Share

04 Rahasia Rasa

Author: Ahgisa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-20 14:06:20

Khalif memasang wajah datar menyeramkan sepanjang langkahnya menuju ke ruangan kerjanya. 

Baru saja ia membuka pintu ruangannya, Khalif langsung berdecak dan menghela nafas panjang.

Ruangan itu terlihat sunyi dan Luas. Tidak menyenangkan.

Khalif membuka laptopnya. Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan memfokuskan diri pada laporan ekspor kuartal ini. Namun, usahanya gagal total.

Ia membaca halaman pertama, lalu bayangan Kenneth yang membukakan pintu mobil melintas.

Ia membaca halaman kedua, lalu ingatan tentang tawa lepas Sera bersama pria lain mengusik konsentrasinya.

Ia mencoba membaca halaman ketiga, dan visual mereka berdua pergi bersama membuat fokusnya buyar sepenuhnya.

"Demi Tuhan, Sera! Kenapa kamu terus mengganggu!"

Khalif menutup laptopnya dengan hentakan kasar.

Ia mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.

Kenapa ia harus sepeduli ini? Bukankah itu urusan pribadi Sera? Bukankah Kenneth juga salah satu supervisor berprestasi yang baik? Bukankah—

Tok! Tok! Tok!

Pintu ruangannya terbuka tanpa sempat ia memberi izin. Hanya ada satu orang di dunia ini yang memiliki keberanian serta kelancangan sebesar itu di kantor ini.

Seana Sadjiwa Djayanagara. Adik kandung Khalif.

"Selamat sore, Kakakku tersayang," sapa Seana dengan nada riang.

"Keluar," sahut Khalif dingin tanpa menoleh.

"Nggak mau, ih. Apa sih? Kok marah-marah."

Seana dengan santai berjalan memutari meja kerja kakaknya, lalu menjatuhkan diri di sofa kulit yang empuk.

Penuh selidik, ia menatap wajah kakaknya. "Kakak... habis lihat Sera pulang bareng Pak Kenneth, ya?"

Khalif langsung mengalihkan pandangannya, menatap Seana tajam.

Seana seketika tertawa lepas melihat reaksi itu. "Ya ampun, beneran, Kak?!"

"Kamu ngapain ke sini?" tanya Khalif dengan suara rendah yang mengancam.

"Mau ganggu, Kakak! Mumpung kerjaanku udah selesai." Seana pun terkekeh geli melihat wajah masam Kakaknya itu. 

"Berhasil. Sekarang keluar, Seana."

“Gak mau lah. Aku mau mengamati dan menikmati wajah cemburu buta ala bapak Khalif yang ditakuti seantero kantor ini.”

“Siapa yang cemburu?”

“Kakaklah,” ucap Seana sambil menaik turunkan alisnya.

“Nggak,” jawab Khalif tegas.

"Masa, sih? Beneran? Eh, Kak, mau aku kasih saran gak, buat mendekati wanita secantik Sera?"

Seana benar-benar kebal terhadap segala bentuk intimidasi kakaknya. Ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih serius, lalu menopang dagu.

Khalif memilih diam, mengabaikannya.

"Yakin gak mau? Ini udah tahun ke lima loh, Kak. Kakak mau gini-gini aja? Mau di tikung? Cara kakak ini rasanya gak kreatif lho. AYo maju, jangan malu-malu…. Ayo maju, jangan malu-malu," lanjut Seana dengan berdendang yang kentara sangat usil.

Khalif tetap membisu, memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. Khalif mengalihkan perhatiannya kembali ke laptop yang sudah tertutup.

"Gak usah ikut campur, Seana."

"Ish, gak seru! Kakak beneran gak mau aku kasih tips? Yakin gak nyesel kalau terlambat, Kak. Di keluarga kita, siapa yang gak tau kalau Sera beneran berarti buat Kakak? Demi Papa dan Mama yang udah pengen banget punya cucu, aku bisa kok comblangin Kakak sama Sera yang tidak tahu dikagumi dari jauh itu."

Khalif berdehem berat, merasa sangat kesal karena isi pikirannya ditelanjangi begitu saja. "Kamu terlalu banyak memiliki waktu luang, Seana. Cari kesibukan yang berguna."

