登入Kain jubah mandi yang longgar itu terbuka di bagian atas, membuat sepasang "melon" besar milik gurunya yang polos tanpa sehelai benang pun langsung menekan dada Juna dengan sangat lekat dan padat.
Juna tersentak mundur satu tapak, menahan berat tubuh Ibu Arini yang mendadak lemas total seperti kehilangan seluruh tulang penyangganya.
Deggg...
Aroma wangi mawar bercampur hawa dingin yang menusuk dari kulit putih mulus Ibu Arini langsung menyengat seluruh indra penc
Pak Broto memicingkan matanya yang kecil dan licik, menatap lekat ke arah celah gelap di bawah meja partisi kayu ruang Kepala Sekolah. Sepatu pantofel hitamnya yang berdebu bergeser satu sentimeter, membuat jantung Juna di dalam kolong meja serasa mau copot melewati tenggorokan.'Gusti... ampun! Si kumis beracun ini bener-bener punya insting anjing pelacak, dikit lagi hidungnya bisa menyenggol pantat hamba!' batin Juna overthinking setengah mati sambil menahan napasnya rapat-rapat.Melihat bahaya yang sudah di depan mata, Clarissa Wijaya langsung mengambil tindakan nekat yang sangat dinamis. Dia melangkah keluar dari ruangan tengah dengan wajah datar sedingin es batu, langsung menghadang tubuh tambun Pak Broto secara frontal.Brakkkk!Clarissa sengaja menghentakkan buku catatan OSIS miliknya ke atas permukaan meja kerja, menciptakan suara dentuman yang berhasil mengejutkan fokus Pak Broto. "Pak Broto! Tolong jaga kelancangan Anda, ini adalah area
Clarissa menahan handle pintu dengan kedua tangan gemetaran, menolak memberikan izin masuk kepada siapa pun yang ada di luar teras ruangan.Gadis ningrat itu mengerahkan seluruh sisa berat tubuhnya untuk menahan dorongan daun pintu yang mulai terbuka beberapa sentimeter akibat putaran kunci serep Pak Broto.Krieeek..."Pak Broto, su-su-sumpah jangan masuk dulu! Saya sedang merapikan berkas-berkas penting milik Kepala Sekolah yang berserakan di lantai!" teriak Clarissa dengan nada suara panik bercampur marah yang sengaja dibuat melengking tinggi."Jangan cari alasan kamu, Clarissa! Kamu itu Ketua OSIS, kenapa malah mengunci diri di dalam ruangan kosong?!" bentak Pak Broto dari luar, terus mendorong daun pintu kayu itu dengan sekuat tenaga tambunnya."Saya tidak cari alasan, Pak! Sumpah, kalau Bapak nekat mendorong terus, saya akan laporkan tindakan pemaksaan ini ke ketua yayasan!" ancam Clarissa dengan napas yang mulai terengah-engah menaha
Suara gedoran brutal Pak Broto di luar pintu utama bener-bener membuat seisi bilik peristirahatan terasa bagai diguncang gempa bumi. Juna yang sedang menindih tubuh lemas Ibu Arini langsung mematung kaku, sementara sisa-sisa kancing kemeja seragamnya yang terlepas berhamburan di atas karpet seolah ikut bergetar panik."Clarissa! Aa... anu, mampus kita, su-su-sumpah itu si kumis beracun sudah mengamuk di depan teras luar ruangan Kepala Sekolah!" bisik Juna gagap setengah mati dengan keringat dingin yang mengucur deras di pelipisnya."Jangan bergerak, Juna! Tetap salurkan hawa panas kamu ke tubuh Ibu Arini, jangan kurangi sedikit pun tekanan kamu!" seru Clarissa dari balik sekat kayu dengan suara tertahan yang bergetar hebat."Ta-ta-tapi Clarissa, kalau dia sampai mendobrak masuk, Juna bisa digantung di tiang bendera sambil telanjang dada begini!" balas Juna terbata-bata dengan wajah pucat pasi."Saya sudah bilang biar saya yang menahan pintu sialan ini, Ar
