Home / Romansa / Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku! / 35 - Bangkitnya Raja yang Dikhianati

Share

35 - Bangkitnya Raja yang Dikhianati

Author: Ivy Morfeus
last update publish date: 2026-09-18 14:37:06

“Sudah lama saya nggak lihat cepol rambutmu itu.”

Alea refleks menyentuh rambutnya.

“Terakhir kali waktu kamu menyatakan cinta sama saya.” Andra tertawa kecil.

Alea langsung menyedot habis Iced Caramel Macchiato di tangannya. Setelah itu ia terbatuk-batuk.

“Pelan-pelan saja, Alea. Jam istirahat masih lama.” jawab Andra sambil mengulum senyum. Tangannya terulur ke belakang punggung Alea. Hendak mengusapnya.

Tapi Alea sedikit menghindar. “Pak, kita sedang di kantor. Jangan bicara sembarangan. Bag
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   116 — Kelingking Rahasia Kita

    “Iya. Saya kan sudah pernah ke sana, Pak.”Alea berdecak, sebelum mulai mengeratkan genggamannya pada pegangan kereta obat yang didorongnya.Lorong rumah sakit terasa begitu panjang. Suara roda kereta yang beradu dengan lantai terdengar semakin jelas di telinganya. Setiap kali berpapasan dengan seseorang, Alea berusaha menjaga wajahnya tetap tenang.‘Jangan terlihat gugup.’Dan yang paling penting, jangan sampai ada yang mengenalinya. Ia bahkan menggunakan kacamata untuk penyamaran ini.Akhirnya, ia berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan VVIP 03.Alea melirik kamera CCTV yang terpasang di sudut lorong. Kemudian, ia mengetuk pintu dengan gerakan mantap, seolah benar-benar sedang menjalankan tugas rutinnya.Ia memberi jeda beberapa detik sebelum membuka pintu perlahan.“Permisi. Mau cek suhu dulu, ya.”Alea sendiri tidak tahu apakah kalimat itu terdengar meyakinkan. Namun, ia hanya ingin membuat penyamarannya terlihat alami.Ia segera masuk dan menutup pintu di belakangnya.Setelah

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   115 — Operasi Rahasia

    Andra benar-benar menepati janjinya. Begitu pintu lift dari apartemen Alea terbuka, pria itu sudah berdiri di hadapannya.“Sudah siap?”Alea hanya memiringkan kepala. Matanya tak bisa lepas dari pria itu. Andra memukau seperti biasanya: setelan jas mahal, rambutnya yang rapi, senyumnya… hanya saja kali ini sorot matanya terlihat gelisah.“Sebenarnya ada apa?” Alea melangkah keluar lift. “Kenapa Bapak nggak membalas chat saya semalam?”Andra tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan lebih dulu menuju parkir dan membukakan pintu mobil untuknya.“Lebih baik dibicarakan saat bertemu, kan?”Alea menatapnya beberapa detik. Namun, karena Andra tampaknya tidak berniat segera memberikan penjelasan, ia akhirnya masuk ke kursi penumpang depan.Selama beberapa menit, Alea terus menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi, sebelum akhirnya Andra masuk ke mobil. Wajah pria itu tampak lebih tegang daripada biasanya.Mesin mobil menyala.“Apa ini soal Darrel?” Tapi Alea mulai tak sabar.Andra mengang

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   114 — Pisau Bermata Dua

    “Kenapa? Takut?”Alea sedikit menggodanya saat melihat Noah menghela napasnya begitu Andra keluar dari ruangan.“Sedikit.”Jawaban jujur itu membuat Alea mengangkat alis.Noah menyandarkan punggung ke kursi. “Aku memang ingin ikut Writing Camp. Tapi setelah mendengar penjelasan Pak Kala, aku baru benar-benar sadar kalau aku mungkin sudah meremehkan beban kerjanya.”Alea menutup laptopnya sebentar.“Kalau begitu, jangan hanya memikirkan bagaimana caranya agar kamu terpilih. Pikirkan juga bagaimana caranya agar kamu bisa menyelesaikan program itu dengan baik.”“Tapi kak,” Noah menatapnya. “Aku rasa Pak Kala seperti curiga aku ikut Writing Camp ini karena mau mendekati Kak Alea.”Alea memutar matanya. “Emang kamu dengar dia bilang seperti itu?”“Ya, enggak, sih.”“Ya udah, nggak perlu mikir hal yang nggak penting. Aku tunggu outline 200 bab dari kamu besok.”Noah kembali duduk tegak.“Siap, kak. Berarti aku besok ke Story—”“Via email saja, Noah,” sela Alea. “Sekarang kita sudahi ya hari

