Share

2. Sad vacation

Penulis: Liachuu
last update Tanggal publikasi: 2022-01-01 14:15:47

Valeryn menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hari ini sudah pukul empat pagi. Dia baru saja terbangun setelah tertidur begitu saja begitu tubuhnya dibaringkan di atas ranjang. Terasa seperti sebuah mimpi tentang apa yang terjadi kemarin sore. Namun, nyatanya itu adalah sebuah kenyataan.  Bahkan kamar hotel yang menjadi tempatnya tertidur tadi malam adalah buktinya.

Mungkin benar tentang apa yang di katakan Nathan tentang Valeryn yang tidak memiliki tujuan. Nyatanya, Valeryn tidak memiliki keluarga, benar-benar tak ada. Teman? Dia hanya memiliki Rose yang memiliki orang tua yang tidak terlalu menyukai Valeryn. Tidak ada teman lain karena memang Valeryn membatasi pertemanannya, tipe pemilih. Terlalu sulit untuk membiarkan sembarang orang lain berada di sekitarnya.

Pun begitu, Valeryn tidak ambil pusing. Dia bisa menyewa hotel seperti sekarang. Setidaknya dia memiliki uang yang rasanya sangat cukup dari hasilnya bekerja selama ini.

"Iya, Rose?" sahut Valeryn saat dia mendekatkan ponselnya ke telinga. Dia terbangun karena dering ponselnya tersebut.

"Maaf, mengganggu tidurmu. Tapi sepertinya aku harus mengabarimu secepatnya." Suara Rose terdengar khawatir di seberang sana.

"Kenapa, Rose?" tanya Valeryn penasaran.

"Sepertinya aku tidak bisa ikut bersamamu. Aku berniat pergi ke tempatmu dengan pakaian yang sudah aku kemas. Tapi ternyata, ibuku mendapatiku saat mengendap. Dia memeriksa isi chatku denganmu lalu mengunciku di kamar sekarang."

Valeryn tersenyum tipis. Terkadang dia memang membenci orangtua Rose. Strict sekali.

"Okay, tidak apa-apa. Aku pergi sendiri. Maaf jadi membuatmu dalam masalah seperti itu," ucap Valeryn lirih.

"Valeryn, are you ok?" Rose bertanya dengan hati-hati di sana.

Valeryn menunjukan senyumnya, meski Rose memang tidak bisa melihatnya di seberang sana. "Tidak. Tapi aku sedang mencoba baik-baik saja."

"Aku tahu dari Nathan. Aku menghubunginya karena bertanya soal liburan yang kau bicarakan, aku tidak tahu kalau kalian sedang dalam masalah. Nathan menceritakan semuanya. Maaf."

"Jangan merasa bersalah hanya karena tidak bisa menemaniku. Sudah kukatakan aku akan mencoba baik-baik saja. Ku tutup, ya. Sepertinya aku juga harus mempersiapkan diri."

"Iya. Valeryn, hati-hati, ya. Have fun!" Kata yang Rose ucapkan itu menjadi akhir dari percakapan mereka pada sambungan telfon.

Valeryn berbaring menyamping, menatap lurus pada tembok yang dia lihat di depan sana. Dia berbohong soal menyiapkan diri, toh nyatanya tidak ada yang perlu disiapkan. Dia hanya perlu keperluan penerbangan pagi nanti yang sudah ada di dalam tasnya. Soal pakaian, mungkin Valeryn akan membelinya saat di Hawaii nanti. Big no untuk kembali ke rumah. Yang ada dia hanya akan bertemu dengan Nathan dan membatalkan penerbangannya.

_____

Hawaii pada akhirnya menjadi saksi bisu akan patah hati yang dirasakan Valeryn. Sungguh, Valeryn tidak pernah membayangkan jika dia akan menginjakan kaki di Hawaii membawa luka yang baru saja ditorehkan oleh pria yang selalu bersamanya, pria yang selama ini selalu mengisi hatinya.

Seringkali Valeryn membayangkan sebuah liburan yang indah bersamanya. Hari-hari yang dipenuhi dengan kenangan indah lainnya. Sayangnya, semesta tidak membiarkan semua itu terjadi.

