mala mengumpat pelan. “Ini keterlaluan. Mereka kenapa sih

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 120

    “Dan mereka pegangan tangan.”Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut karyawan tadi yang bernama Lisa, ringan namun menusuk. Selena yang baru saja hendak meneguk air mineralnya refleks berhenti. Tenggorokannya terasa kering, padahal ruangan itu sejuk oleh pendingin udara.Tapi, nafasnya terasa sesak. Hari pertama setelah beberapa hari cuti sakit mendapatkan berita seperti ini. Awalnya yang dia takutkan itu berita tentang dia dan Dion semakin panjang dan terus diungkit, ternyata yang muncul malah berita dia bersama Haris.Belum sempat Selena menarik napas dengan tenang, Lisa kembali melanjutkan ceritanya, seolah menikmati setiap detik perhatian yang ia dapatkan.“Tidak ada yang aneh, kan?” tanya Bian santai, berusaha terdengar biasa saja meski alisnya sedikit terangkat.Sekalipun terkejut, Bian memilih bersikap tenang. Dia tahu betul, Selena tidak nyaman dengan pembahasan ini. Tatapan Selena tertunduk, jarinya saling mengait di atas meja, menahan sesuatu yang ingin ia ucapkan tapi

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 119

    “Kenapa kenal dengan Anton?” tanya Bu Tini sambil menatap Haris penuh selidik.Tatapan itu tajam, seolah sedang menguliti Haris dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sepertinya, sampai detik ini pun mereka belum puas mencari celah untuk kembali menyalahkan Selena. Seolah apapun yang terjadi, selalu ada kesalahan yang bisa diarahkan pada wanita itu.“Ini Pak Haris, bos aku dulu, Ma,” jawab Anton pelan, nyaris tidak berani mengangkat wajah.“Yang dulu mentransfer uang?”“Iya, Ma.”“Jadi selama ini dia memang selingkuh? Kenapa kamu gak buka aib dia? Jangan hanya kamu yang disalahkan,” tanya Bu Tini lagi, nadanya meninggi.Selena menarik napas dalam-dalam. Kesabarannya benar-benar berada di batas paling tipis. Tangannya refleks menggenggam pergelangan Haris, berniat mengajaknya pergi dan mengakhiri semua ini.“Bu, yang selingkuh itu anak Ibu, bukan aku,” jawab Selena akhirnya, suaranya dingin dan tegas.Ia benar-benar menarik Haris, berniat melangkah pergi. Namun Haris justru menghentikann

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 118

    “Mama, mau es kim.” Haisa menarik tangan Selena sambil menunjuk ke sebuah kedai es krim yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.Sebenarnya, sejak tadi Haisa sudah merengek kepada Haris. Namun sang ayah belum mau menuruti keinginannya karena mereka belum makan siang. Haris berjanji es krim itu bisa dibeli setelah perut Haisa terisi. Menurutnya, perut kosong lalu diisi makanan dingin bukan ide bagus.Namun seperti anak kecil pada umumnya, Haisa tidak menyerah begitu saja. Kalau satu orang menolak, masih ada orang lain yang bisa diajak bersekutu. Kali ini targetnya adalah ibunya. Meski peluang dikabulkan lebih kecil, Haisa tetap mencoba.“Nak, es krimnya nanti ya,” ujar Haris sambil mendekat, mencoba menenangkan.Haisa mendengus kecil, bibirnya maju ke depan, tanda protes yang mulai muncul.“Pak Haris?”Haris mendongak. Senyum tipis langsung terbit di wajahnya ketika melihat siapa yang berdiri di depan. “Pak Anton? Ada di sini juga? Kok jadi merasa dunia ini semakin sempit ya.”Anton

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 117

    “Kamu tidak tahu akibatnya ke aku nantinya,” gumam Selena lirih. Tatapannya menunduk, seolah beban di dadanya terlalu berat untuk diangkat dengan kata-kata.Haris meraih tangan Selena, menggenggamnya dengan mantap. Dia menatap wajah wanita itu lekat, memastikan Selena benar-benar mendengarnya. “Sel, Pak Dirga bukan orang yang mudah menghakimi. Dia tidak akan menyebarkan cerita ini ke mana-mana sampai kamu sendiri siap. Seperti kamu percaya Mala dan Bian, seperti itu juga aku percaya Pak Dirga.”Selena menghela napas panjang. “Kamu baru kenal sama beliau. Kenapa bisa langsung percaya?”“Dia anak buahku juga,” jawab Haris tenang. “Aku menilainya dari caranya bekerja, dari sikapnya selama ini. Dan aku percaya.”“Bagaimana kalau dia tidak seperti yang kamu yakini?” Selena masih belum sepenuhnya yakin. Ada ketakutan yang sulit ia jelaskan, takut jika hidupnya kembali berantakan hanya karena satu keputusan.Haris tidak langsung menjawab. Dia hanya menggenggam tangan Selena sedikit lebih era

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 116

    “Saya masih menunggu Bian,” ujar Haris, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meskipun pikirannya tidak berhenti berputar.Apalagi melihat tatapan mata Pak Dirga. Lelaki itu sudah dewasa, dia paham apa yang sebenarnya terjadi yang dilihatnya.Pak Dirga berjalan mendekat ke ranjang Selena. Wajahnya tampak lelah, tapi sorot matanya masih menyimpan kekhawatiran kepada admin kebanggaannya yang sangat pintar.“Bian masih di kantor polisi, Pak. Tadi Dion langsung kita serahkan ke pihak berwajib. Jujur saja, tidak ada yang menyangka akan sejauh ini. Selama ini Dion terlihat baik, sopan, dan tenang,” jawab Pak Dirga.Haris hanya mengangguk singkat. Pikirannya kembali ke kejadian di kantor, saat pintu ruangan itu didobrak dan Selena tergeletak dengan darah mengalir di kepalanya. Setiap detailnya masih terlalu jelas.Beberapa rekan kerja bergantian masuk ke kamar Selena. Mereka membawa buah, bunga, dan kata-kata penguatan. Namun, tatapan mereka tidak sepenuhnya netral. Ada rasa penasaran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status