Se connecterTo the world, Joe Brian is America's most influential oil billionaire—a single king of a sprawling empire. To Davidson Ekon, he is the mentor who shaped him, the man he wishes to be in every way. But Joe's universe is built on a secret. And when Davidson discovers the truth—that the man he idolizes is gay—it shatters his own carefully constructed life of faith, family, and ambition. Seduced into a life of forbidden passion and the promise of an inheritance he never knew he had, Davidson must decide. He can cling to the respectable life he knows, or become the scandalous heir to a fortune—and a man—he cannot defy. Their tryst will set off a firestorm that may burn to the ground everything they have built. Amidst the rubble, Davidson must decide if being Joe's heir is worth the price of his past, and if their love can survive the scandal that has bound them.
Voir plusAku duduk di kursi tunggu rumah sakit dengan tangan mengepal di atas pangkuanku. Udara di ruangan ini terasa dingin, mungkin karena pendingin ruangan atau mungkin karena hatiku sendiri yang semakin membeku.
Di depanku, seorang perawat berjalan melewati lorong, menyerahkan amplop hasil tes kepada pasien lain. Aku menelan ludah, menunggu namaku dipanggil. Jantungku berdegup kencang, meskipun di dalam hati aku tahu jawabannya mungkin masih sama. “Aria?” Suara perawat itu terdengar lembut, tapi tetap saja membuatku tersentak. Aku bangkit, mengambil amplop itu dengan tangan sedikit gemetar. “Terima kasih,” ucapku, sebelum kembali duduk. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum membuka kertas di dalamnya. Aku sudah melalui ini berkali-kali, tapi entah kenapa kali ini rasanya lebih menyesakkan. Perlahan, aku membuka lembaran hasilnya. Mataku langsung tertuju pada bagian yang paling penting. Negatif. Lagi. Dunia di sekitarku seakan memudar. Suara-suara samar dari pasien lain di ruang tunggu berubah menjadi dengungan latar yang tak berarti. Aku menggigit bibir, menahan sesuatu yang mendesak keluar dari dalam dadaku. Tiana—Ibuku, buru-buru merebut kertas itu dari tanganku. Matanya melotot, itu seperti akan keluar dari kelopaknya. “Apa? Negative lagi?!” Suaranya begitu tinggi di depan banyak orang, itu seperti sedang menelan jangiku mentah-mentah. “Bagaimana ada orang yang begitu tidak berguna sepertimu?” Lagi, dia membentakku tanpa tahu malu. Aku hanya menunduk. Rasanya telingaku sudah menebal. “Maaf,” ucapku lirih. “Tiga tahun kau menikah dengan Aditya, tapi sampai sekarang kau belum hamil juga? Apa susahnya, sih?” Susah sekali, Bu … andaikan kau tahu itu. Bahkan meskipun usia pernikahan kami puluhan tahun, jika Aditya tidak pernah menyentuhku, bagaimana aku bisa hamil? Selama perjalanan, aku hanya diam, menyandarkan kepala ke sisi. Ucapan Aditya tiga tahun lalu masih begitu jelas di kepalaku. “Berani sekali keluarga Ginanjar menipuku! Meskipun aku menikahimu, aku bersumpah seumur hidupmu kau akan mati dalam kesepian!” Aku menarik napas dalam-dalam. Setelah berlalu tiga tahun sejak Aditya mengatakan itu di depan mataku, rasa sakitnya masih sama. “Jika memang kamu tidak bisa hamil, setidaknya cari wanita lain yang bisa mengandung anak untukmu. Setidaknya Aditya akan mengingat kebaikanmu.” Suara Ibuku rendah, tapi terasa tajam sampai menusuk telinga. Aku merasa seseorang sedang meremas-remas jantungku di telapak tangan mereka. Sakit. Aahh …. Aku mendesis pelan, menggigit bibir bawahku lebih kuat. Rasa sakit ini, rasa sakit yang sama yang selalu menyerangku. Seperti ada ribuan paku yang menusuk-nusuk kepalaku. Aku tahu ada yang salah dengan tubuhku, tapi semakin ke sini, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Aku tidak tahan …. “Aria, kau dengar, tidak?” “Aku … aku akan memikirkannya nanti.” Untunglah mobil berhenti. Aku segera melompat turun, masuk kehalaman rumahku. Ah, mungkin lebih tepatnya rumah Aditya. Langkahku mulai goyah. Dunia seperti berputar dalam pandanganku. Sedikit lagi. Kuseret kaki ini sekuat tenaga. Jari-jariku mencengkeram apa pun yang bisa aku pegang. Ada obat yang sudah diresepkan Dokter Herlambang di meja kamar. Sebisa mungkin aku harus menelan obat itu sebelum kesadaranku lenyap. Tapi ini sakit sekali …. Tolong …. …… TING! Ponselku …. Suara dering tadi membangunkanku. Mataku mengerjap pelan. Masih ada rasa berat di kepalaku saat aku mencoba menegak. Apa ini? Kenapa ada darah saat aku mengusap hidungku? Ini … ini sangat banyak! Hampir menodai setengah dari bantal yang aku tiduri. Apa yang terjadi? Tiba-tiba sudah malam. Berapa lama aku pingsan? “Aria, jika kau mulai mimisan, cepat datanglah padaku, ya?” Ucapan Dokter Herlambang waktu itu …? Ya, aku mengingatnya. Apa artinya penyakitku semakin