Hingga setelah beberapa jam berlalu sejak kedatangannya di Hawaii pun, Valeryn masih tak memiliki semangat untuk keluar dari kamar hotelnya. Semua tidak seperti yang dia perkirakan.

"Haruskah aku kembali?" gumam Valeryn.

Kembali berpikir sejenak. Valeryn merasa sayang dengan uang yang sudah dia habiskan untuk pergi ke tempat ini.

Hingga akhirnya dia membangkitkan dirinya secara paksa, dengan sisa semangat yang ada. Meraih tas yang tergeletak di atas ranjang, Valeryn berjalan ke depan kaca lemari rias tak jauh dari sana. Meraih satu lipstick berwarna merah dan memoleskannya pada bibir tipis miliknya itu.

"Baiklah, Valeryn. Mari nikmati waktu yang kau miliki, youre free now. Lalukan apa pun yang kau ingin," ujar Valeryn pada dirinya sendiri.

Helaan nafas yang dia hembuskan menjadi awal sebelum kaki itu melangkah keluar dari kamar hotel tersebut.

Tempat yang menjadi tujuan Valeryn saat ini adalah sebuah toko baju yang tak jauh dari hotelnya berada. Bagaimana pun dia juga butuh pakaian untuk berganti mengingat dia tak membawa satu pun pakaian sekarang.

Sebuah dress panjang berwarna cokelat muda, dengan belahan hingga setengah paha adalah yang dia pilih setelah melihat beberapa dress yang ada. Bagian dada dress yang membentuk huruf V, membuat bagian dadanya terekspos dengan kedua tali kecil yang menggantung di kedua bahunya.

Valeryn berkali-kali memandang pantulan dirinya di depan sebuah kaca yang ada di luar ruang ganti. Ingin terus memastikan penampilannya.

"Nice dress. Pilih saja yang itu, cocok untukmu."

Valeryn menoleh, suara baritone yang baru saja terdengar di belakangnya mengubah atensinya sekarang.

"Percayalah, dress-nya sangat cocok untukmu." Sekali lagi pria yang kini tengah berhadapan dengan Valeryn berucap dengan sebuah senyuman dan kedua telapak tangan yang terbuka untuk menunjuk Valeryn.

Valeryn membalas senyumannya. "Terima kasih. Kalau begitu sepertinya aku harus segera membeli yang ini."

"Tuan Vee, semua desain terbaru sudah siap di pajangkan," ucap salah seorang pegawai di sana pada pria tersebut.

Valeryn menundukan sedikit kepalanya dan menunjukan senyuman saat wanita tersebut melihat ke arahnya dan juga menunduk memberikan sapaan.

"Baiklah, bereskan saja dulu semua. Pastikan semuanya dalam keadaan baik."

Satu anggukan menjadi akhir saat pegawai itu sudah kembali pergi dari sana. Menyisakan Vee dan Valeryn kembali.

"Ah, kau pemilik tempat ini?" tanya Valeryn penasaran.

Vee mengangguk dengan satu alis yang terangkat dan juga senyuman di bibirnya. "Bisa dibilang seperti itu."

"Ah, suatu kehormatan bisa mendapat pujian dari pemilik toko ini secara langsung." Sekali lagi Valeryn menunjukan senyumnya. "Aku suka semua desain yang ada di sini."

"Terima kasih, suatu kehormatan juga memiliki pelanggan yang cantik sepertimu."

Vee mengulurkan tangannya pada Valeryn. "Panggil saja aku Vee."

Melihat itu, Valeryn pun menerima uluran tangannya. "Valery ."

"Baiklah, lanjutkan memilih dress yang kau sukai dengan nyaman. Maaf mengganggu waktumu," pamit Vee yang hendak berjalan melewati Valeryn.

"Tunggu," panggil Valeryn. Hal itu berhasil membuat langkah Vee terhenti dan kembali menatap Valeryn.

"Aku mendengar soal desain yang baru. Apa itu akan dipajangkan hari ini?" tanya Valeryn dengan sopan.

Vee menganggukan kepalanya. "Sebentar lagi."

"Ah, kalau begitu sepertinya aku akan menunggu untuk melihatnya."

