Share

Bukan Cinta Satu Malam
Bukan Cinta Satu Malam
Author: Liachuu

1. Patah hati

Author: Liachuu
last update publish date: 2021-12-30 17:58:36

"Baby, kau sudah pulang?"

Valeryn tersenyum. Baru saja dia membuka pintu dan berjalan masuk. Kekasihnya sudah bertanya dengan tubuh yang dia bangkitkan dari duduknya. Merentangkan tangan untuk menyambut kedatangan Valeryn. Kekasih yang sudah lama tidak dia temui.

"I miss you so much, By," ucap Valeryn bersamaan dengan kaki yang berlari kecil untuk menghamburkan tubuhnya pada sang kekasih.

Keduanya saling berpelukan. Saling mengatakan kerinduan satu sama lain melalu pelukan hangat tersebut.

"Sudah sampai sejak tadi?" tanya Valeryn sekali lagi dengan sebuah senyuman di sana. Bersamaan dengan pelukan yang sudah dilepaskan.

Nathan mengangguk. "Sejak siang tadi."

Valeryn kemudian mengajak pria itu untuk kembali duduk bersamanya. "Beberapa hari ini, kenapa sulit sekali dihubungi, hm? Begitu sibuk?" tanya Valeryn yang sudah duduk menyamping untuk menatap pria di hadapannya. Senyuman tak pernah lepas di bibirnya karena bisa kembali menatap wajah yang selalu dia rindukan.

Nathan tak menjawab. Pria itu malah menatap Valeryn dalam. Sorot mata yang tidak bisa ditebak oleh Valeryn sendiri. Hingga beberapa saat berikutnya, Nathan menarik tubuh Valeryn, menuntun gadis itu untuk duduk di atas pangkuannya. Seperti biasa, Valeryn menurut.

"Rindu. Rindu sekali," rapal Nathan dengan tangan yang sudah melingkar di pinggang ramping Valeryn. Wajahnya sudah mendekat, hingga dapat bertemu dengan lengan atas Valeryn. Memberikan beberapa kecupan di sana.

Valeryn tentu tersenyum lebar. Entah kenapa hal seperti ini terasa menjadi candu untuknya. Sentuhan-sentuhan lembut yang Nathan berikan mampu untuk menumbuhkan bunga-bunga di hatinya. Tentu dengan beberapa kupu-kupu yang juga ikut berterbangan di sana.

"Nath," panggil Valeryn bersamaan dengan tangan miliknya yang dilingkarkan pada leher Nathan. Menatap pria di bawahnya dengan lekat. Menunjukan jika saat ini sangat ingin berbicara dengan serius.

"Hm?" Nathan menyahut dengan cepat. Membalas tatapan itu tak kalah dalam.

"Apa kau menginginkanku?" Valeryn bertanya dengan setengah berbisik. Menekankan beberapa kata di sana.

Nathan menahan senyumnya. Tanpa perlu dia menjawab juga Valeryn pasti tahu jawaban yang dia pikirkan. Untuk pertanyaan Valeryn, dia paham kalau menginginkan di sini adalah menginginkan dalam tanda kutip. Sedikit heran juga sebenarnya saat mendengar pertanyaan ini dari Valeryn. Pasalnya, selama dua tahun dalam hubungannya ini, Nathan belum pernah mendapatkan apa yang dia inginkan dari Valeryn.

"Kurasa kau sedang kehilangan kendali dirimu sendiri, Valeryn. Apa kau mabuk sebelum pulang?" tanya Nathan dengan tangan yang bergerak menyalipkan rambut yang sedikit menghalangi wajah Valeryn.

"No! Aku sadar seratus persen. Kalau kau menginginkanku, aku akan memberikannya padamu." Valeryn berbicara dengan seduktif di sana. Jemarinya digerakkan untuk menyusuri wajah hinga semakin turun melalui leher, dan dada Nathan.

Nathan menaikan satu alisnya, terlihat bertanya-tanya akan ucapan Valeryn. Berpikir jika mungkin ini adalah puncaknya untuk menunggu, nyatanya menahan diri selama dua tahun ini memang sulit.