Clarissa mendadak menarik paksa kerah belakang baju kemeja Juna, menyeret tubuh pemuda melarat itu masuk melewati pintu geser ganda ruang pribadi Kepala Sekolah yang sedang kosong ditinggal rapat luar.Gerakan lambung mereka berdua bener-bener satset, langsung menutup kembali pintu kayu tersebut hingga terkunci rapat tanpa menimbulkan suara sedikit pun ke koridor luar.Deggg...Suara batuk kering Pak Broto perlahan terdengar bergema di selasar luar, lalu berangsur-angsur menjauh menuju arah tangga gedung logistik. Kondisi itu membuat napas Juna yang sempat tertahan rapat di tenggorokan akhirnya bisa berembus keluar dengan sangat lega."Aduh, Gusti... su-su-sumpah, Juna kira si kumis beracun itu bakal langsung mendobrak pintu ini tadi, Clarissa!" bisik Juna gagap sambil menyeka keringat dingin di dahinya yang basah."Diam dulu, Juna! Jangan berisik atau posisi kita bisa ketahuan oleh guru piket yang lain!" seru Clarissa dengan bisikan ketat
Clarissa bergerak cepat memimpin jalan, menarik lengan baju kemeja seragam Juna dengan sentakan kuat memasuki lorong gelap yang menghubungkan gedung belakang dengan area logistik OSIS.Suasana di dalam koridor rahasia ini tampak sangat berdebu, pengap, dan hampir tidak pernah dilewati oleh para siswa biasa karena jalurnya sengaja diisolasi demi keperluan darurat organisasi.Juna melangkah tergesa-gesa mengekor di belakang sambil membawa sisa botol jamunya yang selamat dari amukan kaki Pak Broto di lapangan semen tadi.Sepasang matanya terus bergerak liar ke kanan dan kiri, mengawasi setiap sudut pergerakan di sekitar tangga selasar demi menghindari endusan intel Pak Broto yang terkenal licik."Clarissa! Aa... anu, pelan-pelan sedikit dong jalannya! S-Su-Sumpah, sisa botol jamu sakti milik emak bisa pecah semua kalau kita kejar-kejaran mirip maling begini!" bisik Juna gagap dengan napas yang mulai memburu naik turun."Tutup mulut kamu dan jangan ban
Pak Broto melotot beringas, sementara kaki kanannya yang tambun masih menginjak sisa-sisa anyaman bambu wadah jamu milik Juna. Cairan kunyit asam dan beras kencur mengalir lambat menggenangi ubin lapangan semen, bercampur dengan pecahan kaca botol yang berkilauan ditimpa terik matahari pagi."Anak melarat tidak tahu diri! Sekolah ini bukan tempat menampung sampah jualan jorok kamu!" bentak Pak Broto dengan urat leher yang menonjol tegang di hadapan ratusan murid.Melihat modal usaha ibunya dihancurkan secara biadab, Juna merasa ada sesuatu yang patah di dalam dadanya. Rasa takut yang biasanya membuat lidahnya gagap mendadak menguap, digantikan oleh luapan hawa murni pengasihan kuno yang mendadak bergejolak panas membara.Juna menolak mundur satu tapak pun dari hadapan guru senior antagonis tersebut. Pemuda melarat itu justru melangkah tegap maju ke depan, membusungkan dadanya yang bidang hingga kain seragam putihnya yang basah oleh keringat meregang kencang.
Pak Broto terbelalak syok, matanya nyaris keluar melihat kelancangan murid melarat di depannya yang berani merangkul aset berharga sekolah.Clarissa Wijaya pun membeku seketika, napasnya tertahan saat punggungnya menempel pas pada dada bidang Juna yang terasa hangat menembus seragam.Gejolak energi
Siska Anastasya berdiri dengan berkacak pinggang, matanya melotot menatap Juna dan Ibu Arini bergantian. "Kak Juna kok malah berduaan sama Bu Arini di depan toilet sihhh...?" tanya Siska dengan nada manja yang dibuat-buat.Juna menelan ludah kesat, keringat dinginnya mengalir semakin deras melintas
Juna panik setengah mati melihat tubuh Ibu Arini Kusuma yang tergeletak kaku di atas lantai toilet yang sedikit basah.“Duh, Gusti! Kalau beliau mati di sini, aku pasti dituduh melakukan malapraktik atau lebih parah lagi dituduh berbuat mesum sama mayat!” batin Juna dengan keringat dingin yang meng
"Arini! Saya tahu kamu di dalam! Buka pintunya!" teriak Pak Broto dari luar toilet dengan nada mengancam.Juna membeku di tempat, tangannya gemetaran hebat hingga botol jamu di keranjangnya beradu menimbulkan bunyi denting yang berisik.“Mampus... mampus... kalau Pak Broto lihat aku di sini sama Bu