Vee menatap Valeryn penuh tanya. "Kau bisa melihatnya sekarang bersamaku secara langsung kalau mau," ucap Vee.

"Oh? Bolehkah?" tanya Valeryn antusias.

Sebuah anggukan menjadi jawaban Vee.

"Baiklah, sebentar. Aku harus mengganti bajuku dulu."

Vee menahan tangan Valeryn saat gadis itu hendak berjalan masuk ke dalam ruang ganti. "Pakai saja yang itu."

"Tidak, aku belum membayarnya. Aku memang pasti akan membelinya, tapi rasanya aku tidak bisa terus mengenakannya sebelum membayar," ujar Valeryn dengan sebuah gelengan di kepalanya.

Vee berjalan untul lebih dekat, berdiri tepat di belakang Valeryn sebelum akhirnya tangan itu tiba-tiba menarik price tag yang menempel pada dress yang Valeryn kenakan. "Anggap saja aku tengah meinjamkan dressnya untukmu. Kau tetap membayarnya setelah ini."

Valeryn cukup terkejut dengan apa yang Vee lakukan. Dia memang benar-benar berniat membeli dress itu, hanya saja hal ini terlihat aneh.

Pun begitu, Valeryn hanya bisa mengangguk dan mengiyakan. Bagaimana pun Vee pemilik tempat ini, tidak mungkin juga Valeryn melarangnya melalukan itu.

Keduanya pun berjalan berdampingan, Valeryn melangkahkan kakinya mengikuti langkah Vee membawanya. Melihat ke sana kemari juga pada beberapa pegawai yang memberi hormat pada Vee. Baiklah, hal itu membuat Valeryn seperti tengah berada di tempat yang salah.

"Ah, boleh tahu pekerjaanmu nona Valeryn?" tanya Vee menoleh pada Valeryn yang ada di sampingnya.

"Aku menjual lingerie yang kebetulan brandku sendiri," jawab Valeryn tenang.

"Benarkah? Wow, jadi pelangganku bukan pelanggan biasa ternyata."

Valeryn terekekeh, diikuti dengan Vee. "Tidak juga. Sama saja."

"Kalau begitu, boleh aku meminta nomormu? Siapa tahu aku juga tertarik dengan lingerie nya?" ucap Vee dengan ponsel yang sudah di sodorkan pada Valeryn.

Valeryn sempat kebingungan dan juga cukup terkejut dengan hal itu. "Ah, untuk kekasihmu maksudnya, ya? Cari saja di akun sosial mediaku, Vwear."

Sebelum akhirnya respon Vee membuatnya paham. Meski tidak ada anggukan atau gelengan di kepala pria itu, dengan sebuah senyuman dan kedua alis yang terangkat setidaknya Valeryn jadi berpikir jika Vee memang berniat melihat brand lingerie miliknya untuk pasangan dari Vee.

Benar, Valeryn sendiri tidak mau ambil pusing soal itu. Setidaknya ada hal yang membuatnya tersenyum selama di Hawaii ini. Sebentar saja melupakan kesedihannya dengan hal ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bukan Cinta Satu Malam   27. Lingerie marun

    ​"Aku hanya terlambat makan, Tuan Vanderson. Asam lambungku naik karena harus membaca draf kontrak akuisisi dari perusahaanmu yang terlalu berbelit-belit itu."​Valeryn menarik napas dalam-dalam, menurunkan tangannya dari perut dengan gerakan sewajar mungkin. Dia menatap mata hitam Vee dengan tatapan paling dingin dan angkuh yang bisa dia pasang, mencoba menutupi debaran jantungnya yang masih bertalu liar akibat kepanikan instan tadi.​Vee tidak langsung menjawab. Pria itu menyipitkan matanya, meneliti setiap perubahan ekspresi di wajah pucat Valeryn sebelum akhirnya mendengus pelan. Seulas senyum sinis namun menawan kembali terukir di bibirnya.​"Asam lambung? Atau kau hanya mencari alasan untuk mengusirku karena kau tidak kuat berada terlalu dekat denganku, Val?" tanya Vee, melangkah satu ketukan lebih dekat hingga aroma maskulinnya kembali mengunci indra penciuman Valeryn.​"Jangan terlalu percaya diri, Tuan Vanderson," cibir Valeryn, menggeser tubuhnya dan melangkah tegas menuju p

  • Bukan Cinta Satu Malam   26. Kecurigaan

    "Aku tidak meragukan kemampuan kepemimpinan Nona Valeryn. Aku tahu persis seberapa keras kepala dan teguhnya dia saat mempertahankan apa yang menurutnya benar, termasuk saat dia mencoba melarikan diri dari sesuatu."Valeryn mengepalkan tangannya di bawah meja, merasakan sindiran tajam Vee menusuk tepat di harga dirinya.​Pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan awal untuk melanjutkan ke tahap uji tuntas (due diligence). Saat semua orang mulai berdiri dan saling bersalaman untuk meninggalkan ruangan, Vee tetap duduk di kursinya.​"Kalian semua bisa kembali ke hotel terlebih dahulu," perintah Vee kepada tim delegasinya, matanya tetap terkunci pada Valeryn. "Aku ingin melakukan diskusi privat empat mata dengan Direktur Utama untuk membahas klausul desain eksklusif."​Clara sempat ingin memprotes. "Tapi Vee, jadwal kita setelah ini—"​"Keluar, Clara," desis Vee tanpa menoleh.​Rose yang menyadari situasi yang semakin berbahaya ini memberikan tatapa

  • Bukan Cinta Satu Malam   25. Pertemuan dengan Vanderson

    ​"Kau gila, Val! Gaun ini terlalu ketat di bagian pinggang. Bagaimana kalau perwakilan Vanderson Group itu jeli dan menyadari sesuatu?"​Rose praktis merebut ritsleting gaun sutra hitam yang sedang dicoba Valeryn di dalam ruang ganti butik utama. Wajah desainer itu dipenuhi gundukan kecemasan yang nyata saat dia menekan lembut bagian perut sahabatnya.​"Ini ukuran standarku, Rose. Kalau aku mendadak memakai gaun longgar berpotongan oversized di pertemuan sepenting ini, tim pemasaran kita justru akan curiga," sahut Valeryn sambil mematut dirinya di depan cermin besar. Dia menarik napas dalam, menahan perutnya agar tetap terlihat rata. "Lagipula, kehamilanku baru berjalan satu bulan. Belum ada perubahan fisik yang mencolok."​"Satu bulan itu rentan, Val. Kau masih sering mual di pagi hari," Rose mengingatkan dengan nada berbisik yang ketat, matanya melirik ke arah pintu ruang ganti yang tertutup. "Dan jangan lupa, hari ini yang datang bukan cuma tim analis keuangan mereka. Kudengar dari

  • Bukan Cinta Satu Malam   24. Vanderson

    "Rose, aku butuh kau sekarang. Tolong datang ke rumahku, bawa beberapa potong kue manis dan, demi Tuhan, jangan tanya apa-apa sampai kau melihat apa yang ada di atas meja wastafelku."​Suara Valeryn bergetar, hampir habis di ujung kalimat. Di seberang telepon, suara bising khas butik mewah langsung teredam, digantikan oleh nada panik yang kentara dari sahabat sekaligus kepala desainer utamanya.​"Val? Kau menangis? Ada apa? Apa si berengsek mantan tunanganmu itu menerormu lagi? Katakan padaku, biar kusuruh sekuriti menghajar—"​"Bukan dia, Rose," potong Valeryn cepat, setetes air mata kembali lolos melintasi pipinya yang pucat. "Ini lebih rumit. Ini tentang...Hawaii. Tolong, datang saja sekarang."​Tidak butuh waktu lama bagi Rose untuk membelah kemacetan ibu kota. Kurang dari empat puluh menit, wanita berambut bob nyentrik itu sudah berdiri di depan pintu kamar Valeryn, masih mengenakan pita ukur kain yang melingkar di lehernya dan sebuah kotak kue premium di tangan kiri.​"Oke, aku

