LOGINBeing an Alpha, you are always taught to protect your pack, but that was not the case for Louis. Louis’s life went downhill after his mother's gruesome murder. His father, Alpha Grey of Meadowood, could not forgive him for not protecting his mother, Lisa, from rogues. His father sought revenge by abusing Louis mentally, physically and emotionally. Louis gathered the courage to run away to Fox Village on his 16th birthday, but hardships followed him to his new beginning. Family secrets were uncovered, leaving Louis with no choice but to return home for his father's assistance. After his father’s betrayal, Louis was left by himself to find a way to get back everything that was taken from his family lineage. War formed between territories. In a world where loyalty is tested and betrayal lurks at every corner, Louis's journey from a shattered past to an uncertain future grips the heart. Will Louis rise to the challenge or will he perish.
View More"Gantikan aku. Untuk malam ini saja."
"Apa kau gila?!" Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aurelia meninggikan suara di depan kakaknya, Clarissa. Dadanya naik turun, napasnya bergetar. Selama ini ia tidak pernah membantah Clarissa. Demi apa pun, ia mencintai kakaknya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki. "Please." "Aku tidak bisa!" tegasnya lagi. "Ini malam pertamamu dengan Caleb. Bagaimana mungkin kau memintaku melakukan hal seperti itu?" Clarissa duduk di tepi ranjang pengantin yang dipenuhi kelopak mawar putih. Gaun pengantinnya masih melekat indah di tubuhnya, wajahnya tetap cantik seperti biasa, tapi pucatnya tak bisa disembunyikan. Tangan itu terulur, menggenggam jemari Aurelia dengan gemetar. "Tolong, Aurel. Aku tidak bisa mengecewakannya malam ini. Aku tidak boleh." "Kenapa? Katakan alasan yang masuk akal!" Aurelia hampir menangis. "Aku tidak ingin dia melihatku pingsan. Dia belum boleh tahu." Aurelia terdiam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Clarissa sakit. Penyakit jantung bawaan. Sudah lama. Dokter bilang kondisinya bisa memburuk sewaktu-waktu. "Tadi saat resepsi, dadaku kembali sesak. Obatku hampir habis." Napas Clarissa terdengar berat. "Aku tidak ingin Caleb tahu. Aku tidak ingin dia tahu dia menikahi perempuan yang lemah dan akan segera mati." Air mata jatuh tanpa suara di pipi Aurelia. Ia membenci keadaan ini. Membenci takdir yang begitu kejam. "Aku hanya butuh kau malam ini," bisik Clarissa. "Setelah itu aku akan mengatur semuanya. Aku hanya tidak ingin dia tahu aku tak mampu menjadi istrinya di malam pertama." Kata-kata itu menghantam hati Aurelia lebih keras dari apa pun. Caleb Hamilton. Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak sejak lama. Pria yang diam-diam ia sukai sejak remaja hingga sampai beberapa jam yang lalu. Pria yang hari ini resmi menjadi suami kakaknya. Dan ia tahu ia harus mengubur dalam perasaannya. Ironisnya, kini ia diminta menggantikan Clarissa. Rasa bersalah menggerogoti, tapi bayangan Clarissa terbaring lemah jauh lebih menakutkan. Akhirnya, dengan tangan gemetar, Aurelia mengangguk. Mereka menyusun rencana dengan cepat. Aurelia mengenakan gaun tidur putih yang dibelikan Caleb untuk Clarissa. Kain satin itu terasa asing dan memeluk tubuhnya terlalu lembut. Ia menyemprotkan parfum Clarissa ke leher dan pergelangan tangannya. Aroma yang biasa ia cium setiap hari kini terasa seperti topeng yang harus ia pakai. Sementara itu, Clarissa turun ke ruang tamu vila pengantin , mengulur waktu. Ia mengajak Caleb berbincang, tertawa pelan, lalu menyuguhkan secangkir kopi hangat. Di balik senyum manisnya, ia meneteskan sesuatu ke dalam cangkir itu. Obat yang akan membuat Caleb lebih mudah dikuasai hasrat, lebih mudah terbawa suasana. Di sisi lain, Aurelia telah memadamkan lampu kamar sepenuhnya. Aurelia duduk di ranjang dengan jantung berdegup liar. Telapak tangannya dingin. Ia hampir tak bisa bernapas. Ia takut Caleb langsung mengetahui semuanya. