MasukXylas mengatakan hal peringatan. Dia tidak hanya mengungkapkan kepemilikannya secara pribadi atas Lysandra. Dia sekarang secara resmi menempatkannya dalam lingkaran kekuasaannya, menjadikannya terlindungi dari intrik wanita-wanita seperti mereka di istananya.
Inggrid tersipu malu marah, sementara Giselle hanya menunduk lebih dalam, menyembunyikan kilatan perhitungan di matanya.Xylas tidak peduli. Dia terus berjalan, menarik Lysandra bersamanya, meninggalkan kedua putri yang terpana dan seluruh halaman istana yang kini berbisik.Saat mereka melewati koridor yang sepi menuju ruang takhta, Xylas membungkuk sedikit, suaranya rendah. “Mereka adalah ular berbisa dengan pita sutra. Jangan pernah terima makanan atau minuman dari mereka. Jangan pernah sendirian dengan salah satu dari mereka. Jika mereka mendekat, laporkan padaku.”Lysandra mengangguk, perasaannya campur aduk. Di satu sisi, dia dilindungi. Di sisi lain, dia sekarang ditXylas tidak beranjak sama sekali. Setelah menidurkan Lysandra di ranjangnya, dia tetap berlutut di sampingnya, tatapannya tak lepas dari wajah pucat Lysandra. Amarah yang membara seperti lahar di dalam dadanya, tapi di atas itu semua ada sebuah rasa lega yang begitu besar hingga terasa menyakitkan. Dia hampir kehilangan dia.Hampir saja.Tanpa kata-kata, tangannya yang masih gemetar naik untuk menyentuh pipi Lysandra. Sentuhannya sangat lembut, sebuah kontras yang mencolok dengan kekerasan yang baru saja dia berikan terhadap Inggrid. Ibu jarinya dengan hati-hati mengusap setitik lumpur di tulang pipinya, lalu berhenti di bibirnya yang kering dan pecah-pecah.“Lyra,” gumamnya, nama itu keluar seperti doa dan pengakuan bersamaan.Lalu, dia membungkuk.Bibirnya menyentuh lembut bibir Lysandra.Ciuman itu tidak seperti yang sebelumnya. Bukan klaim posesif, bukan ujian, bukan ledakan emosi yang bingung. C
Lysandra mencari keberadaan Ratu Utara, Clara, di kamar khusus tamu kerajaan. Saat langkahnya masuk ke area itu, suara seseorang membuatnya terkejut.“Kau pikir kau menang, Lyra?” kata suara itu.Lysandra menoleh. Namun, belum sempat dia mengetahui wajah pemilik suara itu, seseorang telah membekap mulut dan hidungnya dengan kain berisi obat penenang.Lysandra terkulai lemas seketika.“Cepat, bawa dia ke penjara bawah tanah!” seru orang itu.“Tamat sudah riwayatmu, Lyra!!” Inggrid, pemilik suara itu memerintahkan.Lyra hanya melihat remang-remang. Lalu, semuanya gelap.Kemudian, kesadaran yang samar-samar, berdenyut menyakitkan di pelipisnya. Bau tanah lembab, jamur, dan kotoran yang membusuk memenuhi hidung Lysandra sebelum dia bisa membuka matanya. Suara tetesan air yang lambat dan berirama bergema di kejauhan. Rantai dingin membelit pergelangan tangannya, mengikatnya ke dinding batu y
“Itu karena … Ibu memiliki kepekaan terhadap sihir gelap. Dia datang dari garis keturunan yang sama dengan Clara, meski dia selalu menolak jalan gelap itu. Dan kabarnya yang aku dengar, Putri Mahkota Lysandra juga memiliki semacam kemampuan penyembuh untuk sihir gelap. Jika ada yang bisa membedakan sihir pada liontin itu hanya dengan melihatnya, itu adalah ibuku.”Mata Xylas berbinar penuh rencana. “Kau harus memastikan boneka itu memakai liontinnya saat kalian menghadiri pesta minum teh bersama. Dan kau harus membujuk Ibu untuk memeriksanya, tanpa menimbulkan kecurigaan.”Itu adalah permintaan yang hampir mustahil. Memanipulasi Janda Permaisuri dengan cara paling licik? Tapi Lysandra mengerti maksud Xylas. Jika Seraphina bisa mengatakan adanya sihir pada liontin itu, mereka akan memiliki bukti yang sah untuk menyita dan memeriksanya.Sebuah langkah yang jauh lebih elegan daripada pencurian terang-terangan.“Saya akan mencoba,