  • Bukan Cinta Satu Malam   23. Dua garis merah

    Tiga minggu telah berlalu sejak taksi membawa Valeryn membelah dini hari Oahu yang sunyi. Tiga minggu pula dia menenggelamkan diri dalam tumpukan sketsa, laporan keuangan, dan kain-kain sutra Valerie’s Secret. Di permukaan, semuanya tampak berjalan sempurna. Vee tidak pernah menghubunginya lagi—atau lebih tepatnya, tidak bisa, karena nomornya telah diblokir secara permanen. Pria itu tampaknya telah menyerah, atau mungkin sudah kembali sibuk mengurusi butik lokalnya dan konflik panjangnya dengan sang mantan istri, Clara.​Valeryn mengira dia telah menang. Dia mengira pelariannya kali ini berhasil tanpa meninggalkan luka baru.​Namun pagi itu, alarm jam dinding belum sempat berbunyi ketika Valeryn mendadak terbangun dengan rasa mual yang luar biasa hebat. Perutnya bergejolak hebat, seolah-olah seluruh isinya dipaksa untuk keluar. Dia menyibak selimut dengan tergesa-gesa, berlari ke kamar mandi dalam keadaan lemas, dan mencengkeram pinggiran wastafel sebelum akhirnya memuntahkan cairan b

  • Bukan Cinta Satu Malam   22. Kembali

    ​"Val? Sayang, kau di kamar mandi?" ​Vee meregangkan lengan kekarnya, meraba sisi ranjang di sebelahnya yang mendadak terasa begitu luas. Kosong. Matanya yang masih terasa berat dipaksa untuk terbuka sepenuhnya saat telapak tangannya hanya menyentuh permukaan seprai sutra yang sudah dingin. Tidak ada kehangatan tubuh Valeryn di sana. ​Vee langsung mendudukkan diri, selimut sutra merosot hingga ke pinggangnya, memamerkan dada bidangnya yang dipenuhi guratan otot kokoh. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar suite mewah yang kini diselimuti keheningan mencekam. ​"Valeryn!" panggilnya lagi, kali ini suaranya naik satu oktav. ​Tidak ada jawaban. Hanya deru halus pendingin ruangan yang menyambut suaranya. ​Vee melompat dari ranjang, tidak memedulikan tubuhnya yang polos saat dia melangkah lebar menuju kamar mandi. Pintu dikuak kasar. Kosong. Handuk dan jubah mandi satin yang kemarin mereka gunakan terlipat rapi di gantungan. Kamar mandi itu kering, menandakan tidak ada akti

  • Bukan Cinta Satu Malam   21. Terima kasih surga dunianya

    "Kau mau membawaku kemana lagi, Vee? Aku belum mandi," protes Valeryn saat pria itu menariknya turun dari ranjang, bahkan sebelum dia sempat menyisir rambutnya yang kusut. ​Vee terkekeh, mengecup pundak polos Valeryn yang masih terbalut jubah mandi longgar. "Mandinya nanti saja. Kita mandi di air

  • Bukan Cinta Satu Malam   18. Menuju akhir

    ​Valeryn duduk dengan punggung tegak. Dia melipat kedua tangannya di atas meja dengan gestur yang santai namun kokoh. Tidak ada keringat dingin, tidak ada jemari yang meremas gaun, dan tidak ada binar mata yang goyah di balik kacamata hitam yang sengaja dia kenakan. Berbeda dengan perkiraan Clara.

  • Bukan Cinta Satu Malam   16. Tentang Clara

    Gerakan tangan Vee langsung terhenti seketika. Valeryn bisa merasakan bagaimana otot-otot dada pria itu kembali mengeras dalam sekejap. Suasana kamar yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedingin es. ​Vee membuka matanya. Tatapan yang tadinya sayu penuh gairah kini berubah menjadi tajam da

  • Bukan Cinta Satu Malam   15. Siapa Clara?

    Gemercik air hangat yang membasuh tubuh Valeryn sama sekali tidak mampu meluruhkan ketegangan yang telanjur menyergap hingga ke sumsum tulangnya. Di bawah pancuran shower, dia memejamkan mata erat-erat. Kalimat ancaman di layar ponsel Vee seolah tercetak di balik kelopak matanya.​Clara akan datang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status