Dua tahun menjalan hubungan yang begitu datar. Oke, tidak sepenuhnya datar juga. Hanya saja memang tidak mencapai tahap bercinta. Pernah beberapa kali Nathan mengajak Valeryn, tapi beberapa kali juga dia di tolak. Valeryn sebenarnya lebih menginginkan hubungan yang tidak selalu tentang nafsu.

Lalu kali ini, tiba-tiba saja Valeryn mengatakan hal itu. Jelas membuat Nathan senang dan merasa janggal secara bersamaan. Pasti bukan tanpa alasan Valeryn membahas ini dan terlihat bersedia memberikan pertamanya untuk Nathan setelah berkali-kali menolak.

"Bagaimana jika aku bilang iya, Ryn?" Kini giliran Nathan yang bertanya.

"Then, do it!" ucap Valeryn begitu menantang.

"Valeryn, aku tahu kau bukan tipe orang yang seperti itu."

Tepat pada sasaran. Valeryn sedikit terdiam dengan ucapan dari Nathan.

Nathan menjadi ikut terdiam setelahnya. Menatap wajah polos wanita yang masih berada di atas pangkuannya. Mengusap pipi itu lembut.

"Ada hal yang ingin aku sampaikan. Mungkin ini akan sangat mengejutkanmu." Nathan berucap dengan tangan yang masih mengusap pipi Valeryn lembut.

Valeryn mengangguk semangat. Sebuah senyuman terlihat merekah di bibirnya. "Aku juga mau mengatakan sesuatu."

"Bolehkah aku yang terlebih dulu mengatakannya?" tanya Nathan menatap Valeryn lekat.

Valeryn segera menggeleng. Tidak bisa jika harus menunggu. "Ayo menikah. Nath, aku ingin menikah denganmu."

Bukannya berucap untuk menjawab pernyataan Valeryn, Nathan malah terdiam. Menatap Valeryn lekat, dengan mata yang memerah.

Melihat itu, senyuman Valeryn berangsur pudar. Merasa ada keanehan di sana. Bahkan, dia membangkitkan dirinya dari pangkuan Nathan, mengambil posisi untuk kembali duduk di samping Pria itu. Sekali lagi membuat Valeryn merasa situasi ini aneh. Karena kalau biasanya, Nathan pasti akan menahan tubuhnya. Berbeda dengan kali ini.

"Katakan yang ingin kau katakan. Apa ini berkaitan dengan ajakanku barusan?" tanya Valeryn tegas. Dia benar-benar merubah tatapannya.

Perlahan, Nathan menjawab pertanyaan Valeryn dengan sebuah anggukan. Membuat Valeryn sedikitnya paham, apa pun itu yang akan dikatakan Nathan, pasti bukan sesuatu yang baik.

"Katakan sekarang." Sekali lagi Valeryn semakin menatap tajam ke arah Nathan. Berusaha terlihat tak bisa tergoyahkan, sama sekali tidak menunjukan ketakutan terhadap apa yang akan Nathan katakan sekalipun itu hal yang buruk.

"Aku, tidur bersama Alexa."

Valeryn terdiam. Meski begitu, tangannya meremat ujung dres yang dia kenakan. Meremat kuat hingga terlihat ujung kukunya memutih. Rahangnya mengeras, matanya semakin menajam seolah tengah menghunuskan pedang pada pria di hadapannya.

"Maafkan aku, dia yang terus menggodaku. Aku sama sekali tidak menyukainya. Bahkan, dia sering juga tidur dengan pria yang berbeda," ucap Nathan dengan tangan yang berusaha menarik tangan Valeryn ke dalam genggaman. Tentu yang dia dapatkan adalah tepisan yang kuat.

Helaan nafas kasar terdengar dari bibir Valeryn. "Keluarlah."

"Valeryn, dengarkan aku dulu." Nathan turun dari duduknya. Berlutut tepat di hadapan Valeryn.

Valeryn terlihat mengangguk-anggukan kepalanya tipis. "Okay, aku yang keluar. Lagipula memang ini bukan sepenuhnya rumahku."

