Beranda / Fantasi / Bu, Jangan, Juna Masih Muda! / Bab 3 Sentuhan Penyembuh

Share

Bab 3 Sentuhan Penyembuh

Penulis: Irbapiko
last update Tanggal publikasi: 2026-05-22 09:56:10

Juna panik setengah mati melihat tubuh Ibu Arini Kusuma yang tergeletak kaku di atas lantai toilet yang sedikit basah.

“Duh, Gusti! Kalau beliau mati di sini, aku pasti dituduh melakukan malapraktik atau lebih parah lagi dituduh berbuat mesum sama mayat!” batin Juna dengan keringat dingin yang mengucur deras.

Juna segera berlutut dan mengangkat bahu gurunya yang terasa sangat rapuh namun tetap berisi itu.

Seketika, telapak tangan Juna nyaris mati rasa karena kulit wanita itu terasa sedingin es batu yang baru keluar dari freezer.

"B-Bu! Bu Arini! S-Sumpah, jangan mati sekarang, Bu! Juna belum lulus sekolah!" Juna mengguncang tubuh itu dengan tenaga yang tertahan.

Melihat bibir Arini yang semakin membiru, Juna tidak punya pilihan lain untuk menyelamatkan nyawa guru idolanya.

Dia mendekap erat tubuh Ibu Arini ke dadanya, mencoba memberikan kehangatan fisik dari tubuhnya sendiri yang mulai berkeringat.

“Aduhhh…., panassss... be-beneran panasss…! Kok area bawah perutku rasanya kayak ada kompor meleduk?” Juna terlonjak kaget saat merasakan hawa membara mendadak mengalir deras dari perut bawahnya.

Energi itu menyebar cepat melalui pori-pori kulit Juna, lalu merambat masuk ke dalam tubuh sang guru yang membeku melalui persentuhan dada mereka.

Tanpa Juna sadari, ketulusannya merawat Ibu Lastri selama tiga tahun terakhir telah memicu kebangkitan kekuatan tersembunyi yang dahsyat.

Leluhur Juna ternyata bukan orang sembarangan, melainkan seorang tabib sakti mandraguna dengan ilmu kultivasi pengasihan tingkat tinggi.

Ibu Lastri sebenarnya tahu rahasia besar ini: kekuatan agung itu hanya bisa diwariskan jika sang Ibu bersedia menjadi tumbal penderitaan.

Demi masa depan Juna yang tidak lagi dihina karena miskin, Ibu Lastri merelakan tubuhnya terserang stroke dan lumpuh parsial demi memicu kebangkitan energi Juna.

Semua itu dilakukan agar garis keturunan pengobatan kuno bangkit di dalam aliran darah Arjuna Dewangga tepat saat dia sangat membutuhkannya.

“Kok rasanya kayak ada setrikaan yang nempel di dada, ya? Terus kenapa Ibu Arini malah makin nempel kayak perangko?” Juna membatin sambil terus memeluk Arini dengan erat.

Sepuluh menit penuh Juna bertahan dalam posisi itu, duduk bersila di atas lantai toilet sambil mendekap gurunya yang wangi mawar.

Perlahan tapi pasti, wajah pucat Ibu Arini mulai kembali memerah segar seolah baru saja selesai lari maraton.

Deru napas wanita itu yang tadinya tersengal dan dingin kini kembali teratur serta mulai menghembuskan hawa hangat.

Arini menyandarkan kepalanya semakin dalam ke ceruk leher Juna, menikmati aliran ‘jamu sakti’ alami yang mengalir dari tubuh muridnya.

“Wah, ini sih bukan cuma pengobatan... kok rasanya getarannya sampe ke arah apem tembem Ibu Arini ya?” Juna merasa bagian bawah tubuhnya semakin tidak terkendali.

Ibu Arini sepertinya benar-benar telah menemukan satu-satunya penawar untuk penyakit kutukan yang dideritanya selama ini.

Setelah kondisinya mulai stabil, Arini membuka matanya yang sayu dan menatap Juna dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh harap.

"Junaaa... tolong saya... jangan lepasin dulu..." bisik Arini dengan suara serak yang memicu adrenalin Juna.

Dia mengusap otot perut Juna dari balik seragam sekolah yang tipis, mencoba memastikan bahwa pemuda ini nyata dan bukan sekadar halusinasi.

Juna menelan ludah dengan susah payah, bayangan tumpukan tagihan rumah sakit Ibu Lastri mendadak melintas seperti film horor di kepalanya.

'Dua puluh juta... bisa buat Ibu sembuh... bisa buat beli obat paling mahal biar Ibu bisa jalan lagi dan nggak stroke lagi,' pikir Juna bimbang.

