Share

Budak Hasrat
Budak Hasrat
Author: Piki Chan

bab 1

Author: Piki Chan
last update publish date: 2022-06-10 11:56:18

Baru saja aku membuka mata kala menyadari bahwa tempatku kini bukan lagi kamar usang dirumah bibi. Melainkan sebuah kamar mewah dengan ornament bertabur warna gold.

Kulitku yang hanya memakai sehelai gaun tipis diterpa oleh pendingin ruangan yang sebelumnya juga tak pernah kurasakan dirumah bibi. Dimanakah ini?

Disebelah kiriku, nampak tirai besar yang bisa kutebak ada jendela dibaliknya. Gegas aku melangkah kesana membuka tirainya yang memanglah ada sebuah kaca besar hingga memperlihatkan sesuatu yang sangat mencengangkan, ternyata bangunan ini berada dipesisir pantai dengan pemandangan yang begitu indahnya, namun tetap saja aku belum bisa menebak dimanakah aku berada sekarang ini.

Ya aku hanya memakai gaun ini saja tanpa adanya pakaian dalam apapun bahkan pertanyaan siapa yang membawaku kemari saja belum kutemukan ditambah siapa pula yang sudah menggantikan pakaianku.

Masih kuamati seisi ruangan ini, menemukan menu yang biasa kulihat di tayangan komersil televisi diatas meja sebelah ranjang yang kutempati tadi. Tak ada pilihan lain kecuali memakannya, walaupun aku harus mati karena keracunan setelahnya dan berusaha tak menghiraukannya lagi.

Disaat tengah menikmati hidangan yang sangat lezat ini, samar kudengar suara derap langkah pelan mendekat hingga semakin jelas dengan adanya suara pintu yang terbuka. Menampakkan sosok tegap dan begitu mempesona.

"Kucing kecilku sudah bangun." Suaranya yang serak itu semakin mendekat namun bukan kearahku melainkan duduk disebuah kursi dihadapan ranjang yang tengah kududuki. Siapa dia? Dibalik ketampananannya, wajahnya yang begitu tegas seakan membuat nyaliku beringsut. Aku meletakkan piring bekas makanku pada tempat asalnya tadi lalu segera mengambil selimut untuk menutupi tubuhku yang pasti terlihat transparan olehnya.

"Bagaimana tidurmu semalam sayang?" Ucapnya dengan senyum yang menyeringai. Masih kutahan ketakutanku tanpa suara apapun. Aku hanya diam saja memandanginya walau sesekali menunduk ketika mata tajamnya menatapku.

Sosok itu membuka luaran jasnya dan melempar asal kelantai, melepas pula sepatu pantopel yang dia kenakan itu lalu berjalan mendekat kearahku.

"Anda siapa?" Aku memberanikan diri bertanya kala dia sudah ada didepanku.

"Panggil aku tuan!" Nadanya meninggi hingga membuatku semakin takut. Namun tangannya malah membelai wajahku hingga rambut yang sebagian terurai dia sibakkan. "Kucing kecilku, apakah kamu takut?" Dia terkekeh melihatku seolah mengejek. Badanku sedikit bergetar, pastilah fikiran buruk muncul tentang banyaknya dugaanku padanya. "Sungguh sebuah bayaran yang pantas." Aku menoleh karena tak mengerti dengan ucapannya.

"Tuan siapa?" Aku masih berusaha mencari jawaban. Kali ini dia malah mencengkeram kuat daguku dan didekatkan kewajahnya.

"Marina sudah memberikanmu kepadaku sebagai bayaran atas hutangnya." Aku terpaku akan jawabannya. Bagaimana mungkin bibi yang sudah kuanggap pengganti ibuku itu tega menjualku pada lelaki yang begitu kaku ini.

"Anda berbohong bukan?" Orang yang menyuruhku memanggilnya tuan itu tertawa lalu setelahnya menarik paksa selimut yang kugunakan untuk menutup tubuhku, matanya nyalang menatapku.

"Dua milyar sebagai bayaran yang harus kuberikan untuk wanita yang kamu panggil bibi itu." Aku semakin tak percaya, bibi tega menukarku dengan hutang dua milyar?

Saat aku fokus pada pertanyaanku sendiri laki-laki itu sudah semakin mendekat untuk mendekapku. Sekuat tenaga berusaha melepasnya namun kekuatanku sudah sangat dipastikan tak akan bisa mengalahkannya.