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Ada perbedaan nyata antara bentuk tubuhnya dengan Clarissa. Aurelia tersentak saat mendengar suara pintu terbuka. Langkah kaki berat mendekat. Jantungnya terasa akan meledak. Kasur berderit saat Caleb naik ke atasnya. Aroma maskulin yang selama ini hanya ia bayangkan kini begitu nyata, begitu dekat. Tangan hangat itu langsung menyentuh pinggangnya, menariknya tanpa ragu. Tubuhnya terhempas lembut ke kasur. Bibir itu menyelinap ke lehernya, napasnya panas dan tergesa. "Aku suka wangimu, Cla..." Suara rendah itu menggetarkan seluruh sarafnya. Aurelia memejamkan mata. Rasa bersalah menghantamnya, tapi tubuhnya tak bisa menyangkal sensasi yang menjalar ketika tangan Caleb bergerak penuh kepemilikan. Sentuhannya tegas, hampir liar, seolah menumpahkan seluruh penantian dan hasrat yang ia tahan sejak lamaran. Ciumannya turun dari leher ke bahu, meninggalkan jejak panas. Genggamannya kuat di pinggangnya, jari-jarinya mencengkeram seakan takut kehilangan. Aurelia menahan suara. Setiap sentuhan terasa seperti dosa yang manis. Ia tahu ini salah. Ia tahu ini milik Clarissa. Tapi ketika Caleb menariknya lebih dekat, ketika napas mereka bercampur dalam gelap, tubuhnya bereaksi tanpa bisa ia kendalikan. Caleb tidak lembut malam itu. Ia penuh gairah, penuh tuntutan, seperti pria yang ingin mengklaim istrinya sepenuhnya. Ada kebrutalan dalam cara ia memeluk, dalam cara ia menahan pergelangan tangan Aurelia di atas bantal, dalam bisikan serak yang menyebut nama Clarissa berulang kali. Setiap kali nama itu terdengar, hati Aurelia seperti teriris. Tubuh mereka akhirnya tak lagi berjarak, menyatu tanpa batas. Dalam gelap yang pekat, Caleb menariknya semakin dekat, seolah takut wanita di pelukannya akan menghilang. Napas mereka berpacu, hangat dan terburu. Aurelia merasakan batas itu runtuh. Rasa bersalah, cinta terlarang, dan hasrat bercampur menjadi satu pusaran yang menenggelamkannya. Aurelia mencapai puncak itu. Tangannya mencakar punggung Caleb. "Aku melukaimu, Sayang?" suara seksi itu membuat Aurelia terbuai. Ia menggeleng cepat sebelum Caleb menuntut jawaban. Saat Caleb menuntaskan gairahnya dengan liar dan tanpa sisa, suara beratnya pecah memenuhi kamar. "Clarissa! Arh..." Nama itu terdengar begitu jelas. Begitu penuh kepemilikan. Aurelia membeku. Air mata mengalir tanpa suara ke pelipisnya, menyerap ke bantal yang dingin. Ia menggigit bibirnya keras agar tak ada isak yang lolos. Di dalam dekapan pria yang sejak lama ia cintai, ia justru merasa paling tak terlihat. "Cla... ini mengagumkan." Caleb memeluknya erat setelahnya, napasnya perlahan tenang. Tangannya masih melingkar posesif di pinggang Aurelia. Tapi bukan namanya yang dipanggil. "Terima kasih. Ini indah." Dalam kegelapan itu, Aurelia sadar satu hal yang mengiris lebih dalam dari apa pun. Malam ini ia mendapatkan pria yang ia cintai. Dan sekaligus kehilangannya. *** “Selamat pagi.” Clarissa menyapanya dengan senyum lebar yang terlalu cerah untuk ukuran pagi setelah malam yang panjang. Aurelia membalas dengan senyum canggung, berusaha terlihat biasa saja. Walau ia yakin usahanya itu gagal. Ia langsung melihat Caleb duduk di ujung meja makan panjang dari kayu jati. Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dengan lengan tergulung rapi. Tangannya memegang cangkir kopi hitam, sementara di depannya terbuka sebuah laptop tipis berwarna perak. Wajahnya datar, dingin. Caleb hanya mengangkat kepala sekilas ketika menyadari kehadiran Aurelia. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan. Namun tubuh Aurelia langsung bereaksi. Refleks, ia memegang kerah bajunya. Di balik kain itu, lehernya masih dipenuhi tanda merah samar yang ditinggalkan pria itu semalam. Panasnya seperti kembali terasa hanya karena satu tatapan. “Ayo duduk, sarapan bersama,” ujar Clarissa ceria sambil menarik kursi di sampingnya. Aurelia berjalan pelan menuju kursi. Area bawah tubuhnya masih terasa ngilu setiap kali ia melangkah. Ia mencoba duduk dengan hati-hati, menahan ekspresi. Untungnya Caleb tidak memperhatikannya. Atau mungkin ia tidak peduli. Aurelia sebenarnya bertanya-tanya, kenapa Caleb begitu dingin padanya. Dulu, saat remaja, mereka bisa dikatakan cukup dekat. Kemarin adalah pertemuan pertama mereka setelah sembilan tahun. Dan malamnya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia hapus. Clarissa menuangkan kopi ke cangkir Aurelia dengan wajah berbinar. “Oh ya, Aurel. Aku sudah bicara dengan Caleb. Aku minta dia mempekerjakanmu di perusahaannya.” Tangan Aurelia membeku di atas meja. Ia melirik Caleb. Pria itu masih fokus pada laptopnya, jarinya bergerak cepat di atas trackpad seolah pembicaraan itu hanya suara latar. Hamilton Group. Perusahaan keluarga Caleb yang sudah berdiri puluhan tahun itu bukan nama kecil. Mereka memiliki rumah produksi, juga kerajaan bisnis yang luas dan berpengaruh. Dan ia, Aurelia, hanyalah seorang fotografer. Memang bukan sembarang fotografer. Ia menempuh pendidikan dan bekerja beberapa tahun di luar negeri, menangani proyek komersial dan editorial. Namun tetap saja, ia tidak ingin bekerja di perusahaan itu karena belas kasihan. “Aku akan menyerahkan lamaranku,” katanya akhirnya, berusaha terdengar tenang. “Dan aku akan mengikuti wawancara seperti biasa.” Kini Caleb benar-benar mengangkat kepalanya. Tatapannya tepat mengenai mata Aurelia. Jantungnya langsung berdebar kacau. Tangannya gemetar ketika mengangkat cangkir kopi. Cairan panas itu hampir tumpah. Tatapan Caleb dalam. Tajam. Menguliti. Dengan suara berat yang rendah dan terkontrol, pria itu berkata, “Jika Clarissa sudah meminta secara khusus, maka aku akan mencari posisi untukmu.” Itu bukan pertanyaan. Itu keputusan. Aurelia menelan ludah. “Terima kasih. Tapi aku tetap ingin mengikuti prosesnya. Aku tidak ingin diperlakukan berbeda.” Hening sesaat. Ia melihat rahang Caleb mengeras. Garis wajahnya menegang, pertanda pria itu tidak suka dibantah. Caleb tidak menatapnya lagi. Ia menoleh pada Clarissa. Aneh, dalam satu gerakan singkat, tatapan dingin itu berubah menjadi teduh. Kontras itu menyakitkan. Aurelia langsung menunduk, pura-pura mengaduk kopi. Clarissa tertawa nyaring, suasana kembali ringan. Ia menyentuh tangan Caleb dengan mesra, lalu mengecup punggung tangannya. “Aku sudah bilang padamu kan, Caleb? Aurel memang agak keras kepala sekarang. Dia bukan lagi gadis kecil yang penurut.” Ia tersenyum manja. “Maklumi saja, ya. Tapi tetap sisihkan satu ruang untuknya.” Caleb membalas dengan nada yang lebih lembut. “Sesuai arahanmu, Cla.” Aurelia berdeham, menarik perhatian mereka kembali sebelum ia benar-benar tenggelam dalam rasa asing yang mengganggu dadanya. “Siang ini aku akan