Tanpa berbasa basi Valeryn segera bangkit dari duduknya. Tidak ada air mata. Kekecewaan ini terlalu dalam hingga tak mampu membuatnya menangis. Terlalu menyakitkan sampai rasanya tidak mampu lagi mengeluarkan air mata.

"Valeryn, please. Aku tahu aku salah. Jangan seperti ini, kau bahkan tidak punya tujuan bukan?"

Valeryn berbalik, menghadap Nathan yang kini berdiri di belakangnya. Sebuah senyuman miring dia tunjukan. Tertawa remeh pada pria di hadapannya. "We are over now! Ini adalah akhir dari hubungan kita berdua."

"Kau mau seperti ini? Kau mau memutuskan hubungan kita yang sudah selama ini kita bangun? Aku paham aku bersalah, tapi aku bisa berubah. Kau tahu kita tak bisa berpisah. Aku dan kau saling mencintai. Ingat itu, kita sudah bersama selama ini. Aku juga tidak akan semudah itu mengiyakan ajakan Alexa jika saja kau tidak selalu menolakku untuk tidur bersamamu."

Valeryn terkekeh. Lagi-lagi pria yang selama ini menyandang status sebagai kekasihnya itu tetap bersikap manipulatif.

"Aku tidak takut lagi. Aku bisa berpisah darimu."

Dan kata itu, adalah kata terakhir yang Valeryn ucapkan sebelum akhirnya berjalan dengan cepat keluar dari rumahnya, ah ralat, bukan rumahnya karena rumah itu dia beli bersama Nathan. Tentu pria itu yang lebih memiliki kontribusi besar.

Valeryn bahkan mengabaikan panggilan Nathan yang terus terdengar. Valeryn bertekad, tidak akan sekalipun menoleh karena di tahu sekali dia menoleh maka dia akan kembali bertindak bodoh.

Nyatanya, rencana pernikahan yang pernah dia bayangkan bersama Nathan sekarang sirna begitu saja. Beberapa tepukan di dadanya hanya membuat rasa sesak itu semakin nyata. Bohong kalau dia tidak merasakan sakit pada hatinya. Meski air mata itu tak kunjung keluar, bukan berarti dia tidak menangis di dalam hatinya.

"Rose, ayo berlibur bersama. Aku akan memesan dua tiket ke Hawaii. Besok, kita berangkat," ucap Valeryn pada ponsel yang dia dekatkan pada bibirnya. Mengirim sebuah pesan suara untuk Rose, sahabatnya.

Valeryn meghela nafasnya dalam dengan kepala yang sedikit mendongak. Menahan air mata yang mungkin bisa terjatuh kapan saja.

'Lebih baik menyembuhkan diri dengan cepat dari pada harus berlarut dalam kesedihan bukan?'

Atau mungkin, Valeryn hanya melarikan diri dari rasa sakit yang ada.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Cinta Satu Malam   27. Lingerie marun

    ​"Aku hanya terlambat makan, Tuan Vanderson. Asam lambungku naik karena harus membaca draf kontrak akuisisi dari perusahaanmu yang terlalu berbelit-belit itu."​Valeryn menarik napas dalam-dalam, menurunkan tangannya dari perut dengan gerakan sewajar mungkin. Dia menatap mata hitam Vee dengan tatapan paling dingin dan angkuh yang bisa dia pasang, mencoba menutupi debaran jantungnya yang masih bertalu liar akibat kepanikan instan tadi.​Vee tidak langsung menjawab. Pria itu menyipitkan matanya, meneliti setiap perubahan ekspresi di wajah pucat Valeryn sebelum akhirnya mendengus pelan. Seulas senyum sinis namun menawan kembali terukir di bibirnya.​"Asam lambung? Atau kau hanya mencari alasan untuk mengusirku karena kau tidak kuat berada terlalu dekat denganku, Val?" tanya Vee, melangkah satu ketukan lebih dekat hingga aroma maskulinnya kembali mengunci indra penciuman Valeryn.​"Jangan terlalu percaya diri, Tuan Vanderson," cibir Valeryn, menggeser tubuhnya dan melangkah tegas menuju p

  • Bukan Cinta Satu Malam   26. Kecurigaan

    "Aku tidak meragukan kemampuan kepemimpinan Nona Valeryn. Aku tahu persis seberapa keras kepala dan teguhnya dia saat mempertahankan apa yang menurutnya benar, termasuk saat dia mencoba melarikan diri dari sesuatu."Valeryn mengepalkan tangannya di bawah meja, merasakan sindiran tajam Vee menusuk tepat di harga dirinya.​Pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan awal untuk melanjutkan ke tahap uji tuntas (due diligence). Saat semua orang mulai berdiri dan saling bersalaman untuk meninggalkan ruangan, Vee tetap duduk di kursinya.​"Kalian semua bisa kembali ke hotel terlebih dahulu," perintah Vee kepada tim delegasinya, matanya tetap terkunci pada Valeryn. "Aku ingin melakukan diskusi privat empat mata dengan Direktur Utama untuk membahas klausul desain eksklusif."​Clara sempat ingin memprotes. "Tapi Vee, jadwal kita setelah ini—"​"Keluar, Clara," desis Vee tanpa menoleh.​Rose yang menyadari situasi yang semakin berbahaya ini memberikan tatapa

  • Bukan Cinta Satu Malam   25. Pertemuan dengan Vanderson

    ​"Kau gila, Val! Gaun ini terlalu ketat di bagian pinggang. Bagaimana kalau perwakilan Vanderson Group itu jeli dan menyadari sesuatu?"​Rose praktis merebut ritsleting gaun sutra hitam yang sedang dicoba Valeryn di dalam ruang ganti butik utama. Wajah desainer itu dipenuhi gundukan kecemasan yang nyata saat dia menekan lembut bagian perut sahabatnya.​"Ini ukuran standarku, Rose. Kalau aku mendadak memakai gaun longgar berpotongan oversized di pertemuan sepenting ini, tim pemasaran kita justru akan curiga," sahut Valeryn sambil mematut dirinya di depan cermin besar. Dia menarik napas dalam, menahan perutnya agar tetap terlihat rata. "Lagipula, kehamilanku baru berjalan satu bulan. Belum ada perubahan fisik yang mencolok."​"Satu bulan itu rentan, Val. Kau masih sering mual di pagi hari," Rose mengingatkan dengan nada berbisik yang ketat, matanya melirik ke arah pintu ruang ganti yang tertutup. "Dan jangan lupa, hari ini yang datang bukan cuma tim analis keuangan mereka. Kudengar dari

  • Bukan Cinta Satu Malam   24. Vanderson

    "Rose, aku butuh kau sekarang. Tolong datang ke rumahku, bawa beberapa potong kue manis dan, demi Tuhan, jangan tanya apa-apa sampai kau melihat apa yang ada di atas meja wastafelku."​Suara Valeryn bergetar, hampir habis di ujung kalimat. Di seberang telepon, suara bising khas butik mewah langsung teredam, digantikan oleh nada panik yang kentara dari sahabat sekaligus kepala desainer utamanya.​"Val? Kau menangis? Ada apa? Apa si berengsek mantan tunanganmu itu menerormu lagi? Katakan padaku, biar kusuruh sekuriti menghajar—"​"Bukan dia, Rose," potong Valeryn cepat, setetes air mata kembali lolos melintasi pipinya yang pucat. "Ini lebih rumit. Ini tentang...Hawaii. Tolong, datang saja sekarang."​Tidak butuh waktu lama bagi Rose untuk membelah kemacetan ibu kota. Kurang dari empat puluh menit, wanita berambut bob nyentrik itu sudah berdiri di depan pintu kamar Valeryn, masih mengenakan pita ukur kain yang melingkar di lehernya dan sebuah kotak kue premium di tangan kiri.​"Oke, aku