"Aku begini karena prihatin sama kamu, Kak." 

Suasana ruangan seketika menjadi sunyi senyap selama beberapa detik.

Keheningan itu justru membuat Seana semakin gencar menggoda.

"Kamu tau apa yang paling lucu dari semua ini, Kak?" tanya Seana lagi, nadanya berubah sedikit bersimpati.

"Sera... sama sekali nggak ingat siapa kamu. Sementara kamu bingung nutupin perasaan kamu, nyatanya yang kamu tunjukkan perhatian gak pernah sadar kalau kamunya ada rasa. Ngenes banget, Kak. Intinya jangan kelamaan ya, Kak. nanti kalau keduluan orang lain, galaunya pasti nyeremin.” ucap Seana yang kemudian segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar begitu saja.

Sementara itu, Kalimat Seana barusan sukses membuat rahang Khalif mengeras seketika. Seana tahu betul gertakannya telah tepat mengenai sasaran paling sensitif di hati kakaknya.

***

Lima tahun yang lalu.

Sebelum PT Gemah Svarga menjelma menjadi raksasa bisnis seperti sekarang.

Sebelum Khalif Bumi Djayanagara duduk di kursi Direktur Utama.

Juga sebelum semua orang mengenalnya sebagai pria dingin yang tatapannya saja mampu membuat satu ruangan mendadak sunyi.

Sore itu, Jakarta diguyur hujan deras.

Sebuah kecelakaan beruntun terjadi di tengah padatnya jalan raya. Mobil yang dikendarai Khalif dihantam keras dari samping hingga tubuhnya terhempas dan terjebak di balik kemudi.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.

Rasanya dingin dan bau anyir darah menusuk hidungnya. Suara riuh jelas terdengar, namun tak ada satupun yang berada di dekatnya.

Dia ingin berteriak tolong, tapi tak ada satu suara pun mampu keluar dari bibirnya.

Matanya yang samar menangkap bayangan orang-orang hanya berdiri di kejauhan.

Beberapa mengeluarkan ponsel, merekam kejadian yang bahkan belum selesai. Sebagian lainnya memilih berjalan pergi, berlindung di balik payung masing-masing.

Sampai seorang gadis berlari menerobos hujan.

Tanpa payung. Tanpa mengenal siapa dirinya. Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri.

Gadis itu berusaha membuka pintu mobil yang ringsek dengan deraian air mata dan menangis tergugu. “Bapaak… Bapak… bertahan ya…”

Gadis itu lalu melepas jaket tebalnya untuk menutupi tubuh Khalif yang berlumuran darah.

Tangannya gemetar saat menghubungi ambulans, tetapi genggamannya tak pernah lepas dari tangan Khalif.

“Jangan tidur… ba– bapak jangan tidur… sebentar lagi ambulansnya datang….”

Suara gadis itu bergetar.

Entah air mata atau air hujan, rasanya hangat mengalir di tangannya dari wajah gadis muda itu.

Dia terus saja menyebut bapak, tanpa tahu, bahwa pria muda yang terlibat kecelakaan itu adalah pria yang belum genap dua puluh tujuh tahun.

Mungkin karena sudah bersimbah darah dan lebam di sana sini, wajah Khalif sudah tidak tau seperti apa wujudnya.  

Khalif membiarkan saja gadis muda itu menangis tersedu.

Suara berisik gadis itu, anehnya menenangkan dirinya yang juga sebenarnya takut dan kesakitan.

Tangan kecilnya pun tetap menggenggam tangannya, seolah takut jika dilepaskan, nyawanya akan ikut pergi.

Khalif setia memandangi wajah gadis muda itu untuk mematri dalam ingatannya untuk berterima kasih suatu saat nanti.

Saat ambulans tiba, gadis itu menghilang di tengah kerumunan.

Khalif bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.

Namun sebelum kesadarannya benar-benar lenyap, matanya menangkap sebuah nama pada tas kuliah yang tertinggal di dekat dasbor.

Seraphina. Nama itu seharusnya berhenti menjadi kenangan.

