LOGIN"Jawab!" Lelaki itu membentakku. Aku yang masih mengenakan lilitan handuk dengan rambut yang masih basah inipun hanya terpaku ditempat.
"Hanya pereda nyeri tuan." Jawabku ketakutan. Lelaki itu menatapku sangat tajam lalu berjalan mendekat. Menyeretku kearah kamar mandi, aku dipaksanya masuk kedalam bathup yang masih penuh dengan sisa rendamanku tadi.Tanpa seucap katapun dia menarik selang shower yang kemudian diarahkan keatasku."Tuan, ampun." Dengan gelagapan aku berusaha berucap pada sosok yang seperti kesetanan itu."Kamu berencana untuk bunuh diri lagi?" Kali ini dia menjambak rambutku hingga air dari shower itu mengenai wajahku. "Kenapa?"Apalagi yang bisa kulakukan, melawannya pun aku tak kuasa. Aku hanya bisa menangis dibalik suara air shower yang dia kencangkan. Memang lebih baik diam saja tanpa menjawab apapun.*Aku masih diam saja setelah lelaki itu menggantikanku handuk dan akhirnya sekarang sudah berada diatas ranjang. Dia dengan telaten mengeringkan rambutku dengan handuk lainnya.Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan lelaki ini, mungkinkah dia memiliki pribadi ganda. Kadang akan muncul dengan amarah yang membara lalu datang lagi layaknya malaikat penolong."Pakailah!" Perintahnya setelah selesai dengan handuknya lalu memberiku sebuah gaun tidur yang transparan. Aku langsung memakainya saja tanpa berucap kata apapun.Lelaki itu masih menamatiku, aku berusaha tak berbalik melihatnya. Dia membelai rambutku seakan menunjukkan sebuah perhatian. Aku hanya diam saja tak menanggapi apapun."Ucapkan kata apapun, jangan hanya mendiamnkanku seperti ini." Kali ini akhirnya aku menoleh kearahnya."Saya sangat lelah." Begitu ucapku lalu berbaring dan membelakanginya. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku, berusaha memejamkan mataku agar secepatnya tertidur dan mungkin cara ini sebagai ganti mengusirnya secara halus.Kenapa Tuhan malah mentakdirkanku bertemu dengan lelaki seram ini. Seharusnya hari ini aku bisa menghabiskan waktu dengan banyak kegiatan diluar sana tapi malah terkurung disini.Tak terasa bulir air membasahi wajahku, aku menahan suara tangis agar tak didengarnya. Kufikir dengan begitu dia akan berlalu pergi tapi nyatanya malah ikut berbaring disebelahku dan merengkuh tubuhku dari belakang.Kepalaku yang terasa berat mungkin karena terlalu banyak menangis, hingga aku memilih untuk membiarkan sosok dibelakangku itu dan memilih untuk tidur.Irama musik pelan sepertinya mengiringi ketenangan ini. Jelas melihat keseliling ruangan yang hanya nampak samar tanpa warna. Sosok yang tengah duduk disebelah ranjang itu sesekali membelai lembut wajahku.Apakah sudah malam? Aku juga tidak bisa memastikan. Jendela besar yang ada disana juga sudah tertutup tirai, ingin sekali membukanya karena disanalah aku bisa melihat malam dan siang bergantian. Tapi gerakku seakan tertahan terasa sangat berat.***Berat sekali membuka mata, saat menyadari bahwa ada sesuatu yang dingin dikeningku. Aku mengambil benda yang ternyata sebuah pengompres.Dihadapanku nampak lelaki itu menatapku dengan tatapan teduh yang sulit diartikan. Aku langsung gegas membalikkan badan untuk beralih posisi miring membelakanginya. Selimut yang awalnya hanya sebatas bawah dada kini kutarik agar menutupi seluruh badanku dan menyisakan lubang seukuran wajah saja.Tapi sosok itu malah mendekat ke hadapanku, ikut berbaring disebelah dan langsung merengkuhku."Aku tidak suka melihatmu seperti ini." Dia menarik kepalaku tepat didada bidangnya. Aku hanya diam saja karena ketakutan. Sekuatnya menutup mataku saja tanpa berucap sepatah katapun. "Kamu