FAZER LOGINHari ini weekend. Seperti yang kami rencanakan semalam, aku dan Sera berencana pergi ke mal untuk cuci mata. Walaupun belum gajian, tetapi hasrat untuk jalan-jalan ke mal sambil melihat-lihat produk keluaran terbaru sudah memuncak. Apalagi informasi dari Sera, katanya akan ada promo brand make up kesukaanku. Aku tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan ajakannya. Maklum, wanita. Kalau weekend dan bingung mau pergi kemana, sudah pasti tujuan akhirnya adalah mal. Ditambah ada promo. Kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali. Maka dari itu, aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Aku sudah siap sejak jam sepuluh lalu, tetapi seperti yang sudah kuduga, tuan putri Sera baru bangun ketika aku sampai di apartemennya. Alhasil, aku harus lebih dulu membangunkannya seperti seorang ibu yang membangunkan anaknya untuk pergi ke sekolah.
Asal kalian tahu. Membangunkan Sera itu tidak gampang. Butuh effort lebih dari bekerja dua belas jam hanya untuk membangunkannya. Kalau kataku, Sera itu seperti tidur mati. Setelah matanya terpejam, dia akan terlelap seakan hidup abadi di alam mimpi. Bahkan kalau terjadi gempa atau bencana alam lainnya, mungkin saja Sera tidak akan bangun saking lelapnya.
“Lo kemarin janji, kita berangkat jam sepuluh. Sekarang udah jam setengah sebelas dan lo masih mau tidur? Bangun Ser!” Aku mengguncang tubuhnya berkali-kali, membuat Sera menggeliat.
“Lima menit lagi, Nggun. Lima menit.”
“Gak! Gak ada lima menit, lima menitan. Lo bangun sekarang atau gue ambil air dari kamar mandi, nih.” Mendengar ancamanku yang terdengar tidak main-main membuat Sera buru-buru bangkit.
“Gue tuh, baru ganti seprei semalem. Enak aja mau lo siram!” sewotnya.
“Bodo amat. Gue gak peduli!”
“Jahat lo.” Sera akhirnya bangkit dan duduk di kasur sambil mengucek matanya. “Ya udah gue mau mandi dulu.”
“Cepetan!”
“Bawel!”
Aku memutuskan untuk menunggu Sera yang sedang mandi sambil menonton televisi. Butuh waktu lama hingga Sera siap mandi dan merias diri. Tau kalau aku akan marah padanya, perempuan itu segera merangkulku untuk keluar dari apartemen.
“Hari ini gue yang traktir makan, deh. Udah, gak usah manyun gitu bibirnya.” Sera ini tau saja apa yang menjadi kelemahanku. Barang gratisan. Makanya setelah mendengar kata traktir keluar dari mulutnya, aku langsung tersenyum sumringah.
“Dasar matre lo! Giliran ditraktir aja langsung naik bibir lo, senyam-senyum.”
“Salah siapa bikin gue nunggu lama.”
“Salah sendiri semalem ngajak gue nonton drakor sampe jam dua. Wajar lah, gue bangun siang.”
Aku melotot mendengarnya menuduhku. “Helow? Siapa yang semalem ngerengek minta gue jangan pulang dulu? Duh, dasar mulutnya ini minta gue tarik, ya.” Sera hanya tertawa-tawa mendengar ucapanku.
Kami sampai di parkiran basemen mal setengah jam kemudian, mengendarai mobilku. Aku dan Sera langsung naik ke lantai dua begitu keluar dari basemen. Tanpa ba-bi-bu, satu-satunya tempat yang ingin aku datangi sekarang hanyalah toko brand make up kesukaanku yang saat ini sedang mengadakan promo. Namun, sayangnya kami terlambat, karena promo yang dikatakan Sera sudah habis sejak sejam yang lalu karena terbatas. Aku tidak bisa untuk tidak marah pada Sera. Kalau saja kami berangkat lebih awal pasti aku masih bisa mendapatkannya.
“Duh, bukan salah gue dong, kalo promonya udah abis. Salahin aja tuh, orang-orang yang pada beli, kenapa pada borong, jadi cepet abis, kan.”
“Eh, ege, kalo lo udah siap waktu gue dateng ke apartemen, kita gak bakalan dateng telat dan gue masih bisa dapet promonya.” Aku menoyor kepala Sera. Bisa-bisanya dia malah menyalahkan pembeli, dibanding sadar diri akan kesalahannya dan mengakuinnya.
Sera hanya menyengir mendengar ucapanku. “Ya udah, kita makan aja yok, gue traktir mumpung lagi baik hati.”