"Aa... anu, ta-ta-tapi Ibu beneran janji nggak bakal pecat Juna kalau ada yang tahu kita pelukan di sini?" tanya Juna dengan nada bicara yang masih gagap parah.

Arini mengangguk pelan, jemarinya kini meremas ujung seragam Juna dengan sangat posesif seolah tidak mau kehilangan sumber panasnya.

"Saya butuh kamu, Juna. Hanya kamu yang bisa melakukan 'terapi' ini untuk menyelamatkan nyawa saya," lirih Arini.

Akhirnya, Juna mengangguk pelan, tanda dia menerima kontrak rahasia yang sangat gila sekaligus menggiurkan tersebut.

Juna membantu Ibu Arini berdiri, mencoba merapikan pakaian gurunya yang sudah sangat kusut dan berantakan di sana-sini.

“Sial, kalau aku keluar sekarang, mukaku pasti kelihatan kayak habis olahraga lima ronde!” Juna mengusap wajahnya yang terasa panas.

Begitu Juna melangkah keluar dari pintu toilet bersamaan dengan Ibu Arini, jantungnya serasa mau copot dari tempatnya.

Pak Broto, guru pria senior yang selama ini terobsesi pada Arini, sedang berdiri di ujung koridor yang sepi dengan tatapan menyelidik.

Guru tua itu bersedekap di depan dada, matanya yang sinis memperhatikan penampilan Juna dan Arini secara bergantian.

"Menarik sekali... ada apa murid beasiswa miskin dan guru teladan keluar bareng dari toilet wanita sore-sore begini?" sindir Pak Broto dengan nada merendahkan.

Juna gemetaran hebat, keringat dinginnya kembali mengucur deras membasahi seragamnya yang sudah acak-acakan.

“Mampus! Si kumis beracun ini pasti bakal lapor ke Kepala Sekolah atau malah nyebarin gosip ke grup W******p guru!” batin Juna panik.

Pak Broto memperhatikan wajah Ibu Arini yang masih memerah dan pakaian Juna yang tampak sangat tidak rapi untuk ukuran seorang siswa.

Senyum sinis mengembang di wajah Pak Broto, seolah dia baru saja mendapatkan bukti kuat untuk menghancurkan hidup Juna di sekolah ini.

"S-Sumpah Pak, Juna cuma... anu... tadi dipanggil Bu Arini buat bantu benerin kran yang macet!" seru Juna dengan suara yang sangat pecah karena takut.

"Benerin kran sampai napasmu tersengal-sengal dan mukamu merah begitu, Juna? Kamu pikir saya bodoh?" Pak Broto berjalan mendekat dengan langkah yang sangat mengintimidasi.

Arini mencoba tetap tenang, meskipun tangannya yang tersembunyi di balik rok masih bergetar hebat karena sisa-sisa serangan penyakitnya.

"Sudahlah Broto, jangan terlalu berlebihan pada murid saya, dia memang hanya membantu saya tadi," ucap Arini berusaha membela Juna.

Pak Broto tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat meremehkan dan penuh kebencian di telinga Juna.

"Membantu ya? Saya rasa dia lebih ahli dalam hal 'melayani' guru daripada sekadar mengerjakan tugas bahasa Indonesia," timpal Pak Broto ketus.

“Aduh, kalau dia sampai tahu soal kontrak dua puluh juta, aku bisa digantung di tiang bendera sambil ditelanjangi!” Juna makin overthinking tingkat dewa.

Mata Pak Broto kini menatap tajam ke arah saku celana Juna yang tampak menonjol karena botol jamu sisa yang belum sempat disimpan.

"Apa yang kamu sembunyikan di situ, Arjuna? Jangan-jangan kamu baru saja mencuri sesuatu atau melakukan hal asusila di dalam sana?" tuduh Pak Broto.

Juna terpojok tepat di depan pintu toilet, sementara Ibu Arini tampak sudah siap untuk menggunakan posisinya guna melindungi Juna dari intimidasi Pak Broto.

“Pelatukku juga masih tegang lagih! Jangan sampai Pak Broto lihat ‘batangan nakal’ ini menonjol!” batin Juna sambil berusaha menutupi bagian depannya dengan keranjang jamu.

Pak Broto melangkah satu langkah lagi, jaraknya kini hanya satu meter dari Juna yang sudah pucat pasi.

"Buka tasmu sekarang, Juna! Saya mau periksa apa saja yang kamu lakukan di dalam toilet wanita!" bentak Pak Broto dengan suara menggelegar.

