Accueil / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 1

Partager

Boss With Benefit
Boss With Benefit
Auteur: Pipit Chie

BOSS WITH BENEFIT - 1

Auteur: Pipit Chie
last update Date de publication: 2026-05-24 17:33:05

Xoxo: Tempat aku apa tempat kamu?

Naila melirik ponsel yang menampilkan pop up chat dari seseorang, ia diam-diam membawa ponsel ke bawah meja untuk membuka chat yang masuk, setelah membaca sebaris kalimat itu, lirikannya melayang kepada si pengirim pesan yang kelihatannya sedang fokus mendengarkan concept presentation dari karyawannya. Tatapan pria itu fokus ke depan, tidak ada yang tahu kalau baru saja si bos mengirimkan pesan kepada karyawannya sendiri.

Naila: Bagusnya di mana? Tempat aku? Atau hotel aja biar cepet?

Naila melirik pria itu menatap ponsel, wajahnya datar tanpa ekspresi.

Xoxo: Hotel aja kalau begitu. Aku yang pesan kamarnya. Langsung aja setelah selesai meeting ini.

Naila: Nggak sabaran banget?

Xoxo: Iya, udah keras dari tadi.

Naila: Nggak sabar banget pengen masukin aku?

Xoxo: Iya, nggak sabar mau enakin kamu.

Lagi-lagi Naila melirik wajah sang atasan yang sedatar papan penggilingan, namun pesan yang dikirimnya begitu cabul. Ck, bisa-bisanya pria itu mengetikkan pesan seperti itu dengan wajah yang biasa saja, sementara Naila yang membacanya sudah merasa begitu gelisah, gerah dan juga … mulai basah.

“Oke, cukup. Saya nggak suka desainnya. Ganti dan mulai dari awal,” pria itu berdiri dan keluar dari ruang meeting tanpa menunggu respon karyawan-karyawannya.

”Bangke,” maki Agus pelan, “capek banget gue.”

”Revisi yang ke berapa, Gus?” ledek Gabriel.

”Empat, nggak ada satu pun desain kita yang cocok sama dia, kita bisa minta ganti bos, nggak, sih?”

Naila dan Erni tertawa.

”Lo pada jangan ketawa-ketawa aja, kita satu tim, ingat?”

”Iya, lupa,” Naila terkekeh sambil berdiri, “pulang aja, yuk. Capek banget, udah jam tujuh, nih.”

”Jadi ini gimana revisiannya?”

”Besok aja lanjut, kita juga butuh istirahat,” Gabriel menepuk bahu Agus, “pulang aja sekarang, mumet gue, pengin resign.”

”Gue juga,” sahut Agus.

”Anak gue baru lahir,” timpal Edo, “baru sebulan, gue baru tahu harga susu formula semahal itu. Astaga, sumpah, rasanya kayak hidup di dunia lain, belum lagi popok, belum lagi perlengkapannya yang lain, kalian kalau belum siap mental dan financial, jangan punya anak dulu, deh. Pusing!”

Semua orang di dalam ruangan berpandangan, lalu tertawa, “Itu gunanya kondom diciptakan, Mas Bro. Siapa suruh lo ML nggak pake protection?” Agus menepuk-nepuk bahu Edo yang sibuk membereskan berkas-berkasnya, “Inget, jangan buntingin bini lo lagi, nanti setelah empat puluh hari malah lo hajar lagi.”

”Anjing.” Hanya itu jawaban Edo.

Naila merasa ponsel di saku roknya bergetar, buru-buru wanita itu membukanya.

Xoxo: Aku sudah di jalan ke hotel, kamu buruan.

”Ck, nggak sabaran banget,” gumam Naila sambil membalas pesan itu dengan kata ‘sabar’.

”Siapa, Nai? Pacar lo?” Agus tiba-tiba merangkul bahunya.

“Naila punya pacar? Kiamat kali.” Gabriel ikut melangkah di samping wanita itu, “Siapa lagi korban lo kali ini, Nai?”

”Korban? Sejak kapan gue jadi tersangka?” Naila tertawa lebar, “yang ada gue korbannya.” Gadis itu mengerling, “gue duluan, ya. Bye.”

”Nai, ingat kata Edo, jangan bunting, susu sama popok mahal.”

Naila membalasnya dengan mengacungkan jari tengah, membuat teman-teman satu timnya tertawa. Wanita itu mengambil tas lalu turun ke lobi, karena hari ini sengaja tidak membawa mobil dan sudah memesan taksi online, gadis itu buru-buru masuk ke taksi yang sudah menunggu di depan lobi.

”Hotel Kempinski, ya, Mbak,” driver memastikan tujuan sebelum melaju meninggalkan gedung kantor mewah ini. Tidak butuh waktu yang terlalu lama, Naila memasuki hotel. Pria itu sudah menunggu di lobi.

”Lama banget.” Keduanya masuk ke dalam lift, pria itu menekan Naila ke dinding untuk mencium bibirnya.

”Sabar dong, Dev. Tunggu sampai kamar.” Naila mendorong dada Devan menjauh.

