Share

Bab 252

Penulis: Hare Ra
last update Tanggal publikasi: 2026-04-07 09:53:36

“Papa ternyata sangat kejam!” teriak Tyas.

Pak Benny menggeleng. “Kalau tidak seperti ini, ada anak Papa yang terinjak-injak oleh kamu. Bukan tidak mungkin hari ini Selena, besok bisa jadi Ara yang kamu perlakukan seperti ini.”

Tyas menggeleng dengan air mata yang mulai jatuh.

Sejatinya, dia tetaplah anak-anak yang cengeng. Sebeba, melihat keadaan dan kemarahan sang ayah dia langsung menangis. Tapi, kebencian yang telah dipupuk dan terus disiram selama ini membuatnya masih ingin menyalahkan Sel
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 694

    EpilogTiga belas tahun kemudian…“Selamat ulang tahun yang ke tujuh belas, kamu sudah besar sekarang, Aksa,” ucap Haisa kepada adik semata wayangnya itu.“Kado dong kak,” jawab Aksa.Haisa mendelik. “Kakak baru saja kerja, dan kamu tahu kakak dijadikan pesuruh oleh kak Bintang. Jadi, kamu jangan minta kadonya sama aku ya. Tapi, minta sama Kak Bintang, CEO muda kita.”“Astaga, kakak sudah kerja beberapa bulan loh. Uangnya akan hilang kalau pelit sama adik sendiri.”“Kamu mau apa emangnya?”“Konsol game terbaru, kak.”“Juara satu dulu di sekolah, baru kakak belikan.”Aksa merengut, ia tampak menatap Bintang yang sedang sibuk dengan ponsel di tangannya. Saat ini, Bintang dan Haisa adalah pengelola semua bisnis dan perusahaan milik Haris. Bintang kini menduduki posisi tertinggi, sedangkan Haisa akan dilatih oleh Bintang dimulai dari bawah, jabatan staff keuangan.Menurut Bintang, Haisa akan lebih memahami cara menjadi pemimpin kalau dia memulai tidak langsung duduk di kursi teratas. Dan

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 693

    “Terus, kamu kembalikan tasnya setelah dia minta maaf?” tanya Selena.Selena dan Haris saling tatap, keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Anak-anak yang mereka besarkan memang cukup kuat. Saat ditindas mereka tidak akan diam, selalu ada cara untuk membalas dan membuat orang lain kapok mengerjainya.“Iya,” jawab Aksa singkat.“Kamu sembunyiin dimana tasnya?” tanya Haris lagi.“Di bawah meja Bu Guru.”“Lain kali gak boleh ya sembunyikan tasnya, kamu kasih tahu orangnya gak boleh mendorong-dorong gitu.”“Dia itu suka mengganggu teman-teman sekelas, Mama.”“Tapi, Aksa juga minta maaf kan sama dia?”“Iya, disuruh Bu Guru.”Setelah lega mengeluarkan semua uneg-unegnya Aksa kembali lagi berlari ke belakang dan kembali berenang bersama dengan Bintang dan Haisa.Dan setelah Aksa pergi, pecahlah tawa Haris dan Selena.“Benar-benar didikan Haisa,” kekeh Haris.“Gimana gak? Setiap pagi sebelum berangkat sekolah selalu diingatkan harus membalas kalau ada orang yang jahil. Selama ini Haisa

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 692

    “Jadi, kita batal punya adik?” tanya Haisa setelah mereka selesai memakamkan adiknya yang belum sempat melihat dunia.“Tetap punya adik, Sayang. Tapi, adiknya sudah ke surga,” jawab Bu Wati sedih, menaburkan bunga hingga memenuhi makam mungil itu.Anak bungsu Selena dan Haris dimakamkan di samping pusara Pak Benny.“Pa, disana ajak adik bermain ya,” ujar Ara yang sekaligus mendatangi makam sang ayah, memanjatkan doa dan menaburkan bunga.Rasanya, baru kemarin mereka hidup bahagia. Tapi, ternyata sudah enam bulan lebih Pak Benny meninggalkan dunia selama-lamanya.“Memangnya di sana bisa bermain?” tanya Haisa lagi.“Ya, bisa. Tapi kita tidak bisa melihatnya.”“Oh… tapi aneh sih.”Ara hanya tersenyum dan mengelus kepala Haisa lembut. Tidak lama lagi, dia akan meninggalkan keponakannya yang lucu dan menggemaskan ini. Dan pastinya, setelah jauh dia akan merindukan Haisa. Merindukan semua ucapannya yang membuat tertawa.Sedangkan di rumah sakit, Haris terus menemani Selena. Bahkan, ia tidak

