LOGIN"Turunkan pisaunya!" Kali ini suaranya sedikit merendah. Aku menggeleng cepat pertanda mengancam.
"Saya tidak main-main, apa bedanya anda yang melukai atau saya sendiri yang melakukannya." Sejenak melupakan semua perih bekas cambukannya semalam, belum lagi perihnya daerah pangkal pahaku ketika berlari kesini tadi."Ya baiklah, aku akan keluar dari kamar. Bergeserlah dulu agar aku bisa berjalan melewati pintu itu." Dengan sedikit ragu, menuruti perintahnya tapi tetap memposisikan pisau ditanganku. Walau pelan aku tetap berusaha menggeser langkah agar lelaki itu bisa pergi dari kamar ini.Mata yang awalnya penuh amarah kini hanya nampak sedikit sendu. Dia menatapku tajam dengan mengayunkan langkah menuju pintu. Sepertinya dia tak berbohong , buktinya dia keluar dari sini.Tanpa ucapan apapun akhirnya lelaki itu pergi dan menutup kembali pintu itu. Aku bernafas lega, berjalan menuju ranjang mewah. Pisau kuletakkan dimeja dekat ranjang sebagai persiapan bila lelaki itu tiba-tiba datang lagi.***Entah sejak kapan aku tertidur, yang aku tau setelah lelaki itu pergi aku masih menangisi sisa-sisa kesakitan yang dia sebabkan semalam.Baru saja akan bangun, lelaki itu sudah ada dihadapanku dan duduk disisi ranjang yang kutiduri. Ingat akan pisau yang kuletakkan tadi ternyata sudah tidak ada."Kamu mencari pisaumu? Mau mengancamku lagi?" Ucapnya santai tapi mampu membuatku ketakutan. "Jangan pernah lakukan hal bodoh seperti itu." Dengan cepat bangun dari tempatku lalu beringsut mundur hingga lupa bahwa aku sudah diujung ranjangnya."Tuan, saya mohon jangan aniaya saya lagi." Hanya bisa memohon dengan tangis yang berusaha kutahan."Dari pada menjadi gadis pembangkang, kenapa kamu tak menjadi gadis penurut saja." Tangannya mendekat kearah luka yang dia ciptakan semalam. Entahlah, sepertinya malam ini pun masih harus merasakan sakit lagi seperti semalam.Setelah mendapatkan anggukan dariku, dia beranjak dari tempatnya itu. Masih kuamati dari sini yang ternyata tengah mengambil nampan berisi makanan lalu dia bawa kearahku."Makanlah cepat, Aku tunggu disini." Dia menyuruhku dan meletakkan nampan itu dipangkuanku, dengan tangan gemetar aku menerimanya. Sejak tadi aku memang belum makan, jadi tak kusiakan kesempatan ini dengan memakannya secara lahap tanpa peduli lelaki yang tengah memandangiku itu. Mungkin dia jijik melihat caraku makan, tapi aku berusaha tak mempedulikannya."Kamu tak takut aku meracunimu?" Aku menggeleng dan masih tetap melanjutkan makanku."Lebih baik bukan kalau saya mati secepatnya." Lelaki itu dengan kasar menarik tanganku."Jangan berbicara mati dihadapanku. Atau kamu memang mau aku bunuh secepatnya?""Memang itu yang saya mau tuan, secepatnya membuat anda muak dan membunuh saya." Jawabku tegas. Matanya berubah sangat tajam menatapku.Bahkan aku sudah lupa hari apa ini? Karena sejak sadar berada diruangan ini belum sekalipun lelaki ini membiarkanku keluar kamar.Terakhir kuingat bibi menyuruhku pergi kesebuah taman pinggir kota untuk mengantarkan pesanan telur asin yang biasa dia buat. Namun setelah sampai disana aku sudah tak mampu mengingatnya hingga tersadar sudah bangun diruangan ini.Selama ini memanglah aku tinggal bersama bibi, adik dari ibuku yang sejak kecil mengasuhku sepeninggalnya orang tuaku. Walaupun banyak cacian dan kerap kali pukulan dia lakukan padaku, tetap saja tak mengurangi rasa sayangku untuk orang yang sudah banyak andil dalam membesarkanku itu. Namun kali ini aku tak menyangka bila ucapan lelaki itu benar bahwa bibi sudah menukarku dengan hutangnya, entahlah bagaimana