Devan Wijaya tidak memberi jarak, tetap berdiri lekat di depan Naila, membuat wanita itu mendongak dengan tangan yang mengelus benda keras di depannya dengan nakal.

”Ngerasain, kan?”

Lift terbuka, Devan menarik Naila keluar dari lift dengan terburu-buru, wanita itu tertawa genit—tawa yang menghilang begitu mereka masuk ke sebuah kamar. Tawa yang terbungkam oleh ciuman.

Prinsip Naila sejak dulu adalah tanpa ikatan dan tanpa paksaan, jangan pakai hati, main-main tidak perlu melibatkan hati, apalagi sampai jatuh hati. Jadi hubungan yang sudah ia jalani selama dua tahun bersama bosnya ini adalah definisi dari main-main tanpa ikatan dan tanpa paksaan yang sesungguhnya. Selagi belum ada yang bosan, maka mereka masih tetap sejalan.

”Wait, protection!” Naila menahan dada Devan dengan kedua tangan.

”Iya, ini mau pake,” pria itu merobek bungkus protection itu menggunakan gigi lalu memasangnya dan memastikan sudah benar-benar terpasang sempurna sebelum kembali mendekatkan dirinya kepada Naila.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
DEVAAAANNNN WKWKWKWKWKWKWK. Padahal udah pernah baca ini loh, tapi klo reRead lagi kek semangatnya baru lagi :*:*:*:*:*
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - TAMAT

    Agus tertawa, membayangkan perempuan sunda satu itu mengucapkan satu kata dalam bahasa jawa dengan wajah menggemaskan, membuat Agus yang tadinya masih bisa menahan rindu, kini sulit menahannya lagi. Ia menghela napas panjang, memeluk bantal. Ia harus bertahan paling tidak sampai besok sore. Ternyata berjauhan dengan pacar rasanya tidak enak. Pantas saja Devan tidak mau pergi tanpa membawa istri dan anaknya ikut serta. “Woi, ngapain lo tidur? Kerja!” panggil Gabriel dari sofa. ”Capek, ngantuk.” ”Lo dibayar ke sini bukan buat tidur, gue laporin Pak Dev, nih.” ”Laporin aja sana!” ”Idih, mentang-mentang sekarang iparan sama bos, ngelunjak lo ya.” ”Gue mau tidur bentar, ngantuk banget. Selesaikan aja kerjaan lo habis itu balik ke kamar lo sendiri.” Agus menutup kepalanya dengan bantal saat Gabriel terus memanggil-manggilnya dari sofa. Besok sorenya Agus melangkah cepat keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Ma

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 149

    ”Tunggu, kita nggak pake kondom, kalau kamu hamil, gimana?””Kamu mau tanggung jawab, nggak?””Pasti.””Ya udah, kalau aku hamil, kamu tanggung jawab.””Tapi yang aku pikirin, apa kamu siap jadi ibu?””Kamu siap nggak jadi ayah?””Siap. Umurku juga udah matang banget, aku siap jadi ayah. Aku siap nikahin kamu. Tapi takutnya kamu yang belum siap jadi ibu dan belum siap nikah sama aku.”Maya berbalik, menatap Agus dengan tatapan lembut.”Kalau aku hamil, kita nikah, punya anak. Aku siap.” Ia menaiki tubuh pria itu dan duduk di atas paha Agus. “Kamu juga udah kenal banget sama Papa dan aku juga udah kenal sama mama kamu. Aku juga udah kenal sama papa kamu dan Tante Mulan. Yang belum kenal cuma sama adik-adik kamu aja.””Nanti aku kenalin sama Naila dan Memei.””Ya udah, kalau gitu, kita khawatirin apa lagi?””Nggak hamil pun aku mau nikahin kamu.””Kebelet nikah, Mas? Takut jomblo sampai tua?”Agus tertawa, “nggak, udah ketemu yang ak

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 148

    ”Takut kamunya nggak suka.” Jari-jari Agus membelai pipi Maya. “Nggak mau dibilang memanfaatkan kamu yang masih patah hati—“”Idih, siapa juga yang masih patah hati,” Maya berjinjit untuk mencium Agus lagi, “udah nggak patah hati, tuh.”Agus tersenyum lebar, mereka terus berciuman tanpa henti, tubuh yang awalnya menggigil dingin kini terasa begitu hangat. Maya menyusupkan tangannya ke dalam baju Agus, merasai perut kotak-kotak pria itu dengan kedua tangannya. Keduanya terus saja saling menyentuh dan berciuman untuk menghangatkan diri.”Udah reda, apartemen aku lebih dekat,” ujar Agus memakaikan helm di kepala Maya. Mereka meninggalkan bengkel dan pulang ke apartemen Agus. “Mandi aja di dalam, aku mandi di luar,” ujar Agus mendorong Maya dengan lembut ke kamar mandi yang ada di kamar. Ia mengambilkan handuk dan juga sikat gigit baru untuk wanita itu.Maya tersenyum kecil, melihat pantulan dirinya di kaca, bibirnya bengkak, wajahnya merona dan dadanya berdebar keras. I