mencari kontrakan,” ucapnya pelan. Clarissa langsung menoleh cepat. “Kontrakan? Untuk apa?” “Selama ini aku tinggal di luar negeri. Aku pulang karena kau memintaku. Tapi aku tidak mungkin terus menumpang.” Clarissa terlihat benar-benar terkejut. “Kenapa harus sewa rumah? Aku memintamu pulang supaya kita bisa tinggal bersama.” Aurelia memaksakan senyum. Tinggal bersama. Satu atap. Dengan Caleb. Setiap malam mengingat apa yang terjadi. “Aku tidak ingin merepotkan.” “Tidak merepotkan sama sekali,” sahut Clarissa cepat. Aurelia membuka mulut. “Tapi aku…” Kalimatnya terhenti ketika Caleb akhirnya ikut bicara. “Rumah ini tidak kekurangan kamar." Aurelia menatapnya tanpa sengaja. Caleb tidak tersenyum. Tidak pula terlihat marah. Hanya tatapan tajam yang sulit ditebak artinya. Aurelia merasa terpojok. Ia ingin menolak. Ingin lari sejauh mungkin sebelum semuanya menjadi lebih rumit. Tapi alasan apa yang bisa ia berikan tanpa membuka rahasia yang seharusnya tetap terkubur? “Baiklah,” jawabnya akhirnya pelan. Clarissa terlihat bahagia. Tiba-tiba Caleb berdiri dari kursinya. “Aku harus ke kantor. Ada rapat dengan tim produksi,” katanya. Clarissa ikut berdiri, membenarkan dasinya dengan gerakan lembut seorang istri. “Jangan terlalu lelah.” Caleb menatapnya dengan lembut, lalu mendaratkan satu kecupan hangat di bibir Clarissa sebelum berjalan menuju pintu. Saat melewati Aurelia, tanpa sengaja, punggung tangannya bersentuhan dengan tangan Aurelia yang tergeletak di meja. Hanya sentuhan singkat. Tapi cukup untuk membuat napas Aurelia tercekat. “Kirimkan portofoliomu ke email HR. Aku akan memastikan mereka memprosesnya hari ini,” kata pria itu tanpa menoleh padanya. Aurelia menatap cangkir kopinya yang kini sudah dingin. Ia resmi akan tinggal serumah dengan pria yang memanggil nama kakaknya saat memeluknya. Dan mulai hari ini, ia juga akan bekerja di bawah kepemimpinannya. Ia tidak tahu mana yang lebih berbahaya. Tinggal terlalu dekat atau bekerja terlalu dekat. "Aurel..." Brak!! Clarissa jatuh, pingsan tidak sadarkan diri di lantai.Javonte POVThe triplets Levi Jr, Lillian, Latrell, and I were in the city shopping for our 18th birthday party. Lillian had a shopping addiction just like my aunty Libby. She made sure all our clothes coordinated with one another. We were primarily there to carry her bags while she shopped. After shopping for hours, we took a break at a nearby cafe to eat when we heard a female voice screaming."Help me, Help me. My house is on fire." This fine mocha chocolate girl ran up to us. Even in her distressed state, she was still beautiful. Taking action, Lillian called 9-1-1 and we followed her to her home. The house was engulfed in flames. The fire was worse than I expected. "My parents are still inside. Please help them." Shaking and screaming hysterically. Lillian held her back from running into that burning inferno.Finding an opening, I rushed in. I covered my mouth and stooped low to the floor; listening for any noise. Wandering around the first, I saw two bodies lying in the bathro
One year Later Pacing the floor of the surgery center, Ashley was rushed in for emergency C-sections during her routine appointment. The umbilical cord was wrapped around our son Javonte's neck. Javonte was our miracle baby. Ashley has been struggling to conceive; her thin uterus made it impossible to carry cubs to full term. It crushed mines and Ashley's hopes of having more children.The intense pain radiates throughout my body, making it hard to breathe. My body trembled. My hands were sweating; rubbing my palms down my jeans. I pulled my shirt over my face and wiped off the cold sweat that formed around my head. Why is it taking so long? My stomach twisted in knots the longer they were in the OR room. "Something is wrong!" Majestic mumbled coming to the forefront. Peeking in the surgery windows, doctors scurrying around working on her. No sign that she delivered Javonte. There was a strong stench of blood. No, she cannot not
