LOGIN"Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Dina!" potong Fatan tegas. Kali ini sorot matanya menajam penuh keyakinan. "Dengarkan aku! Aku tidak peduli dengan status sosial, harta, atau marga keluarga Hendarman. Yang kucintai adalah kamu, hatimu, ketulusanmu! Bukan latar belakang keluargamu. Aku sudah memilihmu, dan aku akan bertanggung jawab penuh atas pilihan itu." "Tapi ... ayahmu bilang kamu bukan lagi anak mereka ..." cicit Dina semakin terisak, merasa dirinya telah merusak masa depan Fatan. "Biarlah waktu yang membuktikan, Dina. Aku rela kehilangan segalanya asal aku tidak kehilanganmu," ucap Fatan penuh kesungguhan. Tak berapa lama kemudian, mobil SUV mewah Fatan memasuki halaman kediaman utama keluarga Wardana. Begitu kendaraan berhenti, Dina langsung membuka pintu mobil. Tanpa menunggu Fatan membukakan pintu, gadis itu berlari kecil masuk ke dalam rumah dengan wajah sembab dan isak tangis yang berusaha ditahannya. Ia langsung menerobos masuk menuju kamar tidurnya, mengunci
"Dina ...!" teriak Fatan putus asa saat melihat bayangan Dina menghilang di balik pintu lift restoran. Pria perwira muda itu sontak menoleh kembali ke arah meja makan, menatap kedua orang tuanya dengan napas memburu dan sorot mata kecewa sekaligus tak percaya. Ancaman yang baru saja dilontarkan oleh sang ayah benar-benar menghantam telak kesadarannya. Bapak Hendarman duduk dengan postur tegak, menyesap air di gelasnya dengan tenang tanpa menunjukkan sedikit pun rasa bersalah. Di sebelahnya, Ibu Ratna mendengus dingin sambil merapikan tas mewahnya, seolah apa yang terjadi pada putranya hanyalah sebuah drama kekanak-kanakan. "Ayah ... Ibu ... apa kalian benar-benar tega mengucapkan hal itu padaku?!" Suara Fatan terdengar gemetar menahan gemuruh emosi yang hampir meledak di dadanya. "Kalian mengancam akan membuangku hanya karena aku mencintai seorang wanita yang tulus?!" "Kami tidak membuangmu, Fatan. Kami hanya memberikan pilihan yang logis," jawab Bapak Hendarman datar. "Keluar
"M-malam, Om ... Tante. Saya Dina ..." ucapnya dengan suara gemetar Ibu Ratna, ibu Fatan, tidak langsung membalas salam tersebut. Ia perlahan meletakkan serbet kain di atas meja, lalu menyipitkan matanya. Tatapan matanya yang tajam dan menghakimi pakaian sederhana yang dikenakan gadis itu tanpa satu pun perhiasan mewah melekat di tubuh Dina. Suasana di meja makan privat itu mendadak berubah menjadi sangat dingin dan kaku. "Dina, ya?" Ibu Ratna membuka pertanyaa. dengan nada suara yang terdengar tenang namun menusuk tajam. "Fatan menelepon kami beberapa hari lalu, mengatakan ingin memperkenalkan seorang gadis istimewa. Tapi jujur saja, melihatmu berdiri di hadapanku sekarang ... ibu sedikit penasaran, dari kalangan keluarga mana asal-usulmu?" Dina menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa kering. "S-saya ... saya berasal dari sebuah desa di daerah Jawa, Tante ..." cicit Dina jujur. Ibu Ratna mendengus pelan, sebuah senyuman sinis terukir tipis di sudut
"Memperkenalkan Dina kepada kedua orang tuamu ...?" ulang Arga dengan sebelah alis terangkat, menatap tajam ke arah Fatan yang berdiri tegak penuh wibawa di ruang tamu kediaman Wardana. Alya, yang duduk di samping suaminya, ikut menatap Fatan dengan tatapan penuh tanda tanya. Fatan mengangguk yakin, mempererat genggaman tangannya pada jemari Dina yang tampak masih sedikit gugup. "Siap, benar, Komandan. Setelah badai yang baru saja kami lewati, saya semakin yakin bahwa Dina adalah satu-satunya wanita yang ingin saya dampingi seumur hidup saya. Karena itu, saya ingin membawanya bertemu langsung dengan kedua orang tua saya minggu ini." Arga terdiam sejenak, melirik sekilas ke arah dokumen kenegaraan milik keluarga Fatan yang sempat dibacanya di kantor polisi malam tadi. Ia tahu betul siapa orang tua Fatan, seorang pejabat tinggi negara terkemuka di kabinet yang sangat disegani, di mana lingkaran sosial mereka dipenuhi oleh para elite politik dan kaum ningrat. "Fatan, kau tahu be
