Home / Romansa / Budak Cinta Si Tante / 5 - Dentuman Musik dan Pertemuan

Share

5 - Dentuman Musik dan Pertemuan

last update publish date: 2021-09-02 22:41:24

Hari telah berlarut melintasi batas tengah malam, dan dunia Nabastala bergeser drastis dari atmosfer akademis kampus yang tenang menuju remang-remang lampu neon serta dentuman subwoofer bas yang menggetarkan dada.

Di lantai dua salah satu klub malam paling eksklusif di pusat kota, warna-warni pencahayaan laser berputar liar membelah kegelapan. Kilatan cahayanya menyiram kerumunan pengunjung yang tenggelam dalam euforia alkohol, kepulan asap rokok, dan alunan musik elektronik yang memekakkan telinga.

Di tengah lautan manusia yang saling bergoyang mengikuti irama, Nabastala berdiri dengan ketenangan yang terlatih. Di dunia serba remang ini, nama aslinya menguap tanpa bekas. Orang-orang hanya mengenalnya sebagai Aryo—seorang pemuda tampan berpikiran terbuka dengan pesona fisik yang selalu sanggup meluluhkan hati para wanita kaya.

Jemari Aryo melingkar santai namun mengikat di pinggang seorang wanita matang bernama Calys. Wanita berusia awal empat puluhan itu merupakan salah satu klien langganannya. Kulit Calys kencang dan mulus, hasil dari investasi perawatan mahal di klinik-klinik kecantikan ternama. Malam ini, Calys mengenakan gaun malam mini berpotongan rendah yang secara sengaja memamerkan belahan dadanya. Wanita itu meliukkan tubuhnya rapat-rapat, menggesekkan bagian belakang tubuhnya pada ketegangan gairah Aryo seiring tempo musik yang mendadak berubah meliuk-liuk, memadukan ketukan kencang dengan melodi biola elektronik.

"Kenapa masih dipanggil Tante saja, sih? Yang mesra, dong," bisik Calys manja di tengah bisingnya lagu. Tangan wanita itu meraih pergelangan tangan Aryo, menuntunnya agar merengkuh pinggangnya lebih erat, menempelkan dada mereka tanpa jarak.

Aryo mengulas senyum terbaiknya—sebuah senyum hangat berhias pendar mata memikat yang sudah sangat terlatih untuk menyenangkan para wanita kaya yang kesepian. Pekerjaan sebagai male escort atau penghibur kelas atas seperti ini memang memberikan limpahan pundi-pundi rupiah dalam jumlah fantastis. Dari lembaran-lembaran uang inilah Aryo sanggup melunasi tunggakan kuliahnya, membiayai kebutuhan pokok Ibu di rumah, serta menanggung beban hidup yang tak pernah sanggup dipikul oleh bapaknya.

Bagi Aryo, pekerjaan ini menyajikan kepuasan biologis tanpa ikatan tanggung jawab moral yang mengikat. Meski demikian, ada harga yang harus dibayar. Ia harus selalu sabar menoleransi rengekan manja, drama emosional, hingga permintaan-permintaan aneh dari para kliennya.

"Perlu ditambah limitnya, Tante," bisik Aryo tepat di ceruk leher Calys. Suaranya rendah dan serak, menyalurkan embusan napas hangat yang seketika meremangkan bulu kuduk wanita di pelukannya.

"Aman...." Calys tertawa puas, terdengar agak serak akibat pengaruh beberapa sloki vodka yang sudah bersarang di perutnya. Dengan gerakan jari yang sedikit gemetar, wanita itu merogoh tas tangan bermerek Hermes miliknya, mengeluarkan ponsel pintar terbaru, dan membuka aplikasi perbankan. Layar yang menayangkan menu transfer siap kirim itu dipamerkan tepat di depan wajah Aryo. "Nomor rekening kamu masih yang dulu, kan?"

"Tahu saja, deh," sahut Aryo terkekeh halus. Ia mendekatkan bibirnya, mendaratkan kecupan-kecupan ringan yang berurutan di sepanjang garis rahang Calys, menyusuri leher jenjangnya, hingga berhenti tepat di belakang daun telinga. Tangan kirinya yang bebas bergerak usil, meremas pinggul kencang Calys seraya menempelkan bukti gairah mudanya pada lekuk tubuh wanita itu.

"Kamu maunya buru-buru terus...," keluh Calys berpura-pura merajuk, walau seluruh tubuhnya sudah pasrah sepenuhnya dalam kendali dan permainan Aryo.

Bagi Aryo, makin cepat ia membuat kliennya bertekuk lutut dan terpuaskan, makin cepat pula tugasnya tuntas malam ini. Namun, tepat ketika jemari kirinya mulai menuntun telapak tangan Calys menuju bagian depan celana jinsnya, pandangan mata Aryo melintasi bahu Calys dan menerobos kerumunan orang yang menari.

Tatapannya terhenti di sudut paling remang ruangan tersebut.

Di barisan kursi bar yang agak gelap dan jauh dari hiruk-pikuk lantai dansa, duduk seorang wanita yang sangat familiar.