I sprinted along the dimly lit path of the forest, my heart hammering against my ribcage. The fear of losing her again, tightened its icy grip around my chest as I pushed my legs to move faster, branches whipping my face, and the underbrush clawing at my ankles.Each step felt like an eternity, the uncertainty of the danger ahead gnawing at my determination. Images of Ashley's smile, laughter, and the warmth of her touch flooded my thoughts, intensifying my resolve to shield her from this darkness.Time blurred as I hurtled forward, fueled by a primal need to protect the one I loved. The forest seemed to thicken, fog covered my pathway leading to Black Moon. Yet, I refused to give in to the paralyzing grip of fear. With each breath, I drew strength from the thought of her, my soul crying out this suffocating blackness.Finally, I burst into the small clearing, and my heart sank. Trevor stood at the border with a look of uneasiness and his fa
Ashley POVAfter breakfast, I just wanted to be left alone to clear my head. All this stress was causing me a migraine. I took some pain relievers and sat on the balcony. I watched the children play and it reminded me of the time when King would sneak over to my house and hang out with me. The uncertainty of my brother's whereabouts was nerve-wracking. I called and texted the number Trevor gave me, but no answer. Memories of my dreams returned and held his lifeless body clutched against my chest. I wished I had more time to get to know him, more time to be a better sister or more time to save him. Cringing from the memories, I climbed on the rails and jumped down off the balcony, landing on all four paws. Amelia took off running full speed to this dreadful place called home. All my life I have avoided going back there. My mother has taken too much from me and I will not let her take my brother's life for helping me. It's me she wants.
Louis POVI woke up out of my sleep to Ashley screaming her brother's name. Her silk nightgown sticking to her body covered in sweat, her claws submerged in our mattress, her eyes black as night, and white fur sprouting along her arms. I bolted to the side of her bed, "Swe
Soft sunlight filters through the curtains, casting a warm glow across the hospital room. The sound of beeping machines fills the air. Ashley squinted her eyes, her gaze was unfocused at first. She cries out in pain as her body is covered in bruises, and her face is marked with signs of torture.
The room went silent. Trevor shaking hands, grabbed King by his collar and sat him upright. Slamming him back into the wall." This better not harm my mate or pup. Or else all deals will be null and void. The title you care so much about will be mine." Trevor slapped King in his fa
Today is my last day as Alpha of Black Moon. Ashley hasn't spoken to me since our dinner date. Tried mind-linking, but she kept on blocking me out or making up excuses that she was busy. It's going to be even harder to see her once I hand over the pack to the winner of tonight's tournament






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews