Share

Bag 02. Ancaman.

Author: Rizuma Iori
last update Huling Na-update: 2021-08-15 09:09:23

»»»»

"Dari mana aja lo, baru pulang?" Cia tak mendengarkan dan langsung berjalan menuju lift untuk pergi ke kamarnya. Rumah Cia memanglah sangat besar. Ada 4 lantai yang terbagi menjadi beberapa ruangan. Termasuk ruang gym dan juga kolam renang. Dava Vergion, adalah Kakak tiri Cia. Mereka memang tidak pernah akur sejak kecil. Usia mereka tidak beda jauh, hanya selisih beberapa bulan. Dava lahir lebih dulu di bandingkan Cia. Namun, Cia tak pernah menganggap Dava sebagai saudaranya.

"Padahal besok sekolah, tapi jam segini baru balik!" Dava menggerutu. Cowok tinggi dengan manik abu-abu indah itu memang bukan asli orang Indoensia. Dava blasteran Inggris-Indonesia, yang mana, Ibunya adalah orang Inggris sedangkan Ayahnya asli dari Jakarta. Dava juga tidak lahir di Indonesia, tempat kelahirannya berada di Negara Australia, tentu saja itu di saat kedua orang tuanya sedang melakukan dinas di sana.

    Dava orang yang sopan dan baik, walaupun kadang terkesan dingin. Namun, Dava sering perhatian pada Cia, walaupun perhatian itu di tolak mentah-mentah oleh sang adik tiri. Ayah Dava, yaitu Radith Abraham, menikah lagi dengan Ibunya Cia yang berstatus Janda semenjak 10 tahun yang lalu. Saat usia Dava dan Cia 7 tahun. Dava sangat senang ketika di beri tahu akan memiliki adik perempuan. Sayangnya, begitu dia bertemu dengan Cia, kesan pertama mereka sangat tidak baik, di mana Cia memukul kepala Dava dengan mainan yang dia miliki. Dava menangis kencang kala itu, tapi semua itu tidak memuat Dava membenci Cia, justru Dava semakin ingin mendekati adiknya. Sayangnya, Cia memasang dinding kokoh di sekitarnya semenjak 10 tahun yang lalu, Dava tidak bisa mendekat, atau bahkan berjalan berdampingan dengan Cia. Cara satu-satunya agar Dava bisa bicara dengan Cia adalah dengan mendebatnya dan membuat Cia marah. 

»»»»

   Pagi hari saatnya untuk berangkat ke sekolah. Dava sudah bersiap di atas motornya saat dirinya melihat mobil baru terparkir di garasi bawah. Dava tidak ingat bahwa Radith membeli mobil baru. Dava tau bahwa Ayahnya tidak terlalu suka dengan mobil sport, dan yang ada di hadapannya sekarang adalah jenis Lamborghini Urus yang Dava tau harganya mencapai 8,5 Milyar rupiah. Dava yakin, mobil itu bukan milik Ayahnya, karena untuk apa juga dia membelinya.

"Minggir!" Cia tiba-tiba muncul di sampingnya dan sudah siap dengan seragamnya. Rok yang terlalu pendek itu selalu membuat Dava kesal.

"Nggak usah pake rok aja Ci, sekalian!" Protes Dava.

"Suka-suka gue lah. Minggir, gue mau berangkat!" Cia membuka kunci mobil dengan remot. Dan saat itulah, Dava tau bahwa mobil itu milik Cia. Walaupun terlihat tidak perduli, Dava sebenarnya sangat perduli pada Cia, cowok manik abu itu selalu resah dan khawatir pada adiknya. Dia dan Cia di berikan uang Jajan yang cukup besar setiap bulannya oleh Radith. Mereka bahkan bisa membeli sebuah kapal kecil dengan uang jajan mereka.

"Lo ganti mobil lagi?"

"Terserah gue!" Cia masuk ke dalam mobil sebelum Dava bertanya lebih banyak hal padanya.

"Lo jual mobil yang kemaren?" Dava masih ingat, mobil berwarna merah yang kemarin di pakai Cia. 

"Berisik!" Cia meninggalkan Dava yang masih tampak penasaran dengan mobil baru yang di kendari adiknya.