memilih untuk diam saja? Apa perlu kupaksa agar berbicara?" Suaranya melemah.Aku sendiri bingung harus menjawab apa. Kaetakutanku setiap melihatnya sudah tidak bisa ditahan lagi."Tuan, saya tidak pernah tau kenapa bisa berada ditempat ini. Bila memang bibi saya mempunyai hutang yang harus dibayar biarkan saya bekerja untuk membayar hutangnya.""Kamu tidak mau berada disini?" Tanya nya lagi. Tangannya yang berada dikepalaku terasa mengeras seperti menarik rambutku. Aku menggeleng saja menjawabnya. "Kenapa tidak mau disini? Jawab!""Saya sangat takut pada tuan." Tenggorokanku sepertinya tercekat menahan isak yang takut untuk kukeluarkan. Dengan mata yang masih menutup buliran air kembali keluar membasahai sebagian wajahku. Aku sangat yakin hari ini aku pasti dihabisinya.Namun kenyataannya tangan yang tadi menarik rambutku malah berpindah tempat kewajahku, dia menghapus air disekitar pipiku."Saya paling tidak suka melihatmu menangis."Cukup lama kami saling diam, dan akupun masih berselimutkan takut pada sosok lelaki yang masih pula mendekapku.Suara ketukan pintu yang membuatnya beranjak, terdengar suara Vika yang sepertinya mengantar makanan untukku. Masih berada dibalik selimut hingga Vika membangunkanku."Sel, ini aku. Bangunlah." Dia berbisik mendekat, dengan cepat aku langsung memeluknya dan meluapkan tangisanku. Tepukan pelan darinya yang berusaha menenangkanku itu terasa begitu menghangat."Aku ingin keluar dari sini Vika. Aku takut padanya." Ucapku terbata disela isak yang sudah kutahan sejak tadi."Tuan muda tidak akan menyakitimu." Kugelengkan kepalaku."Dia seperti monster Vika. Dia sangat menyeramkan." Mataku masih menutup karena takut."Baiklah, tenangkan dirimu dulu. Sudah kubawakan sarapan lezat seperti kemarin. Bukankah kamu ingin menu ini lagi." Kulepaskan pelukannya, lalu wanita itu mengambil nampan yang terletak dimeja sebelah ranjang. Aku tak mau menoleh kearah lainnya kecuali pada Vika. "Aku akan menunggumu sampai selesai makan."Setidaknya ada Vika yang mempedulikanku disini. Aku mulai melahap makanan itu."Bagaimana demammu?""Siapa yang demam? Aku?" Aku sendiri bahkan tidak sadae tengah demam. Atau mungkin alat kompres dikeningku tadi karena demam."Semalaman Tuan Marcell tidak tidur untuk menjagamu." Bagaimana aku bisa mempercayai ucapan Vika. Tak mungkin lelaki seram itu melakukannya, dia sendiri dengan kasarnya bersikap padaku. "Kenapa tiba-tiba demam? Padahal kemarin pagi kita masih bersama dan kamu terlihat sangat baik-baik saja."Mengingat kejadian setelah Vika pergi kemarin saja aku langsung menangis terisak."Vika, aku ingin mati saja kalau tidak bisa keluar dari sini." Tak mungkin aku menceritakan bagaimana kejamnya tuan Marcell padaku kemarin."Sudahlah, kamu hanya merasa jenuh karena hanya menghabiskan hari dikamar saja." Bagaimana lagi meyakinkannya bahwa aku sangat ketakutan bila berdekatan dengan tuannya itu. "Habiskan makanmu Sel." Aku harus mengisi tenaga agar bisa berfikir cara keluar dari sini.Setelah menghabiskan makanku, Vika segera keluar dari kamar. Aku masih meratapi takdir yang sepertinya mempermainkanku. Aku merindukan bibi yang walaupun sangat menyebalkan itu tapi setidaknya lebih nyaman berada didekatnya ketimbang bersama lelaki kejam itu.Baru saja akan bernafas lega karena tak menemukan sosok seram itu, tapi dia malah muncul dari kamar mandi. Apakah dia disana selama Vika menemaniku."Kamu bilang apa tadi? Ingin keluar dari sini?" Aku langsung menarik selimut yang ada diranjang untuk menutupi tubuhku. Berjalan mundur hingga menabrak lemari kaca kaca yang ada dibelakangku. "Kamu memilih