parah? Kuraih ponsel di sisi bantalku, kunyalakan layarnya. [Jangan lakukan apa pun] [Aku tidak akan pulang malam ini] Dua pesan itu dikirim Aditya barusan. Aku hanya bisa menghela napas, meletakkan kembali ponselku. Memang apa yang bisa aku harapkan? Aditya hampir tidak pernah pulang setelah kami menikah. Rumah ini, selain aku, tidak ada siapa pun di sini. Aditya benar-benar mewujudkan sumpahnya padaku. ….. Aku duduk di atas kursi pemeriksaan, meremas jemariku sendiri. Cahaya putih di ruangan ini terasa terlalu terang, menusuk mata. Aku berusaha mengatur napas, tapi kepalaku masih terasa berat sejak tadi pagi. Mungkin aku harus terbiasa—karena aku tahu ini tidak akan membaik. Pintu terbuka. Dokter Herlambang melangkah masuk, membawa sebuah map cokelat di tangannya. Pria berusia lima puluhan itu selalu terlihat tenang, tapi kali ini ada sorot khawatir di matanya. Dia menutup pintu, kemudian berbalik menatapku sebelum akhirnya duduk di kursinya. "Aria," panggilnya pelan. Aku bisa merasakan sesuatu yang tidak beres hanya dari cara dia mengucapkan namaku. Aku mengangguk sedikit, mencoba tersenyum, seolah itu bisa membuat suasana lebih ringan. "Bagaimana hasilnya, Dok?" Dia menghela napas panjang, membuka map, dan memperhatikan hasil tes labku. Aku bisa mendengar jarum jam berdetak di ruangan ini, seolah-olah waktu berjalan lebih lambat. "Kondisimu memburuk," katanya. "Tekanan hematoma di otakmu meningkat. Jika ini dibiarkan, risikonya semakin besar." Aku sudah menduga ini, tapi tetap saja ... mendengar kepastian itu langsung dari mulutnya terasa seperti pukulan yang menghantam dadaku. "Aku masih bisa bertahan, kan?" Aku memaksakan tawa kecil. "Maksudku ... aku masih baik-baik saja, hanya sedikit sakit kepala dan pusing. Tidak separah yang dokter bayangkan." Dokter Herlambang menutup mapnya perlahan, lalu menatapku lekat-lekat. "Aria, ini bukan soal 'masih bisa bertahan' atau tidak." Suaranya lebih serius kali ini. "Setiap kali kamu menunda operasi, kamu sedang mengambil risiko. Kondisi ini bisa berubah dari 'masih bisa bertahan' menjadi koma dalam hitungan hari. Bahkan hitungan jam." Jantungku mencelos. Aku mengalihkan pandangan, menatap lantai. Aku tahu ini serius. Aku tahu dia tidak bercanda. Tapi ... operasi itu bukan sesuatu yang bisa kulakukan begitu saja. Aku menggigit bibir. "Operasi itu ... butuh biaya yang tidak sedikit, Dok." Suaraku terdengar lebih lirih dari yang kuinginkan. "Dan aku ...." Aku tidak sanggup melanjutkan kalimat itu. Dokter Herlambang terdiam sejenak, lalu bersandar di kursinya. "Aria, aku tahu kamu punya banyak hal yang kamu pikirkan. Tapi nyawamu yang jadi taruhannya di sini. Aku sudah mencoba menunda ini selama mungkin, tapi sekarang aku tidak bisa lagi membiarkanmu terus begini." Aku mengepalkan tangan. Nyawaku yang jadi taruhannya? Seolah-olah aku tidak sadar akan hal itu. Seolah-olah aku tidak terjaga setiap malam, bertanya-tanya berapa lama lagi aku bisa bertahan sebelum akhirnya tubuhku menyerah. Aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu. "Aku ... akan mencari cara," bisikku. "Aku akan mencari uangnya, Dok." "Aria—" "Aku akan baik-baik saja," potongku, memaksa senyum. "Aku masih bisa menahannya." Dokter Herlambang mengusap wajahnya, tampak frustrasi. "Aria, ini bukan soal seberapa kuat kamu bertahan. Ini soal fakta medis. Aku tidak ingin suatu hari nanti aku menerima kabar bahwa kamu ditemukan pingsan di jalan, atau lebih buruk ...." Aku menegakkan punggung, menolak membiarkan tubuhku terlihat lemah. "Aku mengerti, Dok. Tapi aku tidak punya pilihan lain." Dia terdiam lama sebelum akhirnya berdiri. "Aku akan memberikan resep obat sementara untuk mengurangi tekanan di kepalamu. Tapi ini tidak akan menyembuhkanmu, hanya mengulur waktu. Aku ingin kamu berjanji padaku, Aria—jangan menunda ini terlalu lama." Aku menggigit bibir, lalu mengangguk pelan. Dokter Herlambang menghela napas, kemudian menulis sesuatu di resepnya. "Kamu keras kepala," gumamnya. "Tapi aku harap keras kepalamu tidak membuatmu menyesal nanti." Aku tidak menjawab. Karena aku tahu, jauh di lubuk hatiku ... aku juga takut. Sangat takut. ***The night was a deep, velvet quiet over Manhattan, the sort of silence found only at the summit of the world. Davidson Ekon stood on the terrace of the Ekon-Brian Tower, a crystal glass of amber whiskey held loosely in his hand. The city sprawled beneath him, a galaxy of ambition and light he now commanded, yet for the first time in a decade, the view did not demand anything of him. It simply was. And he was simply in it. This was not the hush of absence but the profound hum of a legacy fulfilled.His thumb stirred involuntarily, caressing the heavy, platinum band on his finger. It was Joe's ring. For a year after his passing, it had felt cold, a relic of loss. Now, it was warm with the heat of his own skin, no longer a token of grief, but a seal of a partnership that had transcended the grave. It was a constant, quiet reminder that he was never truly governing alone.The quiet whisper of the automatic glass door cut through the stillness. He didn't need to turn to know who it was. Th