Saat ia tak bisa menemukan jejaknya. Tapi ternyata tidak.

Lima tahun berlalu, dan nama itu masih tinggal di sudut pikirannya yang paling dalam. Hingga suatu hari, sebuah CV membuat tangannya berhenti membalik berkas.

Seraphina Estella Y.

Khalif menatap foto kecil di sudutnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sudut bibir Khalif terangkat.

“Seraphina…” bisiknya. Matanya tak beralih dari foto itu. “Akhirnya… aku menemukanmu, Seraphina."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bos, Kau Menjebakku?   14. Bos Kurang Ajar

    Khalif akhirnya mengangkat kepala ketika Sera tetap saja mengomel tanpa mengurangi volume suaranya sedikit pun. Tatapan matanya yang datar dan sedingin es khas seorang direktur utama menatap Sera tanpa riak. "Berisik, Sera. Ini masih terlalu pagi untuk berteriak.""Berisik?! Ya saya harus berisik, Pak. Kenapa saya ada di sini? Ini bukan kamar saya! Ini…” Sera mengamati seluruh ruangan itu. Ini sama dengan tipe kamarnya, tapi tentu saja bukan, karena tidak ada barang berantakan di sana-sini khas kamar hotelnya."Ini kamar saya," ucap Khalif tenang.Sera kini sudah menatap atasannya dengan tatapan permusuhan. “Bapak kasih apa ke saya?! Kenapa saya bisa gak sadar dibawa ke sini? Bapak ngapain saya?!” tanya Sera dengan mata yang sudah berkaca-kaca dengan keadaan marah, malu, dan semua perasaan tidak enak yang bercokol dalam dadanya.Khalif kini sudah berdiri dan hendak mendekat.“Stop! Bapak mau apa?!”“Jadi kamu ingin berlagak menjadi korban sekarang, Sera? Kamu—”Tepat saat itu, ing

  • Bos, Kau Menjebakku?   13 Tanpa Pengaman

    Tidak ada satu katapun yang masuk ke dalam otak Sera.Sekalipun atasannya itu akan mengamuk, Sera justru mendongak menantang si pemilik wajah tampan dengan suara bariton yang entah mengapa terdengar seksi di telinganya.Matanya yang sayu menatap Khalif dengan pandangan merajuk sebelum kembali berjinjit, memburu bibir Khalif untuk melanjutkan penyatuan yang sempat terputus. Hisapan Sera yang polos namun berani itu benar-benar membuat Khalif kehilangan sisa-sisa kesabarannya."Persetan," umpat Khalif rendah.Ia tidak tahu dan tidak punya waktu untuk mencari kartu akses kamarnya sendiri. Tanpa membuang waktu, Khalif merogoh sakunya, mengeluarkan kartu akses kamarnya sendiri, lalu menempelkannya ke panel pintu kamar nomornya dengan kasar.Klik.Khalif mendorong pintu itu dengan sebelah kaki, lalu menyergap tubuh Sera masuk ke dalam. Pintu hotel menutup otomatis di belakang mereka dengan bunyi dentuman yang cukup keras, mengunci keduanya dalam privasi kamar suite yang remang-remang.Begi

  • Bos, Kau Menjebakku?   12 Aku Tidak Tahan, Sera!

    Cairan di dalam gelas itu terlihat sangat mirip dengan jus jeruk segar. Bahkan aromanya pun didominasi oleh wangi sitrus yang kuat. Sera, dengan kepolosan, mengira benda itu adalah jus jeruk murni seperti biasanya.Dalam waktu kurang dari satu menit, cairan oranye itu telah berpindah seluruhnya ke dalam perut Sera. Habis tak bersisa hingga tetes terakhir.Dua menit kemudian, Khalif kembali dari urusannya. Langkah kakinya seketika terkunci begitu melihat gelas di tangan Sera sudah kosong melompong."Mana minumanmu yang tadi?" tanya Khalif dengan kening berkerut."Sudah habis, Pak. Segar sekali," jawab Sera sambil mengulas senyum lebar."Habis?" Khalif merebut gelas kosong dari tangan Sera, mendekatkannya ke hidung, lalu menghirup aromanya sejenak. Detik itu juga, Khalif memejamkan matanya rapat-rapat, mengembuskan napas perlahan demi menekan gejolak panik.Sebab, itu bukan jus jeruk biasa. Sama sekali bukan."Sera, itu cocktail.""Oh... jus jeruk premium, ya, Pak?""Ada kandungan al