"Tuan, saya mohon jangan." Aku menangis sejadi-jadinya saat dia mulai mengikat tanganku kesisi ranjang dengan tali yang terletak di atas meja sebelah piring tadi. Rupanya dia sudah mempersiapkannya dan aku tak menyadari ini sebelumnya.

Senyumnya semakin menyeringai, dia melepas ikat pinggang berlogo sebuah brand ternama lalu mengayunkannya pada tubuhku, sangat jelas teriakan ketakutan dan kesakitan yang kukeluarkan tak mampu menghentikannya.

Aku hanya berharap dalam gelapnya cahaya yang kurasakan saat ini, semoga Tuhan mengehentikan umurku saja agar tak merasakan sakit yang luar biasa darinya.

***

Perih, satu kata yang bisa menggambarkan rasa yang tengah kutahan kini. Wanita paruh baya yang kuketahui bernama Vika ini mulai membersihkan luka memar bekas cambukan tuan semalam.

"Aku takut nyonya." Menangis terisak, wanita itu dengan lembutnya membelai kepalaku.

"Tuan Marcell sedang tidak baik-baik saja dan sedang melampiaskannya padamu." Ucapnya dengan tenang. Aku tak mengenal siapapun dirumah ini, bahkan lelaki yang sudah menyakitiku dan lebih parahnya memaksaku melayani nafsunya semalam itu semakin membuatku ketakutan.

"Sakit semua." Aku mengeraskan suara tangisku. Pantas memang kalau aku menyebut lelaki itu jahat. Dia sudah menghancurkan paksa mahkota yang kumiliki dan tidak hanya itu dia juga dengan membabi buta menghajarku habis-habisan. Tak bisa terbayangkan sakitnya seperti apa yang tengah kurasakan saat ini. "Aku ingin pulang saja."

"Semua yang sudah masuk kesini tak akan bisa keluar tanpa seizinnya." Wanita ini masih merawat luka memarku. Aku hanya pasrah saja seraya meratapi takdir yang rasanya begitu buruk dituliskan Tuhan untukku. Bila bisa memilih, ingin sekali mengakhiri semua ini secepatnya namun bagaimana caranya?

Belum reda tangisanku, suara derit pintu terbuka menampakkan sosok yang tengah ku obrolkan bersama Vika. Vika gegas berdiri membereskan sisa-sisa kapas yang berserakan diatas ranjang.

Kutarik kain baju Vika memberi isyarat agar tak meninggalkanku, namun dia hanya menggeleng dan melepaskan tanganku dari bajunya.

Lelaki itu mendekat lagi, aku berusaha menarik selimut yang tak jauh dariku namun kalah cekatan darinya. Lagi, senyum menyeringai yang menakutkan itu terpoles jelas. Entah apakah itu oertanda bahwa akan ada kesakitan lagi hari ini.

"Tuan, ampun. Maafkan saya." Tangisku masih terus menggema diruangan ini. Sesekali terbesit tanya, apakah tak ada seorangpun yang mendengar teriakanku. Tetap saja tak ada yang peduli denganku dan justru mengabaikanku.

Tangan lelaki itu menunjuk luka yang nampak disekitar bawah leherku. Memar yang sebagian terlihat kemerahan dan akan terasa sakit bila disentuh.

"Apakah ini sakit?" Aku tak menjawab dan kini hanya bisa menahan tangis karena takut yang semakin mendera. "Tuanmu bertanya, apakah ini sakit?" Aku mengangguk, namun bukannya bersimpati lelaki ini malah tertawa.

"Itu belum seberapa." Lanjutnya.

Lelaki yang kata Vika bernama Marcell ini maaih fokus menatapi lukaku hingga suara dering ponsel membuyarkannya. Dia berjalan menuju jendela yang menghadap pantai itu.

Sadar bahwa dia sedang tak memperhatikanku aku segera berlari menuju pintu kamar. Sial, terkunci.

Seraya mengakhiri obrolan telfonnya, dia mengayunkan sebuah kunci mengejek kearahku lalu mendekat. Aku yang paham situasi buruk akan datang lagi, dengan asal mengambil sebuah pisau tersaji bersama buah diatas meja.

"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanyanya saat aku mulai mendekatkan pisau itu pada leherku. "Turunkan benda itu!" Teriaknya, aku semakin berani menantangnya.