Tepat saat tangan Pak Broto hendak merampas keranjang Juna, terdengar suara langkah kaki yang sangat cepat dan berisik dari arah tangga.

"Kak Ju-naaaa! Kok lama banget sih? Siska udah nungguin di depan gerbang tau!" teriak seorang gadis dengan suara melengking.

Siska Anastasya, si bintang kelas yang agresif, mendadak muncul di ujung koridor dengan wajah cemberut namun langsung berubah ceria saat melihat Juna.

Pak Broto menoleh dengan wajah kesal karena interupsinya terganggu, sementara Juna merasa mendapatkan bantuan dari langit.

Namun, senyum Siska mendadak hilang saat dia melihat Ibu Arini berdiri sangat dekat dengan Juna dengan wajah yang masih tampak ‘habis anu’.

“Gawat... ini sih keluar dari mulut singa, masuk ke kandang macan betina yang lagi cemburu!” Juna memejamkan mata, pasrah dengan nasibnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 200 Mahkota Kejayaan Abadi Sang Kaisar Jamu

    Sinar mentari pagi keemasan memancar hangat menembus dinding kaca lantai teratas gedung pusat Rumah Sakit Internasional Arjuna Dewangga. Panorama ibu kota membentang luas di bawah sana, memperlihatkan bendera raksasa konsorsium herbal berkibar megah di setiap sudut jalan protokol.Juna berdiri kokoh di balkon ruang kantor kepresidenan mengenakan setelan jas kaisar medis hitam berpadu sulaman naga emas murni.Di ruang tengah yang luas berlapis karpet sutra merah, seluruh aliansi wanita tercantik di jagat raya duduk berkumpul mengelilingi sofa utama.Nyonya Arini Dewangga duduk anggun di singgasana tengah, memangku hasil pemindaian ultrasonografi berkas emas dari laboratorium medis.Sepasang melon montok milik sang permaisuri utama membusung anggun di balik balutan gaun sutra hijau zamrud longgar, memancarkan aura keibuan yang sangat teduh.Clarissa Wijaya bersama Madam Elena berdi

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 199 Malam Pertama Penyatuan Takhta Sejati

    Lampu kristal gantung di kamar pengantin Royal Suite meredup lembut, menyisakan pendar keemasan lilin aromaterapi mawar di atas meja marmer. Ranjang berukuran lima kali lima meter terhampar megah dengan sprei sutra emas bertabur sepuluh ribu kelopak bunga mawar merah.Nyonya Arini Dewangga berdiri di samping tempat tidur, membelakangi cermin rias seraya melepas satu per satu tusuk konde emas dari sanggulnya.Kebaya sutra hijau zamrud yang membalut raga sintal sang permaisuri utama perlahan melorot ke lantai keramik marmer secara satset.Raga molek seputih pualam milik sang guru idola terpampang indah hanya berbalut kain kemben sutra tipis yang nyaris transparan.Sepasang melon montok berukuran padat matang membusung kencang, berguncang halus mengiringi tarikan napasnya yang mulai memburu.Juna melangkah tegap mendekati sang permaisuri, mengenakan celana tidur sutra hitam tanpa se

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 198 Resepsi Kejayaan dan Penghormatan Aliansi Ratu

    Lampu sorot keemasan menyorot megah ke arah panggung pelaminan seluas lima puluh meter di ballroom utama Hotel Grand Imperial. Karpet sutra merah dipenuhi jajaran ribuan buket bunga anggrek bulan langka, menyambut kehadiran lima ribu tamu undangan dari kalangan kepala negara, konglomerat dunia, jenderal militer, dan dewan guru besar kedokteran.Juna berdiri gagah di singgasana tengah mengenakan beskap beludru hitam berhias sulaman naga emas murni, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang tiada tanding.Nyonya Arini Dewangga duduk anggun tepat di samping kanan Juna, memancarkan pesona Permaisuri Utama dengan kebaya hijau zamrud berlapis brokat emas.Sepasang melon montok milik sang permaisuri membusung padat dan kenyal di balik kebaya ketat, menonjolkan lekuk panggul sintal yang memikat setiap pasang mata.Di sisi kiri dan kanan singgasana utama, enam kursi beludru emas terisi anggun oleh Clari