  • Bos, Kau Menjebakku?   11 Partner Satu Malam

    Jika ada satu hal yang paling disesali Seraphina Estella Yasa malam itu, maka itu adalah keputusannya menyetujui seluruh rencana gila Khalif.Mulai dari gaun belasan juta, sepatu hak tinggi yang tingginya tidak masuk akal, aksesoris berkilau, hingga kehadiran seorang make-up artist profesional yang entah berapa tarif per jamnya.Saat ini, ia sedang duduk tegak di depan cermin besar suite room hotel. Jemari lentik sang penata rias terkenal di Bali itu sibuk memberikan sentuhan akhir pada wajahnya."Kakak asli cantik banget, lho. Struktur wajahnya proporsional," puji sang MUA tulus.Sera hanya bisa tertawa canggung, merasa salah kostum. "Kayaknya Mbaknya salah orang, deh. Aslinya saya cuma remahan rengginang. Sehari-hari cuma pakai bedak tabur bayi."MUA itu malah tertawa renyah. "Nah, itu dia masalahnya. Kakak terlalu cuek, padahal aset visualnya luar biasa."Satu jam kemudian, pintu penghubung suite room terbuka perlahan. Khalif, yang sedang fokus membaca pesan bisnis di ponselnya, ot

  • Bos, Kau Menjebakku?   10 Dompetku yang Menjerit

    Semakin ia memikirkannya, semakin situasi ini terasa tidak masuk akal. Jika tujuannya adalah menghadiri forum bisnis berskala besar seperti ini, orang yang paling berkompeten dan cocok untuk diajak tentu saja adalah manajer dari divisi Marketing, kepala bagian Logistik, tim Procurement, atau setidaknya staf ahli Ekspor-Impor. Bukan dirinya.Sera bahkan nyaris tidak mengerti separuh dari istilah-istilah teknis yang digelorakan oleh para pembicara di atas podium sejak pagi tadi.Sera tetap mencatat istilah-istilah asing itu dengan patuh. Namun, setiap kali ia membaca ulang catatannya, keningnya justru semakin berkerut dalam. Ia tetap tidak mengerti satu pun apa maksudnya.‘Ah, sial. Aku pasti dijebak!’Meskipun begitu, seiring waktu yang merambat semakin siang, ada satu hal lain yang jauh lebih menyita perhatian Sera dan membuatnya sesekali menganga tak percaya.Sosok Khalif Bumi Djayanagara. Atau lebih tepatnya, versi Khalif yang belum pernah dan tidak akan pernah ia temui di lingkunga

  • Bos, Kau Menjebakku?   09 Salah Server

    Sepasang mata Sera mulai berkaca-kaca menahan haru. Selama bertahun-tahun ini, sejak kecelakaan maut yang merenggut seluruh anggota keluarganya, baru kali inilah ia merasa benar-benar bisa pergi jauh dan menikmati hidup dengan layak.Meskipun, status perjalanannya saat ini hanyalah sebatas perjalanan dinas kantor.Tepat pukul sembilan malam, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Khalif masuk.Khalif: Istirahat.Sera dengan cepat mengetik balasan.Sera: Siap, Pak.Beberapa detik kemudian, ponselnya kembali bergetar. Balasan dari sang bos datang hampir instan.Khalif: Besok kegiatan forum dimulai tepat pukul 08.00. Jangan terlambat.Sera tersenyum tipis di depan layar ponselnya, lalu dengan percaya diri mengetik kalimat balasan.Sera: Baik, Pak.Sera mendengus pelan sambil melempar ponselnya ke atas kasur. Tetap saja, pria itu selalu punya cara untuk terdengar menyebalkan di akhir kalimat.Satu jam berlalu, namun Sera masih belum bisa memejamkan matanya. Ia terlalu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status