"Sepertinya tuan begitu bahagia melihatku menderita bukan, sekarang waktunya saya pertontonkan bagaimana cara mengakhiri hidupku tanpa perlu anda turun tangan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Herlina Lina
aduh... bab pertama udah mau main bunuh diri aja.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Budak Hasrat   bab 24

    Pagi berganti siang tanpa banyak peristiwa yang terjadi di dalam villa. Ketika aku terbangun dari tidur yang dipenuhi mimpi buruk, sisi ranjang di sebelahku sudah kosong dan dingin. Jejak noda darah di lantai marmer telah bersih tak berbekas, seolah peristiwa mengerikan semalam hanyalah ilusi dari kepalaku yang terlalu lelah. Kemeja putih yang bernoda merah pekat itu pun sudah lenyap dibawa pelayan.Sepanjang hari, aku memilih bersikap sepatuh mungkin. Aku mandi, mengganti pakaian dengan terusan katun warna krem yang disiapkan di lemari, lalu duduk manis di sofa membaca beberapa majalah lama.Aku tidak lagi mencoba mendekati pintu ganda sayap barat, apalagi berniat menyelinap keluar. Kengerian semalam telah menanamkan satu pelajaran berharga di otakku, pria bermata biru itu bukan sekadar tuan tanah yang pemarah, melainkan pembunuh berdarah dingin yang bisa merenggut nyawa siapa pun tanpa mengedipkan mata.Menjelang pukul tujuh malam, Vika datang mengetuk pintu kamar. Wanita itu mengen

  • Budak Hasrat   bab 23

    Setelah menghabiskan waktu beberapa saat di paviliun taman ditemani tatapan waspada Nico, aku kembali diantar menuju kamar tidur utama. Aku tidak berani membantah barang sepatah kata pun. Sepanjang sore, aku hanya duduk meringkuk di sudut sofa beludru, melipat kedua tanganku di atas pangkuan dengan pandangan tertunduk menatap lantai kayu.Vika sempat datang membawakan makan malam berupa sup asparagus dan roti panggang hangat. Aku memakannya dengan patuh sampai suapan terakhir tanpa banyak tingkah. Aku tidak ingin memancing kemarahan siapa pun. Aku ingin terlihat sebagai tawanan yang paling penurut agar nyawaku tetap dibiarkan utuh. Namun saat aku bertanya apakah tuan Marcell akan pulang malam ini, Vika hanya menggeleng kaku lalu bergegas pergi sembari mengunci pintu dari luar.Menjelang tengah malam, ketenangan itu seketika pecah oleh suara deru perahu cepat yang meraung dari arah dermaga pribadi di bawah tebing. Raungan mesin itu terdengar berat, disusul oleh suara derap langkah terg

  • Budak Hasrat   bab 22

    Suara ketukan pantofel di atas lantai marmer terdengar semakin mendekat, menghujam jantungku dengan kengerian yang teramat sangat. Seluruh persendianku mendadak lemas bagai kehilangan tenaga.Dengan tangan yang basah oleh peluh dingin dan bergetar hebat, aku berusaha memasukkan kembali lembaran foto usang itu ke dalam kotak kayu. Gerakanku tergesa dan serba salah hingga sudut kotak sempat membentur tepi meja, menimbulkan bunyi derit pelan yang semakin membuat nyaliku menciut.Belum sempat aku menutup laci mahoni tersebut, daun pintu ganda terbuka lebar.Sosok tegap berbalut kemeja hitam itu melangkah masuk. Marcell berdiri di ambang pintu, menatap lurus ke arahku yang berdiri mematung di balik meja kerjanya. Mantel panjang yang tadi dikenakannya kini tersampir di lengannya. Wajahnya begitu dingin, tanpa riak emosi sedikit pun, namun tatapan dari sepasang manik biru itu terasa sanggup membekukan seluruh aliran darahku.Kekuatan di kakiku seketika runtuh. Tanpa sadar aku langsung berlut

  • Budak Hasrat   bab 21

    Deru mesin mobil yang membawa tuan Marcell perlahan menjauh hingga akhirnya hilang ditelan deburan ombak. Suasana villa kembali dicekam kesunyian yang mencekik. Aku masih berdiri mematung di balik tirai kamar, menatap gerbang besi hitam yang kini tertutup rapat dengan penjagaan berlapis.Pria itu pergi membawa sepasukan pengawal bersenjata lengkap, meninggalkanku dalam kurungan megah yang semakin terasa seperti sangkar maut.Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Vika masuk membawa nampan berisi bubur ayam hangat dan segelas susu. Wajah wanita paruh baya itu tampak lebih pucat dari biasanya, matanya sesekali melirik ke arah lorong luar seolah mengkhawatirkan sesuatu."Sarapanmu, Sel," sapanya seraya meletakkan nampan di atas meja kayu.Aku berbalik menghampirinya, mengamati gerak tubuhnya yang tampak gusar."Kenapa pengawal di luar bertambah banyak sekali pagi ini?"Vika menghela napas panjang, merapikan letak mangkuk tanpa menatap mataku. " Tuan Marcell hanya sedang mengurus bebe

  • Budak Hasrat   bab 20

    Cengkeraman tangan Marcell terasa begitu menekan kulit pergelangan tanganku. Rasa ngilu langsung menjalar cepat hingga membuat seluruh persendianku kaku seketika.Aku memejamkan mata sangat rapat, bersiap menerima tamparan atau bentakan keras yang biasa terlontar dari bibirnya bila amarahnya tersulut. Jantungku berdentam kacau. Dalam benakku, lelaki ini akan kembali menjelma menjadi sosok berdarah dingin yang tak segan meremukkan tubuhku seperti malam pertama itu.Namun detik demi detik merangkak lambat, pukulan yang kutunggu tak kunjung mendarat.Suasana mendadak senyap, hanya menyisakan gemuruh ombak dari balik kaca besar serta deru napas berat yang saling beradu. Ketika perlahan kuberanikan diri membuka kelopak mata, tatapanku langsung terkunci pada manik biru yang teramat tenang. Tidak ada kilatan buas seperti kemarin.Wajah tampan itu mengeras bagai batu pualam, datar tanpa guratan emosi sedikit pun. Rahangnya yang tegas mengatup rapat, menyembunyikan segala isi kepala yang tak p

  • Budak Hasrat   bab 19

    "Sel apakah kau masih takut denganku?" Aku hanya diam saja mendengar pertanyaan yang keluar darinya. "Sel, masih seramkah aku untukmu?" Aku menggeleng dengan lambat, senyum yang awalnya mengembang berubah raut sedikit kaku. Apakah lelaki ini akan marah lagi?"Tuan..." Tuan Marcell menggeser duduknya untuk menjauh dariku, entah kenapa aku justru merasakan desiran yang begitu menghujam perasaanku. "Maksudku bukan begitu." Nafasnya terdengar berat, wajahnya dipalingkannya tanpa melihatku. Aku yang masih memaku ditempatku ini mulai merasakan ketakutan bila lelaki ini akan memunculkan sifat tempramentalnya. Tanganku saling bertemu diatas pangkuanku, mencoba mempersiapkan diri untuk menyambut keadaan bilamana tuan Marcell benar-benar akan marah padaku. "Sel, aku tak tau bagaimana caranya membuatmu tak takut lagi. Tapi selama kamu masih tinggal disisiku selama itu pula aku akan berusaha untuk menaklukkan amarahku." Tuan Marcell mendekat lagi

  • Budak Hasrat   bab 5

    Lelaki seram itu dengan telaten mengobati sikut ku, sebenarnya tidak seberapa hanya sebuah luka kecil karena pecahan kaca dari lemari yang dia lempar vas bunga. Aku masih belum berani menatapnya. Lelaki ini sungguh tak bisa kutebak. "Benarkah kamu sangat takut melihatku?" Aku mengangguk tanpa mel

  • Budak Hasrat   bab 4

    "Jawab!" Lelaki itu membentakku. Aku yang masih mengenakan lilitan handuk dengan rambut yang masih basah inipun hanya terpaku ditempat. "Hanya pereda nyeri tuan." Jawabku ketakutan. Lelaki itu menatapku sangat tajam lalu berjalan mendekat. Menyeretku kearah kamar mandi, aku dipaksanya masuk kedala

  • Budak Hasrat   bab 3

    "Sempurna." Begitu ucap si pria maskulin yang sedari tadi meriasku. Mengeluarkan ponselnya lalu memotret wajahku. "Baiklah, sekarang bersiapalah untuk dibantai oleh tuan Marcell." Ucapnya.Kedua temannya sudah pula membereskan semua perkakas make up ketempat asalnya. Ketika dia akan beranjak pergi,

  • Budak Hasrat   bab 2

    "Turunkan pisaunya!" Kali ini suaranya sedikit merendah. Aku menggeleng cepat pertanda mengancam."Saya tidak main-main, apa bedanya anda yang melukai atau saya sendiri yang melakukannya." Sejenak melupakan semua perih bekas cambukannya semalam, belum lagi perihnya daerah pangkal pahaku ketika berl

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status