LOGINApa yang kamu rasakan ketika bertemu lagi dengan mantan yang kamu campakkan lima tahun lalu? Anggun Prasesti memutuskan untuk resign dari kantor lamanya karena tidak kuat bertahan dengan lingkungan kantor yang toxic. Setelah enam bulan menganggur dan mengandalkan gaji terakhirnya untuk bertahan di ibu kota, akhirnya Anggun mendapat panggilan kerja dari salah satu perusahaan. Namun, ketika merasa dunianya baik-baik saja, Anggun dikhianati oleh semesta dan dipertemukan lagi dengan mantannya yang ternyata adalah bos barunya! Apakah Anggun bisa bertahan dengan keadaan sulit ini?
View MoreSeumur hidup, aku tak pernah membayangkan melihat sosok bosku duduk di sofa rumahku sebagai tamu. Apalagi asyik duduk mengobrol sambil minum teh berdua dengan Bunda. Ah, jangan lupakan Ayahku yang awalnya sedang asyik menonton televisi sambil memakan opor ayam buatan Bunda tiba-tiba ikut bergabung ke dalam percakapan. Aku jadi merasa seperti orang asing di antara mereka. Seakan di depanku sekarang, aku sedang ditampilkan potret keluarga bahagia yang tidak bertemu bertahun-tahun lamanya."Tante, opornya enak banget." Pak Mahesa memuji opor buatan Bunda. "Syukurlah kalau Pak Mahesa suka." "Aduh, Tan, jangan panggil saya Pak. Panggil Mahesa aja. Saya ngerasa tua jadinya." "Tante gak enak, masa manggil bosnya Anggun pake nama doang." "Di kantor saya memang bosnya Anggun, tapi di luar kantor, saya juga cuma pekerja kantoran kayak Anggun. Jadi, panggil Mahesa aja, Tan." "Ya udah kalau gitu. Semoga di kantor, Anggun gak ngerepotin Nak Mahesa, ya." Aku yang merasa dipanggil jadi m
Minggu ini aku menepati ucapanku pada Bunda untuk pulang ke Bogor di akhir pekan. Jum'at sore sehabis pulang dari kantor, aku menyetir sendirian menggunakkan mobilku membelah jalanan kota Jakarta menuju Bogor. Melawan kemacetan dan segala keramaian ibu kota yang membuatku kepalaku pening. Akibatnya, sesampainya di rumah aku langsung merebahkan tubuh ke kasur dan tidur hampir satu hari penuh."Anggun, bangun! Udah siang! Ayo sarapan dulu." Aku menggeliat ketika suara Bunda dari dapur menggema meneriakiku untuk bangun. Aku melirik jam yang ada di nakas samping tempat tidurku. Jarum pendeknya berada di tengah-tengah angka sepuluh dan sebelas, sementara jarum panjangnya berada di angka enam. Melihat hari yang mulai siang, aku memilih untuk bangun dan mengikuti ucapan Bunda untuk sarapan. Setelah menggosok gigi dan cuci muka, aku bergabung bersama Bunda yang masih sibuk memasak di dapur. Aku memilih untuk duduk di kursi makan dan menonton aksinya sambil memakan sandwich yang sudah tersed
“Ada yang mau ketemu sama lo, Nggun.” Aku yang masih merasakan pusing akibat lemparan bola voli yang mengenaiku ketika aku menonton pertandingan voli yang diadakan oleh himpunan jurusan, meringis sambil bertanya pada Rani – teman sekelasku yang saat ini menemaniku di klinik kampus.“Gue juga gak tau. Asing banget mukanya.”“Ya udah suruh masuk aja.” Lagian siapa sih, orang yang masih mencariku disaat aku masih dalam keadaan sekarat seperti ini. Bukannya berlebihan, tetapi keadaanku memang cukup parah walau hanya terkena lemparan bola voli. Dahiku berdarah dan tadi aku juga sempat terhuyung jatuh sampai pingsan karena tidak kuat menahan nyeri kepala yang terasa seperti dihantam palu Thor. Itulah kenapa aku sampai dibawa ke klinik kampus dan disuruh istirahat.Tiba-tiba seorang laki-laki datang bersama Rani masuk ke ruanganku. Laki-laki itu bertubuh jangkung, dengan setelan meja kotak-kotak berwarna navy dan menenteng paper bag ditangannya. Aku mengernyit, merasa asing dengan wajahnya. R
Pak Mahesa meninggalkanku dengan sebuah tanda tanya besar yang kini masih memenuhi isi kepalaku. Sementara, kepalaku dipenuhi tanda tanya besar tentang maksud dari ucapannya yang terdengar jahat, suara dari pengeras studio yang mengumumkan bahwa film yang akan kutonton sudah dibuka teaternya, membuat fokusku menjadi pecah. Suara dari dalam dan suara dari luar kepalaku seakan bertabrakan membuat sebuah gelombang-gelombang rumit yang membuat kepalaku semakin pusing.Daripada terjebak dengan suara-suara yang membuat kepalaku pening, aku memutuskan untuk mengikuti Pak Mahesa yang sudah lebih dulu masuk ke dalam studio dan meninggalkanku bersama dengan pertanyaan-pertanyaan yang sengaja tidak dijawabnya. Aku bertekad menanyakan hal itu padanya sepulang menonton bioskop, tetapi kenyataannya, Pak Mahesa berhasil menghindariku dan pulang lebih dahulu. Aku yang tidak bisa mencegahnya hanya diam sambil menatap punggungnya yang kian menjauhi bioskop. Aku bahkan hampir dibuat frustasi olehya kare






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.