mati saja ketimbang disini bukan?"Pagi berganti siang tanpa banyak peristiwa yang terjadi di dalam villa. Ketika aku terbangun dari tidur yang dipenuhi mimpi buruk, sisi ranjang di sebelahku sudah kosong dan dingin. Jejak noda darah di lantai marmer telah bersih tak berbekas, seolah peristiwa mengerikan semalam hanyalah ilusi dari kepalaku yang terlalu lelah. Kemeja putih yang bernoda merah pekat itu pun sudah lenyap dibawa pelayan.Sepanjang hari, aku memilih bersikap sepatuh mungkin. Aku mandi, mengganti pakaian dengan terusan katun warna krem yang disiapkan di lemari, lalu duduk manis di sofa membaca beberapa majalah lama.Aku tidak lagi mencoba mendekati pintu ganda sayap barat, apalagi berniat menyelinap keluar. Kengerian semalam telah menanamkan satu pelajaran berharga di otakku, pria bermata biru itu bukan sekadar tuan tanah yang pemarah, melainkan pembunuh berdarah dingin yang bisa merenggut nyawa siapa pun tanpa mengedipkan mata.Menjelang pukul tujuh malam, Vika datang mengetuk pintu kamar. Wanita itu mengen
Setelah menghabiskan waktu beberapa saat di paviliun taman ditemani tatapan waspada Nico, aku kembali diantar menuju kamar tidur utama. Aku tidak berani membantah barang sepatah kata pun. Sepanjang sore, aku hanya duduk meringkuk di sudut sofa beludru, melipat kedua tanganku di atas pangkuan dengan pandangan tertunduk menatap lantai kayu.Vika sempat datang membawakan makan malam berupa sup asparagus dan roti panggang hangat. Aku memakannya dengan patuh sampai suapan terakhir tanpa banyak tingkah. Aku tidak ingin memancing kemarahan siapa pun. Aku ingin terlihat sebagai tawanan yang paling penurut agar nyawaku tetap dibiarkan utuh. Namun saat aku bertanya apakah tuan Marcell akan pulang malam ini, Vika hanya menggeleng kaku lalu bergegas pergi sembari mengunci pintu dari luar.Menjelang tengah malam, ketenangan itu seketika pecah oleh suara deru perahu cepat yang meraung dari arah dermaga pribadi di bawah tebing. Raungan mesin itu terdengar berat, disusul oleh suara derap langkah terg
Suara ketukan pantofel di atas lantai marmer terdengar semakin mendekat, menghujam jantungku dengan kengerian yang teramat sangat. Seluruh persendianku mendadak lemas bagai kehilangan tenaga.Dengan tangan yang basah oleh peluh dingin dan bergetar hebat, aku berusaha memasukkan kembali lembaran foto usang itu ke dalam kotak kayu. Gerakanku tergesa dan serba salah hingga sudut kotak sempat membentur tepi meja, menimbulkan bunyi derit pelan yang semakin membuat nyaliku menciut.Belum sempat aku menutup laci mahoni tersebut, daun pintu ganda terbuka lebar.Sosok tegap berbalut kemeja hitam itu melangkah masuk. Marcell berdiri di ambang pintu, menatap lurus ke arahku yang berdiri mematung di balik meja kerjanya. Mantel panjang yang tadi dikenakannya kini tersampir di lengannya. Wajahnya begitu dingin, tanpa riak emosi sedikit pun, namun tatapan dari sepasang manik biru itu terasa sanggup membekukan seluruh aliran darahku.Kekuatan di kakiku seketika runtuh. Tanpa sadar aku langsung berlut
Deru mesin mobil yang membawa tuan Marcell perlahan menjauh hingga akhirnya hilang ditelan deburan ombak. Suasana villa kembali dicekam kesunyian yang mencekik. Aku masih berdiri mematung di balik tirai kamar, menatap gerbang besi hitam yang kini tertutup rapat dengan penjagaan berlapis.Pria itu pergi membawa sepasukan pengawal bersenjata lengkap, meninggalkanku dalam kurungan megah yang semakin terasa seperti sangkar maut.Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Vika masuk membawa nampan berisi bubur ayam hangat dan segelas susu. Wajah wanita paruh baya itu tampak lebih pucat dari biasanya, matanya sesekali melirik ke arah lorong luar seolah mengkhawatirkan sesuatu."Sarapanmu, Sel," sapanya seraya meletakkan nampan di atas meja kayu.Aku berbalik menghampirinya, mengamati gerak tubuhnya yang tampak gusar."Kenapa pengawal di luar bertambah banyak sekali pagi ini?"Vika menghela napas panjang, merapikan letak mangkuk tanpa menatap mataku. " Tuan Marcell hanya sedang mengurus bebe
