Mag-log inMenteri Jonas terkesiap pelan, tidak menduga Jordan akan langsung menebak arah tujuannya setegas itu."Dengar, Tuan Jonas," lanjut Jordan, suaranya datar namun menusuk tajam, "aku dan kelompokku tidak mau bekerja untuk siapa pun, apalagi pemerintah. Jangan samakan kami dengan anjing peliharaan yang bisa dilepas untuk berburu, diberi tulang kalau berhasil, lalu dibiarkan mati ditembak ketika buruannya lepas."Suasana ruang tamu mendadak menegang. Menteri Jonas menelan ludahnya, merasakan tekanan luar biasa dari pemuda yang usianya jauh di bawahnya itu."Kami bukan kacung yang bisa diperintah sesuka hati, lalu pemerintah cuci tangan ketika apa yang kami lakukan tidak sesuai dengan rencana kalian," tandas Jordan tanpa ampun. "Jika kami bergerak, itu karena kepentinganku dan keluargaku, bukan demi lambang negara yang busuk di atas kertas."Di sebelah Jordan, Maximus mengulum senyum takjub. Pandangan matanya menyiratkan kekaguman yang teramat sangat pada keputusan tegas sang bos muda.Kete
Langit Swedia Utara perlahan mulai mengikis pekatnya malam, menyisakan bias kelabu di balik jendela kaca kediaman Jola yang membeku.Di dalam kamarnya yang temaram, setelah memastikan Lagertha dan Joshua masih terlelap dalam damai, Jordan berdiri sendiri di dekat jendela. Matanya menatap lurus ke arah hutan pinus yang masih tampak seperti barisan pasukan penjaga bayangan.Di sela-sela jari tangan Jordan, sebuah rosario kecil berkalung kayu salib tampak melingkar. Kebiasaan yang hampir tak pernah Jordan tinggalkan, meskipun sekarang ia sudah memilih menjalani kehidupan dunia mafia ini bersama Lagertha, yaitu berdoa pagi.“Tuhan... lindungi mereka dari badai yang kubawa,” gumam Jordan sangat pelan, nyaris tanpa suara, memanjatkan doa untuk dua orang kesayangannya.Bagi dunia luar, nama Jordan mungkin kini tak ubahnya bagaikan monster kejam yang ditakuti. Namun di hadapan sisa-sisa imannya yang tetap mengakar kuat dalam dirinya, Jordan adalah seorang pria yang mencoba bertahan hidup meng
Jordan semakin mengunci kedua tangan Zero di balik punggung pria itu dengan cengkeraman kuat, memastikan Zero tidak bisa bergerak bebas.Udara malam di dalam hutan terasa dingin membeku, namun ketegangan di antara mereka jauh lebih panas dari pada bara api.Dengan napas memburu dan rahang mengeras, Jordan melontarkan interogasinya."Kenapa kau menyiksa Kaye... dan sengaja melemparkan berita itu agar aku dituduh sebagai monster yang kejam?!" desis Jordan tajam, matanya menatap lekat-lekat wajah Zero menoleh menyeringai sinis padanya.Maximus yang memegang needle di leher Zero ikut menegang, menunggu jawaban dari sang ninja. Ujung needle telah menggores kulit leher Zero yang merembaskan sedikit darah, namun pria itu justru terkekeh rendah, sama sekali tidak merasa terancam meski posisinya sedang dikunci."Monster?" ulang Zero dengan nada mencemooh yang tenang, "Aku tidak pernah membuatmu jadi monster, Jordan. Aku hanya menyingkirkan salah satu hama yang dulu ikut andil menghancurkan hid
Malam di Las Vegas menyuguhkan gemerlap lampu neon yang menyilaukan mata, sangat kontras dengan ketegangan mencekam di dalam sebuah gudang logistik terbengkalai di pinggiran kota.Atas perintah langsung dari Mister Bough, Tiger mengawal sendiri pengiriman paket narkotika bernilai jutaan dolar untuk klien yang sering rewel dan terakhir kali memprotes pada Mister Bough jika kualitas vitamin mereka menurun sangat tidak bagus.Namun, baru saja koper-koper berisi barang haram tersebut diserahkan dan diterima oleh klien utama mereka, suasana berubah drastis dalam hitungan detik.Cklek! Cklek! Cklek!Puluhan laras senjata api dari berbagai sudut mendadak menodong kepala Tiger dan anak buahnya. Sebelum Tiger sempat menarik pelatuk senjatanya, tubuhnya sudah ditendang hingga tersungkur ke lantai beton yang dingin.Pria yang bertindak sebagai klien, yang baru saja menerima koper. perlahan merapikan jas rapi yang ia kenakan. Pria itu menyeringai tipis, lalu membuka penyamarannya. Elias, tangan k