Lysandra sengaja membawa buku catatan kecil sambil berjalan ke arah taman. Dia melihat dari kejauhan Putri Mahkota palsu itu sedang sendirian.‘Kebetulan sekali,’ pikir Lysandra.Dia mempercepat langkah untuk mendekati Putri Mahkota palsu itu.Putri Mahkota palsu itu duduk di bangku marmer di bawah kanopi bunga melati, tangannya terlipat rapi di pangkuan, menatap ke arah air mancur dengan ekspresi kosong yang sempurna. Dia melamun.Namun bagi Lysandra yang mengenal setiap kebiasaan tubuhnya sendiri, ada kekakuan di sana, sebuah ketegangan di bahu yang seharusnya rileks. Seolah-olah boneka itu sedang menunggu perintah.“Yang Mulia,” ucap Lysandra dengan suara yang cukup keras untuk didengar, sambil membungkuk dengan hormat saat dia mendekat.Si penipu itu menoleh, dan mata cokelat itu, mata Lysandra sendiri—menyipit sedikit. Ada kilatan pengenalan, lalu kebingungan, dan akhirnya kesal yang tertahan. “
Saat Lysandra dan Xylas berjalan beriringan melewati taman menuju ke menara sayap utara, Xylas dan Lysandra bertemu Inggrid. Putri bangsawan itu buru-buru mendekat.Dia membungkuk, “Yang Mulia, saya ingin menyampaikan pesan dari utusan Kerajaan Timur,” Inggrid menyerahkan gulungan surat pada Xylas.“Kerajaan Timur? Duke Henrick? Beraninya dia menyampaikan lewat dirimu dan bukan melalui Giselle?”“Ampun, Yang Mulia. Saya hanya menyampaikan pesannya,” tatapan Inggrid menatap tak suka pada Lysandra.Xylas membuka gulungan surat itu, membaca isinya sekilas. Dia lalu menyerahkan gulungan itu pada Lysandra. “Lyra. Aku ingat, setelah kita memeriksa dokumen, kita akan berlatih pedang dan pertahanan kaki,” kata Xylas.Lysandra mengangguk. Tanpa mengucapkan kalimat apa oun, Xylas membawa Lysandra menjauh. Mereka berdua berlalu, meninggalkan Inggrid dengan wajah merah padam.“Awas saja kau budak sialan!” Inggr
Suara tamparan itu keras dan nyaring di koridor yang sepi, menggema seperti tembakan. Pipi Lysandra terasa panas dan menusuk, tetapi dia tidak gentar sedikit pun. Dia malah melangkah lebih dekat, matanya yang dulu lemah kini menyala dengan amarah bangsawan yang dingin.Giselle, terkejut dengan reaksinya yang berani, mundur selangkah. “Apa ... apa maksudmu pemilik yang sebenarnya?” tanyanya.“Buku itu,” ucap Lysandra dengan suara rendah yang penuh tekanan, “adalah milik perpustakaan pribadi Yang Mulia. Sebuah koleksi langka tentang simbolisme musuh, diambil oleh ayah Anda atau mungkin Anda sendiri selama perang generasi lalu dan tidak pernah dikembalikan. Anda menyimpannya sebagai hiasan, tanpa memahami nilainya yang sebenarnya.”Lysandra menyipitkan matanya sebelum melanjutkan. “Atau mungkin Anda memahaminya dengan sangat baik, dan menyembunyikannya untuk alasan tertentu? Mungkin untuk berbagi dengan ... sekutu tertentu dari Utara? Atau dari