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 691

    “Tolong istri saya…” ucap Haris setelah menyerahkan surat persetujuan operasi kepada perawat.“Iya, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik.”Selena langsung dibawa ke rumah sakit, keadaannya tidak sadarkan diri dan menurut penjelasan perawat tadi, katanya pendarahan masih terus dan dokter serta perawat sedang berusaha menghentikannya.“Sayang…”Klik!Ketika pintu ruangan operasi tertutup, Haris terduduk diam. Pak Herman menepuk pundaknya dan membantu Haris duduk, menunggu di ruang tunggu.“Selena pasti kuat,” ucap Pak Herman.“Iya, Pi.” Suara Haris begitu serak, semuanya hilang di tenggorokannya. Tangannya saling bertaut dengan tatapan mata yang tidak beralih dari pintu ruangan operasi.Bu Wati pun duduk dengan lemas, bibirnya sejak tadi tidak berhenti merapalkan doa untuk Selena. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Dan mereka tahu, selama kehamilan ini adalah yang paling berat bagi Selena.Apapun yang terjadi hari ini semua takdir Tuhan, Selena sudah melakukan yang terbaik untuk me

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 690

    “Disana sama siapa?” tanya Selena.Selena tidak masalah kalau Ara ingin pergi, hanya saja dia sedikit merasa keberatan. Sebab, masih ada Tyas. Dia takut keadaan Tyas kembali kacau, dan pastinya Selena tidak bisa membujuk Tyas.Meskipun sebenarnya Selena bisa tenang, karena ada Afran yang dekat dengan Tyas, Afran sudah pasti bisa menenangkan Tyas.“Sendirian, Kak.”Selena menatap Ara lekat. Sepertinya, ia menyimpan banyak pertanyaan, namun sulit untuk diucapkan. Karena, bagaimanapun juga dia harus memberikan kesempatan kepada Ara untuk mengupgrade dirinya.“Aku ingin memulai hidup yang baru, Kak. Dimana semuanya serba baru, bahkan bahasa dan budaya. Aku tidak ingin terjebak dalam lingkar kenangan yang tidak ada habisnya. Aku ingin hidup menjadi diriku sendiri, dimana tidak ada orang yang mengenalku dan tidak tahu dengan masa laluku,” sambung Ara.Selena mengangguk. “Baiklah, kakak hanya bisa mendoakan agar semuanya berjalan lancar. Dan ingatlah, saat kembali kesini, rumahku dan keluarg

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 689

    “Bagus kan, Mama?” tanya Haisa lagi, seolah memaksa Selena untuk menyetujui saran nama untuk adiknya.Selena dan Haris saling pandang, sebenarnya ingin sekali tertawa, tapi mereka menjaga perasaan Haisa. Tidak mau Haisa marah karena mereka menertawakannya.Bayangkan saja, nama adiknya dia usulkan Seledri, bukankah itu benar-benar lucu?“Terus, panggilannya apa kalau namanya Seledri, Sayang?” tanya Selena.“Hmm…” Haisa tampak berpikir dengan keras, seperti katanya dia mencari nama itu dengan berpikir keras. Jadi, untuk membuat panggilannya juga harus berpikir keras.“Panggilannya Sele,” sambung Haisa.Uhuk!Pak Herman langsung terbatuk menahan tawanya, mereka benar-benar tidak bisa menahannya. Haisa membuat mereka tergelak.“Bagus kan kalau panggilannya Sele?” tanya Haisa, ia menatap satu persatu semua orang yang mengelilingi meja makan itu.“Nama mama kan Selena, kok adiknya dipanggil Sele. Apa gak ada panggilan lain?” tanya Miska lembut.Haisa menggeleng. “Gak ada, itu sudah yang pa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status