Jantung Arga seolah berhenti berdetak sesaat. Matanya membelalak lebar saat melihat nama lengkap ayah Fatan tercetak jelas sebagai salah satu pejabat tinggi negara paling berpengaruh di kabinet pemerintahan, sebuah nama keluarga ningrat militer terpandang yang selama ini memegang kendali atas berbagai proyek strategis nasional. Arga mendongakkan kepalanya perlahan, menatap tajam ke arah Fatan dengan tatapan yang sulit diartikan. Fatan, yang menyadari dokumen penting keluarganya telah jatuh dan dibaca oleh sang komandan, seketika menegang kaku. Wajah perwira muda itu memucat dalam sekejap, menyadari bahwa penyamaran yang dijaganya rapat-rapat selama ini akhirnya terbongkar begitu saja. "Fatan ..." panggil Arga dengan suara baritonnya yang terdengar sangat dingin dan datar. "S-siap, Komandan ...?" jawab Fatan terbata-bata, berdiri tegak dengan postur kaku bak prajurit yang tertangkap basah melakukan pelanggaran fatal. Arga berdiri dari kursinya, melipat lembaran dokumen itu p
"Tolong bimbing korban ke mobil petugas untuk mendapatkan pemeriksaan medis, dan amankan pelaku segera ke sel tahanan sementara sebelum dipindah ke polres," instruksi tegas terdengar dari perwira unit kepolisian sektor setempat yang masih berada di dalam ruangan vila yang berantakan itu. Dina, masih diselimuti rasa shock dan gemetar hebat. Ia duduk di atas sebuah kursi kayu tua. Di sekelilingnya, serpihan kayu pintu yang hancur berserakan akibat dobrakan maut Fatan. Jaket tebal milik Fatan masih membalut rapat tubuh bagian atasnya, menutupi pakaiannya yang sempat dirobek oleh Satrio. Fatan berdiri tepat di sampingnya, terus menggenggam erat tangan gadis itu. Tatapannya penuh kelembutan dan perlindungan mutlak. "Apakah kamu sudah merasa sedikit lebih tenang, Dina?" bisik Fatan lembut, menatap wajah pucat kekasihnya. Netranya masih memancarkan sisa-sisa kemarahan dari kejadian tadi..Dina mengangguk lemah, menyandarkan kepalanya di lengan Fatan. Suaranya terdengar parau saat i
“Udah berapa hari ini, Hen? Apa masih belum ada kabar dari perempuan sial itu!?”Di kediamannya, Bu Dianti sedang mengomel tepat ketika beliau melihat Hendra keluar kamar untuk makan. Sudah lebih dari tiga hari berlalu sejak keributan di klinik, tapi Bu Dianti tidak mendapatkan kabar apa-apa soal p
Hendra mencoba melangkah masuk, tapi Alya langsung menghadang tubuh pria itu. “Kamu mau apa?” tanya Alya dingin. “Siapa di dalam?” “Nggak ada siapa-siapa. Tolong pergi.” “Nggak! Aku yakin aku dengar sesuatu dari dalam. Kamu ada tamu sepagi ini?” “Ya, mantan tunanganku yang sekarang sedang mem
Merasakan sulitnya bernapas, Alya memaki di dalam hati. Jangan-jangan… kekhawatiran adik laki-lakinya benar? Bahwa dia baru saja menyelamatkan orang berbahaya?! Sementara itu, dengan tatapan tajam dan penuh kewaspadaan, pria itu bertanya, “Siapa kamu?” Alya mengeryit, merasakan tulang lehernya
“Kak, ini serius nggak apa-apa dibawa ke dalam?” desis Rudi saat tiba di depan pintu masuk rumah. Di punggungnya, bertengger pria yang baru saja mereka temukan bersimbah darah di kebun pisang.“Sudah, jangan banyak bicara dan cepat rebahkan dia di ranjang,” balas Alya tegas dengan wajah serius.Beb