Berhari-hari telah berlalu, namun Jordan tetap tidak merasakan sedikit pun keberadaan Zero mendatangi kediamannya maupun berkeliaran di dalam hutan belakang kediaman Jola.Ninja itu seolah menguap ditelan bumi.Meskipun begitu, Jordan tidak ingin lengah. Ia memanfaatkan waktunya untuk berlatih fisik jauh lebih keras dari biasanya."Kenapa sih kau berlatih sekeras ini? Lihat, tanganmu sampai tergores begini!" omel Lagertha lembut sambil meringis pelan saat mengoleskan cairan antiseptik ke lengan Jordan.Akibat latihan keras dan meniru gerakan tupai serta hewan-hewan yang Jordan itu, lengan Jordan juga sedikit mengalami keseleo. Imbasnya, ia agak kesulitan untuk menggendong Joshua.Sementara itu, sang bayi tampan sedari tadi hanya memandangnya dari kereta bayi dengan tatapan polos nan tajam. Kelopak mata bulat Joshua hampir tak berkedip dan bibir mungilnya menolak tertawa renyah karena belum mendapatkan perhatian dari Jordan."Sayang, tolong ambilkan kain gendongan. Aku mau menggendong
Setelah makan malam, Jordan melakukan rutinitasnya seperti biasa, berpatroli mengelilingi kediaman Jola. Namun, begitu langkah kakinya tiba jauh ke dalam pekatnya hutan belakang, ia hanya merasakan kesunyian yang ganjil.Tak ada tanda-tanda Zero sedang bersembunyi di atas dahan. Hanya ada suara jangkrik dan binatang malam yang aktif berceloteh, saling bersahutan di sekelilingnya."Ada apa?"Suara berat itu memecah lamunan Jordan. Maximus rupanya berjalan menyusul, mengikuti Jordan dari belakang. Langkah Maximus yang besar kini berhenti tepat di samping Jordan."Gak ada apa-apa. Hanya saja, kesunyiannya terasa lebih mencekam dari biasanya," elak Jordan.Sampai detik ini, Jordan memang belum menceritakan tentang keberadaan Zero pada Maximus ataupun siapa pun di rumah ini.Langkah kaki Jordan kembali bergerak santai, berjalan beriringan kembali ke kediaman dengan Maximus yang matanya tetap waspada, memindai hutan gelap di sekeliling mereka."Lagertha tadi pagi nanya tentang mobil sport i
"Aku hanya ingin anak darimu, Sayang!" bisik sang pria sembari meraba celah lembut pada sela paha wanita yang duduk di sampingnya. Tangan sang pria menyentak hingga robek penutup tipis yang menghalangi jemarinya dari memasuki celah lembut wanitanya. "Och ...!"Sang wanita menjerit tertahan namun
Jordan menengadah ke atas kaca bening di langit-langit ruangannya dan kembali memperhatikan jika air merembas dari langit-langit ke dinding. Titik air yang sebelumnya menimpa kepalanya sudah tidak ada, namun dinding batu ruangannya masih sangat lembab."Jika ruangan ini paling atas dan bisa meliha
“Aku tidak berzina dan juga bukan pembunuh!” tegas Jordan dengan bibir berdesis yang dicengkeram kuat oleh Langley. Langley tertawa terbahak sangat nyaring bergema yang kemudian melepaskan cengkeramannya pada dagu Jordan. “Kau pikir siapa dirimu, Jordan? Ben Horik memerintahkan untuk mengeksekusi
Jordan menemukan sebuah batu yang dia banting dan pukulkan agar meruncing. Dengan batu tersebut Jordan membuat coretan untuk menghitung hari pada dinding batu. Telah dua tahun berlalu sejak Jordan pertama kali di bawa ke penjara terpencil yang terletak dalam pulau pada tengah lautan. Tubuh Jordan