“Mata lo baik hati. Ini tuh emang kewajiban lo buat nebus dosa-dosa lo sama gue!”
Kami memutuskan makan sushi di restoran jepang yang ada di mal tersebut. Saat itu keadaan restoran sedang ramai-ramainya. Bahkan meja yang kami tempati adalah meja terakhir yang kosong. Efek weekend mungkin, makanya pengunjung restoran lebih ramai dari hari-hari biasanya. Ditambah saat ini memang sedang jamnya makan siang. Tidak heran kalau restoran di mal akan seramai ini.
“Gue mau ke toilet dulu, deh. Jagain tas gue, nih, Nggun.” Sera pamit pergi ke kamar mandi, membuatku harus duduk sendirian menunggunya. Aku memutuskan untuk memilih-milih menu sembari menunggu Sera kembali dari kamar mandi.
Ketika sedang asyik berkutat dengan buku menu di depanku, bahuku tiba-tiba ditepuk dari belakang. Seorang wanita yang umurnya berkisar lima puluh tahunan ke atas yang kuyakini sebagai pelaku yang menepuk bahuku berdiri sambil tersenyum menatapku, yang kubalas dengan senyuman kaku.
“Permisi, ini kursinya ada yang nempatin, gak, ya? Kebetulan saya lagi nyari kursi kosong buat duduk.”
“Oh, maaf, Ibu, kebetulan ini kursi teman saya. Dia lagi ke toilet sekarang.”
“Oh, gitu. Ya sudah kalau begitu. Makasih, ya, Nak.” Ibu itu tersenyum yang kubalas dengan senyuman juga.
“Kita pindah restoran aja deh, Ma.” Aku mendengar suara yang tidak asing terdengar di belakangku. Rasa penasaran yang memenuhi hatiku membuatku menolehkan kepala.
Dan … DUARRR.
Aku mendapati bosku – Pak Mahesa – bersama perempuan yang tadi meminta kursi padaku sedang berdiri sambi berbincang.
“Anggun?”
“Pak Mahesa?” Kami sama-sama terkejut dengan kebetulan yang terjadi. Apalagi aku.
Coba kalian bayangkan. Dari Senin sampai Jumat, aku sudah muak melihatnya hampir lebih dari dua belas jam. Dan kini, saat weekend, hari di mana seharusnya aku bisa absen melihat wajahnya, kenapa semesta seolah tidak rela membuat diriku bernapas sejenak dari tekanannya, hingga aku harus melihat wajahnya lagi? Apakah dunia memang sesempit itu?
“Kamu kenal dia, Sa?” Ibu itu yang kutebak adalah ibu dari Pak Mahesa bertanya.
“Ah, iya, Ma, dia karyawan aku di kantor. Namanya Anggun.”
“Anggun?” Ibu itu terlihat terkejut mendengar namaku disebut. Entah apa alasannya. Aku hanya bisa tersenyum dan berinisiatif mendekati ibu pak Mahesa dan menyalaminya sebagai bentuk rasa hormat.
“Kalau gitu kita gabung di meja kamu aja gimana, Nggun? Nanti saya minta tambahan kursi ke pelayan. Kamu gak keberatan, kan?” Itu terdengar seperti bukan pertanyaan, tetapi lebih ke sebuah perintah yang mau tidak mau harus aku terima. Yang kulakukan selanjutnya tentu saja mengangguk mengiyakan permintaannya.
“Iya, Pak. Boleh kok,” jawabku pasrah.
“Bener gak apa-apa, Nak Anggun? Nanti kami malah ganggu waktu kamu sama temen kamu.” Ibu Pak Mahesa terlihat tidak enak dengan permintaan putranya.
“Anggun gak apa-apa kok, Ma. Lagian, kan, meja mereka juga masih muat kalo kita berdua gabung. Iya gak, Nggun?”
GAK, PAK! BAPAK ITU MENGGANGGU BANGET! Ingin sekali aku berteriak seperti itu di depannya. Namun, apalah dayaku yang hanya bisa tersenyum dan mengangguk. “Iya, Bu. Gak apa-apa kok. Lagian mejanya masih muat buat kita berempat.” Aku bisa melihat Pak Mahesa tersenyum senang mendengar jawabanku. PUAS BAPAK SEKARANG?!
“Makasih banyak, ya, nanti biar kami yang bayarin bill kalian sebagai ucapan terima kasih.”
Aku menggeleng mendengar niat baik dari ibu Pak Mahesa. “Gak usah, Ibu. Ini gak seberapa, kok.”