lagi rasa yang tertinggal untuk bibi kesayanganku itu.Aku melirik kearah lelaki yang masih memandangiku. Entahlah usianya berapa, tapi jujur saja wajahnya masih sangat tampan, matanya yang berwana kebiruan sepertinya memang bukan keturunan warga negara ini karena garis wajahpun lebih mirip orang luar."Habiskan!" Aku hanya diam saja, tanpa dia perintah aku pasti akan menghabiskannya. "Kamu mau apa lagi?" Kali ini menoleh kearahnya, kenapa bisa sikapnya menjadi hangat begini mengingat semalam dia seperti seorang iblis yang sedang dilanda amarah. "Mintalah apapun tapi jangan berharap untuk keluar dari sini.""Tuan tidak sedang menyiapkan sesuatu untuk menghajarku lagi?" Dia tersenyum, sesaat aku terpana dengan senyumannya."Kenapa? Kamu ingin dihajar lagi?" Gegas aku menggeleng. Dia tersenyum lagi, sungguh sesaat aku lupa sakit karenanya. Aku gegas menggelengkan kepala untuk menetralkan fikiranku sendiri. "Akan kusuruh Vika untuk mengobati lukamu lagi " ucapnya lalu beranjak pergi keluar kamar.****Pagi ini sudah cukup baik ketimbang kemarin, rasa sakit ditubuhku pun juga sudah sangat berkurang karena Vika merawatnya dengan baik.Lelaki yang kupanggil tuan itu juga belum menampakkan diri sejak kemarin. Ini lebih menakutkan karena mungkin ada suatu hal yang dia siapkan untukku nantinya."Sarapanlah!" Vika membawa senampan menu sarapan yang lumayan menggiurkan. "Tuan Marcell memintamu untuk memakainya nanti malam" dia juga meletakkan sebuah kertas kantong besar diatas ranjangku."Untuk apa?" Aku mendekati kantong tersebut untuk melihat isinya. Sebuah gaun berwana hijau dan sebuah heels yang tidak terlalu tinggi warna senada. Vika menatapku dengan tersenyum"Gaunnya cantik sekali, pasti akan sangat cocok denganmu." Dirumah ini hanya Vika yang biasa berinteraksi denganku selali lelaki yang ternyata bernama Marcell itu.Sembari memeperhatikan barang pemberiannya, fikiran burukku masih saja terbesit akan lelaki itu. Apakah sesuatu yang dia siapkan nanti akan membuatku merasakan sakit lebih dari malam itu?"Vika, apakah tuan Marcell akan membunuhku?" Mendengar pertanyaanku malah membuatnya tertawa."Ya, dia akan membunuhmu malam ini." Vika mengusap lenganku lalu pergi keluar kamar. Benarkah itu? Apakah berarti malam ini adalah malam terkahirku?Sepertinya aku memang harus mempersiapkan segala kemungkinan buruk nanti malam.*Aku terpaku menatap diriku sendiri didepan cermin. Gaun yang biasa kubayangkan kala menonton sebuah acara tv bertema putri tapi kali ini aku memakainya.Apakah tuan menyiapkan segalanya ini untuk membuat akhir hidupku tak terlalu buruk? Seharian ini aku hanya memikirkan bagaimana nantinya tidak takut ketika mengahadapi takdir yang akan diakhiri oleh lelaki itu.Suara pintu terbuka membuatku menoleh, seorang pria maskulin masuk kedalam lalu diikuti dua orang yang membawa kotak entah berisi apa."Wau, sangat cantik sekali." Ucapnya mendayu, aku hanya memicingkan mata menatap mereka bergantian. "Hanya butuh sedikit polesan." Lalu dia memberi isyarat dua temannya yang sejurus kemudian mereka sudah menyeretku untuk duduk ditepi ranjang. Apakah tuan Marcell juga menyiapan tiga orang aneh ini untuk ikut mengakhiri hidupku."Apakah kalian perias jenazah?" Aku bisa menebaknya dari barang-barang dikeluarkan salah seorang dari kotak yang dibawanya. Ketiga orang tersebut langsung tertawa. "Apakah benar? Untuk merias jenazahku nanti?""Sepertinya begitu." Ucap si pria yang sekarang sudah mulai sibuk pada wajahku. "Tuan Marcell memang sudah siap membantaimu malam ini."Pagi berganti siang tanpa banyak