Anindya.

Aryo sempat gelagapan. Langkah kakinya yang mengukir gerakan dansa mendadak kaku. Tatapannya terkunci sepenuhnya pada sosok dosen wanita yang beberapa minggu lalu dilihatnya bertengkar hebat di pelataran parkir kampus.

Di tengah lautan manusia yang berpakaian minim, terbuka, dan berekspresi liar di bawah kilatan lampu strobo, Anin duduk sendirian.

Wanita itu masih mengenakan setelan pakaian kerja formal—blus berlengan panjang dan rok span tebal—yang amat tertutup dan terkesan salah tempat. Wajah tirusnya tampak begitu muram, diterpa pendar cahaya remang dari balik gelas kristal di mejanya. Jemari lentiknya yang gemetar hanya memutar-mutar gelas berisi cairan bening berkubus es tanpa berniat meminumnya.

Ada kesan canggung, asing, dan amat rapuh dari bahasa tubuh sang dosen. Anin terlihat seperti sosok yang sengaja melarikan diri dari neraka rumah tangganya, mencari tempat paling kotor dan bising di kota ini untuk menulikan pendengarannya, namun berakhir terdampar tanpa tahu harus berbuat apa.

"Aryo? Mau ke mana, Sayang?"

Teguran Calys memutus fokus Aryo seketika. Wanita itu menyadari perubahan perhatian pasangannya dan menghentikan pergerakan tubuh mereka. Calys sudah menarik pergelangan tangan Aryo keluar dari kerumunan lantai dansa, mengarahkannya menuju lorong sepi yang menghubungkan area klub dengan pintu keluar ke gedung parkir VIP.

"Kejutan buat kamu," kedip Calys penuh rahasia seraya memamerkan remote pengunci mobil mewah Mercedes-Benz dari dalam tasnya.

Aryo memaksakan tawa kecil, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan debar dadanya, lalu kembali memasang topeng profesionalisme sebagai pemuas dahaga wanita. "Kejutan apa, Tante?"

"Ikut saja dulu," kekeh Calys sambil menarik dasi Aryo.

Aryo melangkah mengekor, namun kepalanya sempat menoleh ke belakang sekali lagi. Di antara remang cahaya merah dan bayang-bayang kerumunan yang menari, bayangan wajah sendu Anin di sudut bar terus membayang kuat di ingatan Aryo.

Luka mendalam dan keputusasaan di mata dosen anggun itu seolah memanggil naluri terliarnya—bukan sekadar untuk berburu, melainkan untuk mendekat, merengkuh tubuh rapuhnya, dan membongkar seluruh pertahanan dingin yang selama ini membentengi wanita itu dari dunia.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Budak Cinta Si Tante   36 - Lamaran Resmi

    Tangan Nabas gemetaran saat menaruh nampan kayu di atas meja kaca. Denting halus cangkir-cangkir teh di atasnya terdengar menyengat di telinganya sendiri. Di dalam ruang tamu bercat biru muda itu, derai tawa dua keluarga bertabrakan dengan aroma gurami asam manis yang membumbung pekat dari meja makan. Bagi orang lain, sore itu adalah puncak kebahagiaan. Bagi Nabas, setiap detik terasa bagai perhitungan mundur bom waktu."Loh, kok sudah tegang aja mukamu, Bas?" bisik Kea tepat di samping telinganya. Cengiran tipis gadis itu tak mampu mengikis ketegangan yang merambat di bahu Nabas."Gerah aja," dalih Nabas pendek, membenahi kerah kemeja batiknya yang terasa mencekik.Sebelum Nabas sempat menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, ayah Kea membenahi posisi duduk. Pria tua berbadan tegap itu membenahi kacamata bacanya, menatap Nabas lurus-lurus. Suasana hangat di ruangan itu mendadak surut."Nabas... Paman dan Bibi menyerahkan Kea sepenuhnya kepadamu," tegas Ayah Kea. Suaranya berat,

  • Budak Cinta Si Tante   35 - Batas Kontrak

    "Tante yakin?" Nabas melontarkan pertanyaan itu dengan intonasi rendah, menatap kartu kredit kelabu di atas meja pantry yang digeser Anin beberapa senti mendekatinya. "Proses perceraian sudah selesai, Yo. Mas Zaki tidak punya hak apa pun lagi mendekati rumah ini," balas Anin tegas, menyilangkan kedua tangan di dada. "Tugasmu menemaniku sudah tuntas. Aku tidak akan mempanjang kontrak lagi." "Tapi kartu ini...," Nabas memotong, menghentikan telunjuknya tepat di atas benda persegi itu, "Tante enggak perlu bayar apa-apa lagi. Aku tuh datang bukan buat nagih." "Itu hakmu, Aryo. Aku tidak suka punya utang pada siapa pun, apalagi soal jasa," potong Anin cepat, memamerkan senyum tipis yang sengaja memagar jarak. Nabas menarik napas dalam, memutari meja tanpa memedulikan batas yang dibangun Anin. Pemuda itu berlutut di samping kursi tinggi Anin, lalu tanpa permisi menyandarkan kepalanya secara manja di pangkuan wanita itu, melingkarkan kedua tangan di pinggang Anin. "Yo...," desis Anin,

