LOGIN"Gak perlu gengsi, Leon! Bilang aja kamu panas dingin gara-gara aku perhatian sama Kevin!" cerocos Zaskia tak mau kalah, sengaja menaikkan dagunya tinggi-tinggi. "Ya ampun... kamu ini perempuan paling narsistik yang pernah aku temui," balas Leon sambil mengurut pelipisnya, menatap Zaskia dengan raut tak percaya. "Apa?! Narsistik?!" Zaskia menepuk meja pelan, matanya melotot tajam. "Kau juga pria yang paling arogan, egois, dan menyebalkan di muka bumi ini, tahu enggak?!" "Arogan?" Leon tertawa sinis. "Yang datang menyeberangi pulau cuma buat menginterogasi orang lain itu siapa kalau bukan kamu? Kamu tuh yang drama queen!" "Aku cuma menegakkan hakku sebagai tunanganmu, Leon!" "Tunangan di atas kertas! Jangan akting seolah kamu peduli!" Perdebatan di antara keduanya makin memanas dan tak terkendali. Dua orang bertunangan yang sama-sama punya gengsi setinggi langit itu terus bertukar cemoohan, melontarkan argumen-argumen absurd demi menutupi rahasia dan rasa malu masing-masing. Sem
Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menepuk papan dermaga kayu, kian mendekat ke arah hamparan pasir tempat mereka berdiri. Maya yang bersembunyi sedikit di balik punggung tegap Leon mengintip penasaran. Sosok Zaskia muncul dengan gaun pantai yang melambai elegan, kacamata hitam terangkat di atas kepala, serta senyum miring nan puas terukir di bibirnya. Tepat di belakang wanita itu, Kevin melangkah dengan raut wajah serba salah, meringis pelan sambil menghindari kontak mata langsung. "Leon, Sayang..." panggil Zaskia dengan nada yang dibuat manis, menghentikan langkahnya beberapa meter di depan mereka. Matanya langsung menyapu sosok Maya yang berada dalam lindungan Leon, lalu beralih menatap pria itu dengan binar kemenangan. "Ternyata kamu sembunyi di pulau ini." Ujung bibir Leon terangkat dingin. Sorot matanya yang pekat tak lagi menatap Zaskia, melainkan menusuk lurus ke arah Kevin yang makin salah tingkah. "Kevin... kau benar-benar cari mati." geram Leon dengan nada mem
Cahaya matahari pagi yang hangat menyepuh hamparan pasir putih di pulau pribadi itu. Angin laut berembus sepoi-sepoi, membawa aroma garam dan gemuruh ombak yang tenang. Di tepi pantai yang sepi, Leon berdiri dengan celana pendek santai, memamerkan dada bidang dan perut berototnya yang terpapar sinar matahari. Di sampingnya, Maya berdiri agak kaku sembari merapatkan ikatan kimono kain sutra tipis yang menutupi tubuhnya.Leon menatap Maya dengan binar mata nakal dan penuh antisipasi. "Ayo, sayang... buka kimonomu," bujuk Leon dengan suara menggoda.Maya menatap Leon tajam dengan pipi yang mendadak merona merah padam. Ia meremas erat kain kimononya di bagian dada, sama sekali menolak bergeming. "Kamu gila, ya? Kamu memilihkan aku bikini yang modelnya sangat seksi! Ini sih sama saja aku tak pakai apapun!" protes Maya gemas. Bikini yang dipilihkan Leon, berpotongan minim berwarna merah menyala, memperlihatkan hampir seluruh lekuk tubuhnya, terutama dibagian dadanya. Leon tertawa renyah,
Ting-tong! Ting-tong! Ting-tong! Suara bel apartemen bergema nyaring dan tanpa henti, memecah keheningan pagi kota metropolitan. Kevin yang baru saja selesai mandi berjalan keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Tubuh kekarnya yang tegap dan atletis hanya terbalut selembar handuk putih yang terlilit pasrah di pinggangnya, memperlihatkan dadanya yang bidang dan perut six-pack yang masih terhiasi sisa tetesan air. Dengan dahi berkerut tebal, Kevin melangkah menuju pintu utama dan melirik layar kamera intercom. Glek! Kevin menelan ludah kasar seketika. Di layar monitor, tampak wajah Zaskia yang dipenuhi amarah, menggebu-gebu dengan napas memburu. "Aku tahu kau ada di dalam, Kevin! Buka pintunya sekarang!" pekik Zaskia melalui speaker intercom. Tangannya terus menekan bel tanpa sabar, memicu suara denting yang semakin bising. Tahu tak bisa bersembunyi lagi, Kevin menghela napas panjang dan terpaksa memutar kunci, membuka pin
Beberapa menit kemudian, Maya mematikan kompor. Aroma harum tumisan daging sapi paprika berpadu dengan gurihnya saus tiram menguar memenuhi seluruh sudut dapur. Di sebelah wajan, panci kecil berisi rebusan seafood segar—udang dan cumi yang matang merekah—juga sudah diangkat dan ditiriskan. Maya memindahkan tumisan daging yang berkilau menggugah selera itu ke piring saji besar. Ia juga menata rebusan seafood hangat di wadah terpisah, menyandingkannya dengan mangkuk kecil saus kecap cabai racikannya. Setelah itu, dengan cekatan Maya menyendokkan nasi putih hangat ke atas dua piring. "Wangi banget," gumam Leon di sampingnya, duduk manis dan mulai menuangkan tumisan ke atas nasi hangat. Keduanya duduk berhadapan. Di bawah pendar lembut lampu gantung, suasana di antara mereka terasa jauh lebih tenang. Pemandangan bulan, bintang, dan laut malam yang gelap di balik dinding kaca vila menjadi latar belakang yang tak terlupakan.Leon mengambil potongan daging sapi, serta menambahkan rebusa
Langit senja berwarna jingga keemasan perlahan mulai menghiasi cermin langit di luar vila terpencil itu. Sinar matahari yang hangat berganti menjadi remang-remang lembut, menciptakan suasana damai setelah guncangan gairah yang begitu panas dan membakar di kolam renang beberapa jam lalu.Maya kini duduk bersandar di sofa panjang empuk yang menghadap TV layar lebar di ruang keluarga. Ia memakai jubah mandi putih tebal yang menyerap sisa kehangatan usai mandi. Rambutnya yang sedikit basah terurai di bahu, dan di kedua tangannya, ia memegang mangkuk kecil berisi es krim cokelat dingin yang ia nikmati dengan begitu santai.Namun, pikiran Maya tak bisa sepenuhnya lepas dari memori siang tadi. Bayangan tentang bagaimana Leon memeluknya, menatapnya, hingga denyutan pelepasan liar itu terlintas, pipi Maya mendadak memerah panas kembali. Tak lama kemudian, Leon yang baru saja selesai mandi berjalan santai hanya dengan mengenakan celana pendek santai dan handuk kecil yang menggantung di leher