peristiwa yang terjadi di dalam villa. Ketika aku terbangun dari tidur yang dipenuhi mimpi buruk, sisi ranjang di sebelahku sudah kosong dan dingin. Jejak noda darah di lantai marmer telah bersih tak berbekas, seolah peristiwa mengerikan semalam hanyalah ilusi dari kepalaku yang terlalu lelah. Kemeja putih yang bernoda merah pekat itu pun sudah lenyap dibawa pelayan.Sepanjang hari, aku memilih bersikap sepatuh mungkin. Aku mandi, mengganti pakaian dengan terusan katun warna krem yang disiapkan di lemari, lalu duduk manis di sofa membaca beberapa majalah lama.Aku tidak lagi mencoba mendekati pintu ganda sayap barat, apalagi berniat menyelinap keluar. Kengerian semalam telah menanamkan satu pelajaran berharga di otakku, pria bermata biru itu bukan sekadar tuan tanah yang pemarah, melainkan pembunuh berdarah dingin yang bisa merenggut nyawa siapa pun tanpa mengedipkan mata.Menjelang pukul tujuh malam, Vika datang mengetuk pintu kamar. Wanita itu mengen
Setelah menghabiskan waktu beberapa saat di paviliun taman ditemani tatapan waspada Nico, aku kembali diantar menuju kamar tidur utama. Aku tidak berani membantah barang sepatah kata pun. Sepanjang sore, aku hanya duduk meringkuk di sudut sofa beludru, melipat kedua tanganku di atas pangkuan dengan pandangan tertunduk menatap lantai kayu.Vika sempat datang membawakan makan malam berupa sup asparagus dan roti panggang hangat. Aku memakannya dengan patuh sampai suapan terakhir tanpa banyak tingkah. Aku tidak ingin memancing kemarahan siapa pun. Aku ingin terlihat sebagai tawanan yang paling penurut agar nyawaku tetap dibiarkan utuh. Namun saat aku bertanya apakah tuan Marcell akan pulang malam ini, Vika hanya menggeleng kaku lalu bergegas pergi sembari mengunci pintu dari luar.Menjelang tengah malam, ketenangan itu seketika pecah oleh suara deru perahu cepat yang meraung dari arah dermaga pribadi di bawah tebing. Raungan mesin itu terdengar berat, disusul oleh suara derap langkah terg
Suara ketukan pantofel di atas lantai marmer terdengar semakin mendekat, menghujam jantungku dengan kengerian yang teramat sangat. Seluruh persendianku mendadak lemas bagai kehilangan tenaga.Dengan tangan yang basah oleh peluh dingin dan bergetar hebat, aku berusaha memasukkan kembali lembaran foto usang itu ke dalam kotak kayu. Gerakanku tergesa dan serba salah hingga sudut kotak sempat membentur tepi meja, menimbulkan bunyi derit pelan yang semakin membuat nyaliku menciut.Belum sempat aku menutup laci mahoni tersebut, daun pintu ganda terbuka lebar.Sosok tegap berbalut kemeja hitam itu melangkah masuk. Marcell berdiri di ambang pintu, menatap lurus ke arahku yang berdiri mematung di balik meja kerjanya. Mantel panjang yang tadi dikenakannya kini tersampir di lengannya. Wajahnya begitu dingin, tanpa riak emosi sedikit pun, namun tatapan dari sepasang manik biru itu terasa sanggup membekukan seluruh aliran darahku.Kekuatan di kakiku seketika runtuh. Tanpa sadar aku langsung berlut
Deru mesin mobil yang membawa tuan Marcell perlahan menjauh hingga akhirnya hilang ditelan deburan ombak. Suasana villa kembali dicekam kesunyian yang mencekik. Aku masih berdiri mematung di balik tirai kamar, menatap gerbang besi hitam yang kini tertutup rapat dengan penjagaan berlapis.Pria itu pergi membawa sepasukan pengawal bersenjata lengkap, meninggalkanku dalam kurungan megah yang semakin terasa seperti sangkar maut.Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Vika masuk membawa nampan berisi bubur ayam hangat dan segelas susu. Wajah wanita paruh baya itu tampak lebih pucat dari biasanya, matanya sesekali melirik ke arah lorong luar seolah mengkhawatirkan sesuatu."Sarapanmu, Sel," sapanya seraya meletakkan nampan di atas meja kayu.Aku berbalik menghampirinya, mengamati gerak tubuhnya yang tampak gusar."Kenapa pengawal di luar bertambah banyak sekali pagi ini?"Vika menghela napas panjang, merapikan letak mangkuk tanpa menatap mataku. " Tuan Marcell hanya sedang mengurus bebe