Cengkeraman tangan Marcell terasa begitu menekan kulit pergelangan tanganku. Rasa ngilu langsung menjalar cepat hingga membuat seluruh persendianku kaku seketika.Aku memejamkan mata sangat rapat, bersiap menerima tamparan atau bentakan keras yang biasa terlontar dari bibirnya bila amarahnya tersulut. Jantungku berdentam kacau. Dalam benakku, lelaki ini akan kembali menjelma menjadi sosok berdarah dingin yang tak segan meremukkan tubuhku seperti malam pertama itu.Namun detik demi detik merangkak lambat, pukulan yang kutunggu tak kunjung mendarat.Suasana mendadak senyap, hanya menyisakan gemuruh ombak dari balik kaca besar serta deru napas berat yang saling beradu. Ketika perlahan kuberanikan diri membuka kelopak mata, tatapanku langsung terkunci pada manik biru yang teramat tenang. Tidak ada kilatan buas seperti kemarin.Wajah tampan itu mengeras bagai batu pualam, datar tanpa guratan emosi sedikit pun. Rahangnya yang tegas mengatup rapat, menyembunyikan segala isi kepala yang tak p
"Sel apakah kau masih takut denganku?" Aku hanya diam saja mendengar pertanyaan yang keluar darinya. "Sel, masih seramkah aku untukmu?" Aku menggeleng dengan lambat, senyum yang awalnya mengembang berubah raut sedikit kaku. Apakah lelaki ini akan marah lagi?"Tuan..." Tuan Marcell menggeser duduknya untuk menjauh dariku, entah kenapa aku justru merasakan desiran yang begitu menghujam perasaanku. "Maksudku bukan begitu." Nafasnya terdengar berat, wajahnya dipalingkannya tanpa melihatku. Aku yang masih memaku ditempatku ini mulai merasakan ketakutan bila lelaki ini akan memunculkan sifat tempramentalnya. Tanganku saling bertemu diatas pangkuanku, mencoba mempersiapkan diri untuk menyambut keadaan bilamana tuan Marcell benar-benar akan marah padaku. "Sel, aku tak tau bagaimana caranya membuatmu tak takut lagi. Tapi selama kamu masih tinggal disisiku selama itu pula aku akan berusaha untuk menaklukkan amarahku." Tuan Marcell mendekat lagi
Lelaki seram itu dengan telaten mengobati sikut ku, sebenarnya tidak seberapa hanya sebuah luka kecil karena pecahan kaca dari lemari yang dia lempar vas bunga. Aku masih belum berani menatapnya. Lelaki ini sungguh tak bisa kutebak. "Benarkah kamu sangat takut melihatku?" Aku mengangguk tanpa mel
"Sempurna." Begitu ucap si pria maskulin yang sedari tadi meriasku. Mengeluarkan ponselnya lalu memotret wajahku. "Baiklah, sekarang bersiapalah untuk dibantai oleh tuan Marcell." Ucapnya.Kedua temannya sudah pula membereskan semua perkakas make up ketempat asalnya. Ketika dia akan beranjak pergi,
"Turunkan pisaunya!" Kali ini suaranya sedikit merendah. Aku menggeleng cepat pertanda mengancam."Saya tidak main-main, apa bedanya anda yang melukai atau saya sendiri yang melakukannya." Sejenak melupakan semua perih bekas cambukannya semalam, belum lagi perihnya daerah pangkal pahaku ketika berl
Baru saja aku membuka mata kala menyadari bahwa tempatku kini bukan lagi kamar usang dirumah bibi. Melainkan sebuah kamar mewah dengan ornament bertabur warna gold. Kulitku yang hanya memakai sehelai gaun tipis diterpa oleh pendingin ruangan yang sebelumnya juga tak pernah kurasakan dirumah bibi.







