LOGINNyai Sekar memajukan bibir merah mewahnya, mengikis sisa jarak di depan wajah memucat milik Juna. Hawa panas berbau pelet racun menguar pekat dari selendang sutra hitam yang melilit ketat tubuh tegap sang perjaka.
Aurel berteriak histeris di samping meja kasir, mencoba merangkak maju namun tubuhnya terkunci lemas oleh sisa asap racun.
"A-Aa... anu, Nyai Sekar! S-Su-Sumpah, Juna beneran tidak mau melakukan hal maksiat di tengah lobi toko ini!" jerit Juna gagap setengah mati.
Sinar mentari pagi keemasan memancar hangat menembus dinding kaca lantai teratas gedung pusat Rumah Sakit Internasional Arjuna Dewangga. Panorama ibu kota membentang luas di bawah sana, memperlihatkan bendera raksasa konsorsium herbal berkibar megah di setiap sudut jalan protokol.Juna berdiri kokoh di balkon ruang kantor kepresidenan mengenakan setelan jas kaisar medis hitam berpadu sulaman naga emas murni.Di ruang tengah yang luas berlapis karpet sutra merah, seluruh aliansi wanita tercantik di jagat raya duduk berkumpul mengelilingi sofa utama.Nyonya Arini Dewangga duduk anggun di singgasana tengah, memangku hasil pemindaian ultrasonografi berkas emas dari laboratorium medis.Sepasang melon montok milik sang permaisuri utama membusung anggun di balik balutan gaun sutra hijau zamrud longgar, memancarkan aura keibuan yang sangat teduh.Clarissa Wijaya bersama Madam Elena berdi
Lampu kristal gantung di kamar pengantin Royal Suite meredup lembut, menyisakan pendar keemasan lilin aromaterapi mawar di atas meja marmer. Ranjang berukuran lima kali lima meter terhampar megah dengan sprei sutra emas bertabur sepuluh ribu kelopak bunga mawar merah.Nyonya Arini Dewangga berdiri di samping tempat tidur, membelakangi cermin rias seraya melepas satu per satu tusuk konde emas dari sanggulnya.Kebaya sutra hijau zamrud yang membalut raga sintal sang permaisuri utama perlahan melorot ke lantai keramik marmer secara satset.Raga molek seputih pualam milik sang guru idola terpampang indah hanya berbalut kain kemben sutra tipis yang nyaris transparan.Sepasang melon montok berukuran padat matang membusung kencang, berguncang halus mengiringi tarikan napasnya yang mulai memburu.Juna melangkah tegap mendekati sang permaisuri, mengenakan celana tidur sutra hitam tanpa se
Lampu sorot keemasan menyorot megah ke arah panggung pelaminan seluas lima puluh meter di ballroom utama Hotel Grand Imperial. Karpet sutra merah dipenuhi jajaran ribuan buket bunga anggrek bulan langka, menyambut kehadiran lima ribu tamu undangan dari kalangan kepala negara, konglomerat dunia, jenderal militer, dan dewan guru besar kedokteran.Juna berdiri gagah di singgasana tengah mengenakan beskap beludru hitam berhias sulaman naga emas murni, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang tiada tanding.Nyonya Arini Dewangga duduk anggun tepat di samping kanan Juna, memancarkan pesona Permaisuri Utama dengan kebaya hijau zamrud berlapis brokat emas.Sepasang melon montok milik sang permaisuri membusung padat dan kenyal di balik kebaya ketat, menonjolkan lekuk panggul sintal yang memikat setiap pasang mata.Di sisi kiri dan kanan singgasana utama, enam kursi beludru emas terisi anggun oleh Clari