»»»»

   Sesampainya di sekolah, Cia langsung berjalan menuju kelas. Siapa yang tidak tau Elcia, si preman sekolah yang sering membuat masalah. Bahkan, di sekolah, Cia sering dengar kalimat 'jangan liat matanya. Nanti lo di pukul.' Entah siapa yang menyebarkan rumor semacam itu di sekolah. Memangnya, Cia itu tukang pukul, memukul seseorang hanya karena mereka bertatapan. Sangat aneh.

    Di sekolah, Cia tidak memiliki teman dekat, satupun. Entah itu pria, atau wanita. Bagi Cia, mereka hanyalah seekor lalat pengganggu yang akan membuat Cia dalam masalah.

"Pagi anak-anak!" Cia sudah duduk di kursinya. Menatap sang guru yang baru saja masuk ke dalam kelas.

"Pagi, Bu guru!" jawab para murid serempak. 

"Cia, semua sudah mengumpulkan tugas, hanya kamu yang belum, sekarang apa lagi alasan kamu?" Cia membuka tasnya.

"Udah kok, Bu!" Cia berdiri, dengan langkah pasti berjalan ke depan kelas dan menyerahkan tugas miliknya pada Bu Mia, selaku guru Fisika di kelas itu.

"Bagus, lain kali, kerjakan tepat waktu. Yang lain mengerjakan tepat waktu. Hanya kamu yang selalu terlambat!"

"Iya, Bu!" Cia kembali duduk di kursinya. Namun sayangnya, baru saja ia duduk, ponsel miliknya bergetar menandakan ada pesan masuk. Cia membuka pesan itu. 

'Ke belakang sekolah sekarang! Atau Nuca mati!'

   Cia menggebrak meja dengan kencang. Matanya berkilat merah menahan amarah. Sudah sering dia di ancam, bukan sekali dua kali. Tetapi, baru kali ini ada yang mengancamnya tentang Nuca. Berani sekali orang ini!

"Cia, ada apa ..." belum selesai pertanyaan dari Mia sang guru Fisika. Cia sudah berlari keluar dari kelas, dengan cepat pergi ke arah belakang sekolah. Jika dia di ancam, Cia akan biasa saja, tapi ini Nuca.

"Udah gue duga!" Cia menatap dua orang yang berdiri sambil tersenyum ke arahnya.

"Dateng juga lo!" kata salah satunya. Cowok dengan rambut memanjang melewati telinga itu menatap dengan tatapan menantang pada Cia.

"Pasti, dia kan sayang banget sama anaknya!"

"Brengsek!" Tanpa menunggu lama. Cia berlari dan langsung menendang cowok dengan tindik di telinga yang langsung terjatuh ke atas rumput. "Ngomong sekali lagi, biar gue hajar lo!" Cia meninju wajah Dirga, cowok yang tadi mengirim pesan pada Cia.

"Bang*at!" Dirga mendorong Cia dengan cukup keras, hingga gadis itu terpental kebelakang. Hide, teman Dirga segera menyerang Cia, tapi Cia dengan cepat menghindar dan berhasil. Saat mereka kembali ingin baku hantam, seorang guru datang untuk melerai perkelahian. Dirga dan Hide berlari meninggalkan Cia yang masih berdiri mengatur napasnya yang tersengal.

"Cia! Kamu tidak apa-apa? Siapa mereka?" Cia menoleh dan menatap guru BK yang kebetulan lewat tadi, dia memang sedang berkeliling untuk mencari anak-anak yang melanggar aturan.

"Bukan apa-apa. Pak, gue cabut dulu!" Cia langsung berlari ke arah kelas untuk mengambil tasnya. Sebaiknya, dia pergi untuk menenangkan pikirannya.

    Cia berhasil mengambil tas yang berada di dalam kelas tanpa harus bersusah payah. Dia tak takut pada guru, bahkan jika dia di hukum atau di scors dia malah senang. Walaupun, Mia sempat meneriaki dirinya, tapi hanya dengan satu tatapan tajam milik Cia, Mia langsung diam. Sudah jelas, Cia itu sangat sulit diatur, bahkan oleh guru sekalipun.

    Cia masuk ke dalam mobil dan langsung membuat suara gaduh karena suara dari knalpot mobilnya. Satpam yang sedang membuka gerbang menoleh, Cia yang melihat itu langsung menerobos keluar begitu Gerbang selesai di buka, dan saat itu, sebuah mobil hammer h3 juga akan masuk, dan tak sengaja menyerempet mobil Cia. Suara berdecit keras terdengar karena Cia mengerem mobilnya dengan mendadak.