“Gak apa-apa. Ibu juga pengin berbuat baik, jadi tolong terima, ya, Nak.” Aku yang tidak bisa menolak akhirnya hanya bisa menerima.
Setelahnya, Pak Mahesa meminta tambahan kursi kepada pelayan restoran kemudian memesan makan bersama ibunya setelah diberikan kursi.
Sera datang dengan raut keheranan ketika melihat dua wajah asing yang menempati salah satu tempat duduk di meja kami. Aku segera mengenalkan Pak Mahesa dan juga ibunya pada Sera agar sahabatku itu tidak merasa kebingungan.
“Itu Bos lo?” Sera menyenggolku yang sedang asyik menikmati sushi.
“Hmmm,” jawabku tak minat.
“Bos lo yang Mahesa itu, kan? Mantan lo dulu?” Kini gantian aku yang menyenggol Sera supaya mengontrol bicaranya. Jangan sampai Pak Mahesa mendengar percakapan kami. Kalau itu terjadi aku pasti akan dicap sebagai orang yang suka membicarakan orang lain di belakang, walaupun spesies manusia seperti bosku ini layak untuk dijadikan bahan gosip.
“Lo ngomongnya jangan kenceng-kenceng. Nanti kalo dia denger gimana?” bisikku pada Sera.
“Gila, ganteng banget, Nggun! Lo kok gak bilang kalau Mahesa bakal berubah seganteng ini? Kalau kerja ditemenin cowok seganteng dia, gue mah, betah-betah aja, Nggun.”
“Sssttt. Lo bisa diem gak, sih?” Aku kini tak segan-segan mencubit lengannya, membuat Sera kesakitan dan memilih diam.
“Sakit bego!” umpatnya sambil meringis kesakitan.
“Makanya diem bego!” bisikku kepadanya.
***
Seumur hidup, aku tak pernah membayangkan melihat sosok bosku duduk di sofa rumahku sebagai tamu. Apalagi asyik duduk mengobrol sambil minum teh berdua dengan Bunda. Ah, jangan lupakan Ayahku yang awalnya sedang asyik menonton televisi sambil memakan opor ayam buatan Bunda tiba-tiba ikut bergabung ke dalam percakapan. Aku jadi merasa seperti orang asing di antara mereka. Seakan di depanku sekarang, aku sedang ditampilkan potret keluarga bahagia yang tidak bertemu bertahun-tahun lamanya."Tante, opornya enak banget." Pak Mahesa memuji opor buatan Bunda. "Syukurlah kalau Pak Mahesa suka." "Aduh, Tan, jangan panggil saya Pak. Panggil Mahesa aja. Saya ngerasa tua jadinya." "Tante gak enak, masa manggil bosnya Anggun pake nama doang." "Di kantor saya memang bosnya Anggun, tapi di luar kantor, saya juga cuma pekerja kantoran kayak Anggun. Jadi, panggil Mahesa aja, Tan." "Ya udah kalau gitu. Semoga di kantor, Anggun gak ngerepotin Nak Mahesa, ya." Aku yang merasa dipanggil jadi m
Minggu ini aku menepati ucapanku pada Bunda untuk pulang ke Bogor di akhir pekan. Jum'at sore sehabis pulang dari kantor, aku menyetir sendirian menggunakkan mobilku membelah jalanan kota Jakarta menuju Bogor. Melawan kemacetan dan segala keramaian ibu kota yang membuatku kepalaku pening. Akibatnya, sesampainya di rumah aku langsung merebahkan tubuh ke kasur dan tidur hampir satu hari penuh."Anggun, bangun! Udah siang! Ayo sarapan dulu." Aku menggeliat ketika suara Bunda dari dapur menggema meneriakiku untuk bangun. Aku melirik jam yang ada di nakas samping tempat tidurku. Jarum pendeknya berada di tengah-tengah angka sepuluh dan sebelas, sementara jarum panjangnya berada di angka enam. Melihat hari yang mulai siang, aku memilih untuk bangun dan mengikuti ucapan Bunda untuk sarapan. Setelah menggosok gigi dan cuci muka, aku bergabung bersama Bunda yang masih sibuk memasak di dapur. Aku memilih untuk duduk di kursi makan dan menonton aksinya sambil memakan sandwich yang sudah tersed
