Mag-log in"Blokir semua akses tangga darurat menuju lantai dasar! Jangan biarkan bajingan itu keluar dari basement!" perintah Fatan melalui radio komunikasinya. Ia melompati anak tangga dua-dua, pistol Glock terhunus lurus ke depan. "Pintu utama area laundry sudah saya kunci dari sistem keamanan pusat! Dia terjebak di dalam sana, Letnan!" balas Zaky dari seberang radio. "Saya turun menyusul Anda sekarang!" "Bagus! Kita kepung dia dari dua arah!" Braakk!! Fatan menendang pintu ganda ruang laundry rumah sakit. Bunyi dengung mesin cuci industri berskala besar terdengar jelas, dipenuhi uap panas dan deretan keranjang kain linen. "Jatuhkan senjatamu dan menyerahlah! Kau sudah terkepung!" teriak Fatan, menyapu ujung laras pistolnya ke setiap lorong sempit di antara mesin-mesin raksasa itu. Tidak ada jawaban. Hanya desis uap panas yang keluar dari pipa pembuangan. Terdengar derap langkah berat di belakang Fatan. Zaky muncul dengan napas memburu dan sebilah pisau tempur di tangannya. "
"Kunci seluruh bangsal rawat inap sekarang juga! Jangan ada satu pun pasien yang ke luar gedung!" perintah Putra menggelegar melalui radio komunikasinya. "Izin, Komandan! Bukankah protokol standar mengharuskan kita mengevakuasi warga sipil saat ada ancaman pembunuhan di dalam gedung?" sahut komandan regu keamanan internal rumah sakit dengan nada panik. "Gunakan otakmu!" bentak Putra tanpa ampun, matanya menatap tajam ke arah lorong. "Pelakunya sudah mengganti seragam! Evakuasi massal hanya akan menciptakan kerumunan dan kepanikan! Dan kerumunan adalah tempat persembunyian paling sempurna bagi bunglon seperti dia! Kunci semua pasien dan staf di ruangan mereka masing-masing! Jangan biarkan ada yang berkeliaran di lorong!" "S-siap, Komandan!" "Fatan!" panggil Putra cepat. "Siap, Komandan!" jawab Fatan dari seberang radio. "Kerahkan satu peleton pasukan elite Alpha yang berjaga di perimeter luar! Suruh mereka masuk dengan senjata lengkap! Sapu bersih setiap jengkal rumah sakit
"JANGAN DIMINUM, DOKTER ALYA!"Teriakan yang menggelegar itu terdengar bersamaan dengan suara pintu yang didobrak dari luar. Belum sempat otak Alya mencerna apa yang terjadi, sesosok tubuh tegap berseragam hitam melesat menerjang ke arahnya. Fatan melompat melewati meja kaca, dan dengan satu ayunan kaki yang penuh perhitungan, ia menendang botol perak itu tepat sepersekian detik sebelum bibir Alya menyentuh cairan di dalamnya. Prang!! Botol perak itu terlempar keras menghantam dinding marmer. Cairan bening di dalamnya tumpah berhamburan, membasahi karpet wol tebal berwarna krem yang melapisi lantai ruangan. "F-Fatan?! Apa yang kau lakukan?!" jerit Alya dengan mata membelalak, tubuhnya terpaku di atas sofa akibat terkejut luar biasa."Mundur, Nyonya! Jangan sentuh cairan itu!" perintah Fatan dengan napas memburu, langsung menarik lengan Alya menjauh dari meja. Alya baru saja hendak melayangkan protes, namun kata-katanya tercekat di tenggorokan. Matanya terpaku ngeri ke ara
"Apa yang kau lakukan?! Bersihkan cepat!" bentak Zaky kesal. "Kain pel saya sudah terlalu basah, Pak! Cairan ini malah akan masuk ke dalam celah ruang istirahat Dokter Alya!" pria itu menunjuk ke arah celah bawah pintu dengan tangan bergetar. "Boleh saya minta izin masuk ke ruang istirahat itu sebentar saja? Saya hanya butuh mengambil beberapa lembar tisu kering atau handuk kecil di wastafel untuk menyerap air ini sebelum merembes ke karpet di dalam!" Fatan menajamkan matanya. Ia langsung membuka pintu ruang istirahat pribadi Alya dan menyapu pandangan ke seluruh penjuru ruangan kecil tersebut. Kosong. Tidak ada siapa-siapa, hanya ada sebuah sofa, meja kecil, wastafel, dan botol minum Alya di atas meja. "Hanya tiga puluh detik. Ambil tisunya di wastafel dan segera keluar," perintah Fatan, melangkah mundur untuk memberi jalan. "S-siap, Pak! Terima kasih!" Pria berseragam kebersihan itu melangkah masuk ke dalam ruang istirahat dengan kepala menunduk. Begitu tubuhnya melewati