Cengkeraman tangan Marcell terasa begitu menekan kulit pergelangan tanganku. Rasa ngilu langsung menjalar cepat hingga membuat seluruh persendianku kaku seketika.Aku memejamkan mata sangat rapat, bersiap menerima tamparan atau bentakan keras yang biasa terlontar dari bibirnya bila amarahnya tersulut. Jantungku berdentam kacau. Dalam benakku, lelaki ini akan kembali menjelma menjadi sosok berdarah dingin yang tak segan meremukkan tubuhku seperti malam pertama itu.Namun detik demi detik merangkak lambat, pukulan yang kutunggu tak kunjung mendarat.Suasana mendadak senyap, hanya menyisakan gemuruh ombak dari balik kaca besar serta deru napas berat yang saling beradu. Ketika perlahan kuberanikan diri membuka kelopak mata, tatapanku langsung terkunci pada manik biru yang teramat tenang. Tidak ada kilatan buas seperti kemarin.Wajah tampan itu mengeras bagai batu pualam, datar tanpa guratan emosi sedikit pun. Rahangnya yang tegas mengatup rapat, menyembunyikan segala isi kepala yang tak p
"Sel apakah kau masih takut denganku?" Aku hanya diam saja mendengar pertanyaan yang keluar darinya. "Sel, masih seramkah aku untukmu?" Aku menggeleng dengan lambat, senyum yang awalnya mengembang berubah raut sedikit kaku. Apakah lelaki ini akan marah lagi?"Tuan..." Tuan Marcell menggeser duduknya untuk menjauh dariku, entah kenapa aku justru merasakan desiran yang begitu menghujam perasaanku. "Maksudku bukan begitu." Nafasnya terdengar berat, wajahnya dipalingkannya tanpa melihatku. Aku yang masih memaku ditempatku ini mulai merasakan ketakutan bila lelaki ini akan memunculkan sifat tempramentalnya. Tanganku saling bertemu diatas pangkuanku, mencoba mempersiapkan diri untuk menyambut keadaan bilamana tuan Marcell benar-benar akan marah padaku. "Sel, aku tak tau bagaimana caranya membuatmu tak takut lagi. Tapi selama kamu masih tinggal disisiku selama itu pula aku akan berusaha untuk menaklukkan amarahku." Tuan Marcell mendekat lagi
"Jawab!" Lelaki itu membentakku. Aku yang masih mengenakan lilitan handuk dengan rambut yang masih basah inipun hanya terpaku ditempat. "Hanya pereda nyeri tuan." Jawabku ketakutan. Lelaki itu menatapku sangat tajam lalu berjalan mendekat. Menyeretku kearah kamar mandi, aku dipaksanya masuk kedala
Baru saja aku membuka mata kala menyadari bahwa tempatku kini bukan lagi kamar usang dirumah bibi. Melainkan sebuah kamar mewah dengan ornament bertabur warna gold. Kulitku yang hanya memakai sehelai gaun tipis diterpa oleh pendingin ruangan yang sebelumnya juga tak pernah kurasakan dirumah bibi.
Lelaki seram itu dengan telaten mengobati sikut ku, sebenarnya tidak seberapa hanya sebuah luka kecil karena pecahan kaca dari lemari yang dia lempar vas bunga. Aku masih belum berani menatapnya. Lelaki ini sungguh tak bisa kutebak. "Benarkah kamu sangat takut melihatku?" Aku mengangguk tanpa mel
"Sempurna." Begitu ucap si pria maskulin yang sedari tadi meriasku. Mengeluarkan ponselnya lalu memotret wajahku. "Baiklah, sekarang bersiapalah untuk dibantai oleh tuan Marcell." Ucapnya.Kedua temannya sudah pula membereskan semua perkakas make up ketempat asalnya. Ketika dia akan beranjak pergi,