“Ada yang mau ketemu sama lo, Nggun.” Aku yang masih merasakan pusing akibat lemparan bola voli yang mengenaiku ketika aku menonton pertandingan voli yang diadakan oleh himpunan jurusan, meringis sambil bertanya pada Rani – teman sekelasku yang saat ini menemaniku di klinik kampus.“Gue juga gak tau. Asing banget mukanya.”“Ya udah suruh masuk aja.” Lagian siapa sih, orang yang masih mencariku disaat aku masih dalam keadaan sekarat seperti ini. Bukannya berlebihan, tetapi keadaanku memang cukup parah walau hanya terkena lemparan bola voli. Dahiku berdarah dan tadi aku juga sempat terhuyung jatuh sampai pingsan karena tidak kuat menahan nyeri kepala yang terasa seperti dihantam palu Thor. Itulah kenapa aku sampai dibawa ke klinik kampus dan disuruh istirahat.Tiba-tiba seorang laki-laki datang bersama Rani masuk ke ruanganku. Laki-laki itu bertubuh jangkung, dengan setelan meja kotak-kotak berwarna navy dan menenteng paper bag ditangannya. Aku mengernyit, merasa asing dengan wajahnya. R
Pak Mahesa meninggalkanku dengan sebuah tanda tanya besar yang kini masih memenuhi isi kepalaku. Sementara, kepalaku dipenuhi tanda tanya besar tentang maksud dari ucapannya yang terdengar jahat, suara dari pengeras studio yang mengumumkan bahwa film yang akan kutonton sudah dibuka teaternya, membuat fokusku menjadi pecah. Suara dari dalam dan suara dari luar kepalaku seakan bertabrakan membuat sebuah gelombang-gelombang rumit yang membuat kepalaku semakin pusing.Daripada terjebak dengan suara-suara yang membuat kepalaku pening, aku memutuskan untuk mengikuti Pak Mahesa yang sudah lebih dulu masuk ke dalam studio dan meninggalkanku bersama dengan pertanyaan-pertanyaan yang sengaja tidak dijawabnya. Aku bertekad menanyakan hal itu padanya sepulang menonton bioskop, tetapi kenyataannya, Pak Mahesa berhasil menghindariku dan pulang lebih dahulu. Aku yang tidak bisa mencegahnya hanya diam sambil menatap punggungnya yang kian menjauhi bioskop. Aku bahkan hampir dibuat frustasi olehya kare
Sepertinya yang namanya karma itu memang benar nyata adanya. Aku berbohong kepada Sera dan Kak Rangga dengan alasan bahwa Pak Mahesa tiba-tiba memanggilku sehingga aku harus segera pergi untuk menemui bosku. Tak kusangka semesta mengabulkan kebohonganku. Dan di sinilah kini aku berada. Duduk berdua bersama bosku di kursi tunggu bioskop untuk menunggu film yang akan kami tonton bersama diputar. Kalian pasti terkejut, kan? Aku yang mengalami sendiri lebih terkejut. Saat perjalanan pulang dari restoran tempatku makan dengan Kak Rangga dan juga Sera, aku sengaja tidak langsung pulang ke apartemen dan berpikir untuk jalan-jalan sebentar. Entah dapat ide dari mana, mobil yang kukendarai berbelok ke arah mal. Awalnya, aku berniat untuk keliling mal saja untuk mengusir rasa bosan, tetapi ketika lewat di depan bioskop entah kenapa kakiku tiba-tiba berbelok masuk ke sana. Aku membeli popcorn dan es milo kemudian berjalan untuk mengantri tiket di loket. Tanpa kuketahui, bosku juga sedang menga
“Lo itu deket banget, ya, sama bos lo?” Setelah makan siang bersama di kantorku tadi siang, Kak Rangga lanjut menawariku untuk pulang bersama sekalian makan malam. Kali ini aku tidak menyia-nyaiakan kesempatan untuk mempertemukan Sera dan Kak Rangga, sehingga aku mengiyakan ajakan Kak Rangga untuk makan malam bersama. Tidak lupa, aku juga menghubungi Sera untuk menyusulku makan malam di restoran tempat tujuan aku dan Kak Rangga. Aku tahu kalau Sera akan menolak kalau aku bilang bahwa aku sedang makan malam berdua dengan Kak Rangga dan menyuruhnya untuk menyusul. Makanya aku berbohong padanya dan mengatakan bahwa aku makan malam sendirian dan butuh teman makan malam. Sehingga aku menyuruhnya untuk segera menyusul ke restoran tempat tujuanku dan Kak Rangga.“Gak juga, sih, Kak. Emangnya kenapa?” Aku menatap bingung ke arah Kak Rangga yang tiba-tiba membahas Pak Mahesa ditengah-tengah makan malam kami.“Gak apa-apa. Cuma nanya aja. Gue kok, ngeliatnya Bos lo itu agak ngebedain perilaku k