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   113 — Kecemburuan Tersembunyi

    Alea membaca ulang premis yang terpampang di layar laptop Noah di ruang rapat. Sesekali, ia menggerakkan kursor untuk menandai bagian yang perlu diperbaiki.Noah duduk di seberangnya dengan dagu bertumpu pada telapak tangan. Sejak tadi, pemuda itu memperhatikan Alea lebih sering daripada layar laptopnya sendiri.“Kamu mau ikut Writing Camp atau mau menontonku bekerja?” tanya Alea tanpa mengalihkan pandangan.“Memangnya nggak boleh melakukan keduanya?”“Kalau kamu terus menatapku seperti itu, kita bisa menghabiskan waktu seharian tanpa menghasilkan apa-apa.”Noah terkekeh. “Baiklah, Kak Editor. Aku akan serius.”Alea akhirnya mengangkat wajah. “Bagus. Sekarang, baca bagian yang kutandai.”Noah menarik laptopnya, lalu mulai membaca komentar yang ditinggalkan Alea. Senyum di wajahnya perlahan menghilang ketika ia sampai pada catatan tentang konflik utama cerita.“Konflik utamanya kurang kuat?” Ia menatap Alea. “Padahal, menurutku bagian itu yang paling menarik.”“Idenya menarik. Tapi mas

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   112 — Permainan Dimulai

    “Gawat.”Alea turun dari mobil Noah dengan gugup. Beberapa orang di area parkir menoleh ke arah mereka, lalu memandang kagum pada mobil sport berwarna merah muda yang terparkir di belakangnya. Sementara itu, beberapa karyawan yang berdiri di teras kantor terlihat berbisik-bisik. Bahkan, ada yang terang-terangan menunjuk ke arah mereka.Alea bisa menebak apa yang sedang mereka bicarakan.“Cukup untuk membalik keadaan, kan?” bisik Noah sambil berjalan sejajar dengannya.“Jangan melakukan hal konyol apa pun. Kamu sadar, kan, ini sama saja dengan mengganti satu rumor dengan rumor lainnya?” balas Alea dengan suara tertahan.Noah mengedikkan bahu. “Lebih baik namaku yang disebut daripada masa lalu Kak Alea.”Alea langsung meliriknya tajam.“Kita sudah sepakat, Noah. Kamu harus merahasiakan masa laluku dengan Pak Andra. Mengerti?”Noah mengangguk, meski ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya rela. Senyum puas tetap menghiasi wajahnya. Sepertinya, ia sangat menikmati ekspresi panik

  • Bos Menyebalkan Itu Cinta Pertamaku!   111 — Aku Mendengar Semuanya Malam Itu

    “Kata siapa aku menyukai Pak Andra?”“Kelihatan aja, Kak,” jawab Noah santai.Alea mendengus. Ia mengambil alat pengeriting rambut dari tangan Noah, lalu mulai menata beberapa bagian rambutnya sendiri.“Sepertinya kamu harus mulai menggunakan kacamata.”“Hm? Biar apa? Biar seperti Pak Kala?”Tangan Alea terhenti di udara.Ia menoleh, menatap Noah dengan mata menyipit tajam. Namun, pemuda itu justru tertawa, sama sekali tidak terlihat gentar menghadapi tatapan tersebut.“Baiklah, baiklah.” Noah mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. “Nggak boleh bercanda soal Pak Kala.”Alea kembali menghadap cermin dan melanjutkan pekerjaannya.Noah kemudian duduk di tepi ranjang, memperhatikan Alea yang sibuk merapikan rambutnya.“Terus, kenapa Kak Alea mau berangkat sama aku nanti?”Alea meliriknya melalui cermin.“Katanya kamu mau membicarakan soal Writing Camp. Lagipula, kamu sudah telanjur datang ke sini.”“Bukan karena ingin menyamarkan perasaan Kakak kepada Pak Kala?”Alea kembali m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status