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 197 Akad Nikah nan Agung

    Karpet merah tebal berhias taburan kelopak mawar putih dan melati keraton terbentang megah di lorong utama ballroom Hotel Grand Imperial. Lampu gantung kristal berlapis emas memancarkan kemilau cahaya agung, menerangi ribuan tamu kehormatan dari kalangan menteri, jenderal militer, konglomerat, hingga duta besar puluhan negara sahabat.Juna duduk tegak di meja akad marmer putih berukir emas mengenakan beskap pengantin beludru hitam bercorak prada emas khas raja Jawa.Keris pusaka bertahtakan batu mirah delima terselip kokoh di pinggang belakangnya, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang tiada tanding.Ibu Arini Kusuma duduk anggun di sisi kanan Juna mengenakan kebaya pengantin sutra hijau zamrud berpadu brokat emas murni berhias untaian melati ronce.Riasan paes agung keraton membingkai wajah cantiknya yang sangat merona, menonjolkan lekuk sepasang melon montok yang membusung anggun dan padat

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 196 Malam Bimbingan Terakhir Sebelum Akad

    Lampu kamar tidur utama di penthouse lantai tiga puluh lima diredupkan, menyisakan pendar keemasan dari lampu tidur kristal di sudut dinding. Semerbak wangi minyak melati keraton dan aroma teh chamomile hangat berpadu menenangkan udara sejuk berpendingin ruangan.Juna duduk bersandar di kepala ranjang berbalut sprei sutra emas, mengenakan celana tidur longgar tanpa mengenakan atasan kemeja.Dada bidang berotot tebal milik sang pahlawan medis terpampang kokoh, menyemburkan hawa hangat khas Inti Jantan Emas.Ibu Arini Kusuma duduk menyamping di dekat panggul tegap Juna, mengenakan gaun tidur sutra putih gading berenda tipis.Kain sutra tipis itu mencetak jelas lekuk pinggang sintalnya, memperlihatkan sepasang melon montok yang membusung matang dan kenyal."A-Aa... anu, Bu Arini! S-Su-Sumpah, malam ini rasanya bener-bener beda dibanding malam-malam biasa!" cicit Juna pura-pura lugu

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 195 Persiapan Pernikahan Agung

    Aroma wangi bunga melati keraton dan mawar merah berpadu semerbak di aula utama gedung serbaguna keluarga Wijaya. Puluhan staf protokoler kepresidenan sibuk menyortir ribuan kotak undangan beludru merah marun berukir lempengan emas murni dua puluh empat karat.Juna berdiri di samping meja display undangan mengenakan kemeja sutra hitam lengan panjang, mengamati kesibukan persiapan bersama seluruh wanitanya.Clarissa Wijaya berdiri anggun memegang daftar manifes tamu kenegaraan, didampingi oleh Madam Elena yang memeriksa jalur distribusi diplomatik.Ibu Arini Kusuma duduk berdampingan dengan Aurel dan Nyai Sekar, tersenyum haru menatap ukiran nama "Arjuna Dewangga & Arini Kusuma" di atas lempengan emas."A-Aa... anu, Kak Clarissa! S-Su-Sumpah, undangan berlapis emas murni ini beneran dikirim ke seluruh kepala negara sahabat dan menteri kabinet?!" cicit Juna pura-pura lugu diawal.

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 6 Kantin: Saksi Bisu Hubungan Tabu

    Suara manja Mbak Ratna yang bocor melalui speaker ponsel seketika membuat Juna panik sampe keringat dingin. Ibu Arini Kusuma pun mengernyitkan alisnya yang indah, menatap saku celana Juna dengan pandangan menyelidik yang penuh curiga."A-A-Anu Bu... ini... ini panggilan darurat dari konter jamu!" s

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 5 Ketua OSIS Cantik nan Jelita

    Pak Broto terbelalak syok, matanya nyaris keluar melihat kelancangan murid melarat di depannya yang berani merangkul aset berharga sekolah.Clarissa Wijaya pun membeku seketika, napasnya tertahan saat punggungnya menempel pas pada dada bidang Juna yang terasa hangat menembus seragam.Gejolak energi

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 4 Kultivasi untuk Bu Arini

    Siska Anastasya berdiri dengan berkacak pinggang, matanya melotot menatap Juna dan Ibu Arini bergantian. "Kak Juna kok malah berduaan sama Bu Arini di depan toilet sihhh...?" tanya Siska dengan nada manja yang dibuat-buat.Juna menelan ludah kesat, keringat dinginnya mengalir semakin deras melintas

  • Bu, Jangan, Juna Masih Muda!   Bab 2 Tawaran 20 Juta

    "Arini! Saya tahu kamu di dalam! Buka pintunya!" teriak Pak Broto dari luar toilet dengan nada mengancam.Juna membeku di tempat, tangannya gemetaran hebat hingga botol jamu di keranjangnya beradu menimbulkan bunyi denting yang berisik.“Mampus... mampus... kalau Pak Broto lihat aku di sini sama Bu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status