LOGINHandoko tertawa kecil, nada cemoohnya tetap sama. “Kamu tidak lihat siapa lawan bicaramu ini? Sopan sedikit, Anak Muda.”Devan maju selangkah, tubuhnya tegap, namun tetap terlihat tenang. “Memangnya siapa Anda?” tanya Devan dengan nada dingin. Kata-kata itu membuat Handoko terdiam. Matanya menyipit, menatap Devan dengan sorot penuh penilaian, tapi Devan tetap berdiri teguh di tempatnya. Naila hanya bisa menatap Devan dengan campuran rasa terkejut dan haru. Dia tidak pernah membayangkan ada seseorang yang akan berdiri di sisinya seperti ini, menghadapi pria yang selama ini menjadi bayang-bayang gelap dalam hidupnya.“Siapa kamu?” tanya Handoko dengan nada geram. “Aku harus bicara pada bosmu—“”Devan Wijaya,” sela Devan datar, membuat Handoko seketika bungkam. Mendengar nama keluarga Wijaya, Handoko menatap Devan lekat, cara pandangnya langsung berubah dari yang tadinya meremehkan menjadi sedikit bersahabat. “Untuk apa Anda datang ke kantor saya? Menjalin kerja sama dengan perusahaan s
“Kenapa Papa ninggalin Nai? Kenapa Papa nggak jemput Nai? Nai sendirian, Pa! Mama jahat! Jemput Nai, Pa!” Naila kecil terduduk di sudut kamar, bahunya berguncang hebat. Air mata mengalir deras di pipinya yang memerah, suaranya serak karena sudah terlalu lama menangis. “Papa! Papa!” jeritnya, berharap panggilannya akan sampai ke telinga pria yang begitu ia rindukan. Namun, keheningan kamar itu menjadi jawaban yang memilukan.Ibunya berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kelelahan. “Naila, sudah … Papa nggak akan datang. Papa kamu sudah punya keluarga baru. Kamu nggak perlu terus-terusan begini, berisik!” ucapnya dengan suara pelan, namun menusuk hati Naila.Mata gadis kecil itu melebar, napasnya tersengal. “Apa maksud Mama? Nai mau sama Papa!” serunya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Nai mau sama Papa! Telepon Papa, Ma. Jemput Nai!”Ibunya menarik napas dalam, lalu mendekat. Dia berlutut di hadapan Naila, “Dengar, Naila. Papa kamu itu … dia sudah punya istri lain, dan mereka puny
Hari pertama balik ke kantor setelah liburan panjang, Naila melangkah masuk dengan senyum tipis di wajah. Aroma kopi di pantry terasa lebih hangat dari biasanya, mungkin suasana hatinya masih terbawa sisa liburan bersama Devan.“Nah, akhirnya traveler kita balik juga!” suara Edo langsung menyambut begitu Naila menaruh tas di mejanya.Gabriel, yang lagi nongkrong di meja Agus, langsung nimbrung, “gimana liburannya?”Naila mendesah sambil beres-beres dokumen di meja. “Biasa aja,” jawabnya santai, meskipun ada senyum kecil di ujung bibirnya.“Yaelah, masa biasa aja? Sama pak bos gitu lho!” sahut Edo yang langsung melangkah mendekat. “Lo beneran nggak mau cerita? Mana upload video pak bos lagi main snowboarding. Sengaja ngasih bahan gibah dia. Atau sengaja mau pamerin pacarnya?” Naila hanya tertawa kecil sambil balik badan ke layar komputer. “Males ah cerita. Lo kebanyakan gosip sih,” jawabnya sambil menyalakan komputer, “terus kalau gue emang mau pamer, kenapa emangnya? Masalah buat kal
“Devan!” Naila berseru sambil tertawa, merentangkan kedua tangannya, menikmati sensasi terangkat dari tanah. Devan tersenyum nakal, melingkarkan tangannya lebih erat di tubuh Naila. Dengan lembut, Devan memutar tubuh Naila di udara. Naila tertawa lepas, wajahnya bersinar karena kebahagiaan. “Kamu nggak capek? Aku berat, loh,” katanya sambil tertawa riang.“Nggak, kamu ringan,” jawab Devan, semakin mempererat pelukannya. Dengan gerakan lembut, Devan meraih wajah Naila, menariknya dekat, dan tanpa kata, mereka mulai berciuman. Naila menutup matanya, menikmati setiap detik yang terlewati. Ia merasa begitu bahagia, impian yang sudah lama ia simpan akhirnya terwujud. Berdansa dengan orang yang ia cintai di bawah salju, dan kini, ciuman yang lembut dan penuh makna ini, menjadi hadiah yang lebih dari cukup untuknya. Bibir mereka bergerak dengan lembut, Devan mengesap bibir bawahnya dengan perlahan, dengan kelembutan yang membuat Naila memeluk lehernya lebih erat, saat pria itu ganti menyesap
Sambil tersenyum lebar, Devan membelai bokong itu dan kembali menghujam, membuat tangan Naila berpegangan pada dinding sementara pria itu menghentak masuk dari belakangnya dengan kuat.Esoknya, mereka menuju lereng ski. Naila mengenakan pakaian ski lengkap yang membuatnya tampak lucu dengan topi bulu. Devan tertawa kecil saat melihatnya mencoba berdiri dengan susah payah di atas papan ski.“Jangan ketawa, aku serius belajar ini,” protes Naila. “Kamu kan tahu aku nggak bisa main ski.”“Oke, oke,” Devan menahan tawanya dan berdiri di belakang Naila, membantunya menjaga keseimbangan. “Rileks, Sayang, aku nggak bakal biarin kamu jatuh.” Di lereng ski yang putih bersih, suara tawa Naila memenuhi udara dingin yang menggigit. Devan berdiri di dekatnya, memegang kedua lengan Naila yang bergetar entah karena dingin atau gugup. “Sayang, santai aja,” katanya sambil tertawa kecil, mencoba menenangkan wanita itu yang sudah terjatuh beberapa kali.“Ih susah banget!” keluh Naila sambil mencoba berdi
Devan dan Naila tiba di Jepang dengan udara dingin yang langsung menyambut mereka di luar bandara. Dari Tokyo, mereka melanjutkan perjalanan ke Hokkaido, tempat yang sudah direncanakan Devan untuk menjadi destinasi pertama mereka. Salju yang menyelimuti kota itu membuat Naila langsung terpana begitu mereka tiba.“Hokkaido itu kayak negeri dongeng,” gumam Naila sambil memandangi hamparan salju di sepanjang jalan dari dalam mobil menuju resort mereka. Devan yang duduk di sampingnya tersenyum. Mengusap kepala wanita itu yang ditutupi oleh beanie. Naila menoleh ke arah Devan, senyumnya kecil namun hangat. “Makasih udah ajak aku ke sini.”Devan hanya tersenyum kecil. “Apa pun buat kamu.”Setibanya di resort ski, Naila langsung terkagum-kagum melihat bangunan kayu bergaya tradisional Jepang yang dihiasi lentera-lentera kecil di sekelilingnya. Mereka bergegas check-in dan menuju kamar mereka yang hangat, dengan pemandangan pegunungan berselimut salju dari jendela besar di dalamnya, semuanya