  • Budak Cinta Si Tante   34 - Ketukan Palu Hakim

    Anin menghembuskan napas panjang, mengaitkan kedua jemari tangannya yang dingin memucat di atas pangkuan rok kain hitamnya. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya cuma ingin hari ini semuanya benar-benar selesai. Saya lelah kalau harus terus bolak-balik ke gedung pengadilan ini dan melihat wajah pria itu." Di sisinya, Pak Hendra—pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan setelan jas hitam rapi—menaikkan letak kacamatanya seraya merapikan berkas visum dan foto peninggalan pengrusakan pintu Rumah Batu. "Bu Anin, tolong tenang ya. Semua bukti tambahan mengenai tindakan kekerasan fisik terakhir sudah kita masukkan ke meja majelis hakim. Pihak Zaki dan tim pengacaranya sudah tidak punya celah hukum lagi untuk berkelit." "Saya paham, Bu," lanjut Pak Hendra dengan intonasi mantap saat melihat Anin mengangguk pelan dari sudut bangku kayu lorong sidang. "Berdasarkan agenda hari ini, pembacaan putusan akhir tidak akan lama. Argumen perzinahan yang sempat digertakkan Zaki malam pengge

  • Budak Cinta Si Tante   33 - Bayang-Bayang Kebohongan

    "Bas, buruan! Jam dua bentar lagi, kita antrean pertama buat bimbingan hari ini!" seru Kea seraya menarik ujung lengan jaket Nabas. Jemari Kea yang lentik menggenggam erat map plastik berisi berkas persyaratannya. Nabas memaksakan senyum. Ia mengangguk pelan. "Iya, Ke. Enggak usah ditarik-tarik, aku jalan di sampingmu kok." Padahal, di balik senyum yang terlihat Kea, pikirannya penuh. Bahu kiri yang memar akibat sabetan kayu Zaki tadi malam masih terasa ngilu setiap kali ia mengayunkan lengan. Namun, rasa nyeri di fisik tak ada apa-apanya dibanding gelombang rasa bersalah yang terus menggerogoti batin. Mereka memasuki ruang konseling paroki yang sejuk. Seorang Pastor paruh baya bersenyum hangat sudah menunggu di balik meja kayu jati. "Silakan duduk, Mas Nabas, Mbak Kea," sapa Pastor ramah seraya memeriksa tumpukan berkas yang diserahkan Kea. Kea duduk tegap. Sorot matanya berbinar tampak bahagia, sementara Nabas duduk perlahan, berusaha menjaga posisinya agar bahunya yang me

  • Budak Cinta Si Tante   32 - Keyakinan Palsu

    Nabas berdiri di samping meja pantri dengan cangkir kopi panas yang belum tersentuh. Bahu kirinya masih berdenyut nyeri akibat hantaman kayu rakitan Zaki, tetapi pikirannya justru tertancap pada bungkus kosong di tempat sampah bawah bak cucian piring.Iya, bungkus postpill yang kemarin dibeli memang sudah tidak ada di atas meja. Nabas menarik napas lega, meyakini Anin sudah meminumnya sesuai saran. "Yo?" Suara Anin terdengar pelan dari arah pintu kamar. Wanita itu melangkah perlahan sambil merapatkan kardigan rajut krem yang membungkus tubuhnya. Wajahnya polos tanpa polesan riasan, memancarkan kelelahan fisik dan batin. Rambut sebahunya diikat asal-asalan ke belakang. Nabas bergegas menghampiri, menuntun Anin untuk duduk di kursi tinggi dekat meja bar pantry. "Gimana keadaan Tante? Masih ada yang sakit?" Anin mengulas senyum tipis—senyum yang tampak melelahkan. Ia menggeleng pelan seraya meraih cangkir teh hangat yang disodorkan Nabas. "Aku enggak apa-apa, Yo. Cuma agak lemas

  • Budak Cinta Si Tante   31 - Kalau Hamil?

    Suara benturan keras yang menghantam daun pintu utama rumah batu membelah keheningan malam dengan amat mendadak. Derak kayu yang terbelah diiringi suara pecahan kaca jendela membuat Anin yang sedang terbaring di dalam dekap Nabas tersentak hebat. Dosen wanita itu menjerit panik seraya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya yang masih berpeluh pasca-pergumulan panas mereka."Yo! Itu suara apa?!" bisik Anin parau, matanya membelalak lebar dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar lampu tidur temaram.Sebelum Nabas sempat melompat bangkit dari ranjang, pintu kamar utama sudah terhempas terbuka secara kasar. Pintu kamar jebol seketika.Zaki berdiri di ambang pintu. Matanya yang merah padam memancarkan amarah, wajahnya penuh kilatan murka bercampur dendam yang sudah menumpuk di puncak kepala. Pria tua itu menggenggam sebatang kayu rakitan yang diambilnya dari pagar luar. Dua pengacara di belakangnya berdiri mematung di lorong—salah satunya dengan sigap merogoh ponsel p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status