Accueil / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 109

Partager

BOSS WITH BENEFIT - 109

Auteur: Pipit Chie
last update Date de publication: 2026-06-19 11:49:22

Devan berdiri di tepi pantai untuk menikmati angin laut pada malam hari, Naila sudah tidur karena lelah, ia menikmati waktunya sendirian sampai akhirnya Ravel bergabung dengannya.

”Belum tidur?” Ravel berdiri, memasukkan kedua tangan ke saku celana.

”Belum, Abang sendiri kenapa belum tidur?”

”Habis nidurin Adnan, Vella tidur di kamar Naila,” ujar Ravel.

Devan mengangguk, ia tahu itu. Vella adalah penggemar Naila nomor satu—rambut Naila lebih tepatnya. Jadi setiap kali melihat Naila, Vella menja
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
NeaNeo
lanjut kak
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 115

    Satu hal yang tidak Devan tahu, Handoko duduk diam menatap lantai, perlahan namun pasti, pria itu mulai tenggelam dalam penyesalan. Satu titik dalam hatinya mulai merasakan suatu pedang yang menusuk, menyesakkan dan membuat dadanya sakit. Sebuah tangan tak terlihat menariknya ke kubangan gelap yang bernama penyesalan. Sayang sekali, Handoko terlambat menyadari bahwa putri yang selama ini tidak pernah dianggap, kini menjadi orang penting yang status sosialnya akan lebih tinggi dari pria itu. Pria itu menghela napas panjang, tidak pernah menyangka bahwa di belakang nama Naila akan tersemat nama Wijaya.*** “Kok, sendirian, Mas?” Arabella melihat Devan yang masuk sendirian ke dalam rumah, “Nai, mana?””Nai lagi belanja sama temennya, aku baru balik dari Surabaya,” ujar Devan. Devan duduk dengan tenang, melepaskan jaketnya dan menyandarkan tubuh di kursi. Ia menatap ibunya sejenak, merasa ada yang ingin dibicarakan. Arabella bisa merasakan ada sesuatu yang me

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 114

    Saat Naila berdiri di dekat meja dan menunggu Devan kembali dari toilet, Handoko mendekat. Naila menoleh ke samping, menatap pria itu datar. Baru saja Handoko hendak membuka mulut, Devan sudah lebih dulu mendekat.”Sayang,” pria itu memeluk pinggang calon istrinya. Ia menatap Handoko dengan satu alis terangkat.Tanpa kata-kata, Handoko berbalik pergi.”Lah, kok pergi?” bisik Devan pelan.”Nggak tahu, dia kayaknya baru buka mulut mau ngomong, tapi kamu keburu datang.””Mau apa lagi sih, dia?””Nggak tahu juga. Dari tadi ngeliatin aku terus.”Devan berdecak, dalam hati ia berpikir apa yang ingin Handoko katakan pada Naila? Ingin mengganggu dan meremehkan Naila lagi? Sepertinya Devan harus menemui Handoko secara personal secepatnya.”Kenapa, Nak?” Alfariel mendekat.”Nggak apa-apa, kok, Yah.””Dia tadi mau bicara sama kamu?” Alfariel merendahkan suaranya.”Nggak tahu, tadi nyamperin tapi belum sempet ngomong, ngeliat Dev datang, dia langsung pergi.””Ck, ngapain dia mau deketin kamu?” Al

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 113

    Handoko mendekati meja rapat, langkahnya terasa berat, namun matanya tertuju pada putrinya yang sedang duduk dengan tenang, menatap layar laptop. Beberapa rekan kerja mereka yang lain sudah meninggalkan ruangan, tetapi Naila tetap duduk di tempatnya, tampak fokus pada pekerjaan yang belum selesai. Handoko berhenti beberapa langkah di depannya, berdiri sejenak di antara keramaian yang mulai menghilang. “Ada apa, Pak?” tanya Naila dengan suara datar, tanpa sedikitpun senyum. “Jadi kamu sekarang calon menantu keluarga Wijaya?” Naila menatapnya dengan mata yang penuh pertanyaan, seolah mempertanyakan setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya. Sejujurnya, ia merasa lelah menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari orang-orang yang selama ini tidak peduli dengan dirinya, namun kini tampaknya mereka baru menyadari kehadirannya. “Kenapa Anda peduli?” Naila m