"Sial!" Cia segera keluar dari dalam mobil. Sebuah goresan panjang membekas di bagian samping hingga ke belakang mobilnya. Cia berjalan cepat menuju ke arah mobil yang menyerempetnya tadi.

"Keluar lo!" Cia menendang pintu mobil itu. Dan saat itulah, seorang cowok berparas korea muncul dari dalam mobil. "Lo bisa nyetir nggak sih!" Bentaknya tak terima.

"Lo yang salah, lo yang teriak!" Cowok itu dengan acuh mengambil tas dari bagian penumpang belakang, dan ingin pergi begitu saja. Namun, Cia langsung menendang betis si cowok dengan kencang, membuat cowok itu mengaduh kesakitan.

"Dasar nggak bertanggung jawab!" Cia terkekeh pelan.

"Lo mau gue ganti rugi? Berapa?"

"Sialan!"

««««

To be Continue .....

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 78. Sepupu?

    ****** Dava sedang menuang air dingin saat dia tak sengaja melihat Cia dan Gevin sedang bercanda di ayunan bersama, Dava bahkan melihat Cia sempat tertawa dan keduanya mulai serius kembali. Entah kenapa, melihat Cia yang seperti itu, membuat Dava juga merasa senang. Walaupun ada rasa tidak rela, karena dirinya dan Cia baru dekat beberapa bulan terakhir, dan kini, Cia sudah harus menikah. Dava jadi tidak rela Cia harus menikah muda."Ngapain Dav!" Sean datang saat sedang mengobrol dengan Kevin di sofa ruang tengah, Sean merasa haus dan ke dapur untuk mengambil air minum, dia justru melihat Dava sedang melamun melihat ke luar jendela."Enggak, tuh liat mereka, gue jadi sedih aja!" Sean ikut melihat keluar, Gevin tengah bersandar pada bahu Cia. "Kok sedih, kan harusnya lo seneng?" Dava terkekeh pelan."Gue seneng kok." Sean semakin tidak mengerti, tapi dia tidak bertanya lebih lanjut. Karena melihat raut Dava yang tampaknya enggan untuk membahasnya juga. "Mereka mau di biarin

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 77. Marriage Proposal.

    *****"Saya, akan menerima lamaran ini." Gevin hampir tidak percaya dengan apa yang di dengar nya. Cia menerima dirinya? Benarkah! Semua orang yang mendengar itu tampak senang dan bahagia. Terlebih Bernard dan Gevin sendiri. Radith tersenyum menatap putrinya yang duduk di sampingnya."Sebelum itu, saya akan memberikan beberapa syarat!" Radith angkat bicara. Gevin masih tidak percaya dengan semua ini, diapun terus tersenyum sambil mendengarkan ucapan calon Ayah mertuanya. "Yang pertama, setelah menikah, Cia akan tetap tinggal di rumah ini sampai dia lulus kuliah, dan Gevin harus ikut tinggal di rumah ini!" Cia terkejut, dia juga tidak tau jika Radith akan memberikan persyaratan seperti itu."Itu bukan masalah, benarkan Boy!" Bernard menatap Gevin sambil menepuk pundak nya. Lagi pula, Bernard tau Cia pintar, dia yakin lulus kuliah bisa lebih cepat. Gevin mengangguk setuju."Syarat yang kedua ..." Radit menatap Gevin dan Cia bergantian lalu menjawab dengan suara lugas."Saya tidak mau,

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 76. I Always Behind You.

    ******"Siang Om, Tante." Sapa Cia sambil tersenyum ramah. Gevin bahkan tampaknya lupa cara mengedipkan matanya, hingga Kevin yang duduk di sebelahnya menepuk bahunya pelan, barulah Gevin tersadar."Itu Cia!?" Sean berbisik penuh penekanan. ini kali pertama Sean melihat Cia dengan balutan dress layaknya gadis seusianya, atau pada umumnya. Karena biasanya, Cia selalu memakai kaus atau jaket kulit dengan celana jeans. Sedangkan Gevin, ini kedua kalinya dia melihat Cia dengan dress. Pertama kali, Gevin bahkan tak ada niat sedikitpun untuk mendekati Cia, walau saat itu dia tertarik dengan body goals milik gadis itu. Tapi kebetulan Gevin sedang berpacaran dengan seorang model pada saat itu, jadi Gevin tidak tertarik juga untuk mendekat. Namun sekarang, Gevin yakin seratus persen, bahwa dulu dia bodoh. Dia sangat bodoh karena mengabaikan gadis secantik dan manis seperti Cia ini. Bernard tanpa sadar berdiri dan bersalaman dengan Cia. Tentu Cia kaget atas respon dari rekan bisn

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 75. Pertemuan Pertama.