The last of the gala’s guests had departed, their laughter and the lingering notes of the orchestra swallowed by the consummate silence of New York at its apex. The penthouse below was a beautiful wreckage of crystal and wilting flowers, but Davidson needed distance from the echoes of adulation. He ascended the final, private staircase to the rooftop terrace, the city’s breath—a cool, ceaseless wind—greeting him like an old friend.Below and around him, the empire glittered. A constellation of light and ambition he now commanded. Brian Corp Tower, a spear of obsidian and light, was the heart of it, but the other buildings, the refineries, the data hubs, the distant, silent sites of the Arctic Venture—they were all part of the great, breathing organism he and Joe had built. We're still building.He moved to the railing, his hands resting on the cool, smooth steel. The city’s hum was a physical thing, a vibration that traveled up through the bones of the building and into his own. It wa
The Ekon-Brian Foundation’s Global Gala was the event of the decade, but the air humming through its soaring, glass-walled venue was not the brittle, predatory energy of old-money galas past. This was a celebration, vibrant and genuine. The guest list was a testament to the new empire: tech visionaries in sleek, minimalist suits stood beside environmental champions in ethically sourced silk; old-world industrial titans, who had once scoffed at Joe Brian’s “sentimental” protégé, now listened with grudging respect to young innovators. The very atmosphere was a declaration: the fortress walls were gone, replaced by bridges.And at the center of it all was Davidson Ekon.He moved through the crowd with an ease that was both regal and approachable. He was no longer the sharp-edged, hungry protégé, nor the embattled heir clutching his contested throne. The man who shook hands and shared laughs was a statesman, his authority woven into the fabric of his being, as natural as breath. The scand
The boardroom, once a chamber of polished obsidian and cold calculation, felt different. The air, usually thick with the tension of profit margins and defensive strategies, was now charged with a different energy—the crackling potential of the new. On the massive screen behind Davidson, the traditional Brian Corp logo, a stylized oil derrick, was shown next to a new, sleek design: a stylized sun cradled within the derrick’s embrace, above the words "Ekon-Brian Energy Consortium."The men and women around the table, the same ones who had weathered Victor Brandt’s coup and Davidson’s scandalous ascent, watched him with a mixture of trepidation and wary curiosity. They had accepted him as Joe’s heir, the man who had saved the empire. Now, he was asking them to follow him into uncharted territory.“For a century,” Davidson began, his voice calm yet resonating with a conviction that silenced the faint rustle of papers, “our identity was forged in the depths of the earth. We powered the wor
The work of the foundation was a balm. Within the detailed scrutiny of grant proposals and the planning sessions of the outreach programs, Davidson found purpose detached from the brutal calculus of power. It was during one of these sessions, surrounded by maps that demarcated proposed locations of
The loneliness was a fact, incontinently a new and permanent part of the landscape of his life, as if it were a mountain range on the horizon. In the dark, Davidson had owned up to it; and in the cold light of morning, he didn't retract. What he did, as he always used to do when faced with an immov
The federal courthouse was a fortress of a different kind, its authority not derived from commerce but from the cold, dispassionate weight of the law. Davidson did not attend in person. To sit in that gallery would have been to make it a spectacle about himself, to insert his presence into her fina
The victory in Geneva should have been the start of a new era, a period of consolidation and rebuilding. For a few, fleeting weeks, it was. The markets stabilized. The editorials praised Davidson’s "sober, modern vision." The empire began to breathe easily for the first time in a year. But a corner
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.