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 112

    “Desain yang saya ajukan mengusung konsep kemewahan yang bersifat timeless, dengan menggabungkan elemen-elemen klasik dan modern yang saling melengkapi,” kata Naila dengan percaya diri, sementara jari-jarinya menekan tombol remote, mengubah slide di layar besar di depannya. Gambar-gambar 3D dari bangunan yang megah, dengan pilar-pilar tinggi yang menampilkan keanggunan arsitektur klasik, berpadu dengan kaca-kaca besar dan lantai marmer yang bersinar di bawah cahaya, mulai terlihat di layar. Naila menjelaskan, “Kami memilih material marmer terbaik yang dipadukan dengan elemen kayu dan logam berlapis emas, memberikan kesan mewah tanpa mengorbankan kenyamanan. Setiap ruang didesain agar mengalir dengan sempurna, memberikan kesan lapang dan mewah.”Handoko, yang semula skeptis, kini mulai menatap desain itu dengan seksama. Meskipun masih ada ekspresi ragu di wajahnya, ia tak bisa menutupi rasa kagum yang muncul di dalam dirinya. Setiap detail yang dijelaskan oleh Naila menunjukkan kualita

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 111

    ”Kok, makin gede, ya? Apa perasaan aku aja?””Perasaan kamu aja.””Masa?” Devan menangkup payudara itu dengan kedua tangan, “beneran makin gede, deh, Nai. Apa karena aku remas tiap hari?””Bisa jadi,” Naila mendongak saat Devan mendorongnya ke dinding, pria itu membungkuk untuk mencium payudaranya sebelum mengulum putingnya yang menegang.”Makin padat juga,” ujar Devan menciumi seluruh sisi payudara itu dengan rakus, ia berusaha untuk tidak meninggalkan tanda di payudara Naila, bibirnya mengisap tidak terlalu kuat.”Kamu tuh … ah ….” Naila menyentuh kejantanan Devan yang sudah keras, membelainya dalam genggaman, besarnya kejantanan itu membuat genggamannya terasa penuh. Naila mengelusnya naik turun, merasai tekstur yang keras tapi memiliki kulit yang lembut, bagian ujungnya tidak kalah lembut. “Kamu horny terus,” Naila meremas kejantanan itu lebih kuat, “nggak puas-puas.””Kalo aku puas, artinya aku udah mau mati,” jawab Devan sambil mengisap puting Naila, “jadi selagi aku hidup, aku

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 110

    ”Ayah serius, Nai. Jangan sampai kamu diapa-apain Devan. Ayah tonjok dia nanti.””I—iya, Yah. D—Devan nggak ngapa-ngapain, kok.” Naila berpaling dengan wajah malu, tatapannya bertemu dengan tatapan Devan yang usil, pria itu mendekat dan berbisik begitu pelan.”Andai aja Ayah tahu kita udah ngapain aja, apalagi kamu suka banget godain aku dan bikin aku horny, Ayah bakal kena serangan jantung detik itu juga,” bisik Devan begitu pelan.Naila mencubit pinggang Devan begitu kuat lalu kabur dari dapur untuk menuju beranda belakang. Devan tertawa dan mengejar calon istrinya yang kabur karena malu.”Kabur kenapa, sih?” Devan ikut berjalan menyusuri pantai bersama Naila.“Ayah mergokin kamu, ya?””Iya, waktu aku keluar dari kamar, Ayah udah berdiri di dekat tangga.””Pantes, aku malu banget. Untung aja kamu nggak tidur di kamar aku tadi malam.””Ngapain malu? Biasa aja, Sayang. Kan ada Vella tadi malam di kamar kamu, jadi Ayah percaya aku nggak ngapa-ngapain. Aku beneran nggak ngapa-ngapain ka

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 41

    Naila tersenyum sambil mendekat, “bagus nggak?””Bagus banget,” tangan Devan menyentuh kain lembut itu.”Jangan dirobek, ya. Aku suka modelnya.””Iya.”Lagi-lagi hujan turun dengan derasnya, dinding kaca apartemen Devan menunjukkan bagaimana langit sedang menumpahkan semua airnya ke bumi, Devan mem

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 40

    ”Jangan ditolak dong, Pak. Anggap aja sebagai ucapan terima kasih atas traktiran makan siang tadi.”Devan menarik napas dalam-dalam, kemudian melirik kembali ke Naila sambil berpikir apakah ia harus mengambil kado tersebut atau tidak. Ia tahu ini adalah kesempatan untuk menggoda Naila, untuk meliha

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 39

    Naila menggeleng, “sorry nggak bisa, gue mau selesaikan kerjaan.””Ikut aja lah, kapan lagi bisa makan-makan pake kartunya Pak Dev?””Kalian aja,” Naila kembali fokus pada laptop, mengabaikan orang-orang yang sibuk merencanakan untuk makan siang bersama hari ini.“Kamu nggak ikut sama yang lain?” D

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 37

    Naila menatapnya, matanya datar. “Kenapa nggak? Hidup ini sudah cukup rumit. Kalau ada sesuatu yang bisa dibuat sederhana, kenapa harus dibuat sulit?”Jawaban itu, seperti semua hal tentang Naila, membuat Devan termenung. Ia selalu berpikir bahwa hubungan apa pun pasti melibatkan usaha, negosiasi,

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status