    ******* Mobil mewah milik keluarga Knowles tampak memasuki halaman luas sebuah rumah besar. Tepat pukul 1 lebih 34 menit, rombongan dari keluarga Knowles sampai di kediaman keluarga Cia. Setelah mobil terparkir, tampak seorang wanita cantik keluar lebih dulu, diikuti seorang pria yang langsung berjalan disamping nya. Mereka adalah pasangan suami istri sekaligus orang tua dari Gevin Knowles, pemeran utama dalam acara penting hari ini. Setelah pasangan itu, Kevin keluar dari mobil lain bersama Sean. Benar sekali, Sean memang diminta untuk ikut datang oleh Bernard semalam. Lagi pula, Sean memang sudah di anggap seperti anak sendiri di keluarga itu. Jadi Sean memutuskan untuk ikut di saat acara yang akan di adakan hari itu."Loh, Gevin mana?" Sean bertanya saat dirinya sudah keluar dari mobil dan tak melihat Gevin yang seharusnya bersama kedua orang tua nya. "Ada, Vin!" panggil Bernard sambil menatap mobil yang didalam nya ada Gevin, mereka memang berngakt dengan mobil ya

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 74. Apa Kalian Akan Bertahan?

    ***** Di malam sebelum Gevin berniat melamar Cia esok harinya. Di rumahnya, Sean datang sendirian, dia sudah mendengar berita tentang Gevin yang akan menikah, tentunya dia tau dari Angga yang kebetulan juga memang mengenal Sean, karena mereka dulu juga sering bermain bersama sewaktu kecil. Saat sampai di rumah Gevin, Sean melihat Gevin sedang di nasehati oleh Ayah dan Ibunya. Kevin ada di ruangan itu juga, tidak dengan Levin, Sean tau bagaimana watak saudara-saudara Gevin. Kevin yang pendiam tapi sangat perhatian, atau Levin yang manja dan juga ceroboh. Sean sudah dekat dengan keluarga Gevin semenjak dirinya masuk ke TK yang sama dengan Gevin. Bahkan Sean sudah di anggap seperti anak dari keluarga itu. Bukan hanya itu saja, Gevin kadang juga iri terhadapnya karena kedua orang tuanya lebih perduli pada Sean di banding dirinya. Itu membuatnya kesal kadang, tentunya saat mereka masih kecil, setelah dewasa, Gevin sudah tidak memperdulikannya lagi hal-hal semacam itu."

  • Bukan Gadis Biasa   Bag 73. Sebuah Permintaan.

    ****** Pagi-pagi sekali, Dava terbangun karena sebuah ketukan di depan pintu kamarnya. Dengan malas, cowok itu membuka mata dan melihat siapa gerangan yang mengganggu tidurnya. Dia terkejut saat membuka pintu, Cia berdiri di hadapannya. Cia tampak diam dengan wajah datar seperti biasa, pakaiannya masih sama seperti kemarin, gadis itu juga tampak sedikit berantakan, Dava langsung berpikir, apa Cia semalaman tinggal di jalanan? "Cia!?" tentu saja Dava kaget melihat Cia pulang dengan keadaan yang sedikit kacau itu. Walau biasanya Cia juga berpenampilan kacau, tapi pagi ini terlihat lebih kacau dari biasanya. Matanya bahkan tetlihat sangat kelelahan, apa dia tidak tidur? "Gue mau ngomong sama lo." Cia tak berekspresi, seperti orang lain sedang menguasai tubuhnya. Tatapannya lurus menatap Dava yang menjadi sedikit panik, karena biasanya jika Cia sudah serius seperti itu, pasti akan ada sesuatu yang terjadi. "Masuk dulu Ci," ucap Dava sambil menggeser tubuhnya agar Cia bisa masu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status