"Ingat, Alya. Hanya setengah hari. Tidak ada pasien gawat darurat, tidak ada tindakan medis berat, dan tidak ada lembur. Kalau kamu merasa pusing atau mual sedikit saja, tinggalkan ruangan dan panggil Fatan." Suara bariton Arga Putra terdengar begitu penuh tuntutan dan kekhawatiran. Pria berseragam PDU lengkap itu menahan kedua bahu istrinya di depan pintu ruang praktik Rumah Sakit Sentosa. Alya memutar bola matanya sambil tersenyum geli. Ia merapikan kerah seragam suaminya dengan lembut. "Siap, Komandan, Suamiku yang luar biasa cerewet. Kamu sudah mengulang kalimat persis seperti itu lima kali sejak kita turun dari mobil." "Karena aku harus kembali ke markas pusat siang ini untuk serah terima tugas penting, Alya. Perasaanku sungguh tidak tenang meninggalkanmu bekerja, meskipun kamu hanya duduk di kursi," bantah Arga, dengan tatapan protektif. "Kehamilanmu masih sangat rentan." "Aku hanya melayani konsultasi rawat jalan, Putra. Dan lihatlah," Alya menunjuk ke arah pintu. "Ada
"Alya?" cibir Panca dengan tawa meremehkan. "Dia hanya perempuan lemah. Apa untungnya membunuh dokter itu bagi rencana kita?" "Bodoh," desis Sang Jenderal tajam, mencengkeram kerah baju tahanan Panca dan menariknya mendekat. "Kau benar-benar terisolasi dari dunia luar. Asal kau tahu, perempuan lemah yang kau remehkan itu sekarang sedang mengandung." Mata Panca membelalak sempurna. "M- mengandung? Alya hamil?!" "Benar. Dokter Alya Wening Wardana sedang mengandung benih Arga Putra. Dia sedang mengandung pewaris generasi keempat dari dinasti Wardana," ucap Sang Jenderal, melepaskan cengkeramannya dan mendorong Panca hingga pria itu terhuyung mundur. "Kelahiran anak itu akan mengunci seluruh aset kekayaan keluarga Wardana. Selama anak itu hidup, Kakek Kusuma tidak akan pernah melepaskan kekuasaannya kepada siapa pun." Napas Panca memburu. Dadanya bergemuruh dipenuhi rasa marah, iri dengki, dan kehausan akan balas dendam. "Jadi ... jika wanita itu mati ..." "Jika Alya mati denga
“Kakak punya utang ke Juragan Surya? Sejak kapan?” Rudi lanjut bertanya. “Kenapa nggak bilang?“Rud, nanti dulu,” balas Dina. “Kak Alya berdarah. Kita obati dulu dia.”Alya diajak ke ruang keluarga, tempat kotak obat disimpan. Sempat ia menoleh ke arah Putra dan menyuruh pria itu agar berbaring dan
“Geledah rumahnya! Bawa semua barang yang berharga!”Tangan kanan Juragan Surya memberikan instruksi, yang langsung diikuti seruan dari para anak buahnya, tampak girang karena bisa mengacak-acak kediaman Alya.Sementara itu, Putra diam di tempat persembunyiannya. Sesuai janji, ia tidak boleh membia
“Udah berapa hari ini, Hen? Apa masih belum ada kabar dari perempuan sial itu!?”Di kediamannya, Bu Dianti sedang mengomel tepat ketika beliau melihat Hendra keluar kamar untuk makan. Sudah lebih dari tiga hari berlalu sejak keributan di klinik, tapi Bu Dianti tidak mendapatkan kabar apa-apa soal p
Hendra mencoba melangkah masuk, tapi Alya langsung menghadang tubuh pria itu. “Kamu mau apa?” tanya Alya dingin. “Siapa di dalam?” “Nggak ada siapa-siapa. Tolong pergi.” “Nggak! Aku yakin aku dengar sesuatu dari dalam. Kamu ada tamu sepagi ini?” “Ya, mantan tunanganku yang sekarang sedang mem