Karpet merah tebal berhias taburan kelopak mawar putih dan melati keraton terbentang megah di lorong utama ballroom Hotel Grand Imperial. Lampu gantung kristal berlapis emas memancarkan kemilau cahaya agung, menerangi ribuan tamu kehormatan dari kalangan menteri, jenderal militer, konglomerat, hingga duta besar puluhan negara sahabat.Juna duduk tegak di meja akad marmer putih berukir emas mengenakan beskap pengantin beludru hitam bercorak prada emas khas raja Jawa.Keris pusaka bertahtakan batu mirah delima terselip kokoh di pinggang belakangnya, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang tiada tanding.Ibu Arini Kusuma duduk anggun di sisi kanan Juna mengenakan kebaya pengantin sutra hijau zamrud berpadu brokat emas murni berhias untaian melati ronce.Riasan paes agung keraton membingkai wajah cantiknya yang sangat merona, menonjolkan lekuk sepasang melon montok yang membusung anggun dan padat
Lampu kamar tidur utama di penthouse lantai tiga puluh lima diredupkan, menyisakan pendar keemasan dari lampu tidur kristal di sudut dinding. Semerbak wangi minyak melati keraton dan aroma teh chamomile hangat berpadu menenangkan udara sejuk berpendingin ruangan.Juna duduk bersandar di kepala ranjang berbalut sprei sutra emas, mengenakan celana tidur longgar tanpa mengenakan atasan kemeja.Dada bidang berotot tebal milik sang pahlawan medis terpampang kokoh, menyemburkan hawa hangat khas Inti Jantan Emas.Ibu Arini Kusuma duduk menyamping di dekat panggul tegap Juna, mengenakan gaun tidur sutra putih gading berenda tipis.Kain sutra tipis itu mencetak jelas lekuk pinggang sintalnya, memperlihatkan sepasang melon montok yang membusung matang dan kenyal."A-Aa... anu, Bu Arini! S-Su-Sumpah, malam ini rasanya bener-bener beda dibanding malam-malam biasa!" cicit Juna pura-pura lugu
Aroma wangi bunga melati keraton dan mawar merah berpadu semerbak di aula utama gedung serbaguna keluarga Wijaya. Puluhan staf protokoler kepresidenan sibuk menyortir ribuan kotak undangan beludru merah marun berukir lempengan emas murni dua puluh empat karat.Juna berdiri di samping meja display undangan mengenakan kemeja sutra hitam lengan panjang, mengamati kesibukan persiapan bersama seluruh wanitanya.Clarissa Wijaya berdiri anggun memegang daftar manifes tamu kenegaraan, didampingi oleh Madam Elena yang memeriksa jalur distribusi diplomatik.Ibu Arini Kusuma duduk berdampingan dengan Aurel dan Nyai Sekar, tersenyum haru menatap ukiran nama "Arjuna Dewangga & Arini Kusuma" di atas lempengan emas."A-Aa... anu, Kak Clarissa! S-Su-Sumpah, undangan berlapis emas murni ini beneran dikirim ke seluruh kepala negara sahabat dan menteri kabinet?!" cicit Juna pura-pura lugu diawal.
Suara manja Mbak Ratna yang bocor melalui speaker ponsel seketika membuat Juna panik sampe keringat dingin. Ibu Arini Kusuma pun mengernyitkan alisnya yang indah, menatap saku celana Juna dengan pandangan menyelidik yang penuh curiga."A-A-Anu Bu... ini... ini panggilan darurat dari konter jamu!" s
Pak Broto terbelalak syok, matanya nyaris keluar melihat kelancangan murid melarat di depannya yang berani merangkul aset berharga sekolah.Clarissa Wijaya pun membeku seketika, napasnya tertahan saat punggungnya menempel pas pada dada bidang Juna yang terasa hangat menembus seragam.Gejolak energi
Siska Anastasya berdiri dengan berkacak pinggang, matanya melotot menatap Juna dan Ibu Arini bergantian. "Kak Juna kok malah berduaan sama Bu Arini di depan toilet sihhh...?" tanya Siska dengan nada manja yang dibuat-buat.Juna menelan ludah kesat, keringat dinginnya mengalir semakin deras melintas
Juna panik setengah mati melihat tubuh Ibu Arini Kusuma yang tergeletak kaku di atas lantai toilet yang sedikit basah.“Duh, Gusti! Kalau beliau mati di sini, aku pasti dituduh melakukan malapraktik atau lebih parah lagi dituduh berbuat mesum sama mayat!” batin Juna dengan keringat dingin yang meng