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 147

    Aldi menatap Agus yang memang lebih tinggi darinya. Dari fisik, jelas Aldi kalah. Agus memiliki tubuh berotot, rahang yang tegas dan ketampanan khas yang sangat cocok dengan kulit tan-nya. Sementara Aldi hanya pria kurus kering yang penampilannya urakan.”Gue nggak butuh duit lo!” geram Aldi.”Terima saja, Maya memberinya bukan buat kamu. Tapi buat anak kamu.”Agus menarik Maya menjauh, wanita itu tersenyum lebar sambil menatap Aldi dengan senyum kemenangan. Aldi lagi-lagi mengejar dan menyentak tangan Maya.”Aw!”Punggung Aldi membentur dinding dengan sangat kuat, satu tangan Agus mencengkeram lehernya begitu kuat.”Sekali lagi kamu kasari pacar saya. Saya bikin kamu sekarat.” Agus bicara dengan nada yang begitu tenang namun penuh ancaman. “Kamu ngerti?” Ia menguatkan cengkeramannya hingga Aldi kesulitan bernapas, pria kurus itu segera mengangguk, Agus melepaskannya dan kali ini merangkul pinggang Maya untuk membawanya menjauh.”Thanks,” bisik Maya memel

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 146

    ”Heh, gue aduin Robert kalau lo godain cowok lain.””Si Aa ganteng soalnya, bikin gue kesemsem. Kulit tan-nya itu loh, mana kayaknya berotot—“”Gue telepon Robert, nih?” ancam Maya.Esti tertawa, “si Aa kalem banget kayak mas-mas jawa impiannya si Maya.””Gue tabok juga nih,” geram Maya.”Mau adat jawa atau sunda, A? Pilih aja. Maya pasti ngikut aja.””Halo, Bert, bini lo di sini—“ ucapan Maya terhenti saat teleponnya direbut Esti. Ia menatap layarnya yang benar-benar terhubung dengan suaminya, “halo, Sayang, ini aku sama Maya di resto, Maya bawa cowoknya, kamu nggak usah cemburu, ya. Nanti kita ketemu di rumah. Dah, Sayang.”Maya menghela napas, menerima ponselnya. “Lo pilihin aja makanan yang enak buat gue dan Agus, asal jangan diracun.”Esti tertawa, “Aa suka makan pedes, nggak?””Nggak bisa,” jawab Agus pelan.”Ah, kalo si Teteh ini juaranya pedes, aku bikinin makanan yang nggak pedes, ya, A.””Iya, terima kasih.””Lanjut aja ngobr

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 145

    “Kamu hebat, udah tiga tahun aku nggak ngelakuin ini.””Hah?” Maya menopang tubuh dengan kedua siku, menatap Agus yang sedang membuang kondom ke tong sampah yang pria itu temukan di sudut kamar, “serius? Emang kamu bisa nahan sampe selama itu?””Aku nggak aktif-aktif banget ngelakuin ini,” Agus mengancing celananya dan duduk di tepi ranjang, menatap Maya yang masih telanjang, tangan Agus bergerak menarik selimut menutupi tubuh wanita itu.Maya tersenyum dengan cara pria itu menutupi tubuhnya, padahal mereka tadi menyatu dengan begitu liar dan sekarang Agus malah bersikap begitu sopan.”Mau pulang?” Maya menoleh pada Agus yang meraih kemejanya.”Iya.””Gus,” Maya menarik tangan Agus sambil menyibak selimutnya, “aku masih punya satu kondom lagi, kamu nggak mau pake?”Kemeja terlepas dari tangan Agus saat Maya menarik pria itu ke atas ranjang, tanpa membuang kesempatan, Agus membuka kembali celananya, bibir mereka saling bertaut, ciuman mereka sama liarnya,

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 2

    ”Shit!” Naila mengumpat lantang, Devan sudah berhasil melepaskan roknya, seluruh kancing kemejanya terbuka, memperlihatkan sepasang bukit kembar yang bagian branya juga sudah tidak terpasang sempurna, wanita itu mengenakan model bra dengan pengait di bagian depan, mempermudah Devan membukanya deng

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 6

    Naila berdiri, keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja Devan, ia mengetuk pintu dengan pelan. ”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam. Naila mendorong pintu. “Permisi, Pak.” ”Ada apa?” tanya Devan sambil sibuk menatap layar laptopnya. “Saya mau tanya soal desain yang barusan, salahnya di

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 4

    “Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya. ”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Ken

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 5

    Naila: Tok tok Xoxo: Hmm? Naila: Udah makan siang? Xoxo: Belum, sebentar lagi. Ada apa? Naila: Nanya aja kali, Pak. Xoxo: Kamu di mana? Naila: Kantin. Xoxo: Aku titip makanan. Naila: Dih, ogah. Sini aja turun sendiri. Males jadi babu. Xoxo: Aku sudah berbaik hati ngasih tim kamu m

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status