  • Bukan Cinta Satu Malam   23. Dua garis merah

    Tiga minggu telah berlalu sejak taksi membawa Valeryn membelah dini hari Oahu yang sunyi. Tiga minggu pula dia menenggelamkan diri dalam tumpukan sketsa, laporan keuangan, dan kain-kain sutra Valerie’s Secret. Di permukaan, semuanya tampak berjalan sempurna. Vee tidak pernah menghubunginya lagi—atau lebih tepatnya, tidak bisa, karena nomornya telah diblokir secara permanen. Pria itu tampaknya telah menyerah, atau mungkin sudah kembali sibuk mengurusi butik lokalnya dan konflik panjangnya dengan sang mantan istri, Clara.​Valeryn mengira dia telah menang. Dia mengira pelariannya kali ini berhasil tanpa meninggalkan luka baru.​Namun pagi itu, alarm jam dinding belum sempat berbunyi ketika Valeryn mendadak terbangun dengan rasa mual yang luar biasa hebat. Perutnya bergejolak hebat, seolah-olah seluruh isinya dipaksa untuk keluar. Dia menyibak selimut dengan tergesa-gesa, berlari ke kamar mandi dalam keadaan lemas, dan mencengkeram pinggiran wastafel sebelum akhirnya memuntahkan cairan b

  • Bukan Cinta Satu Malam   22. Kembali

    ​"Val? Sayang, kau di kamar mandi?" ​Vee meregangkan lengan kekarnya, meraba sisi ranjang di sebelahnya yang mendadak terasa begitu luas. Kosong. Matanya yang masih terasa berat dipaksa untuk terbuka sepenuhnya saat telapak tangannya hanya menyentuh permukaan seprai sutra yang sudah dingin. Tidak ada kehangatan tubuh Valeryn di sana. ​Vee langsung mendudukkan diri, selimut sutra merosot hingga ke pinggangnya, memamerkan dada bidangnya yang dipenuhi guratan otot kokoh. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar suite mewah yang kini diselimuti keheningan mencekam. ​"Valeryn!" panggilnya lagi, kali ini suaranya naik satu oktav. ​Tidak ada jawaban. Hanya deru halus pendingin ruangan yang menyambut suaranya. ​Vee melompat dari ranjang, tidak memedulikan tubuhnya yang polos saat dia melangkah lebar menuju kamar mandi. Pintu dikuak kasar. Kosong. Handuk dan jubah mandi satin yang kemarin mereka gunakan terlipat rapi di gantungan. Kamar mandi itu kering, menandakan tidak ada akti

  • Bukan Cinta Satu Malam   21. Terima kasih surga dunianya

    "Kau mau membawaku kemana lagi, Vee? Aku belum mandi," protes Valeryn saat pria itu menariknya turun dari ranjang, bahkan sebelum dia sempat menyisir rambutnya yang kusut. ​Vee terkekeh, mengecup pundak polos Valeryn yang masih terbalut jubah mandi longgar. "Mandinya nanti saja. Kita mandi di air

  • Bukan Cinta Satu Malam   18. Menuju akhir

    ​Valeryn duduk dengan punggung tegak. Dia melipat kedua tangannya di atas meja dengan gestur yang santai namun kokoh. Tidak ada keringat dingin, tidak ada jemari yang meremas gaun, dan tidak ada binar mata yang goyah di balik kacamata hitam yang sengaja dia kenakan. Berbeda dengan perkiraan Clara.

  • Bukan Cinta Satu Malam   16. Tentang Clara

    Gerakan tangan Vee langsung terhenti seketika. Valeryn bisa merasakan bagaimana otot-otot dada pria itu kembali mengeras dalam sekejap. Suasana kamar yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedingin es. ​Vee membuka matanya. Tatapan yang tadinya sayu penuh gairah kini berubah menjadi tajam da

  • Bukan Cinta Satu Malam   15. Siapa Clara?

    Gemercik air hangat yang membasuh tubuh Valeryn sama sekali tidak mampu meluruhkan ketegangan yang telanjur menyergap hingga ke sumsum tulangnya. Di bawah pancuran shower, dia memejamkan mata erat-erat. Kalimat ancaman di layar ponsel Vee seolah tercetak di balik kelopak matanya.​Clara akan datang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status